Namaku Catty, kucing ras berwarna Oren kesayangan Bang Al. Aku dibelinya dari penjual kucing yang bernama Obet. Cowok kejam yang memisahkan aku dari ibuku, padahal aku masih suka menyusu waktu itu, karena umurku baru 2,5 bulan.
Tapi nasibku sungguh beruntung karena dibeli Bang Al, meskipun aku sendirian tapi aku diberikan banyak mainan. Bahkan dia selalu meluangkan waktu untuk bermain denganku.
Soal makanan, Bang Al sangat royal. Aku makan dengan enak dan juga mendapat snack yang tidak pernah telat seperti anak TK. Aku dua kali vaksin dan mendapatkan segala macam vitamin. Juga rutin mandi agar selalu wangi kayak pacarnya yang sering datang ke rumah.
Saat sakit, Bang Al dengan sabar merawatku. Membawaku ke dokter hewan langganannya agar aku bisa kembali sehat. Aku pernah banyak menghabiskan uangnya karena harus rawat inap selama seminggu di klinik dokterku, aku sakit infeksi pencernaan. Kata dokter ada virusnya, jadi aku selalu muntah dan kejang.
***
Sekarang umurku sudah 18 bulan, dan aku juga ingin punya pacar seperti majikanku. Iri dong, masa dia pacaran aku cuma seperti satpam yang mengawasi mereka biar nggak digoda setan.
Akhirnya Bang Al memberikanku teman agar tidak kesepian, ada Cece dan Angela sekarang di rumah. Aku senang karena lebih rame dan bisa bergosip dengan mereka.
Tapi aku masih saja kesepian, aku merasakan birahi menyiksaku. Aku kucing dewasa, aku ingin merasakan cinta juga. Ini sudah masuk waktuku untuk belajar menjadi ibu.
Kalau dulu Bang Al selalu memisahkanku dari si abu-abu nan tampan bernama Popo aku maklum, karena aku masih 7 bulan waktu itu, masih ABG labil dan bau kencur katanya. Tapi sekarang aku butuh di belai Bang… please…!
Huh, ternyata bukan cuma aku yang lagi gatel, Cece dan Angela juga. Jadi kalau malam kami kompak mengeong ribut minta pacar. Bodo amat, biar Bang Al yang mikir gimana caranya hasrat kami tersalurkan. Kalau ada kucing tetangga lewat aja kami senang bukan kepalang, padahal jauh dari kata tampan. Ayolah Bang Al, nggak perlu yang ras! Yang kampung kami juga mau, yang penting bersih dan nggak main kasar.
Bang Al emang majikan terbaik, dia bawakan kami cowok tampan abu-abu bernama Max. Aku suka dia. Bukan cuma aku sih, tapi Cece dan Angela juga.
Esoknya hari masih pagi saat Cece sudah memulai aksinya, berguling-guling di depan Max berusaha menggoda. Tentu saja Max dengan senang hati menerimanya, dan mereka dengan tanpa sungkan pacaran di depanku dan Angela.
Tiga hari mereka memadu kasih dengan indahnya, sampai Cece sudah nggak mau lagi saat didekati Max. Mungkin dia sudah bosan atau Max sudah berhasil menitipkan benihnya, secara selama tiga hari mereka sudah kayak pengantin baru saja.
Kucing diberi ikan asin nggak kira nolak itu bener, setelah puas dengan Cece hari ini Max langsung dengan gaya playboynya mendekati Angela.
Ternyata mereka sama saja, nggak permisi nggak apa sudah jadian. Malah Angela sudah seperti istri keduanya. Kemesraan mereka selama empat hari bikin aku panas dingin. Akhirnya di hari kelima Angela sudah tidak mau disentuh Max lagi.
Max sudah seperti piala bergilir, dengan bangga dia coba menebar pesona padaku. Aku sih mau-mau aja, tapi aku ini perawan. Beda dengan Cece dan Angela yang memang sudah janda. Aku amatiran, jadi aku tidak pernah berhasil saat bersama Max.
Bang Al dengan sabar menemaniku saat berpacaran dengan Max, membantuku selama empat hari agar aku bisa melepas birahiku pada Max. Dan akhirnya selain hilang perawan, aku berhasil hamil seperti Cece dan Angela. Max memang tokcer meskipun tergolong playboy sialan. Dasar kucing garong!
Karena tidak ada kucing perempuan lagi di rumah, Bang Al mengembalikan Max kepada pemiliknya agar tidak mengganggu kami yang sedang mengandung anaknya.
***
Dua bulan kemudian Cece melahirkan, anaknya enam. Disusul kelahiran anaknya Angela yang jumlahnya empat. Aku sendiri melahirkan anak lima.
Musim hujan tiba dan musim penyakit mewabah bagi para kucing. Aku sebaik mungkin menjaga anak-anakku agar tidak sakit. Aku lihat Cece sudah kehilangan satu anaknya yang mendadak sakit dan tidak tertolong lagi.
Malam ini anak Angela demam, Bang Al sudah memberikan obat sore tadi dan juga tambahan susu. Mengelap matanya yang lengket dan juga membersihkan hidungnya yang berlendir menyumbat saluran nafas dua bayi kecil itu.
Tapi aku benar-benar ketakutan ketika Angela justru membunuh dan memakan dua anaknya yang sedang sakit itu. Meninggalkan dua lainnya yang masih sehat.
Paginya tentu saja Bang Al ngamuk mendapati dua anak kucing yang sakit hanya tersisa dua kaki dan satu batok kepala. Aku sendiri resah karena anakku juga sedang terserang flu.
Hanya anak Cece yang terlihat sehat semua, lima anak kecil itu bermain dengan riang di dalam kandang besarnya. Sedangkan aku meratapi anakku yang mulai pergi meninggalkanku satu demi satu, meskipun aku kembali diam di klinik karena harus menjaga dan menyusui mereka selama dalam perawatan dokter tapi kehidupan tidak juga mudah dikendalikan. Aku tetap kehilangan semua anakku.
Saat pulang aku lihat Angela kembali memakan anaknya yang sakit. Aku tidak tau alasannya apa, untuk mengakhiri penderitaan anaknya atau memang dia sudah gila. Karena aku sendiri tidak tega melakukan itu pada anakku yang sedang sekarat.
Bang Al sangat marah, majikanku itu langsung menyingkirkan Angela. Entah dijual entah diberikan kepada siapa aku juga tidak tau. Begitu juga dengan Cece dan semua anaknya.
Tinggallah aku sendiri, menjadi kucing manis di rumah ini. Kucing kesayangan si Abang.
"Catty…" aku langsung berlari padanya kalau mendengar namaku dipanggil. Entah itu aku sedang tidur, makan atau apapun. Aku akan mendatangi majikanku dan menemaninya, tidur di kakinya atau manja meminta dia menggaruk leherku.
Meskipun aku sendirian dan tidak lagi punya teman tapi aku tidak kesepian karena Bang Al juga bisa dijadikan teman. Dia juga tau kapan waktunya aku butuh bertemu pejantan untuk melepaskan birahiku.
Sayang sekali majikanku hanya bisa jadi teman, tidak bisa jadi pacar apalagi suami. Ya iyalah, dia manusia. Bukan kucing beneran, tapi 'kucing nakal' karena banyak ceweknya.
Sebagai ucapan terima kasih aku selalu membawakan apa saja yang berhasil kutangkap. Aku masih ingat malam itu aku membawakan lima belalang kecil dan meletakkan di lantai kamarnya, karena dia sedang tidur akhirnya belalang yang sudah mati itu jadi makanan semut.
"Catty… jangan bawa tangkapanmu ke kamar lagi ya!" Aku tidak mengerti Bang Al bicara apa, tapi dari rautnya dia tidak marah. Dia hanya menyapu dan membuang semua belalang mati itu ke tempat sampah.
Aku tau Bang Al tidak makan belalang, kecoa bahkan cicak yang selalu aku antar ke kamarnya. Tapi aku ingin memberikan sesuatu padanya sebagai ungkapan cinta karena dia memperlakukan aku dengan baik sebagai binatang peliharaannya.
End
***