Aku Renava.
kedua orang tua ku bercerai dan ayahku menikah lagi.
Berada serumah dengan ibu tiri yang setiap hari menyiksaku membuat rumah ini terasa seperti di neraka,sedangkan ibu kandungku entah berada dimana.
Keadaan inilah yang membuatku kabur dan bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Aku meninggalkan bangku kuliah dan fokus pada pekerjaan ku.
"Rena kamu sudah menata bunga di ruang tamu kan? sebentar lagi teman teman saya mau kesini" ucap nyonya Maya.
Nyonya Maya adalah majikan Rena.
Ia memperlakukan Rena seperti anak nya sendiri.
" ahhh sudah nyonya" jawab ku.
" yasudah sekarang kamu ikut saya ke kamar,bantu pilihkan saya baju kan kamu pandai memilih baju" ajak nyonya sambil menarik tangan ku.
Rena hanya menurut karena memang sudah seperti ini.
Setiap ada acara atau kegiatan lainnya nyonya selalu meminta Rena memilihkan pakayan untuknya.
Setelah selesai dengan urusan pakayan Rena bergegas keluar dan menyelesaikan pekerjaan lainnya.
" Renavaaaaaaa......"
Rena yang sedang asik dengan pekerjaan nya sedikit mendengus kesal ketika mendengar suara bariton itu menggema memenuhi seisi rumah memanggil namanya.
Tanpa mengalihkan pandangan ia tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Renaa dipanggil sama tuan Darren" ucap salah satu pelayan menghampiri Rena.
" ayo Rena buruan sebelum kamu dimarahin" tambah yang lainnya.
"iya iya tolong lanjutkan ini yah" ucap Rena sambil berjalan meninggalkan pekerjaannya.
"hufff kalian tidak tau saja dia menyuruhku kesana hanya untuk memamerkan kemesraan dengan kekasihnya itu" dengus Rena kesal.
Dengan setengah berlari Rena menaiki tangga dan mengatur napasnya saat hendak membuka pintu.
"Maaf tuan muda ada yang bisa saya bantu?" tanya Rena setelah di perbolehkan masuk.
"Kenapa kamu lama sekali hah??? cepat buatkan saya dan Milla minuman"omel Darren.
" maafkan saya tuan muda, baik saya akan menyiapkan minumannya tuan" Rena segera berbalik dan menghilang di balik pintu.
Darren tersenyum penuh kemenangan, baginya mengerjai Rena adalah kesenangan tersendiri.
Kini Rena telah kembali dengan membawa minuman dan beberapa makanan ringan.
Saat hendak kembali membuka pintu tiba tiba Darren menahannya.
" Kamu mau kemana? saya ngga suruh kamu pergi!! Berdiri saja disitu!"
Rena hanya menarik napas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan kesal.
Sementara Darren dan Milla sibuk dengan pekerjaan mereka Rena masih berdiri di tempatnya, tidak ada percakapan hingga suasana terasa sangat tenang dan sunyi.
Tiba tiba pintu terbuka, ternyata Denis sepupu Darren.
" haii kalian mau bekerja sampai kapan?? ayok makan malam dibawah tante udah nungguin" ajak Denis.
" hehhh Rena?? ngapain kamu disini?? pantas tadi aku nyariin kamu ngga ada" sapa Denis terkejut melihat Rena berdiri mematung.
Tanpa menjawab Rena hanya tersenyum.
" cihh dasar sok manis!! dia ngga pernah senyum seperti itu ke aku" umpat Darren dalam hati.
" aduh yaudah ayokk!! aku udah laper banget niih" sela Milla.
Saat Denis hendak memegang tangan Rena untuk turun Darren dengan cepat menarik tangan Rena dan turun ke ruang makan tanpa rasa bersalah.
Denis yang melihat hal itu hanya menyengir sedangkan Milla hanya mengepalkan tangan menahan amarah.
Kini semua anggota keluarga sudah berada di ruang makan termasuk Rena yang diajak makan bersama oleh nyonya Maya.
Semuanya makan dengan tenang terkecuali Rena.
Ia merasa tidak nyaman karena semua mata pelayan disitu memandang ke arahnya.
Ada yang merasa kagum, iri dan benci begitulah arti tatapan mata mereka.
Bagaimana mungkin Ia seorang pelayan baru sudah di ajak makan bersama di meja makan dan selalu mendapatkan perlakuan yang berbeda dari nyonya.
" ahh tante nanti Denis pinjam Rena yahh, ART Denis lagi pulang kampung jadi Denis mau minta Rena bantu beresin apartemen" ucap Denis memulai percakapan ketika sudah selesai makan.
" ohh ya boleh dong lagian Rena juga disini ngga bnyak kerjaannya, iya kan Rena?"
" ehh iya nyonya"
" Ngga!! disini aku lebih membutuhkan Rena?" sahut Darren tiba tiba.
Semua mata memandang ke arahnya.
Dia tetap tenang tanpa peduli dengan tatapan semua orang.
" Darren kalau kamu butuh bantuan kan masih ada aku" sela Milla.
" ngga aku maunya Rena!"
" Yasudah tanya sama Rena aja mau bantuin siapa?" ucap nyonya.
" bagaimana Rena?" tanya Denis.
" saya bantuin mas Denis aja" jawab Rena setelah memikirkannya dengan matang.
" apa?? mass?? sejak kapan mereka jadi sedekat ituu?" lagi lagi Darren mengumpat dalam hati.
Darren lalu berdiri dan meninggalkan mereka menuju ke kamarnya setelah mendengar jawaban Rena.
" hahhh selamat bersenang senang dengan kekasih anda ini tuan muda!!! setidaknya aku bisa menenangkan diri untuk beberapa harii" batin Rena.
Malam ini Rena langsung ikut dengan Denis ke apartemennya.
Sementara Darren dari tadi tidak menunjukan batang hidungnya.
Ahhh sudahlah memangnya apa peduli Rena?
Sudah beberapa hari Rena berada di apartemen Denis.
Kali ini Darren benar benar merasa kesepian.
Biasanya setelah pulang dari kantor ia suka menjahili Rena.
Tapi sekarang ia hanya bisa mengurung diri di kamar.
Sementara di apartemen Denis, Rena tidak tau harus melakukan apa.
Ia hanya bisa membersihkan apertemen.
Denis selalu membawakan makanan dari luar sepulang kantor.
" mas kalau pekerjaan saya hanya seperti ini mending saya pulang saja yah?" ucap Rena saat mereka sedang menonton televisi.
Rena mulai merasa bosan.
Niatnya ingin melarikan diri dari Darren malah dia yang merasa bosan, mungkin karena sudah terbiasa direpotkan oleh Darren.
" kenapa?? kamu ngga suka disini?" tanya Denis.
" ah bukan seperti itu mas, saya hanya tidak terbiasa seperti ini".
Tiba tiba bel berbunyi.
Tanpa banyak berkata Rena segera berlari ke arah pintu.
Ia terkejut karena yang datang adalah Darren.
" sudah puas kamu disini?" tanya Darren tiba tiba tanpa menyapa.
Ia langsung menerobos masuk.
Rena hanya menatap Darren bingung.
" memang dia ini suka seenaknya saja" batin Rena.
" Aku mau bawa Rena pulang!"
Denis hanya diam sambil matanya terus menatap televisi.
" Rena tolong buatin minum 2 yah" ucap Denis.
Rena hanya mengangguk dan menuju dapur.
" kamu suka sama Rena?" tanya Denis tanpa basa basi.
" Aku yakin kamu pasti tau apa tujuan ku membawa Rena ksini, kamu juga tau aku sangat menyukai dia. Jadi jika kamu menyukai Rena, ikat dia dengan hati dan cintamu bukan dengan permainan dan keusilan mu yang menyebalkan itu!"
Denis mengepalkan tangannya, semua yang dia katakan tadi adalah isi hati yang sebenarnya.
Selama ini ia selalu tidak tahan melihat Darren mempermainkan Rena dengan keusilannya.
Darren tidak menjawab.
Sebenarnya dia tidak tau apa yg sedang dirasakanya.
Apakah dia terbiasa menjahili Rena atau terbiasa dengan kehadiran Rena di hidupnya?
Sedangkan beberapa hari ini dia merasa kesepian karena tidak ada Rena.
Dia marah bila Rena dekat atau tersenyum pada laki laki lain.
Rena sudah datang membawa minuman.
Saat Rena hendak kembali ke dapur Denis menyuruhnya bersiap siap dan kembali bersama Darren.
Sebenarnya Rena ingin bertanya ada apa?
Karena melihat suasana yang cukup tegang Rena segera kembali ke kamar dan membereskan barang barangnya untuk pulang.
Di dalam mobil pun tidak ada yang bersuara hingga sampai di rumah.
" Ikut akuu!" Darren tiba tiba menarik tangan Rena saat mereka keluar dari mobil.
" tu tuann!!"
Rena berusaha melepaskan tangannya namun apa daya tenaga Darren lebih besar.
Darren berjalan menyusuri ruang keluarga menaiki tangga menuju ruang kerjanya diikuti oleh Rena yang ditarik paksa.
Segera Darren menghempaskan Rena ke sofa, ia mengunci pintu dan kembali memandang Rena.
Rena segera bangun dari sofa.
" ada apa tuan?? kenapa kita kesini?" tanya Rena bingung dengan suara bergetar karena takut.
" apa tuan mau bekerja? kalau begitu saya akan menyiapkan kopi"
" duduk!" teriak Darren.
Rena sedikit terkejut dan segera duduk.
Darren berjalan menuju sofa dan duduk di samping Rena.
" Renaa!! sejak awal kamu adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku!" ucap Darren sedikit berbisik.
" ada apa tuan? apakah saya membuat kesalahan? " kali ini Rena benar benar gemetar.
" kamu adalah milikku Rena oeang lain tidak akan bisa memilikimu selain aku!" suaranya mulai meninggi.
Belum sempat menjawab Darren sudah mendaratkan bibirnya ke bibir Rena.
Seketika tubuh Rena membeku.
Karena tidak ada respon dari Rena, Darren mencengkram lengan Rena dengan kuat hingga membuat Rena merintih.
Dengan segera Darren memasukan lidahnya dan bermain liar di dalam mulut Rena.
Ini merupakan pengelaman pertama Rena sehingga dia tidak tau harus bagaimana.
Sesudah melepaskan ciumannya Darren memandang Rena yang terus menutup matanya sambil menahan napas.
" Bernapas bodoh!! kenapa terus menutup matamu?"
Mendengar suara itu Rena segera membuang napas yang ia tahan dari tadi dan membuka matanya.
" apakah ini yang pertama bagimu hmm?"
Dengan malu Rena mengangguk.
Darren hanya tersenyum menahan tawa.
Kemudian ia membaringkan tubuhnya dan meletakan kepala di paha Rena.
Saat hendak bergerak Darren menahannya.
" Tetaplah seperti ini, aku merasa nyaman".
Beberapa saat Darren ketiduran.
Saat Darren tertidur Rena terus memandangi dan memuji ketampanannya.
Tak berapa lama Rena pun tertidur.
Saat bangun pagi Darren menyadari Rena tidak ada disana.
Kini ia bangun dan tersenyum mengingat apa yang terjadi semalam.
Ia segera keluar dari ruang kerjanya dan menuju kamarnya.
Setelah mandi ia duduk di kursi depan kamarnya sambil mencari Rena.
Para pelayan yang sedang bekerja merasa heran dengan sikap Darren sang tuan muda.
Tidak biasanya ia seperti itu.
Setelah beberapa saat Rena keluar dari kamar nyonya.
Melihat para pelaya berbisik bisik dia menjadi penasaran dan bertanya ada apa.
Para pelayan melayangkan pandangan ke arah Darren diikuti oleh Rena.
Darren dengan segera membalikan badan.
Namun Rena hanya memandang sekilas kemudian berlalu ke dapur.
" apa?? kenapa dia mengabaikan ku? apa dia lupa apa yg terjadi semalam?" Darren mulai kesal sendiri.
" Lusii!!"
Suara Darren yang setengah berteriak itu mengagetkan semua org.
" suruh Rena ke kamar saya sekarang!" ucap Darren lagi lalu masuk ke kamarnya tanpa peduli dengan jawaban Lusi.
Darren sungguh kesal dibuat Rena.
Lusi segera berlari kedapur mendapatkan Rena dan menyampaikan pesan penting tersebut.
Dengan langkah malas Rena menuju kamar Darren.
" Dari tadi tuan muda melihat kita bekerja disini kenapa Rena yang dipanggil?" protes pelayan lain saat melihat Rena menaiki tangga.
Demikian mereka mulai berbisik satu sama lain terkecuali Lusi yang adalah teman baik Rena di rumah itu memilih untuk menjauh.
" Apakah pekerjaan kalian tidak cukup banyak?? haruskan saya menambahkan perkerjaan agar kalian tidak bisa bergosip?"
Ibu Asih ketua pelayan rumah itu.
Dia memang tidak suka dengan orang yang suka menggosip, apalagi sesama pelayan.
" Kalau bukan Rena yang melayani nyonya dan tuan muda apa kalian sanggup? Sudah lupa saat Rena pergi beberapa hari bagaimana kalian kesulitan melayani nyonya? Jadi berhentilah bergosip dan fokus saja pada pekerjaan kalian" ucap bu Asih dengan penuh penekanan.
Bu Asih adalah orang yang paling mengerti tentang keadaan Rena.
Ia adalah org yang paling bersyukur karena kehadiran gadis itu.
Bagaimanapun hanya Rena yang bisa mengikuti keinginan nyonya dan melayani tuan muda dengan kesabaran tingkat tinggi.
Sementara itu di kanar tuan muda Rena masih berdiri mematung di hadapan Darren.
Sebenarnya dia tidak mengetahui alasan mengapa ia dipanggil.
" kenapa kamu mengabaikan ku? " tanya Darren kemudian.
Rena hanya mengerutkan kening merasa bingung.
" apalagi ini?" batin Rena.
" Apa kamu lupa apa yang terjadi semalam?? atau aku perlu mengulangnya lagi?" Darren bangun dari sofa dan mendekati Rena.
Kini Darren berada tepat di depan Rena.
Jantung Rena terus berdegup kencang " hey jantung bodoh berhenti lah berdetak atau dia akan mendengarmu" batinnya.
Dengan cepat Rena mendorong tubuh Darren menjauh darinya.
" Beraninya kau menolak ku!! "
" Maaf tuan" Ucap Rena sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
" hmmmm aku tidak marah, karena kamu adalah milikku maka aku adalah milikmu. Lakukanlah apa yang kamu mau" ucap Darren seraya tersenyum nakal pada Rena.
" saya milik tuan?" bertambah sudah kebingunan Rena.
" heyy bodohh!!! apa perlu ku ulang perkataanku?? sejak Semalam kau adalah miliku Renava!! "
" tapi bukan kan tuan sudah memiliki nona Milla? "
Darren diam sejenak kemudian tersenyum lagi.
" apakah dia mengira Milla adalah pacarku?" batin Darren.
" hmm kalau begitu aku mau memiliki keduanya, kamu dan Milla"
" hayy mana bisa seperti itu tuan? anda harus memiliki satu bukan dua!! Memangnya ada cewek yang mau diduakan? " ucap Rena tiba tiba.
Darren terkejut dengan perkataan Rena.
" aihh mulut bodohh!! apalagi yang kau katakan!!!" Rena mengerutuki dirinya sendiri.
" ada apa?? apa kamu tidak rela membagiku dengan orang lain? kamu akui aku adalah milikmu?" ucap Darren menggoda Rena.
" cihh miliku apaan? anda saja tidak mengatakan apa apa" gumam Rena berbalik hendak melangkah menuju pintu.
" Aku Mencintaimu" Suara Darren terdengar serius.
Langkah Rena berhenti.
Darren mendekat dan memeluk Rena dari belakang.
" Aku Mencintaimu Renava! sudah lama aku ingin mengatakan ini namun aku tidak tahu harus mulai darimana dan aku hanya bisa bersembunyi di balik permainanku untuk mengikatmu".
Rena hanya terdiam dan tidak menjawab bahkan bergerak sedikitpun.
" Aku juga mencintaimu tuan muda!" batin Rena.
Ia segera melepaskan tangan Darren yang melingkar di pinggangnya dan bergegas membukan pintu namun Darren menariknya.
" mau kemana?" tanya Darren.
" mau menyiapkan sarapan untuk anda tuan, dari tadi anda belum makan" jawab Rena menunduk.
Ia malu menatap Darren karena wajahnya sudah bersemu memerah.
" hey tapi kamu belum menjawab pertanyaanku, katakan ya atau tidak!! kalau jawabanmu tidak jangan harap kamu bisa keluar dari kamarku!!"
" heyy tuan! apa gunanya ada memberikan pilihan kalau saya tidak bisa memilih! " jawab Rena tak terima.
" Itu artinya kamu hanya bisa menjawab Iya" ucap Darren sambil tersenyum puas.
Darren menggenggam tangan Rena dengan erat.
Tatapannya sangat mendalam.
" Bisakah jangan memanggil ku tuan? bisakah kita jangan menggunakan kata anda dan saya? dan lebih penting lagii bisakah jangan memanggil Dennis mas?"
" apa yang anda inginkan tuan?"
" astaga apakah kamu sepolos ini? panggil aku sayang!"
Rena terkejut " apakah ini tidak terlalu berlebihan tuan?"
" ckk sudah kubilang jangan memanggilku tuan!! cobalan untuk berkomunikasi denganku menggunakan kata aku dan kamu itu akan terdengar lebih enak"
" ohh baiklah akan ku coba" jawab Rena.
" apa kita perlu mengulang yang semalam itu?" goda Darren.
" mengulang apa?" tanya Rena menutup bibirnya.
" heyy sepertinya kamu sudah mengerti maksudku"
" itu ciuman pertamaku tau!" jawab Rena dengan ketus.
" itu juga ciuman pertamaku!" Darren tak mau kalah.
" aaaa kenapa kamu seperti sudah berpengelaman?"
" yaa aku hanya berusaha saja, setidaknya laki harus lebih aktif!" jawab Darren sekenanya.
Rena hanya menatap Darren dengan kesal.
" Mau kemana lagii?" tanya Darren ketika Rena hendak membuka pintu.
" Mau mengambil sarapan buat tuan muda!" jawab Rena kemudian menutup pintu.
Darren bernapas lega dan menghempaskan tubuhnya di sofa.
Ia tak berhenti menyunggingkan senyumannya.
Apakah sekarang ia sudah bahagia?
Bahkan cermin kini menjadi saksi kebahagiaannya.
Sekarang senyuman itu sudah sering terukir di bibirnya sejak kehadiran sang gadis pujaan.
********************************************************
Hasil dari kagabutanku😂
sebenarnya kelanjutannya masih panjang buangetttt.
Thor kasih segini dulu yahh!!
jangan lupa tinggalin jejak😁😘