SaSaToAn, ini bukanlah istilah hewan dalam bahasa sunda, melainkan adalah sebuah singkatan yang diambil dari dua huruf depan nama kami, yaitu Sari(aku), Sasa, Totong, dan Andre.
Awalnya nama geng itu dibuat oleh guru kami dalam kelompok belajar bahasa sunda. Entah itu suatu kebetulan atau kesengajaan yang dibuat oleh sang guru bahasa sunda kami tercinta. Dan kami terlanjur akrab karena nama bodoh itu. Kemudian apa kami harus menyebutnya beruntung atau sial? sejak dibuatnya nama itu, kami selalu sekelompok dalam pelajaran lainnya.
Ada beberapa dari kalian mungkin bosan ataupun kesal karena kelompoknya itu-itu saja, tapi menurutku itu adalah sebuah keberuntungan yang patut disyukuri karena mereka adalah orang yang dapat diandalkan dalam hal apapun, terlebih kompak dalam berjahil. Mantap sekali, 'kan? apa dari kalian ada kelompok yang seperti kami?
Hari yang cerah ini tidak boleh kami sia-siakan. Hari yang bertepatan dengan hari bersejarah kami. Ya kami, si geng sasatoan. Karena ditanggal ini bertepatan dengan hari dimana geng sasatoan pertama kali terbentuk. Di hari ini, kami sepakat untuk berkumpul kembali setelah dua tahun lamanya sejak kelulusan SMA, kalian bisa menyebutnya reuni.
"Aku sudah tidak sabar, bagaimana pohon yang kami tanam waktu itu? Apa sudah sangat besar sekarang? juga, bagaimana kabarnya?" pikirku yang melihat ke luar jendela kereta.
Ting
Dari: Sasa
Hey, kapan kamu datang? Semuanya sudah di sini.
Untuk: Sasa
Sebentar lagi. Aku sedang di kereta.
"Tokoh utama selalu datang di akhir. Benar bukan? Biasanya begitu," ucapku dalam hati.
Aku pun asyik memandang kembali pemandangan di luar jendela. Pepohonan yang hijau dan juga bukit yang memanjakan mata. Memang, naik kereta adalah yang terbaik untuk melihat spot ini, walaupun lajunya sangat kencang. Untungnya aku menaiki kereta yang bukan di jamnya orang-orang berangkat bekerja. Sehingga kami, para penumpang, tidak saling berdesakkan.
Perhatian kepada para penumpang, kereta sampai di Stasiun Sindang 1.
"Akhirnya, dimana mereka?" setelah aku menginjakkan kaki di tanah lagi.
"Hey, Ri! Sari roti!" terdengar suara teriakan yang kukenal.
Aku mengedarkan pandanganku sampai akhirnya melihat tangan orang melambai dengan senyum bodohnya di kursi penunggu.
Itu Totong, si rambut klimis, julukan yang anak kelas dulu beri padanya.
Dan Sari roti, itu julukan yang mereka beri padaku. Yah, namaku cukup terkenal, di kalangan makanan. Tapi aku tak perlu pusing-pusing mempermasalahkannya. Toh, hari ini karena julukan itu, aku menemukan mereka lebih cepat, lebih tepatnya mereka yang menemukan aku sih.
"Yang lainnya mana?" tanyaku.
"Sasa tadi pergi ke warung beli minuman. Haus dia." jawabnya.
"Kenapa gak kamu anter, Tong?" tanyaku lagi.
"Katanya gak usah. Siapa yang bakal nungguin di sini? Entar yang ada kamu nyasar, ribet deh harus cari-cari." jawabnya lagi yang sedang mengecek handphone-nya.
"Benar juga. Terus Andre belum datang?" netraku tidak melihat Andre dimana-mana.
"Dia udah datang paling awal, sekarang dia lagi di toilet."
"Oh."
Setelah ditilik-tilik baru kusadari ternyata ada yang berbeda dengan penampilan Totong.
"Hey, Tong! Tumben sekali dandananmu seperti ini. Dulu biasanya ponimu dibelah dua."
Ya. Aku tak menyangka penampilan Totong akan berubah sedrastis ini. Dulu poninya yang dibelah dua, sekarang dia menyampingkan seluruh poninya ke sebelah kanan. Tampan, namun terlalu terang. Memang orang pintar jidatnya sangat menonjol ya. Hihi.
"Itu dulu, Ri. Sekarang ya sekarang."
"Hmm.. ada bau amis tercium ini."
"Hah? Apa yang kau maksud, Ri? Aku tidak mencium bau ikan." Totong jadi menciumi seluruh bajunya karena perkataanku. Haha.
"Maksudku usahamu sangat bagus. Hehehe..." Aku menepuk bahu kirinya dua kali.
"Kamu masih belum bisa move on dari Sasa, 'kan?" tebakku.
Totong terkejut dan kecurigaanku ternyata benar.
"Dulu anak siapa ya yang kelakuannya bikin geli," aku menggali memori lama yang masih aku ingat sampai saat ini. Dan mungkin Totong masih mengingatnya juga. Soalnya ini berkaitan dengannya. Hihi.
~~~
"Sa.. i-itu.. cantik. A-aku suka," ucap Totong dengan terbata-bata.
"Eh?" Sasa bingung. Tidak mengerti maksud perkataan Totong.
"A-ah, maksudku kerangka manusianya cantik jadi aku suka!" ucap Totong dengan cepat.
"HAH?!!" Sasa menatap horor pada Totong. Kemudian Sasa menjauhi Totong sambil melempar kerangka manusia yang dipegangnya pada Totong.
"Tong, kamu masih waras? Ambil saja itu!" Sasa pikir Totong suka pada kerangka manusia.
Totong yang kelabakan berusaha menangkap kerangka manusia yang hampir saja--guru killer akan membunuhnya kalau kerangka manusia ini sampai rusak--merenggut nyawanya. Sedangkan Sasa sudah pergi lebih dulu menuju ruang guru, meninggalkan kami di belakang.
"H-huff..," jantung Totong berdetak kencang sampai rasanya mau copot. Air mukanya sangat memprihatinkan.
"P-pfft.. HAHAHA!/ Hm.. pfft!" Aku dan Andre tertawa, tapi aku yang mendominasi tawanya.
"Aih.. aku tak menyangka bisa menonton komedi secara live di sini, haha."
"Heh," Andre kembali ke sikap semulanya yang cuek bebek, namun memunculkan smirk-nya, mengejek Totong yang masih syok di depannya.
"Kamu lucu sekali sih, Tong," ucapku.
"Yang sabar, ya, Tong. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat," lanjutku.
Totong menjadi semakin cemberut dan lesu.
~~~
"Hahaha.. Totong, Totong," hal itu masih membuatku ketawa sampai sekarang.
"Sampai sekarang ingatan itu masih membekas di kepalaku tahu. Untung saja waktu itu kamu sudah menjelaskannya. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang Sasa masih salah paham. "
"Jangan bahas itu lagi!" Totong marah ceritanya. Tapi wajahnya tetap menggemaskan bagiku, seperti kucing yang meminta belas kasihan.
"Oke, oke. Maaf. Selamat ya atas tunangannya. Maaf, aku tidak bisa datang waktu itu," Aku memberinya selamat atas keberhasilan Totong dalam menembak Sasa untuk kedua kalinya dan mereka sekarang sudah bertunangan.
"Ya, tidak apa-apa, aku mengerti. Terima kasih, Ri."
"Of course," kataku dengan tersenyum. Aku sedikit menyombongkan kemampuan bahasa inggrisku.
"Sok inggris kau," ejeknya.
"Biarin. Dulu nilai bahasa inggris-ku juga lumayan," walaupun cuman setengah dari nilai seratus. Tapi, lumayan, 'kan? daripada dapat nilai dua puluh.
"Yah, cukup lumayan sih," ujar Totong dengan ragu-ragu.
"Kalian menertawakan apa?" ucap Sasa tiba-tiba.
"Sasa!" jeritku. Kami berpelukan seperti teletubbies.
"Ah ini, masa lalu yang lucu," aku memandang
ke arah Totong. Penasaran, apakah dia akan menceritakan memori lama itu pada Sasa atau tidak.
"Hm?"
"Ah, ceritanya adik Sari dikejar bajing lumpat," Totong tiba-tiba mengganti topiknya. Oke, sebagai teman yang baik, aku paham dan tidak akan membuatnya malu di depan Sasa.
"Eh? apa-apaan itu? bagaimana bisa?" Sasa sepertinya penasaran. Aku harus mengarang cerita.
"Ya, begitulah. Kamu harus lihat ekspresinya waktu dia tercebur di kali. Mukanya sangat lucu, seperti ini. Haha," aku membuat ekspresi orang syok. Sasa pun tertawa karena tingkahku.
"Hahaha.. wajahmu sangat jelek tahu," dia mengejekku.
"Hm. Terima kasih pujiannya," ucapku dengan cemberut.
"Sa, tiketnya bagaimana? dibawa, 'kan?" tanya Totong pada Sasa.
"Eh, tiket?" tanyaku penasaran.
"Iya. Kita akan bersenang-senang!" teriak Sasa dengan nyaring.
"Tiketnya udah dibeli sama Andre. Tuh, panjang umur. Baru aja diomongin," tunjuk Sasa pada sosok Andre yang sedang berjalan menghampiri kami.
Saat aku melihat ke arahnya, jantungku berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Mengapa perasaan ini belum juga sirna?
"Seharusnya aku yang beli, tapi karena saldoku kurang dan waktu aku bertanya pada Totong, dia juga tidak punya saldo. Jadilah Andre yang pesan," ucap Sasa.
Deg deg deg
Aku tidak terlalu mendengarkan perkataan Sasa. Aku mencoba untuk menghentikan debaran gila ini dan semoga mereka tidak menyadari pipiku yang merah merona. Setelah tersadar, Aku mengalihkan pandanganku dari Andre, sebelum dia menyadarinya.
"Oke, semuanya sudah lengkap. Ayo kita nikmati hari ini!" ujar Totong dengan semangat.
Setelah itu, kami pun berangkat menaiki mobil Andre. Ya, Andre itu orang paling berada di antara kami.
Sekian menit terlewati, terpampanglah "Dunia Island," wahana permainan yang disegani seantero anak muda. Kami bermain di sana sampai matahari seperempat di ufuk barat. Dua sejoli itu bersenang-senang sendiri, meninggalkan kami berdua di tengah arena pacu kuda. Menyuruh kami untuk tetap di sini sampai mereka kembali. Huh, benar-benar! Mereka ter-the best!
Setelah mereka tiba, kami pun berangkat menuju tempat memorial kami. Dimana kami mengubur kaleng waktu--berisi surat-surat harapan kami di masa depan--di bawah pohon yang kami tanam sewaktu tugas sekolah. Taman Kenangan, taman di dekat rumah lamaku. Taman yang menjadi tempat kami bermain.
"Wah! Pohonnya sudah sangat tinggi!" aku takjub, pohon ini masih bisa tumbuh dengan baik. Sepertinya ada orang yang selalu merawatnya sampai pohon itu menjadi tumbuh subur dan tinggi.
"Ya, kupikir tidak ada yang berani merusaknya," terdengar suara bariton dari samping kiriku, itu pasti Andre. Terlalu dekat!
"Ayo, gali, Tong!" seru Sasa yang sangat antusias di antara kami.
"Baik, nyonya," dengan patuhnya Totong menggali tanah di dekat pohon itu.
Sementara itu, Aku duduk di bangku kayu panjang bersama Andre, dengan jarak enam puluh centimeter pada satu sama lain. Memandang bias sinar oranye di langit senja.
"Ri! Bantuin dong. Malah duduk santai!" seru Sasa padaku.
"Nggak mau. Kalian saja. Aku tidak mau mengotori tanganku," balasku.
"Dre?!" tanya Sasa pada Andre.
"Tanganku pegal, habis menyetir tadi."
"Ish, Dasar! Si dua kompak itu," cibir Sasa pada kami. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Waktu, banyak berubah, ya?" aku berucap setelah keheningan yang terjadi antara aku dan Andre. Meskipun debaran ini tetap ada.
"Hm, senang bertemu lagi denganmu." balasnya.
"Senang bertemu lagi denganmu juga," aku melihatnya dan tersenyum.
Meskipun sudah sore hari tapi masih banyak muda-mudi dan anak kecil yang sedang bermain bersama temannya. Meramaikan taman.
Apa aku katakan saja? Perasaan berdebar ini? Aku tidak bisa memendamnya lebih lama lagi. Bisa-bisa aku akan gila jika itu terjadi. Katakan. Tidak. Katakan. Tidak. Katakan.
Aku memungut daun yang jatuh di pahaku dan merobek-robeknya untuk menentukan pengungkapan cinta ini. Dan berdasarkan daun terakhir yang kurobek tadi, hasilnya adalah "katakan". Oke, semangat! Semoga berhasil diriku.
"Mm, Dre. Ada yg ingin aku katakan."
Tidak ada jawaban, tapi aku yakin dia mendengarkan dengan baik.
"A-aku.. menyukaimu. Ah, tidak. Aku mencintaimu. Setiap kali melihatmu, rasanya jantung ini selalu berdebar begitu kencang."
Keheningan tercipta sesaat di antara kami.
"Aku tidak tahu apa kamu merasakan hal yang sama. Tapi, meskipun begitu, aku tetap akan mengatakannya. Rasanya tenang setelah aku mengungkapkannya. Aku tidak lagi takut apa jawabanmu. Karena aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu."
Akh! Aku sangat malu. Menghadapi hal ini lebih buruk daripada menghadapi Pak guru botak itu yang sedang marah.
Keheningan tercipta lagi.
Kenapa tidak ada jawaban? Apa dia mengabaikanku?
Angin berhembus sepoi-sepoi, kemudian aku melihat ke arahnya. Matanya terpejam dengan kedua telapak tangannya ia letakkan di belakangnya--menumpu pada kursi--menyangga tubuhnya. Angin menghempaskan anak-anak rambut di sekitar wajahnya.
Tampan. Tidak. Semakin tampan sejak terakhir kali aku melihatnya.
Tiba-tiba mata sebening langit itu terbuka. Dengan tatapan tajamnya yang khas.
"Sejak kapan?" pemilik suara bariton itu memandangku dengan intens.
Aku tertangkap basah.
Entah kenapa aku tidak lagi berani menatap matanya. Kuarahkan pandanganku ke bawah, pada tanganku yang saling menggenggam satu sama lain. Aku sangat gugup. Apa dia masih melihatku?
"Sejak kapan kamu memiliki rasa itu?" tanyanya sekali lagi.
"S-sejak aku melihatmu untuk pertama kalinya. Saat kamu menjadi murid baru di kelasku," ucapku berawal gugup.
Saat itu, di depan kelas--perkenalan Andre menjadi murid baru--dia memberikan senyuman smirk-nya ke arahku. Entah itu benar-benar ke arahku atau bukan, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
Keheningan tercipta lagi untuk kesekian kalinya.
"Maaf," ucapnya tiba-tiba.
Mendengar itu dadaku serasa sakit dan sesak. Padahal aku sudah menyiapkan hati untuk hal terburuk seperti ini. Tanpa dikomando, mataku serasa panas ingin mengeluarkan air mata.
"Tunggu aku setahun lagi,"
Aku langsung mengalihkan pamdanganku padanya, terkaget dengan kata-katanya.
"Tunggu aku setahun lagi. Apa kamu bisa?" ulangnya.
Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku menjawab, "Y-ya."
"Terima kasih," dia tersenyum. Senyum tulus yang pernah aku lihat darinya.
"Saat itu tiba, aku akan datang ke rumahmu," ucapnya lagi.
Apa ini sinyalnya?
Aku tersipu. Mungkin pipiku sudah semerah tomat saat ini.
"Terima kasih," ucapku.
Apa ini? Apa turun hujan? Ada setitik air yang jatuh ke atas pipiku.
Namun, lama-lama setitik air itu diikuti tetesan lainnya yang bermuara dari kedua mataku. Aku buru-buru mengusapnya dengan kedua tanganku walau air mata menyebalkan itu terus muncul.
"Berhentilah menangis, kamu sangat jelek saat menangis," dia menghiburku atau mengejekku sih?!
Walaupun aku tidak tahu bagaimana sikapnya selama dua tahun ini. Aku akan mencoba untuk mempercayainya, karena dia orang yang selalu menepati janji.
"Ri, Dre! Ayo kesini. Kita buka kaleng waktunya!" seru Totong pada kami.
Kami pun berjalan ke arah mereka dan mengambil surat kami masing-masing. Saat aku akan melihatnya, Andre mengambil surat itu dari tanganku.
"Andre!" jeritku karena kaget.
Aku meraih-raih kertas itu dan ingin merebutnya dari tangannya. Tapi, dia selalu saja berjalan mundur dan melihat isi surat itu. Aku tidak tahu apa isinya karena aku sudah lupa, soalnya itu dibuat sudah sangat lama.
Tiba-tiba Andre mendekatiku dan berbisik di telingaku, "Harapanmu sudah tercapai, bukan?" dan memberikan smirk-nya yang khas.
Seketika, aku pun teringat akan isi surat itu. Dan aku benar-benar malu sekarang.
"Wah, ada hubungan apa di antara kalian?" ucap Sasa.
Totong kemudian berkata, "Iya, sepertinya sudah sangat dekat, ya, tanpa kami sadari. Apa yang kalian sembunyikan dari kami berdua?"
"Tunggu saja. Setelah ini, kita mampir ke rumahku dulu," jawab Andre.
"Ehm, kode keras," ucap Totong sambil berpura-pura batuk.
Sedangkan pipiku mungkin sudah sangat-sangat merah, semerah tomat.
'Aku berharap perasaanku terbalas'
Itulah isi suratnya.