Semua persiapan menjelang pernikahan sudah selesai semua. Tinggal menunggu hari H dimana Anya akan menjadi istri dan nyonya Danial Lucky. Pasangan yang sudah dewasa itu sudah menjalin kasih sebagai pacar selama dua tahun dan bertunangan selama satu tahun.
Dan genap di tahun ketiga ini mereka akan mengikrarkan janji suci mereka. Kedua kelurga juga sudah sangat setuju. Kedua keluarga mereka sangat dekat.
Pertengkaran-pertengkaran kecil menjelang pernikahan makin hari makin sering melanda mereka. Hanya karena perbedaan memilih warna kartu undangan, Anya ngambek dan selama dua hari tidak mengangkat telepon dan tidak mau bertemu dengan Dani.
Namun dengan cepat semua masalah bisa mereka lalui karena Dani selalu mengalah dan membujuk Anya dengan kata-kata manis bahkan dengan cincin berlian.
Hari yang dinantikan pun tiba, Dani dan Anya tersenyum bahagia seusai janji mereka yang sudah terikrar dan mereka resmi menjadi Mr. and Mrs Lucky.
Semua keluarga senang mengiringi pesta meriah dan suka cita.
Setelah resepsi Anya dan Dani pulang kerumah mereka, rumah yang sudah di persiapkan oleh Dani sebagai hadiah pernikahan bagi Anya.
"Selamat datang, di istanamu sang Ratu!" ucap Dani begitu membuka pintu dan mempersilahkan Anya masuk.
Dani bahkan tidak membiarkan Anya berjalan, Dani menggendong Anya menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Ke kamar mereka.
"Aku bisa jalan sendiri, kamu pasti lelah!" ucap Anya yang merasa kasihan pada Dani
"Tidak sayang, lelahku hilang saat aku melihat senyuman di wajahmu!" ucap Dani.
Kebahagiaan sungguh menyelimuti hati Anya, pria yang sangat memanjakan nya sejak mereka pacaran ini sungguh pandai meleleh kan hatinya.
Layaknya pasangan pengantin baru, malam itu mereka lewati dengan sangat panjang. Rasa bahagia tak bisa tersembunyi dari keduanya ketika saling menyebutkan panggilan sayang.
Hingga pagi menjelang...
Anya bangun terlebih dahulu, dia membuatkan secangkir kopi untuk lelaki yang baru sehari menjadi suaminya.
Setelah itu dia memasakkan sarapan untuk Dani. Dani sudah turun dari lantai atas dengan tampilan rapi, dia sudah bersiap akan berangkat ke kantor karena ada pertemuan penting.
"Selamat pagi Mrs. Lucky!" sapa nya pada Anya.
"Pagi sayang, ayo sarapan. Aku sudah siapkan nasi goreng!" ucap Anya bangga menyodorkan nasi goreng yang diatasnya terdapat telur mata sapi dan dia buah irisan timun.
Suapan pertama membuat Dani mengernyitkan dahinya.
'Ini nasi goreng, atau garam di goreng?' batin Dani.
Meski dengan susah payah Dani coba untuk mengunyah nasi yang sudah terlanjur dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Sayang, sebenarnya aku harus datang lebih awal. Aku akan pulang terlambat, kamu mau aku bawakan sesuatu untuk makan malam?" tanya Dani.
"Aku libur, biar aku saja yang memasak makan malam!" ucap Anya.
"Jangan sayang..." sela Dani.
"Kamu tidak boleh terlalu lah, aku akan membawakan makan malam untuk mu ya. Aku berangkat dulu!" pamit Dani lalu mencium kening istrinya dan segera keluar dari rumah.
Anya pun kembali ke kamarnya, matanya melotot melihat apa yang sudah di lakukan Dani pada kamar mereka.
Handuk basah di atas tempat tidur, lemari acak-acakan. Laci dasi sudah terbuka sangat lebar bahkan beberapa diantara mereka sudah jatuh di bawah.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya rumah jika dia sudah masuk kantor dan tidak bisa membereskan nya