Bagi sebagian orang kebahagiaan itu mudah di dapat, tapi tidak bagiku.
Namaku Maliha Dian Putri.uang, suami yang tampan, kedudukan , orang tua yang begitu menyayangi.aku memiliki semua itu, tapi tidak kebahagiaan.setelah tamat sekolah menengah atas,aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang begitu aku cintai.
apapun keinginannya aku selalu kabulkan, semula aku sangat bahagia.tapi sejak aku memutuskan untuk berhijab dan memakai cadar sikapnya berubah 180 derajat.
" mas Felix ...bangun sudah pagi ...kamu gak pergi ke kantor ! "
" pergi sana ...jangan ganggu ...aku baru mau tidur..."
" paling tidak mas harus sarapan dulu, baru lanjut istirahat lagi."
" keberadaan kamu yang buat aku tidak nyaman, pergi kamu dari hadapanku.kalau kamu tidak pergi , aku yang akan pergi." bentak Felix kemudian dia membelakangi Dian dan melanjutkan tidurnya.
lalu Dian keluar dari kamar itu dengan berlinang air mata.
" kenapa sekarang kamu berubah mas ? apa kesalahan yang telah aku lakukan kepadamu ?" gumam Dian.
" bik bereskan lagi saja sarapannya, saya tidak lapar."
" tapi nyonya belum sarapan, bahkan karena menunggu tuan pulang nyonya belum makan dari semalam."
" tidak apa-apa bik...saya mau istirahat saja.kalau tuan mencari bilang saya ada di kamar tamu."
" baik nyonya" lalu bik Ida melihat nyonya nya memasuki kamar tamu.
" kasihan sekali nyonya, sejak memutuskan memakai hijab dan memakai cadar.tuan dan nyonya sering bertengkar, bukannya tuan mendukung malah sebaliknya membenci nyonya." gumam bik Ida.
setelah membersihkan meja makan, bik Ida melakukan pekerjaan yang lain.
1 jam kemudian.
" Dian...Dian....bik...bik Ida..."
" iya tuan...ada yang bisa saya bantu ! "
" dimana nyonya...? "
" nyonya ...ada di kamar tamu tuan sedang istirahat.nyonya lagi tidak sehat tuan, nyonya belum makan dari semalam karena menunggu tuan pulang untuk makan malam bersama."
" lancang kamu...saya tidak bertanya yang lain.saya cuma bertanya dimana nyonya kamu? apa kamu mau saya pecat hah...?"
" maafkan saya tuan ...tolong jangan pecat saya."
ucap bik ida memohon tapi Felix tidak memperdulikan nya.
ia lalu masuk ke kamar tamu dan menendang pintu nya dengan keras.sehingga membuat Dian terkejut.
" astagfirullah ...Dian kaget mas...ada apa ?"
" banyak tanya kamu...enak ya...tidur nyenyak disini, bukannya menyiapkan kebutuhan suami. cepat siapkan pakaian kerjaku..." bentak Felix.
lalu Dian hanya patuh dan menuruti kemauan suaminya.
" apa yang kamu lihat ? cepat kamu keluar dari kamar ini ,tidak Sudi tubuhku di lihat oleh orang sepertimu."
" apa kesalahan Dian... mas? sehingga mas berubah jadi membenci Dian seperti ini. apa yang harus dian lakukan agar mas bisa menjadi seperti yang dulu."
" kamu sudah tahu Dian , jadi jangan pura-pura tidak tahu.aku mau kamu lepas hijab cadar yang menutupi wajah kamu dan ganti pakaian kamu yang seperti dulu."
" maaf mas...Dian tidak bisa menuruti permintaan mas, itu pakaian terlalu membuka aurat dan di larang sama Allah mas."
" cukup ...aku tidak mau mendengarnya lagi, kalau kamu tidak mau berubah maka jangan pernah tidur lagi di kamar ini dan jangan kaget kalau aku menikah lagi."
lalu Felix keluar setelah memakai pakaiannya.
" mas...mas mau kemana lagi? mas kan baru pulang pagi..."
" jangan mencampuri urusanku...pergi kamu dari sini jangan menghalangi langkahku."
Felix mendorong Dian, sehingga Dian jatuh terkena tembok.
" aduh ...jahat sekali kamu mas."
malam harinya sekitar pukul 12 malam, Felix pulang dengan membawa seorang wanita cantik dan seksi.
" mas kamu sudah pulang...siapa dia mas? kenapa kamu bawa dia pulang ke rumah? "
" ini pacar ku sekaligus calon istriku, mulai sekarang kamu harus menghormati dan melayaninya dengan baik.mulai sekarang ambil barang-barang kamu dari kamar itu, karena calon istriku yang cantik dan seksi ini mau menempati kamar itu."
" mas ...tapi itu kamar kita...hei kamu ...pergi dari rumahku dan jangan pernah berpikir untuk menempati kamarku.aku tidak akan biarkan itu terjadi..."
" mas Felix...dia bentak aku, aku pulang aja ya aku gak suka di sini.aku juga gak mau lihat dia mas, aku takut ." ucap wanita itu manja.
" tenang sayang...ini rumahmu dan tidak akan ada yang bisa mengusir kamu dari sini."
" tapi aku takut sama dia mas, kalau mas kerja dan aku di cekakakan sama dia bagaimana? aku gak mau tinggal di sini kalau masih ada dia." wanita itu berkata sambil bergelayut manja di tangan Felix.
" ulu ulu ulu manjanya...baiklah apapun keinginan sayangku akan aku penuhi " ucap Felix lembut.
" hei kamu...lancang sekali ...mau mengusir kekasihku.ini rumahku dan hasil kerja kerasku, jadi kamu yang harusnya pergi dari rumah ini.ingat ini baik-baik, mulai sekarang kamu aku ceraikan dan aku talak 3 kamu . jadi pergi kamu dari sini dan jangan pernah membawa barang-barang yang pernah aku belikan padamu."
" ayo sayang kita masuk kamar ...aku sudah ingin sekali mencicipi tubuhmu.kamu sudah puas kan sekarang, kamu lah pemilik baru rumah ini."
" terima kasih mas...aku sayang sama mas..."
ucap wanita itu kemudian dia mencium bibir Felix dengan mesra.
" inilah yang aku suka darimu...kamu paling bisa membuatku bergairah." lalu Felix menggendong wanita itu seperti koala dengan tidak melepaskan ciumannya.
singkat cerita.
lalu Dian pergi dari rumah itu, ia tidak pulang ke rumah nya karena ia tidak mau membuat orang tuanya sedih.
dian pergi ke sebuah pesantren yang cukup terkenal di sebuah desa.
dia tahu pesantren itu atas rekomendasi dari temannya.
5 jam lamanya perjalanan yang di tempuh Dian, akhirnya dia sampai.
" assalamualaikum..."
" waalaikumsalam ...ada yang bisa di bantu nak...?"
" perkenalkan nama saya Maliha Dian putri, saya mau bertemu dengan pemilik pondok pesantren ini.saya temannya ustadzah Zubaidah, saya kesini atas rekomendasi beliau.tujuan saya mau belajar agama Islam secara mendalam."
" saya pemilik pesantren ini.nama saya Alia panggil saja nyai alia.saya sangat mendukung sekali, anak-anak muda yang mau belajar agama seperti nak maliha."
" terima kasih banyak nyai , sudah mau menerima saya."
" sama-sama nak...sebaiknya kamu duduk dulu sebentar , nyai akan suruh anak-anak panti menyiapkan kamarmu."
" baik nyai." lalu nyai Alia mencari anak-anak panti yang lewat.
" Uma..."
" iya nyai..."
" Uma kamar kamu masih ada tempat kosongkan !"
" iya masih nyai ."
" kita kedatangan penghuni panti yang baru, namanya Maliha ...tolong kamu antar dia ke kamarnya ya..."
" baik nyai...ayo kak Maliha ikut Uma "
satu tahun kemudian.
Maliha belajar agama dengan sungguh-sungguh, sehingga dalam kurun waktu satu tahun ia sudah menjadi seorang ustadzah.
Maliha juga sedang melakukan ta'aruf dengan seorang ustadz Evan, dia seorang ustadz yang tampan, saleh, mempunyai pengetahuan agama yang tinggi. ustadz Evan juga sudah tahu kisah hidup Maliha dan dia tidak mempermasalahkannya.
pagi hari di jalan mau ke tempat mengajar Maliha ketemu dengan calon suaminya.
" assalamualaikum dik Maliha..." sapa ustadz Evan.
" waalaikumsalam mas Evan..." ucap Maliha tersenyum manis.
" astagfirullah jangan tersenyum begitu di depan mas ...dik mas takut dosa. adik mengajar di kelas berapa?"
" maafkan adik...mas Evan, adik mengajar di kelas 11.kalau mas Evan mengajar di kelas berapa hari ini ?"
" mas hari ini mengajar di kelas 12 dan kelas 10.lalu siangnya mas mau tauziah di kota, kemungkinan besok pagi baru pulang.apa boleh mas pergi dik ? adik tidak apa-apa kan kalau mas tinggal sendiri."
" tidak apa-apa mas ...masih ada nyai Alia dan anak-anak panti...mas boleh pergi."
" kamu tidak lupa kan Minggu depan kita menikah.apa kamu keberatan kalau kita hanya menikah di pondok pesantren ini? "
" adik ingat mas dan adik juga tidak keberatan.adik mau menikah lagi bukan karena nafsu mas tapi adik mau mencari ridho Allah melalui mas Evan."
" subhanallah...mas bangga dengan cara berpikir adik...kita belajar sama-sama ya..."
" iya mas...tolong tuntun dan ajari adik ya mas ...untuk menjadi istri yang baik."
" insyaallah dik..."
" mas adik...mengajar dulu ya...kalau mau tauziah ke kota telpon adik dulu ya mas..."
" iya dik ...mas juga mau mengajar . assalamualaikum..."
" waalaikumsalam mas Evan..."
3 hari lagi Maliha akan menikah dengan ustadz Evan dan hari ini dia kedatangan tamu jauh.
" assalamualaikum ustadzah Maliha di panggil nyai di padepokan...ada tamu buat ustadzah."
" siapa Uma ? "
" Uma gak tahu ustadzah."
" baiklah akan saya temui, terima kasih ya Uma..."
" sama-sama ustadzah...Uma permisi dulu.assalamualaikum..."
" waalaikumsalam..."
lalu Maliha berjalan ke padepokan nyai Alia.
" assalamualaikum..." ucap Maliha
" waalaikumsalam..." ucap mereka semua.
" mama...papa..." ucap Maliha memeluk mama dan papa nya begitu melihat tamu yang di maksud adalah orang tuanya.
" sayang...mama dan papa sudah tahu semuanya...kenapa kamu tidak cerita mengenai kelakuan mantan suami kamu nak?"
" Maliha minta maaf ma...pa...Maliha tidak mau membuat kalian sedih.ini sudah jadi pilihan Maliha jadi biarlah Maliha tanggung sendiri."
" kamu jangan bicara begitu sayang...apapun masalah kamu, kami sebagai orang tua akan selalu bersamamu.kenapa penderitaan ini kamu tanggung sendiri nak?"
" oiya ...apa benar yang di katakan nyai Alia kalau kamu akan menikah nak ?" tanya papa maliha
" iya benar pa...maafkan Maliha yang tidak memberi tahu papa ."
" siapa bilang papa tidak tahu...? papa sudah di beri tahu oleh calon suamimu.diabjuga yang menceritakan semua masalah kamu dan dia juga yang meminta restu langsung pada papa nak ."
" benarkah ...kapan itu mas ? kok mas Evan gak cerita sih."
" benar dik...mas mau memberikan adik kejutan.mas tahu adik setiap malam selalu bersedih karena rindu sama kedua orang tua adik. makanya mas kasih tahu papa dan mama adik, begitu selesai tauziah beberapa hari yang lalu."
" terima kasih banyak mas Evan , nyai Alia sudah mau menerima maliha,maliha bahagia sekali .maliha benar-benar beruntung memiliki kalian semua.maliha baru menyadari kalau kebahagian itu memang benar-benar ada.ada di diri kita sendiri ,tinggal kita bisa mewujudkan nya apa tidak.maliha juga sadar kalau kita mau bahagia kita harus selalu bersyukur.bersyukur atas nikmat dan rejeki yang Allah selalu berikan kepada hambanya yang tanpa kita sadari ."
akhirnya maliha pun menikah dengan ustadz Evan dan restu dari kedua orang tua Maliha tentunya.
Maliha juga hidup bahagia dengan keluarga barunya.
tamat.