Malam hari rintik hujan membasahi dedaunan di hutan belantara, Seorang kiai sepuh duduk bersila sambil memejamkan matanya di dalam gua. Pada saat itu, jawa sedang dilanda penjajahan oleh jepang setelah belanda dikalahkan. Terlalu lamanya belanda menjajah jawa, mengakibatkan penderitaan yang sangat oleh penduduk jawa yang terkenal halus dan lembut. Tutur katanya pun orang jawa mempunyai tiga tingkatan untuk menghormati berbicara sesamanya. Budaya tutur kata jawa hampir mirip negara korea. Bahkan kalau sedang marah orang jawa seperti mengalah tapi amarah yang terpendam bisa menjadi dendam. Biasanya orang jawa kalau balas dendam menunggu musuhnya terlena.
Kiai sepuh bermeditasi konsentrasi tinggi sambil membaca wirid-wirid khusus untuk membuka dimensi jin. Tetesan air di gua mulai tidak terdengar lagi, gelapnya gua mulai sirna dengan pancaran cahaya yang menyilaukan di depan kiai.
Hiruk pikuk sayup-sayup terdengar ketika kiai sepuh membuka matanya, nampak pasar tradisional mulai rame dengan lalu lalangnya orang. Rata-rata yang laki-laki tidak memakai baju atau bertelanjang dada, hanya jarik menutupi celana. Dibalik jarik terdapat keris yang disarungkan diletakkan disamping pinggangnya. Sedangkan yang wanita memakai kemben jarik menutupi dadanya.
Kiai sepuh berjalan menyusuri jalan pasar yang ramai berangsur-angsur sepi, langkah kakinya mulai menjauhi pasar menuju pusat kota. Disamping jalan, rumah-rumah dari kayu dan anyaman bambu saling berjejer rapi. Ada beberapa rumah yang atapnya berhias barongan dengan empat taringnya yang panjang. Tampak dari kejauhan, kiai sepuh melihat pagar benteng panjang menjulang tinggi.
“Oh disana pintu utamanya.” Kata Kiai sepuh bergumam. Nampak empat prajurit kerajaan mulai berdiri sambil berjalan menghalangi kiai sepuh dengan tombak yang panjang.
“Hei, mau kemana kamu, ini bukan tempatmu.” Kata prajurit penjaga tegas, matanya memerah mendelik layaknya siap menerkam seperti harimau jawa menerkam mangsanya.
“Aku datang kesini mau menemui Ratu kalian.” Ucap kiai sepuh sambil mematahkan dua tombak yang menghalanginya. Keempat prajurit mundur ketakutan sambil ancang-ancang untuk menyerang.
“Awas, dia mematahkan tombak kita.” Keempatnya terhempas kebelakang dengan sekali tebasan sorban kiai sepuh. Dari jauh seorang lelaki tegap mendatangi kegaduhan disebabkan perkelahian oleh kiai sepuh dan prajurit.
“Cukup-cukup, jangan teruskan perkelahian kalian.” Ucapnya sambil mengempit kedua prajurit yang jatuh terhuyung-huyung menjauhi kiai sepuh. Dia mendorong keduanya ketanah sambil berkacak pinggang tertawa terbahak-bahak.
“Ha ha ha prajurit bodoh, dengan siapa kalian bertengkar hah. Itu manusia bukan tandingan kalian, dasar jin bodoh.” Ucapnya senang.
“Ampun komandan, dia seenaknya masuk ke kota kita tanpa permisi.” Prajurit berdiri sambil membersihkan debu di badannya. Mereka berdiri tegap berbaris sambil hormat kepadanya. Komandan mulai balik badan menghampiri kiai sepuh dengan hormat.
“Ada apa kanjeng ndoro kemari, ada keperluan apa. Bukankah ini bukan alam panjenengan kanjeng ndoro.” Ucap komandan sambil mengajak kiai sepuh untuk berjalan ke dalam gerbang kota. Keempat prajurit menundukkan badannya menghormati kiai sepuh yang sedang lewat di depan mereka.
“Aku kepingin bertemu dengan ratumu.” Ucap kiai sepuh tanpa basa basi. Komandan terkejut dan kaget mendengarnya.
“Ampun kanjeng ndoro, mengenai itu saya tidak berani. Biar saya antar kepada panglima kami.” Ucapnya. Komandan mengajak berjalan menyusuri jalan kota yang megah untuk bertemu dengan kediaman panglima. Keduanya berjalan diiringi para pengawal yang ada di belakangnya.
“Silahkan masuk kanjeng ndoro, panglima ada di dalam menunggu panjenengan.” Ucap Komandan yang tadinya di dalam kemudian keluar lagi.
“Kanjeng ndoro, ada keperluan apa kiranya datang kemari.” Ucap Panglima.
“Seperti yang kamu ketahui, disini saya ingin bertemu dengan Ratu kalian.” Ucap kiai sepuh sambil duduk bersila berhadapan dengan panglima yang sedari tadi duduk bersila.
“Buat apa kanjeng ndoro ingin bertemu dengan ratu kami. Ini bukan tempat yang pas buat kanjeng ndoro.” Ucap panglima serius menatap tajam.
“Maksudnya gimana.” Kata kiai sepuh penasaran.
“Mari ikut aku keluar kanjeng ndoro, biar aku tunjukkan seuatu.” Kata panglima berdiri sambil mengajak kiai sepuh untuk keluar dari kediamannya. Kiai sepuh diajak ke taman kota untuk melihat seuatu. Nampak taman begitu indah dan asri, air mengalir dari pancuran kendi-kendi dari tanah liat. Ada payung yang gagangnya terbalut warna emas kekuningan. Daun-daun dan bunga mulai beterbangan jatuh terkena angin.
“Panglima, apa maksudnya mengajak aku kesini.” Kata kiai sepuh penuh penasaran.
“Lihatlah kanjeng ndoro para pelayan-pelayan itu, apa kamu tidak mengenalinya.” Ucap panglima mengalihkan pandangan sambil menunjuk beberapa pelayan yang dipaksa bekerja.
“Iya saya lihat, mereka laki-laki dan perempuan. Ada yang tua dan muda, maksudmu apa menyuruh aku melihatnya.” Kata kiai sepuh melihat sambil manggut-manggut.
“Apakah kanjeng ndoro sama sekali tidak mengenalinya. Lihat lelaki itu, itu teman seperjuangan kanjeng ndoro.” Kata panglima sambil menerangkan.
“Astaghfirullah, kenapa dia ada disini. Dan itu, wanita itu. Aku mengenalinya, di desaku orang itu kaya mendadak kemudian dia mati. Apa maksudnya ini panglima.” Kata kiai sepuh heran bergidik melihat keduanya disiksa dicambuk, keduanya jatuh dan ditendang prajurit yang mengawasi.”
“Lelaki yang kanjeng ndoro kenali, mereka berguru kepada kami. Meminta ilmu kesaktian dan kanuragan. Kadang mereka menyuruh anak buahku untuk menyerang musuh-musuhnya yang tidak disenangi olehnya. Kadang kala dia menyuruh anak buahku ketika dia didatangi seseorang sejenis kalian untuk membunuh.” Kata panglima menerangkan agar kiai sepuh paham.
“Innalillah... maksudmu nyantet.” Kata kiai sepuh kaget.
“Darinya orang tersebut mempunyai anak buah untuk berguru kepadanya, puluhan bahkan ratusan.” Kata panglima menerangkan.
“Terus yang wanita tetanggaku itu, kenapa dia bisa disini.’
“Tetanggamu itu melakukan pesugihan, dia tidak sabar untuk menjadi kaya. Padahal dia sudah lumayan dagangannya. Orangnya tidak sabar, kurang patuh kepada suami. Dia melakukan ritual dengan laki-laki lain di tempat (.....) gunung di jawa. Anaknya pun dikorbankan untuk tumbal keserahakahannya. Akhirnya waktu kontraknya habis dengan kami, maka sudah semestinya dia berada disini.” Kata panglima dengan bangga.
“Allahu Akbar. Jadi, mereka yang bekerja disini adalah manusia-manusia yang tersesat. Astaghfirullah.” Ucap kiai sepuh kaget dan ngeri.
“Itulah kanjeng ndoro, kenapa aku memperlihatkan mereka kepada panjenengan. Agar panjenengan paham untuk apa datang kemari.” Kata panglima penasaran.
“Sebenarnya aku datang kemari mau meminta tolong kepada kanjeng ratu untuk membantuku untuk mengusir penjajah di tanah jawa. Aku sudah tua, dan tidak ikhlas jika orang-orang jawa diperlakukan seperti itu. Mereka dilecehkan martabatnya, diperkosa yang wanita, disiksa dan dipaksa bekerja tanpa istirahat lelakinya. Bahkan orang-orang jawa dibunuh dengan sadis, yang paling memilukan mereka mati kelaparan. Aku tidak ikhlas jika diperlakukan seperti itu panglima.” Kata kiai sepuh sedih menitikkan air matanya.
“Untunglah kanjeng ndoro.” Kata panglima berbicara. Kiai sepuh marah tidak terima, apa maksud untunglah. Bukankah itu suatu penderitaan kepada orang-orang jawa.
“Apa maksud panglima, kamu menghina orang jawa, kamu menghina saya... hah.....” Ucapnya marah, matanya mendelik melihat panglima. Para pengawal di belakangnya dengan sigap memasang kuda-kuda jika kiai sepuh menyerang.
“Ampun kanjeng ndoro, jangan marah dulu.” Ucap panglima kaget jika kiai sepuh marah. Panglima bicaranya belum selesai yang dipotong olehnya.
“Ampun, ampun tidak ada ampun. Enak saja kamu bilang begitu.” Ucap kiai sepuh masih marah. Panglima merayu kiai sepuh agar meredam emosinya.
“Bukan itu yang saya maksud kanjeng ndoro, yang saya maksud untunglah adalah kanjeng ratu saya saat ini tidak berada di istana, sudah tujuh hari beliau pergi menghadiri pertemuan antar negara kami.” Ucap panglima menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi. Kiai sepuh berdiri terdiam membisu, dia agak malu jika dia salah paham.