#Cinta Beda Era
Senja hampir luruh dengan sinar Mentari yang hampir tenggelam. Nampak seorang gadis manis dengan lesung pipit menarik sebuah karung berisi kacang tanah dengan susah payah menuju pinggir kebun.
Kebun kacang yang cukup luas di sebuah desa Wiladeg.
" Dah selesai belum, Nduk ? " sebuah suara dari Mbok Wayem bertanya kepada gadis itu.
" Belum Mbok, sebentar lagi. " jawab gadis manis itu ditengah peluhnya mengangkat beberapa karung kacang.
" Ya wes, selesaikan cepat Nduk. Jangan lama - lama. Hari hampir Magrib. "
" Simbok tinggal pulang dulu, Nduk. Simbok mau masak buat makan malam kita. " ujar Simbok.
" Ya, Mbok. "
" Taruh disini saja, Nduk.jangan diangkat ! Biar Masmu yang angkat. " Mbok Wayem mengingatkan lagi. Anak gadis semata wayangnya ini memang pekerja keras.
Mbok Wayem, wanita paruh baya itu melangkah pergi meninggalkan kebun kacang milik tetangganya.
Ya, Mbok Wayem dan anak gadisnya, Suryani madalah buruh paruh waktu di kebun kacang Juragan Mardi di kampung Wiladeg.
Suryani masih asyik memasukkan kacang tanah yang seharian sudah dijemurnya di tegalan yang mengering karena musim panas ke dalam beberapa karung.
Suryani menarik sebuah karung yang penuh berisi kacang. Dengan susah payah Suryani menariknya ke pinggir kebun supaya nanti mas Entit kekasihnya dapat mengangkut ke gudang Juragan Mardi.
" Akh ... . "
Tiba - tiba Suryani mengaduh kesakitan. Dilihatnya ujung kakinya berdarah karena tanpa sengaja menginjak bonggol tanaman jagung.
Tubuh Suryani terhuyung karena menahan karung besar dan ujung kakinya yang mulai terasa perih.
" Akh... . " tubuh Suryani hampir ambruk jatuh ke atas bonggol tanaman jagung. Suryani memejamkan mata berharap ada keajaiban. Beban karung yang berat dan ujung kaki yang sakit benar - benar tidak bisa membuatnya melangkah menghindar atau sekedar menahan berat tubuhnya dan karung kacang.
Tiba - tiba sebelum tubuh Suryani jatuh ada tangan yang sigap menahan berat tubuhnya dan karung kacang sehingga Suryani tidak jadi jatuh di atas bonggol tanaman jagung.
Harum wangi maskulin terhirup masuk ke dalam indera penciuman Suryani.
Suryani bergidik, bulu kuduknya meremang. Ada perasaan aneh yang menyusup dalam relung hatinya.
Ada rasa nyaman yang entah dari mana muncul tiba - tiba. " Pelukan ini kenapa hangat sekali, " batin Suryani
" Akh. maaf. " ucap Suryani sadar bahwa ada orang asing yang sedang memeluknya posesif dari belakang.
Hari hampir gelap sempurna. Bunyi binatang malam mulai terdengar.
" Maaf. Bisa lepaskan saya ? Terima kasih sudah menolong saya. " ucap Suryani tulus sambil mengurai tangan kekar yang memeluknya dengan posesif.
Pelukan itu terlepas dan laki - laki itu memapah Suryani duduk diatas batu di pinggir galengan.
" Terima kasih. " ucap Suryani tulus sekali lagi.
Suryani duduk dan masih sibuk dengan luka di ujung kakinya. Tubuhnya terasa sangat letih karena seharian bekerja di kebun.
Tangan kokoh itu menyentuh lukanya. Dan Suryani kaget saat memperhatikan tangan kekar itu.
Harum maskulin menyeruak lagi di indera penciumannya, membangkitkan perasaan aneh dalam sudut hati Suryani.
" Terima kasih, biar saya bersihkan sendiri " ujar Suryani menghentikan tangan kokoh itu yang masih terus berusaha membersihkan ujung kakinya dari tanah dan ranting kecil yang masih menempel.
Pandangan Suryani terpaku pada sosok tinggi kekar dihadapannya. Laki - laki ganteng, dengan rahang keras, cambang di dagunya. Tatapan mata yang tajam dengan bibir yang seksi.
Seketika Suryani seperti orang linglung. pemandangannya tentang sosok laki - laki di depannya sangat membuatnya terpesona.
Jantungnya berdebar kencang. Inikah yang dinamakan jatuh cinta ? batin Suryani bertanya - tanya.
Yah Suryani anak gadis Mbok Wayem hanya gadis desa, yang hanya tamat SMA. Suryani tidak melanjutkan sekolahnya karena terbentur biaya.
Mbok Wayem, simboknya hanya perempuan single parent sejak usia Suryani masih balita. Mbok Wayem hanya buruh lepas di kebun Juragan Mardi, sehingga uang yang dihasilkan tak seberapa, hanya cukup untuk kebutuhan sehari - hari.
Suryani menatap laki - laki di depannya dengan penuh kekaguman. Mas Entit, kekasihnya tidak pernah membuat jantungnya berdebar - debar seperti ini.
Suryani menghela nafas perlahan. Ada perasaan marah dan tidak terima sedang menggerogoti hatinya saat mengingat mas Entit kekasihnya.
Sebenarnya Suryani tidak pernah menganggap Mas Entit sebagai kekasihnya. Mas Entit meminta dirinya pada Mbok Wayem sebagai jaminan utang ketika Simboknya meminjam beberapa juta uang juragan Mardi untuk menebus ijasah Suryani dan membayar biaya Rumah Sakit Pakde Sarlan kakak simboknya.
Mas Entit anak Juragan Mardi adalah laki - laki temperamental yang gampang terpicu emosinya walaupun dia seorang laki - laki pekerja keras tapi laki - laki itu mudah main tangan.
" Hai, " sebuah suara bariton menyadarkan Suryani dari lamunannya.
" Lukamu sudah ku obati. Hati - hati, usahakan jangan terkena air ! " ucap laki - laki itu lagi.
Suryani hanya melongo melihat ujung kakinya yang sudah terbebat rapi.
" Terima kasih. " ucap Suryani lagi dengan senyum tulusnya.
Laki - laki itu tampak terpana melihat lesung pipit yang terlihat sangat manis menghias wajah gadis di depannya.
Tanpa sadar laki - laki itu membingkai wajah Suryani dengan tangan kokohnya.
" Aku menyukainya. " ucap laki - laki itu sambil mengecup singkat bibir Suryani.
Suryani kaget sekali dengan kelakuan laki - laki di depannya.
" Ciuman pertamaku, Kau mengambil ciuman pertamaku. " Suryani memerah wajahnya dan marah karena ciuman pertamanya sudah diambil laki - laki di depannya.
Tangan Suryani memukul tubuh laki - laki itu berulang kali sebagai bentuk kemarahannya.
" Hahaha... kau lucu sekali. Di jaman sekarang Kau belum pernah berciuman ? Sama sekali. Wow ... amazing. " Laki - laki itu nampak tidak percaya.
" Tunggu ! Kamu sebenarnya siapa ? " Suryani bertanya setelah menyadari bahwa laki - laki di depannya bukan warga kampungnya.
" Kamu bukan orang Indonesia ? " Suryani memgamati lebih detail wajah dan perawakan laki - laki di depannya dengan hanya bantuan sinar rembulan dan lampu jalanan di pinggir tegalan.
Malam sudah beranjak. Dan Suryani merasa heran mas Entit yang ditunggunya ternyata tak kunjung datang mengangkut karung - karung kacang dengan mobil pick upnya.
Suryani mulai celingukan menyadari bahwa suasana tegalan sudah gelap sempurna. Bunyi hewan malam sudah terdrngar bersautan.
" Kau takut ? " suara bariton itu menyadarkan Suryani.
" Hans Braxton. " Laki - laki itu mengangsurkan tangan kanannya.
" What's your name ? " ucapnya lagi.
Suryani mengkerutkan keningnya. " Kau bukan orang Indonesia. Logat bicaramu lain ? "
" Nona cantik, aku sedang bertanya kepadamu. Siapa namamu ? "
Suryani gelagapan. Wajahnya pias menahan rasa malu ketika laki - laki di depannya terus menatapnya dengan tajam.
" Suryani. "
" Suryani, maukah Kau menikah denganku ? "
" Hah ? Kau gila. Kita baru bertemu malam ini dan Kau mengajakku menikah ? Bule gila. " Suryani tertawa sumbang, karena jengah dilamar pada hari pertama pertemuan mereka.
" Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, An. "
" An ? "
" Suryani, Ani. An. I like your name. "
" Ikutlah denganku. " Tatapan mata Hans Braxton semakin tajam.
" Akan ku tunjukan duniaku yang lebih maju dan indah. Kau mau An ? " Hans Braxton menggenggam tangan Suryani dan melangkah pergi.
" Tunggu, Hans ! Bagaimana dengan karung - karung kacang ini. Tidak mungkin aku meninggalkan karung - karung ini begitu saja di tegalan. Kalau ada yang mencuri bagaimana ? Juragan Mardi dan mas Entit bisa marah besar. " ucap Suryani menghentikan langkahnya.
Lalu Suryani berusaha melepaskan tangannya dari genggaman laki - laki itu. Tapi tangan itu dengan kokoh tetap menggenggam tangannya.
" Ikut aku, An ! Jangan menolak ! Aku mencintaimu. " rayu laki - laki itu lagi.
" Tidak ! Lepaskan ! Hans, lepaskan ! " Suryani mencoba berontak dan menghentakan tangannya berulang kali.
Tapi tak juga berhasil usahanya.
" Ikut aku ! " Hans menatap marah Suryani.
Tiba -tiba mata Hans Braxton memerah, menatap tajam Suryani. Tangan laki - laki itu sedingin es.
Suryani nampak ketakutan.
" Tolong lepaskan aku ! "
" Aku tidak akan melepaskanmu, An. Aku jatuh cinta padamu. Maafkan aku ! Kau harus tetap ikut aku. Aku sudah menunggumu lama. Aku selalu memperhatikanmu setiap hari. Jadi menikahlah denganku ! " ucap Hans Braxton tegas. Diraihnya tubuh Suryani dan dipeluknya erat. Hans Braxton meniup telinga Suryani dengan lembut.
Tiba - tiba Suryani dapat merasakan bahwa suasana malam yang sepi dan sunyi berubah menjadi suasana yang meriah sebuah pesta.
Tubuh Suryani terguncang perlahan.
" Aku dimana ? " tanya Suryani dari balik pelukan Hans Braxton. Tubuh Suryani menegang karena Hans Braxton masih memeluknya posesif.
" Tolong, lepaskan ! Aku mau pulang. Simbok pasti sudah menungguku pulang. Lain kali saja aku ikut dirimu. Lepaskan ! " Suryani memberontak mencoba mengurai pelukan laki - laki itu.
" Berhentilah memberontak An ! " desis laki - laki itu marah.
" Aku hanya ingin menikah denganmu dan membawamu ke duniaku. Jangan menolakku, An ! " ucap laku -laki itu seraya menggigit leher Suryani dan menghisap darahnya hingga habis.
***
Di rumah, mbok Wayem menangis tersedu - sedu masih memeluk anak gadisnya yang terbaring dengan tubuh yang kaku. Wajah Suryani pucat seputih kapas
" Ikhlaskan, Mbok ! Memang sudah takdir Suryani demikian. " nasihat Juragan Mardi mencoba menenangkan calon besannya.
Senyum bahagia tersungging di sudut bibir Juragan Mardi.
Mbok Wayem masih sesenggukan menangis, meratapi anak gadis semata wayangnya yang terbujur kaku dengan wajah pucat ketakutan. Mata Suryani sudah terpejam sempurna. Tubuhnya pun sudah mulai dingin.
Suara tangis Mbok Wayem sudah meraung - raung sedih. Sudah beberapa kali dirinya jatuh pingsan karena kesedihan yang mendalam atas kematian anak gadisnya yang mendadak.
Juragan Mardi berdiri, " Mbok, saya pamit pulang dulu. Nanti Entit biar temani Mbok Wayem. Untuk pemguburan Suryani biar saya yang urus. Simbok yang ikhlas ya ! "
" Saya pamit, Mbok. " Juragan Mardi melangkah keluar dari rumah Mbok Wayem. Dengan terburu - buru Juragan Mardi pulang menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah Juragan Mardi memasuki kamarnya dan melakukan pemujaan seperti biasanya jika dirinya telah menumbalkan seorang anak gadis untuk menambah kekayaannya.
Tiba - tiba dari meja pemujaan muncul asap yang mengepul dan membentuk raksasa tinggi besar. Lama - lama raksasa itu berubah menjadi sosok perempuan yang sangat cantik sekali.
" Mana persembahan anak gadis yang biasa Kau berikan Juragan Mardi ? " tanya sosok itu dengan wajah marah sambil bergerak mendekati Juragan Mardi dan mencekik lehernya dengan kuat.
" Hah ? " Juragan Mardi kehabisan nafas. Nafasnya mulai tersengal - sengal.
" Bukankah A..kuu su..dah menye..rahkan Suryani kepadamu ? "
" Kau, bodoh ! Suryani adalah kekasih penunggu Jin Hitam di tegalanmu. Bagaimana mungkin Kau memberikan persembahan kepadaku seorang gadis yang menjadi kekasih Jin Hitam. Bisa murka dia padaku. "
" Dewi, bagaimana bisa ? Sekarang Suryani sudah tewas. Dia ditemukan tak bernyawa ditegalanku. "
" Aku tidak mau tahu berikan gantinya ! " jawab sosok perempuan itu marah. " Kalau malam ini Kau tidak bisa mempersembahkan seorang gadis, maka anakmu laki - laki si Entit akan ku bawa ke duniaku. Akan kujadikan dia suami ketujuhku. Sama seperti Suryani yang sudah di bawa jin Hitam kedunia kami. Lagian, Aku jatuh hati pada anakmu itu. "
" Hahahha... . "
Juragan Mardi terkejut dan mengalami serangan jantung karena merasa ketakutan dan khawatir anak semata watangnya Entit Surahman akan mengalami nasib serupa seperti Suryani.
Tubuh Juragan Mardipun luruh ke lantai tak bernyawa.