Awan mulai menjadi kelabu, menandakan cuaca cerah akan berganti sebentar lagi. Walau dengan keadaan mendung seperti ini, tidak menciutkan warga untuk pergi jalan-jalan.
Diantara mobil-mobil yang melintas, ada sebuah mobil hitam yang membawa sepasang suami-istri ke kota sebelah, melewati jalan tol. Sahabat Anderson, sang suami, mengadakan sebuah pesta dan mengundangnya untuk datang bersama istrinya, Alexa.
"Apa kita memang harus datang?" Tanya Alexa ketika suaminya masih sibuk mengemudikan mobil.
Alexa memang sedang malas untuk jalan-jalan, apalagi ketika cuaca sedang seperti ini. Akhir-akhir ini, hujan atau cuaca mendung sering melanda kota tempat tinggalnya dan hal itu membuat dirinya semakin malas untuk pergi keluar.
"Sudahlah. Dia sudah banyak membantu kita, setidaknya hargai undangan darinya." Jawab Anderson.
"Ya.. Ya aku tahu itu." Alexa mencoba menyergah, "tapi kenapa aku juga harus ikut?"
Anderson tidak menjawab karena pandangan dan pikirannya masih fokus pada jalanan yang ia lewati. Demi mengalihkan perhatian istrinya yang saat ini cukup cerewet, lelaki itu memutuskan untuk menyalakan radio mobil dan mendengar berita apa saja yang tersedia.
"..Saya ulangi kembali. Pembunuh berantai yang bulan lalu telah ditangkap oleh polisi, ternyata sudah melarikan diri dan saat ini masih dalam pengejaran. Para warga sekitar, diimbau untuk diam di rumah sementara dan menutup pintu rumah ataupun jendela.."
Berita yang terdengar benar-benar membuat bulu kuduk Alexa berdiri. Perempuan itu langsung saja mematikan radio mobil dan mencoba menenangkan hatinya dengan melirik keluar kaca jendela, berharap panorama sekitar mampu membuatnya lupa dengan apa yang barusan ia dengar.
"Takut?" Suara berat Anderson mengagetkan lamunannya. Alexa sempat melirik suaminya, namun segera menunduk, "iya.. Apa kita akan baik-baik saja?"
"Gak usah takut. Kita kan sebentar lagi udah ada di seberang kota."
"Tapi.. Kalau-!"
"Alexa, jangan takut. Ada aku di sini." Anderson mengerti jelas dengan perasaan istrinya, namun ia ingin nampak kuat agar Alexa merasa terlindungi dari apapun yang ada di pikirannya sekarang, "sebentar lagi kita sampai, oke? Akan ada banyak orang di sana, jadi tidak perlu takut."
Istrinya yang masih menunduk, sesaat tersenyum simpul mendengar kalimat dari Anderson. Ternyata memilihnya sebagai pasangan hidup bukan merupakan sebuah kesalahan yang sempat menghantuinya dulu.
"Ah iya. Kita berhenti dulu di pom bensin sana." Alexa langsung mendongak dan melihat sebuah cahaya dari kejauhan, yang ternyata berasal dari pom bensin yang Anderson maksud.
"Bensin mobil mau habis, sementara kita masih ada satu jam perjalanan."
Tanpa menunggu waktu lama, lelaki itu memarkirkan mobil hitam mereka dan baru saja ingin beranjak keluar. Akan tetapi, Alex langsung mencegahnya.
"J-jangan tinggalin aku di sini sendirian! Kamu kan tahu aku ini penakut!"
Anderson sempat terperanjat, namun langsung tersenyum hangat dan mencoba melepas genggaman istrinya yang nampak khawatir.
"Alexa, ayolah. Kita hampir sampai di kota sebelah, dan tidak banyak orang di sini. Aku akan segera kembali. Kalau mau, kunci mobil sampai aku kembali."
"Tapi, bagaimana aku akan tahu kalau kau yang datang ke sini?"
"Aku akan ketuk kaca mobil tiga kali, dan kamu bisa bersembunyi dengan berbaring di kursi paling belakang mobil, oke?"
Alexa begitu skeptis dengan keputusan suaminya yang berani saja keluar sendirian, sehabis mendengar berita bahwa seorang pembunuh berantai telah melarikan diri dari penjara. Namun, di lain sisi, ia begitu kenal dengan Anderson. Jika memang ia bilang keadaan akan baik-baik saja, maka Alexa ingin percaya akan hal itu.
Perempuan itu perlahan melepas genggaman tangannya, dan membiarkan Anderson pergi mengisi bensin. Alexa langsung membaringkan dirinya di bawah bangku belakang mobil, setelah mengunci seluruh pintu. Ia hanya berharap suaminya akan cepat kembali.
5 menit.
10 menit.
15 menit.
Ke mana saja Anderson? Sudah terlewat belasan menit dan tidak terdengar atau terlihat tanda-tanda bahwa ia akan kembali. Alexa mencoba menenangkan diri, mungkin petugas pom bensinnya sedang istirahat dan suaminya sedang mencari mereka.
Pikirannya langsung sirna ketika terdengar suara ketukan dari luar.
Kedua bola mata Alexa membulat sempurna. Bulu kuduknya berdiri, dan ia dapat merasakan bahwa tangannya mulai bergetar.
Apa yang sebaiknya ia lakukan? Ia begitu takut, bahkan nyalinya langsung menciut hanya dengan bangun dari tempatnya sekarang. Apakah benar Anderson ada di luar? Namun, dengan bagaimana suara ketukannya terdengar, sebagian dari firasat Alexa berseru untuk tidak membuka pintunya.
Ketukan pelan itu masih terdengar, bahkan ketika sekarang telah terlewat dua jam. Perlahan, Alexa menangis karena ia merasa begitu takut. Bagaimana ternyata yang mengetuk pintu itu ternyata seorang pembunuh?
Tetapi, jika benar, maka nyawa suaminya berada dalam bahaya.
Alexa tahu ia salah, dan bahkan sudah berkali-kali ia coba untuk bangkit dan membukakan pintu. Namun, sesaat tangannya mendekati gagang pintu mobil, perempuan itu panik dan kembali berbaring di bawah kursi mobil.
Kali ini, niatnya sudah bulat. Tidak peduli dengan nyali yang ciut, mungkin sekarang saatnya ia belajar untuk berani. Kasihan Anderson jika harus berada di luar, dan Alexa benar-benar akan meminta maaf jika ia membuat suaminya menunggu terlalu lama.
Gagang pintu mobil sudah ia genggam, akan tetapi suara sirene polisi yang semakin lama semakin terdengar begitu mengagetkan dirinya.
Tak menunggu waktu lama pun, mobil hitamnya dikelilingi oleh banyak mobil polisi, yang justru membuat Alexa semakin bingung. Dibalik rasa bingung itu, tersirat rasa lega.
Ia membuka kunci mobil dan dibantu oleh beberapa petugas untuk keluar.
"Baik bu, apapun yang Anda lakukan tolong jangan melirik ke belakang. Ikuti saja arah kami."
Mendengar itu, Alexa langsung kaget dan rasa penasarannya semakin mendominasi pikiran.
Beberapa langkah kemudian, Alexa terhenti. Ia tidak bisa melawan rasa penasarannya, dan perlahan menengok ke arah belakang.
Tepat di atas tempat mobilnya diparkirkan, adalah tubuh Anderson yang digantung secara terbalik dan wajahnya yang dipenuhi lebam luka. Dengan angin yang sedikit kencang di sekitar, meniupkan tubuhnya yang perlahan mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.
.TAMAT.