Aku akan selalu menunggumu, di bawah pohon sakura, meskipun warnanya berganti menjadi merah darah.
***
Dia datang menemuiku setiap kali hujan di malam hari, dengan tubuh dan rambutnya yang basah kuyup dia menungguku sambil memesan sebotol sake. Samurai tampan dengan rambut kecoklatan terbakar mata hari dan mata biru yang sedalam lautan.
"Cepatlah Aoi! Pelanggan favoritmu sudah datang!" panggil Okami san padaku. Dia ibu pemilik rumah bordil tempatku bekerja. Dengan senyum riang dia membetulkan kimono dan aksesoris rambutku sebelum mengirimku ke kamar biasa yang telah dia pesan.
Hatiku berdebar kencang dan perasaanku tak karuan saat langkahku semakin mendekat ke pintu kamar itu. Aku membungkuk sopan sebelum menghampirinya dan duduk manis di sampingnya. Dengan perlahan dan hati-hati menuangkan sake untuknya.
Aku sadar aku hanyalah seorang oiran bukanlah geisha, sedangkan dia seorang samurai dan satu dari sekian pria pelangganku. Kehadirannya disini pun tak berbeda dengan lelaki lain. Setelah meminum sake, yang mereka inginkan kemudian adalah tubuhku untuk menghangatkannya. Aku tak berharap lebih darinya. Tapi melihatnya datang untuk menemuiku dan memilihku daripada gadis lain sudah membuatku bahagia dan merasa diriku spesial.
"Aoi..." Dia memanggilku dan menatapku dengan senyuman yang bahkan lebih hangat dari mentari. Nama ini bukanlah nama kelahiranku, tapi aku tak peduli. Setiap kali dia membisikanku nama itu ditelingaku jantungku selalu berdetak lebih kencang.
"Aku akan pergi cukup lama... dan mungkin tak bisa menemuimu lagi..." ucapnya saat hujan sudah reda.
"Kau akan pergi kemana Tuan?" tanyaku penasaran. Tak biasanya dia berbicara padaku dengan ekspresi ragu, di mataku dia seorang pria yang selalu penuh percaya diri. Namun saat ini ada binar ketakutan terpancar jelas di matanya.
"Aku akan pergi ke Sekigahara..."
Tidak perlu dia menjelaskan panjang lebar aku mengerti apa maksudnya. Peperangan sudah berada di depan mata, yang berarti waktunya bagi samurai sepertinya untuk pergi bertarung mempertaruhkan nyawanya.
"Apa kau akan melupakanku, Aoi?" tanyanya lagi dengan senyuman ketir di wajah tampannya.
"Tentu saja tidak Tuan, aku akan menunggumu di tempat yang sama seperti saat kita pertama kali bertemu..." jawabku dengan senyum meyakinkan.
Itulah perbincangan terakhir kami sebelum dia benar-benar pergi.
Seperti janjiku aku menunggunya di bawah pohon sakura, tempat pertama kali kami bertemu. Usiaku saat itu 16 tahun, aku lari dari ibu asuhku yang hendak melelang keperawananku pada sembarang pria yang menawar tertinggi. Lalu aku bertemu dengannya. Pria pertama yang membuat diriku merasa seperti wanita seutuhnya, bukan gadis kecil lagi. Ya, dengan naifnya aku jatuh cinta padanya, sejak pandangan pertama.
Hari berganti hari, dia tak kunjung tiba. Aku tetap menunggu walaupun bunga sakura telah berguguran dan rantingnya mengering pertanda berganti musim. Tanpa kusadari rambutku sudah memutih dan kulitku sudah berubah keriput. Aku tidak secantik Aoi yang dulu lagi. Apakah dia masih bisa mengenaliku? Air mataku tak tertahankan lagi, menyadari kebodohanku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana nasib samurai itu, apakah dia sudah meninggal dunia, atau dia bertemu wanita lain dan menikah dengannya.
***
Ratusan tahun kemudian
"Hei! Aoki! Lagi-lagi kau bolos sekolah dan malah tiduran disini!" suara Kenta sahabatku membangunkanku dari tidur siangku.
"Huahm, ada apa lagi sih, Kenta?!" bentakku kesal sambil meregangkan tanganku malas. Mataku masih lengket karena mengantuk.
"Kau dicari Pak Guru Hide!"
"Pak Guru Hide siapa?" tanyaku heran. Baru kali ini aku mendengar ada guru baru bernama Hide. Aku yang dikenal sebagai murid bandel dan sering membuat masalah di sekolah merasa tidak mengenal nama itu.
"Pak Hideyoshi! Dia guru baru, wali kelas kita masa kau tidak tahu? Ah! Aku tahu kau pasti bolos di hari pertama masuk sekolah kemarin kan?" Kenta kembali mengomeliku, berisik sekali. Aku hanya mengkorek kupingku dan mengacuhkannya sambil berlalu pergi.
"Kau yang bernama Aoki kelas 2-C kan?"
Deg! Suara dingin yang familiar masuk ke telingaku. Aku sontak menoleh ke arahnya dan saat itu juga jantungku berdebar kencang. Pria dengan rambut merah kecoklatan dan mata biru seperti lautan. Entah kenapa bayangan masa lalu seperti mimpi muncul dalam pikiranku. Mataku memerah dan berkaca-kaca menahan emosi yang meluap di dalam dada.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau sakit?" tanyanya sambil menepuk sebelah wajahku. "Kalau kau sakit sebaiknya pergi ke klinik bukan tiduran di bawah pohon ini!" lanjutnya lagi sambil menatap pohon sakura tinggi besar dan rindang yang memayungi kami. Sejenak dia terdiam saat menyentuh batang pohonnya dengan telapak tangan. Dia terlihat memejamkan mata sambil menarik napas dalam.
"Maafkan aku, Aoi..." bisiknya kemudian sambil memberiku tisu.
Aoi? Apa aku tidak salah dengar? Aku terbelalak kaget, namun sebelum aku membuka mulutku untuk mengucapkan sesuatu padanya dia sudah berlalu pergi.
"Hei kau kenapa Aoki? Apa kau menangis?" tanya Kenta yang rupanya sedari tadi menyaksikan keanehan tingkahku.
"Tidak kenapa-napa, hanya mataku kelilipan... anginnya kencang dan bunga sakura ini menyebalkan! " jawabku asal sembari segera menyusut air mataku dengan tisu.
Bahkan saat abad berganti dan aku hidup kembali, aku tidak ditakdirkan untuk bersamanya. Aku memandangi bayangan diriku di kaca jendela bus sekolah. Seorang pemuda dengan rambut hitam pendek balas menatapku dengan mata merah sehabis menangis. Aku tidak mengerti mengapa semesta dan para Dewa begitu kejam. Apakah aku harus menunggu hingga terlahir lagi di kehidupan baru untuk bisa bersamanya?
TAMAT