Akan ku ceritakan sebuah kisah.
Jika ini adalah sebuah dongeng, berarti akan selalu di awali dengan;
Pada suatu ketika.
Baiklah, Mari kita coba.
Pada suatu ketika hiduplah seorang pemuda di sebuah kastil tak berpenghuni jauh dari pemukiman maupun pedesaan. Kastil itu mampu untuk membuat siapa saja bergidik ngeri ketika melihat hunian megah itu. Mungkin sebagian orang akan menilai jika Kastil itu berhantu, sumber penyakit, hunian para penyihir, atau markas para penjahat keji di dunia.
Mungkin juga orang akan semakin ketakutan ketika melihat siapakah pemilik dari Kastil itu, dia—seorang pemuda berwajah di bawah rata-rata, atau sebut saja wajahnya terlalu mengerikan bagi mereka.
Perlu di ketahui, pemuda itu sengaja mengasingkan dirinya sendiri; merasa jika dia tak pantas untuk menampakkan wajah buruk rupa miliknya yang kelewat menjijikan.
Dia benci dengan takdir hidupnya!
Tuhan tak adil karena telah memberikan wajah ini padanya, baginya wajahnya ini tak lebih seperti kutukan.
Bahkan saking tak adilnya semesta padanya, kebahagiaan sukar sekali datang padanya.
Tapi—setidaknya dia punya alasan untuk tetap hidup, dia punya satu alasan untuk tersenyum meskipun itu hanya sekali saja. Alasan pemuda itu bertahan yaitu karena kegemarannya, kecintaannya, kekagumannya terhadap bunga.
Iya.
Menurutnya bunga itu adalah tanaman terindah di muka bumi. Percayalah kecintaannya terhadap bunga melebihi cintanya pada diri sendiri.
Pasti terdengar menggelikan, namun itu faktanya.
Jika tadi orang-orang berpikir Kastilnya itu menyeramkan, cobalah untuk berpikir dua kali setelah masuk ke dalam area taman milik pemuda itu.
Kedua iris kita akan langsung di suguhkan oleh banyaknya bunga bermacam jenis dan warna. Sangat indah untuk di pandang mata, dan jangan lupakan semerbak aroma yang di keluarkan oleh tanaman itu.
Hanya saja—kita tak akan pernah bisa untuk melihat taman miliknya. Atau jangan harap untuk bisa melihat, karena Pemuda itu tidak suka bila ada orang yang masuk ke dalam area pribadi miliknya.
Namun agaknya, malam itu dia lengah sampai-sampai tak menyadari jika ada seorang gadis memanjat tembok untuk menerobos masuk, gadis itu mencuri bunga berharga miliknya.
Pemuda itu tidak sempat untuk menangkapnya karena gadis itu saja sudah tidak ada di sana lagi.
Dia marah sejadi-jadinya, bersumpah tak akan membiarkan gadis itu lolos.
Pada malam berikutnya, Pemuda itu memilih untuk terjaga dan berniat untuk memergoki gadis pencuri itu lalu menyekapnya dan tak akan memberi ampun jika gadis itu kembali mencuri.
Dan benar saja dugaannya.
Gadis itu mencuri bunga lagi, bahkan sekarang membawa dua keranjang besar berisi semua bunga miliknya.
Keterlaluan!
"Aku tidak akan membiarkan kau lolos!" begitu ucapnya lalu dengan segera mengikuti kemana gadis itu pergi, dia tidak segan-segan memberi perhitungan meskipun sebagai gantinya semua orang akan mengetahui wajah buruk rupa Pemuda itu— karena keluar dengan wajah tak tertutup. Ia rela mendapat cacian, asalkan dia bisa membalas kemarahannya.
Gadis itu terus berjalan dengan tangan sibuk memegang dua keranjang besar, tanpa ada prasangka sedikitpun; jika ada orang yang tengah mengikuti dirinya.
Kakinya melangkah lebar-lebar hingga singgah di suatu pasar, dia mengajak tungkainya masuk ke dalam salah satu toko di sini.
Pemuda itu sempat mengernyit heran, lalu memilih untuk diam dan menunggu gadis itu keluar.
Tak lama berselang, gadis itu keluar membawa satu kantong kecil berwarna kuning kelabu berisi uang-uang logam. Terlihat gadis itu kembali singgah pada salah satu toko.
Pemuda itu melihat ada tulisan di papan dekat toko itu, mungkin nama toko itu sendiri lantas saja Pemuda itu hanya melirik sekilas karena dia sadar diri bahwa dia tidak bisa membaca.
Gadis itu keluar dari toko, kali ini membawa kantong berbeda. Kantong berwarna putih berukuran kecil.
Tiba-tiba saja gadis itu berlari setelah sebelumnya berbincang dengan wanita paruh baya yang menghampiri gadis itu.
Lagi dan lagi Pemuda itu kembali mengikutinya, hingga langkahnya terhenti begitu saja di depan sebuah gubuk reyot. Ia berjalan pelan lalu mendekat pada pintu, mendekatkan telinganya dan memasang rungu nya baik baik.
"Ayah, kumohon bertahanlah sebentar lagi."
"Aku menemukan bunga bunga langka di sebuah Kastil asing di tengah hutan, dan Ayah tau? Aku memetiknya lalu menjualnya di pasar, dan lihatlah—sekarang aku bisa membeli obat untuk Ayah."
"Untuk itu, kumohon bertahan. Aku yakin kau pasti akan sembuh."
Hati Pemuda itu mencelos ketika mendengar ucapan yang keluar dari bilah bibir gadis itu. Tanpa izinnya, pelupuk matanya sudah di penuhi lelehan bening. Ia benar-benar salah menilai, bagaimana bisa dia berpikiran untuk menyekap gadis berhati berlian seperti itu?
"Siapapun kau, maafkan aku." Ujarnya begitu lirih, kemudian berjalan menjauh dari sana.
****
Setelah kepulangan dia dari tempat gadis pencuri tadi, Pemuda itu memutuskan untuk membantu mengangkat beban dari pundak kecil sang gadis.
Ia akan menanam sebuah tanaman bunga yang tak ada di muka bumi, agar gadis itu bisa menjualnya dengan harga tinggi. Dengan begitu Ayahnya itu akan sembuh—pasti gadis itu akan senang.
"Cepatlah datang dan ambil bunga ini."
****
Harapan dan rindu menggerogoti jiwa Pemuda itu. Tubuhnya memandang kosong pada taman yang awalnya adalah sebuah alasan untuknya tersenyum.
Terhitung sudah sejak lima tahun silam, saat pertama kali ia bertemu gadis pencuri itu lalu menanam bunga langka untuknya. Namun, sampai sekarang Pemuda itu belum bertemu lagi dengan gadis itu.
Entah sudah berapa kali Pemuda itu berucap rindu, entah berapa kali hatinya terus merasa sakit ketika membayangkan wajah ayu milik gadis itu, entah berapa kali hatinya berkata jika dia itu mencintainya.
"Kapan kau datang?"
Hanya kata itu yang keluar dari bibir pucat miliknya. Ia ingin sekali melihat gadis itu, setidaknya sekali saja.
"Apakah semesta memang tidak ingin aku bahagia?"
"Apa aku memang tak pantas?"
"Kenapa harus aku?"
Teriakan pilu menggema nyaring sekali, Pemuda itu memukul dadanya yang terasa begitu sesak, hatinya seperti di tusuk di ribuan jarum mematikan.
Kepalanya terus menggeleng hebat ketika sebuah kenyataan menyambar rungu-nya.
"Gadis itu sudah meninggal sejak lima tahun lalu, dia depresi dengan kematian sang Ayah hingga nekat untuk bunuh diri."
Air mata mengalir deras di pipinya, dia menangis pilu, menelan mentah mentah lara di hati.
Kehidupan ini pahit sekali.
"Jika aku memang tidak pantas untuknya, lalu kenapa aku harus bertemu dengannya?" Dia berteriak sembari menekan dadanya kuat kuat. "Kenapa aku harus menderita lagi dan lagi?"
"Jika akhirnya kehidupanku tak akan pernah bahagia, maka lebih baik aku tidak lahir ke dunia, lebih baik aku mati."
Pemuda itu melirik sekilas tanaman yang dia tanam untuk sang pujaan hati, rasa sakit kembali merembet begitu kejam. Mulai sekarang bunga tidak akan membuat hatinya menghangat, mulai sekarang senyumnya tidak akan dia berikan untuk bunga.
Karena sekarang setiap melihat bunga; wajah gadis itu selalu terbayang di otaknya, itu artinya dia akan menangis lagi dan itu menyakitkan.
Semesta tega sekali membiarkan dirinya merasakan rasa sakit teramat dalam.
Semesta merenggut semua hal berharga dalam hidupnya.
Kenapa dunia begitu mempermainkan hidup Pemuda itu. Padahal dia tak punya kesalahan. Ia hanya ingin bahagia, itu saja.
Apa sangat sulit semesta memberikan hal itu padanya.
❝ Sungguh! Aku hanya ingin bahagia. ❞
🌷THE TRUTH UNTOLD 🌷
- - END - -
hii semua!! cerita ini random banget tiba-tiba pengen nulis gini wkwk. Aku harap kalian suka hehe, mungkin penulisannya masih banyak salahnya jadi maklum ya soalnya masih dalam tahap belajar. Oh iya, cerita ini terinspirasi dari "Lagu The Truth Untold" milik BTS. Jadi memang sengaja aku tulis lewat tulisan.
Bagi kalian yang tertarik dengan tulisan aku, yuk coba cek cerita milik aku yang berjudul [MY BOYFRIEND] ini masih on-going ya, bener bener baru netas. Aku akan sangat senang jika kalian mampir.
Yaudah sekian dari aku, Terimakasih!♡