“Aku adalah… queen Cadabra!” jawabnya yang udah kayak dewi ‘Kwan Im’ di film ‘Sun Go Kong’, usai dia buat seluruh teman main basket gue berlari ketakutan akan teleportasinya yang tiba-tiba di tengah lapangan ini.
Gue cuma sedikit kencing di celana pendek gue dan pantang mundur. “Ah, pokoknya loe itu setan! Setan, kan? Queen Cadabra?? Heh? Cuma formalitas kesetanan! Ya, kaann??”
“Apa buktinya aku ini adalah setan?” tanyanya yang tiba-tiba begitu imut.
Tubuhnya dikontur sinar, mengalahkan semua lampu di tiang-tiang sekeliling gue, apalagi bintang-bintang yang jauh di atas.
“Buktinya… Buktinyaaa… kaki loe nggak bisa nyentuh tanah! Hah, setan, kaan??”
Tanpa gue kira, dia lekas mendarat dari ngambangnya. “Tuh, bisa!” ucapnya sembari satu telunjuknya menyombongkan dua kakinya yang emang udah menyentuh daratan.
“Loe kira gue bodoh? Loe kira gue masih ABG-ABG unyu yang gitu aja nerima? Ini pembodohan kesetanan, kaan?? Otak jenius gue nggak bakal terpengaruh oleh pembodohan kesetanan loe ini!”
Kini wajahnya seperti kesal gue lihat, sedikit memerengut. Apa kini saatnya gue akan dirasukinya? Ternyata pemandangan itu, sukses membuat kedua ketiak gue makin lembap. Mulut gue seperti ditinggal kejantanannya. Selang sekejap, gue melongo. Dia menghilang dalam seper-sekian detik!
Menjadi mengambang lagi 20 centi, hingga wajahnya itu sejajar wajah gue sebegitu cepat dan amat dekat!
Entah, habis ini gue akan disihir apa olehnya? Jujur, ini setan terlalu cantik untuk sebagai setan. Kulitnya putih ‘glowing’ kayak keramik, bibirnya tipis merekah, matanya berseri kecoklatan, rambutnya ala-ala ‘blonde’. Sial, apa gue hampir jatuh cinta dengan setan?!
Setelah dua detik lagi, wajahnya itu nggak lagi bisa memperlena gue. Tiba-tiba pandangan gue gelap total, otak gue nggak mau bekeuerjwaaa#%^$@&*...
🕊️
Sial, kayaknya gue benar-benar diculiknya! Gue masih bingung ini dimana??
Kalau nggak kamarnya ‘Ultraman’, pasti kamarnya ‘Megalodon’. Langit-langitnya tinggi amat gue lihat dari atas ranjang tempat tiduran gue sekarang. Lantainya luas, ngalahin luas lapangan basket tempat gue main itu. Interiornya kayak rumah istana yang sering muncul di sinetron-sinetron India yang biasa nyokap-bokap gue tonton.
Mulut gue nggak bisa ngomong, sungguh nggak bisa ngomong! Tangan gue lunglai kayak karet ketika coba gue angkat. Jangan-jangan gue habis di kasi buah iblis ‘Gomu-gomu’?
“Selamat datang di Wonderland!” serunya tiba-tiba, dari dia yang muncul tiba-tiba lagi. Sudah mengambang di atas gue yang nggak berdaya untuk memekik kaget, hingga rambut blonde-nya menjuntai masuk ke hidung gue yang nggak berdaya melepas bersin. Andaikan ini berdiri, udah kayak saling tatap, lalu ada angin kencang menghempas rambutnya dari belakang.
“Kalau janji nggak kabur dan cerewet, akan kukembalikan suaramu…” lanjutnya dengan senyum lucunya itu, memperlihatkan gigi-gigi mungilnya yang nggak kalah lucu itu.
Sial, apa gue hampir jatuh cinta lagi dengan setan?!
“…dan tulangmu,” lanjutnya lagi sembari memainkan hidung gue ke kiri dan ke kanan dengan jemari lentiknya itu. Kurang ajar!
Sebentar, sebentar… Jadi, sekarang gue nggak bertulang??
Gue manggutin aja dengan kepala yang udah kayak didorong tangan dari atas-bawah-kiri-kanan secara bersamaan. Gue sedang dalam kekakuan secara harfiah!
“Sekali lagi, aku ini bukan setan! Aku makhluk hidup juga, namun bukan berjenis manusia. Aku peri menawan di balik awan! Queen Cadabra!” cetusnya dengan ala-ala dewi kayangan berpidato, seiring dia putar-putar tangannya itu lantas tampak melemparkan suatu sihir ke gue.
Seketika itu tawa gue tersembur, kata-katanya barusan masih terlalu mengocok usus besar gue.
Gue duduk samping ranjang sembari memegang perut yang didera tawa. Sementara, dia malah jadi diam dan menunjukkan rengutnya itu. Lekas gue paksa sepi mulut gue semelihat itu, takut di sihir ini-itu lagi.
“Maksud loe nyulik gue, apa? Nggak mungkin makan gue, kan?? Gue yang begini langsing?? Please, balikin gue! Besok gue kuliah! Belum lagi nyokab-bokab gue nyariin! Kenapa?? Kenapa nyulik gue?? Kenapa, hah??”
Lekas dia melayang mengitari gue sebelum akhirnya merebah di kasur, memainkan ujung rambutnya dengan jemari. Pipinya tersipu, kayak malu. “Aku mau menikahimu,” jawabnya kemudian, yang sontak membuat jakun gue ingin meloncat. Gendang telinga gue mencaerr!
“Gimana, gimana??”
Eh, dia menghilang, lantas berpindah ke punggung gue. Pun kepala gue mengikuti, hingga hampir hidung gue nempel di hidungnya itu. Dia menyengir manis, “Bangsa peri juga terbagi-bagi, dinaung banyak negeri… salah satunya adalah Wonderland, negeri untuk kaumku, negeri di mana kamu berada sekarang ini…”
Dia melesat ke atas, tiduran di udara, “…terletak di balik awan ‘Suru-suru’…” lanjutnya seiring jemarinya melukis gumpalan awan dan istana-istana di atasnya dengan tinta bintang-bintang mungil, “…ciptaan para leluhurku beribu tahun silam… bersembunyi di batas antara dimensi ada dan tiada…”
Kini dia berjingkrak ke sana-ke sini, seakan ada tangga di sana-di sini. “…Dua tahun lalu, semua para lelaki dewasa kaumku pergi berperang ke suatu negeri peri lain bernama Lovelyland, para wanita dipantang ikut campur walau bagaimanapun… Namun, sampai kini, mereka nggak kembali dan nggak ada kabar sama sekali…”
“Karena tahun ini adalah musim kawin untuk peri terutama ratu…” ucapnya lagi yang makin gue dengar nggak beres, seusai hampir dia tempelkan lagi wajahnya itu ke wajah gue, “…sementara, semua peri lelaki yang tertinggal di sini masih ABG-ABG unyu kayak kamu bilang… maka, ibu penasehat menyarankanku memilih satu lelaki di bumi… lalu kupilih kamu!” Matanya berbinar, mulutnya lagi-lagi menyengir manis.
“Kenapaaaa???!” Bulu ketiak gue menjerit ingin lepas, nggak bisa mencerna semua bacot halunya ini. “Kenapa gue??!!”
Dia terkekeh geli, sebelum terbang lagi ke atas, memainkan ujung rambutnya kayak tengah malu-malu lagi. “Karena harus di atas 20 tahun dan masih perjaka.”
“Jahanam!” Sontak gue dekap celana di sekitar anu gue dengan segenap tangan. “Tapi… tapi… tapi, loe nggak bisa juga maksa orang gitu aja tanpa persetujuan dan minatnya!” racau gue kemudian, “Loe nggak diajari hak asasi peri di sini??!”
“Nggak,” jawabnya enteng dan ada lucu-lucunya.
Kampret!
Mau dia secantik dan seunyu apa… kepala gue tetap mau pecah porak poranda kala ingin mewajarkan ini! Gue sedang berada dalam suatu apakah ini?? Apakah gue sedang terjebak dalam mimpi yang sangat nyenyak?? Atau, jangan-jangan ini ‘prank’?? Jangan-jangan gue sedang dikerjai suatu acara TV alay??
Gue pandang satu jendela menganga di sana, memperlihatkan biru langit yang gue yakin baru menjelang fajar. Gue mengambil ancang-ancang, menunggu ‘timing’ yang tepat selagi dia masih berbicara ngaco di atas itu. Gue lari sekencang mungkin sekali dia membelakang, lekas lompat jendela, nggak noleh kiri-kanan.
🕊
Lah, kenapa gue keterusan jatuh? Kaki gue nggak nyentuh-nyentuh tanah, malah menembus hamparan putih kayak awan! Buseeeettt!
Tubuh gue beneran melayang kayak layang-layang, makin mendekat ke hamparan bumi yang masih belum jelas apakah datar atau bulat? Gue melesat amat cepat! Bibir gue kemana-mana! Ku sesak!!
Tak lama, setan itu… eh… queen Cadabra itu teleportasi ke samping gue yang jatuh dan panik setengah mati.
“Kalau bersedia dan sukarela menikahiku, nggak kubiari kamu jatuh,” ucapnya, seiring sebegitu stabil mengikuti jatuh gue, bahkan dia sempat mengitar, sialan!
“Curang loe!!” kesal gue, dengan mulut berudara.
“Biarin!”
Sepertinya, kini gue harus mengalah. Gue beneran masuk ke dimensi dongeng! Sumpah, gue benar-benar nggak mengerti ini! Aaaaaa, emaaaaakkk! Anakmu akan menikah dengan setan!!
“Mau nggak??” tanyanya, mengusik lamunan gue untuk kini menyimak sehampar aspal yang sudah bersorak untuk hidung gue di bawah. “Lagi beberapa detik, tuh, sebelum kamu menjadi rempeyek!”
“Iya, gue mau!” Gue manggutkan kepala dengan sangat nggak rela.
Dia tersenyum. “Dan, satu lagi… hati-hati bacotmu! Aku ini ratu! Queen Cadabra! Peri menawan…”
“Iya! Iyaaaaaaaaaa!”
Dia menyentuh kening gue, lantas menghilang sama-sama. Klink!