Biasanya tawuran itu antara anak sekolahan, atau geng motor, atau anak-anak muda. Tapi, itu tidak berlaku di desaku, desa Mundur Waras. Kemarin terjadi tawuran, bukan dilakukan remaja tapi kakek-kakek uzur.
Akar masalahnya sepele sebenarnya, dilatarbelakangi pembagian kavling kuburan.
Kelompok kakek berpandangan modern pimpinan Mbah Paing, menginginkan pembagian kavling didasarkan pada prestasi saat masih hidup, diantaranya; tingkat pendidikan, pernah tidaknya jadi pejabat, ketua ormas atau bukan, banyaknya piala kemenangan saat lomba tujuh belasan, jumlah istri, dan yang terpenting sering tidaknya nyawer saat acara dangdutan. Karena kelompok kakek ini berpeci merah, maka kelompok itu sering disebut kelompok Peci Merah.
Sedangkan kelompok lain, pimpinan Mbah Tarno, menginginkan pembagian kavling sesuai adat turun temurun, yang beruntung duluan meninggal, mendapat tempat yang strategis. Dengan kata lain, yang belakangan meninggalnya, kebagian tempat sisa. Kelompok ini berisi kakek-kakek yang lebih senior. Karena setiap hari bersarung, maka kelompok ini sering juga disebut Sarang Burung.
Sebenarnya, pihak dusun, desa, sampai kecamatan sudah beberapa kali menengahi, babinsa juga beberapa kali menginisiasi beberapa pertemuan penting, diantaranya:
1. Pertemuan Randu Gunting, di Sebelah kuburan, gagal sepakat.
2. Pertemuan Al Hikmah, di Mushola Al Hikmah, gagal sepakat, hampir terjadi bentrok karena beberapa kakek-kakek salah ngambil sendal.
3. Pertemuan Orkes Melayu, di acara dangutan gagal total, karena kelompok Peci Merah asik nyawer.
Semua pertemuan tidak menghasilkan apapun selain habisnya kopi dan ludesnya pisang goreng, mendoan, dan gorengan-gorengan lainnya.
Suasana desa menjadi mencekam, di gardu-gardu berkumpul kakek-kakek. Yang gardunya ada bendera dari sarung pastilah itu wilayah kekuasaan Sarang Burung. Sedangkan jika dingardu-gardu ada peci merah diikat tali berkibar pastilah itu gardu kekuasaan Peci Merah.
Tidak ada dari golongan muda yang berani melawan dua rezim kakek-kakek yang berkuasa di desa itu, apalagi masalah kavling kuburan yang masih akan lama untuk mereka tempati. Semua terdiam, bahkan tiang listrik pun ikut terdiam. Malaikat bingung, mana yang harus dijemput duluan.
Karena tidak ada titik temu, dua kelompok kakek-kakek ini memutuskan menyelesaikan secara jantan di lapangan desa. Itu kebiasaan lama, tapi masih dipakai untuk menunjukan ketangguhan harga diri, apalagi ini masalah kavling kuburan mereka, semakin bagus dan strategis, semakin sering pula kuburan dibersihkan dan dikunjungi keluarga yang ditinggal.
Hari minggu jam tiga sore lapangan desa yang biasanya dipakai acara tanding bola menjadi sangat ramai. Tentu saja acara duel kelompok antar kakek ini menyedot perhatian umum. Warga desa sekitar berbondong-bondong berdatangan, pedagang makanan dan jajanan berderet rapi di pinggir lapangan. Ada cilok, dawet, gorengan, bakso dan lain lain, bahkan pedagang baju bekas juga menggelar lapak.
Anak-anak sibuk memilih ayam warna-warni, ada juga yang asik makan batagor.
Beberapa tukang urut disiapkan, dokter dan suster-suster juga disiagakan, semuanya perempuan.
Lapangan dibatasi pagar dari tali rafia, supaya tidak ada yg tiba-tiba nyelonong masuk. Dipinggir lapangan berdiri deretan beberapa ahli silat yang bertindak sebagai wasit, total ada dua puluh wasit yang juga bertindak sebagai tim evakuasi.
Di utara kelompok kakek-kakek Peci Merah yang berjumlah 35 orang bersiap-siap , usia rata-rata 70 sampai 90 tahun. setelah sebelumnya lolos verifikasi, yaitu tanpa senjata tajam satupun.
Di selatan lapangan, kelompok Sarang Burung yang lebih senior berjumlah 26 orang, usianya rata-rata 80 sampai 97 tahun. Juga sebelumnya dilakukan verifikasi menyeluruh, semuanya bersih, semuanya sehat.
Bau minyak urut, minyak kayu putih, dan minyak rambut menyatu dalam harmoni kelompok kakek yang akan berduel itu.
Acara dimulai, Pak Lurah seperti biasa memberi kata sambutan agar acara berjalan lancar, tidak ada yang patah tulang, apalagi nyawa melayang. Tidak lupa Beliau berpesan agar warga yang berbondong-bondong menonton tetap menjaga kebersihan.
Setelah itu Pak Lurah nemukul gong tanda dimulainya 'adu jantan' antar kakek-kakek.
Kedua kelompok maju ketengah berjalan dengan mantap,
"Sudahlah Kang Tarno, jangan berkeras hati, zaman sudah berubah, saatnya kita mereformasi dunia perkavlingan kuburan demi generasi yang lebih baik!!" Ucap Mbah Paing berapi-api, sebagai pemimpin Peci Merah, dia memakai tanda kebesaran berupa peci merah susun tujuh.
"Adi Paing!!!! Ingatlah, kita hidup di tanah ini, dan matipun harus melestarikan adat kebiasaan pendahulu kita!" Mbah Tarno yang usianya 97 tahun itu berteriak nyaring dan masih jelas. Dulu, dia anggota tim khusus laskar penyerbu kemerdekaan, kini pun wibawanya nasih terlihat, apalagi dia memakai sarung tanda kebesarannya, yaitu sarung merk burung rajawali, dipakai rangkap lima.
"Kakang!! Jika kita tidak berubah, kita akan tertinggal zaman! Kita harus terbuka pada dunia luar, terutama dunia perkuburan dari barat.."
"Huh, kau mudah terombang-ambing oleh pengaruh kuburan-kuburan barat Adi! Jangan menyesal jika anak cucu kita lupa pada kebiasaan negeri sendiri!"
"Kau berbicara terlalu gegabah Kakang! Justru dengan terbuka pada teknik perkuburan asing akan membuat kuburan kita bermartabat. Sudah sepatutnya kita yang memiliki andil besar dalam masyarakat mendapat kuburan yang strategis dan berkwalitas !"
"Sudah cukup bicaramu Adi Paing! Hyattt"
Mbah Tarno yang sudah terbakar emosi melompat menyerang Mbah Paing. Belum sempat mengenai sasaran Mbah Tarno jatuh kesrimpet sarung.
"Setan alas!" Mbah Tarno mengumpat.
Kesempatan tidak dilewatkan begitu saja oleh Mbah Paing, melihat Mbah Tarno terjatuh, Mbah Paing renggangkan kakinya, sejurus kemudian memukul dengan gerakan menyilang.
Reflek Mbah Tarno merundukkan kepalanya, lalu berguling.
Wushhhh
Mbah Paing yang tidak mau kehilangan momentum terus mengejar, kali ini dia mencoba memukul dari arah atas kepala, dengan kokoh Mbah Tarno menyilangkan tangan di atas kepala membendung pukulan.
Pasukan kedua kakek itu masih terdiam menunggu perintah, beberapa memanfaatkan untuk melambaikan tangan pada ribuan penonton yang berjejal di pinggir lapangan.
Pertarungan semakin sengit, ilmu kanuragan Mbah Tarno dan Mbah Paing sebenarnya tidak beda jauh, hanya saja kebiasaan Mbah Paing yang suka nyawer penyanyi dangdut membuat tata geraknya melemah. Hingga dalam beberapa saat kemudian ketika tiba-tiba sebuah kaki keluar dari lubang sarung, dengan deras menghantam perut Mbah Paing. Mbah Paing terdorong surut lima langkah kebelakang, lalu menggulingkan dirinya beberapa putaran kemudian melenting berdiri.
"Sudahlah Adi Paing, menyerahlah, setujui dekrit kavling kuburan sesuai instruksi kami!"
"Huh, jangan harap Kakang, perubahan harus dilakukan! Kawan-kawan !!!!"
"Ya Ki Paing" kelompok Peci Merah bersiap.
"Tawurrrrrrrrrrrrrr.....!!!!" Mbah Paing berteriak mengomando.
"Saudaraku, tegakkan badan kalian, ingatlah, kuburan terbaik menanti kita, jangan kalah!! Sebuuuuuu..!!"
"Sendiko Ki Tarno !!!!"
Bagai aliran sungai bengawan solo kedua kelompok menghambur maju. Beberapa terjatuh sebelum bertarung, rata-rata karena encok kambuh, ada juga yang salah urat.
Penonton bersorak, MC dangdut yang mendadak jadi MC tawuran dengan fasih menyiarkan jalannya rawuran. Di panggung kehormatan Pak Lurah dan segenap jajarannya menonton dengan tenang sambil makan pisang goreng. Di belakang panggung geliat pasar gelap terlihat jelas, puluhan orang memasang taruhan. Peci Merah lebih diunggulkan menang.
Penonton makin bersorak saat ledua kelompok saling pukul, saling sikut, saling jewer. Angin bertiup kencang, mengibarkan sarung-sarung, baju-baju batik, bahkan kulit kakek-kakek itupun ikut berkibar.
Tim penyelamat bolak balik membopong kakek-kakek yang ambruk. Ada yang benjol, ada yang ngaku gigi palsunya hilang, ada yang salah urat, ada yang tulangnya bergeser, ada juga yang tidak kenapa-kenapa tapi pura-pura pingsan. Di tangan tim dokter, perawat dan tukang pijat kakek-kakek yang terluka secara ajaib langsung sembuh, hanya beberapa tiba-tiba mimisan saat dirawat Nyi Sulasmi, tukang urut yang kembennya agak melorot.
Pertarungan berlangsung sengit, kedua kelompok kakek tidak mau melepas keyakinan atas prinsip yang mereka anut. Hingga matahari condong ke barat jumlah kakek-kakek yang bertarung mulai susut, nafas mereka memburu, tersengal-sengal.
Diujung pertempuran, tim Peci Merah menyisakan tiga jawara Mbah Paing, Mbah Zul dan Mbah Peso.
Sementara tim Sarang Burung hanya tersisa Mbah Tarno.
"Menyerah sekarang kakang ...!!" Sambil terengah-engah Mbah Paing berteriak.
"Huh..hhhh..hhhhh... Jangan mimpi!"
"Kakang Tarno, tolong menyerahlah, kami tidak ingin berlaku lancang," Mbah Peso yang berusia termuda ikut membujuk.
"Benar kakang, mohon menyerahlah. Atau begini saja kakang, biarlah dekrit kavling kuburan sesuai aturan kami, tapi khusus untuk kakang kami beri pengecualian. Kakang boleh memilih tanah kuburan kakang sendiri, juga kami berjanji akan meramaikan tujuh harian, empat puluh harian dan seratus harian kematian kakang kelak, kami juga akan membantu saat keluarga kakang 'kepungan'. Bagaimana?" Mbah Zul yang mantan politisi desa menawarkan kesepakatan. Tentu itu sangat menguntungkan Mbah Tarno.
"Cihhh... Aku tidak akan terbujuk rayu kata-kata politisi-politisi macam kau. Manis di awal pahit di akhir! Kau mau aku menghianati saudara-saudaraku?!! Jangan mimpi...!!!!! Hiyaaatttt" tanpa tedeng aling aling Mbah Tarno melompat menerjang ketiga kakek Peci Merah.
Seperti harimau terluka Mbah Tarno bertarung habis-habisan. Baginya, mempertahankan aturan leluhur adalah jalan hidupnya.
Tapi, seperti bunga yang harus layu setelah mekar, seperti kayu yang habis menjadi abu selesai terbakar. Mbah Tarno dengan prinsipnya menjaga pembagian kavling kuburan agar terus sesuai pakem pendahulu, akhirnya mencapai batasannya.
Walaupun sudah minum obat telur bebek, walaupun sudah mengoleskan minyak urut cap 'GEAR 4' di seluruh tubuhnya. Terasa juga pengaruh usia membuatnya melemah. Apalagi efek 'GEAR 4' yang sudah habis. Membuatnya loyo diakhir.
Beberapa tendangan, pukulan, dan terjangan mendarat telak di tubuhnya, tubuh penjaga wasiat leluhur. Dimana mereka yang lebih dulu dipanggil, tanpa melihat status akan tetap dimuliakan.
Mbah Tarno tahu, dia akan kalah, pembagian kavling kuburan akan berubah. Mereka yang dianggap lebih terhormat akan mendapat tempat yang lebih strategis, entah itu ketua ormas, politisi, tokoh agama. Semua akan diutamakan mendapat kavling kuburan terbaik.
Sementara, mereka yang tak punya andil apa-apa di masyarakat, mereka yang dianggap kurang terhormat akan mendapat kavling yang jauh dipinggir kuburan, dekat hutan, dekat tempat pembuangan sampah, dekat lereng yang hampir longsor.
Mbah Tarno memandang kawan-kawan seperjuangannya yang tertunduk lesu di pinggir lapangan, masih teringat jelas bagaimana dia memimpin mereka berlari di antara desingan peluru penjajah. Kadang menang, kadang harus berlari ke hutan. Dan sekarang, dipertempuran terakhirnya dia kalah.
Mbah Tarno, tukang kuli panggul pasar desa. Kawan-kawannya, mereka; petani, pencabut rumput, pemain gamelan, bekas wayang ketoprak, guru karawitan.
Mbah Tarno tersenyum, sampai sebuah pukulan mengenai dagunya. Ambruk.
Penonton terbelah, ada yang bersorak gembira, ada yang menangis.
Acara tawuran kakek-kakek berakhir dengan jatuhnya Mbah Tarno. Kelompok Peci Merah bersorak gembira, dekrit diteken. Mulai saat itu, pembagian kavling kuburan berdasarkan tingkat kehormatan, semakin tinggi derajat dan pengaruhnya, semakin bagus dan strategis kavling kuburannya.
Sebulan kemudian Mbah Tarno, mantan tentara pemburu penjajah meninggal, dikuburkan di sudut kuburan dekat hutan, hanya sedikit yang melayat, di rumah hidangan untuk tamu sederhana, hanya ubi dan ketan.
Bersamaan dengan itu Mbah Zul yang mantan politisi dan ketua ormas keagamaan juga meninggal, kuburannya tepat di tengah, dekat jalan pekuburan, iring-iringan jenazah penuh orang melayat, berbaju putih-putih ada juga yang hitam-hitam. Hidangan untuk tamu yang melayat lengkap, ada ayam, roti, segala jajanan dan lauk juga buah-buah impor seperti kurma dan teh mineral rasa jeruk.
"Ibu...Ibu... Lihat itu ramaii....." Seorang anak kecil mengguncang-guncang tubuh Ibunya.
"Sssssttttt....jangan berisik." Si ibu menyuruh anaknya diam. Karena prosesi pemakaman Mbah Zul memang sedang berlangsung. Ucapan memuja Sang Pencipta dari ribuan pelayat berdengung silih berganti.
"Tapi lihat tuh, di situ rameee.... " Sekali lagi anak itu mengguncang-guncang tubuh ibunya,.sambil menunjuk arah jauh di sudut tanah pekuburan.
Ibunya menoleh lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat arah yang ditunjukan anaknya. " Aisyah, Aisyah itu hutan, mana ada orang."
"Kenapa Bu idah ?" Seorang wanita disampingnya bertanya,
"Ah engga cuma Aisyah itu lho agak rewel, masa katanya dikuburan dekat hutan situ rame, yang rame kan di sini."
"Oh, itu kuburan Mbah Tarno Bu Idah," wanita itu memandang arah kuburan Mbah Tarno lalu melanjutkan "oh... mungkin rame kupu-kupu kali Bu Idah, deket hutan makanya ada kupu-kupunya."
Keduanya kembali khusyu mengikuti prosesi pemakaman.
Aisyah masih terus menatap ke arah ujung kuburan, dekat hutan. Yang Aisyah lihat bukan hanya kupu-kupu beterbangan tapi juga badan-badan tegap berbaju loreng berdiri gagah memegang tonggak-tonggak bambu berujung runcing, berbaris rapi sampai jauh ke dalam hutan.
Beberapa kali terlihat rombongan kereta kencana berlapis emas yang ditarik kuda-kuda perkasa berhenti lalu keluarlah laki-laki dan perempuan bermahkota, kemudian menunduk hormat.
Juga datang sembilan kakek tua yang terbang pelan lalu berdiri mengitari kuburan di tepi hutan itu, delapan memakai sorban yang satu memakai blangkon. Setelah berdoa mereka terbang ke atas awan.
Setelah itu muncul kereta kencana berukir batu hijau yang sangat indah, seorang wanita cantik jelita dengan mahkota dikepalanya berupa mutiara-mutiara turun, lalu seperti yang sudah-sudah wanita itu menunduk. Tapi sebelum masuk ke kereta kencana, wanita bergaun serba hijau itu menatap Aisyah, lalu tersenyum. Aisyah sangat senang, ia pun melambaikan tangan sampai kereta itu terbang jauh ke arah lautan.
Aisyah terpesona, melihat pemandang yang hanya bisa dilihatnya, anak usia lima tahun.
Baginya kuburan dekat hutan yang sepi itu terlihat lebih ramai, lebih banyak yang datang.
Di kuburan itulah, bersemayam Mbah Tarno, pejuang kemerdekaan, pejuang kebebasan, pejuang warisan leluhur.
Aisyah sedikit kaget saat tiba-tiba disampingnya duduk bersila seorang pemuda gagah, berpakaian emas menyilaukan. Dan seorang kakek bermata tajam berwibawa.
Tidak ada yang melihat kedua orang itu kecuali Aisyah.
"Pa..Paman siapa ?" Aisyah bertanya, seolah berbicara sendiri.
Pemuda itu berdiri, mengusap kepala Aisyah, lalu beranjak pergi sambil berucap,
"Aku, Hayam Wuruk. Beliau ini patihku, paman Gajah Mada."