Hidup wanita zaman sekarang bagai dongeng Beauty and The Beast. Si cantik dan Si Buruk Rupa asal pangeran uang.
_Beauty and The Beast_
Kata kunci : Uang, pelakor, dan hidup!
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Pukul 23.00 Wib ....
'Beep!'
Satu pesan datang. Dea Ariani bergeming. Kelopak matanya berkedut dan terbuka membola besar. Sedari tadi, dia hanya memejamkan matanya. Hanya berusaha tidur. Namun, dia seakan kehilangan cara untuk tidur. Dia duduk dan hanya menoleh pada layar ponsel. Ada satu pesan. Namun, dia takut untuk membacanya. Sejak kapan? sejak dia terjerat lingkaran cinta rumit antara Keanu, dan wanita itu. Wanita misterius yang tidak diketahui identitasnya. Namun, wanita itu sangat sering menerornya.
Dea menghela napas. Menatap lemari yang menjejerkan tas, sepatu, dan pakaian branded, yang tidak akan pernah dia mampu beli. Hanya Ke'anu yang mampu memberikan hadiah berbandrol dengan kurs dollar itu. Ya, Keanu adalah seorang pengusaha muda yang bergelimang harta dan sejuta romantis. Hanya saja, pria itu tidak terlalu tampan. Anggap saja kekayaan dan wajah pria itu dibaratkan langit di sandingkan dengan bumi.
Dea menghela napas. Tanpa sengaja, dia menatap pantulan dirinya pada cermin yang bergantung di dinding. Dia cantik. Bahkan, terkadang lagu Celine Dion sangat menyentil dirinya. Si cantik bertemu si buruk rupa. Si miskin bertemu si kaya.
"Damn!" pekik Dea. Satu lengannya berayun, dan tinjunya menampar bantal. Segenap dadanya mulai sesak. Dia merangkak di atas kasur, dan tangannya bergetar membuka laci. Dia meraih botol. Membuka tutupnya dengan perlahan. Lalu, menuangkan satu pil dalam telapak tangannya.
"I beg God I want to sleep without pills!" rengek Dea menjatuhkan dirinya berguling miring. Meringkus kakinya terlipat bertumpu pada dadanya. Tangannya masih menggenggam pil tidur itu. Namun, bibirnya ragu berkata menelan pil tidur.
"What i need is peace not fake sleep!" gerutu Dea dan satu tangan lainnya, menjulur ke atas kepalanya. Bergerak meraba-raba, dan menemukan ponselnya.
'Deg!' Jantung Dea bagai di jatuhkan ke jurang. Membuka pesan saja, dia harus memiliki nyali.
"How brave is your love?" tanya Dea pada dirinya sendiri. Satu tangannya melepas pil tidur jatuh ke lantai. Lalu, sepasang matanya perlahan menyalakan unggun untuk membaca pesan. Dari wanita itu.
'Klik!' jempol Dea menekan gambar surat. Sepasang mata Dea berkedip membaca.
'Kembalikan ayah anakku untuk sebentar, ku mohon.'
Dea nelangsa membaca satu kalimat itu. Wanita misterius itu memohon. Setelah banyak pesan masuk yang mengintimidasi dirinya, dengan satu kata berbeda setiap harinya.
'Hotel!'
'Guling!'
'Mandi!'
'Uang!'
'Tas!'
'Sepatu!'
'Kuda!'
Banyak kata lain yang menyindir halus yang ditunjukan untuk dirinya. Hanya satu kata setiap harinya. Sebut saja setiap kata itu menyinggung hidupnya sebagai wanita pelakor. Kumpul kebo. Hubungan di bawah uang.
"I want a good life. However, I look like a thief. The thief of another woman's life. Kapan hidupku terlihat bagus? Ah ...."
Tangan Dea menjatuhkan ponsel ke atas kasur. Telapak tangan itu bergetar lagi, ringkih merangkak ke atas dadanya. Dadanya begitu sesak. Air matanya jatuh berguling miring. Dia memejamkan matanya, menarik napas sedalam mungkin.
Hening. Tenang. Namun, terus terjaga dengan air mata. Dia segera memposisikan dirinya duduk kembali. Sepasang matanya nanar menatap pada laci nakas. Sebenarnya, hatinya enggan menarik laci. Namun, tangannya berlendak lain. Tangan itu menarik laci nakas perlahan. Bahkan suara tarikan itu terdengar pilu dan menakutkan. Lalu, tangan itu meraup batang biru.
Dea tidak bergeming. Dia telah memeriksanya tadi pagi, dengan segala kegugupan yang menderanya untuk mengetahui apakah dia hamil pula? Ternyata hal itu di luar dugaannya.
Dea menatap batang biru. Tidak ada perubahan di sana. Tetap sama. Satu garis merah.
"I'm not pregnant. Should I give up my man?"
Dea menggelengkan kepalanya. Lalu, meraup ponselnya. Menekan nomor Keanu, dan berkata pada pria itu, "Aku ingin kau melamarku!"
"Baik!" sahut Keaunu.
Satu minggu kemudian ....
Pernikahan Akbar itu terjadi. Si cantik dan si buruk rupa menikah, dan wanita misterius itu datang dengan perut besarnya, dan dia melewati dengan sengaja tangan mempelai pria yang terlihat berpayung hujan menatap perut buncit wanita itu. Wanita misterius itu sengaja menjabat tangan Dea, dan berbisik, "Mungkin, kau tidak akan mendapatkan karma atas pria yang telah kau curi dari aku. Namun, kau akan mendapatkan karma karena mencuri ayah dari anakku."
Senyum Dea hilang. Dia menatap Keanu. Pria itu hanya menunduk malu dan air mata pria itu jatuh. Walau setitik. Namun, Dea telah melihat jurang kesedihan yang kelam dalam netra pria yang telah sah menjadi suaminya.
"Kau adalah?"
"Wanita yang pernah memohon padamu. Untuk anakku!"
Dea melepaskan tangannya segera. Dia tertohok dan ingin meraup wajah Keanu, untuk mencakar, merobek daging wajah, dan menarik tulang rahang pria itu.
Wanita misterius itu pergi. Menyisakan pelaminan mewah dengan sepasang pengantin yang terlihat enggan saling menyapa. Ada tembok membentang tinggi. Tembok rasa kesal. Bahkan, malam pernikahan terlewati tanpa sentuhan hangat. Hanya kedinginan di bawah selimut.
Di dalam selimut hanya punggung saling berhadapan, Dea dan Keanu berkecamuk dalam pikiran dan hatinya masing-masing.
"Mantan-mu menakutiku tadi. Mengapa kau diam saja?"
Keanu membisu dalam malam pernikahan. Seluruh raganya benar dingin membeku. Hingga segenap tulangnya ikut ngilu, dan akan berderak jika di gerakkan. Perut besar wanita itu membuat segenap album hitam putih di jatuhkan ke dalam otaknya.
'Apa yang telah aku lakukan dulu? Anakku?' jerit Keanu.
Dea merasakan pergerakan gelisah di belakang punggungnya. Dia pun segera mengangkat dagunya, menatap potret pernikahan yang terbingkai.
"Katakan padaku? Kau mencintaiku atau dia?" Suara Dea tinggi bertanya.
Keanu melompat dari ranjang. Untuk pertama kalinya setiap kata Dea bukanlah menjadi atensi utama bagi dirinya.
"Keanu kau ingin kemana?" tanya Dea kala pria itu telah mengenakan jaketnya.
Keanu enggan menjawab.
"Menemui wanita yang mengandung baby-mu?"
Keanu diam. Pria itu hanya berjalan ke pintu.
"Keanu!" Dea bangun melompat, menginjak lantai dengan emosi naik turun dalam dadanya.
Klek! Pintu kamar terbuka. Segenap banyak pasang mata menatap mempelai pria dan wanita yang terlihat bersitegang.
"Baby?" Andrew, ayah Dea terlihat berdiri tegang di dekat ambang pintu. Tanpa sengaja dia telah mendengar teriakan frustasi puterinya. Angel, ibu Dea mematung kecewa.
'Bagaimana bisa puteriku menikah dengan seorang pria yang menghamili wanita lain. Bertanggungjawab pun tidak untuk wanita itu. Bagaimana dia bisa bertanggung jawab untuk puteriku kelak!' rintik Angel kecewa telah menyetujui pernikahan dengan menantu yang menyembunyikan masalalu hitam.
"I'll explain later!" Dea segera menyusul keluar langkah Keanu yang telah mencapai garasi. Namun, blam! Pria itu tidak membiarkan dirinya untuk berkata sedikit-pun. Pria itu menginjak pedal gas mobil Pajeronya, dan meninggalkan istrinya.
"Crazy husband!" Dea melompat kesal menginjak lantai garasi. Namun, kala sepasang matanya bagai cheetah yang melihat mobil Pajero hitam itu berhenti di depan gerbang. Dia segera berlari mengejar dan berdiri di sisi mobil, dan mengetuk jendela.
"I will not meet you with that woman or your child!" runtuk Dea. Namun, pria di balik kemudi mobil itu hanya melirik dengan ujung matanya. Lalu, kala pagar terbuka. Dia kembali menginjak pedal gas, dan melaju.
"Aaaaaaa!" teriak Dea merasa terabaikan. Dia segera berjalan menendang debu dan mengomel pada pria paruh baya yang telah mendorong pagar itu terbuka lebar untuk membiarkan suaminya pergi, "Why did you open the fence for my husband? You allowed him to visit other women! damn it!"
Pak Parto hanya mengangguk bodoh. Tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh sang nyonya muda, diapun hanya membantin, 'Ngomong english di Indonesia Pertiwi. Sombong! ujung-ujungnya nikah ma pa'le bukan bule.'
Dea melangkah keluar dari garis pagar. Dia pergi pinggir ke jalan raya. Sekedar melihat mobil Pajero itu menghilang. Tanpa sadar, langkahnya berjalan ke tengah jalan raya. Tiba-tiba sebuah truk datang melintas begitu cepat.
Brak!
Suara dentuman itu mengejutkan Dea. Membangunkan dirinya dari tidur. Dia segera bangun duduk, dan menyeka peluh keringatnya. Dia menatap selidik ruangan, pakaian yang dia kenakan, dan tanggal di kalender.
"What? ini masih satu minggu yang lalu. Sebelum pernikahanku dengan Keanu. Aku benar mendapatkan firasat buruk!"
Dea menatap ponselnya. Seakan kematian itu benar mengancam hidupnya. Dia segera membalas pesan wanita misterius itu.
'Aku memutuskan mengalah. Aku-pun minta maaf.'
Dea pun mengirim pesan pada Keanu.
'Goodbye. Bertanggung jawablah sesuai kepemilikannya.'
Setelah itu, Dea menekal tombol off. Melempar ponsel ke dalam keranjang sampah. Melintas pergi, dan memutuskan meninggalkan kota itu dan pria itu. Setahun berselang, dia menemukan seorang pria yang baik.
***
Tamat.