Mata Ryu begitu menatap pias ke arah sosok wanita yang kini tergolek lemah di pinggir jalan dekat rumahnya.
Wajahnya yang ayu masih terlihat, meskipun tanpa make up menghiasinya.
Ryu duduk disamping wanita itu. Berbagai macam alat medis terpasang di tubuhnya.
Monitor EKG di samping brankar menampilkan gelombang yang tidak beraturan.
Entah apa artinya. Ryu tidak tahu. Satu-satunya yang Ryu inginkan saat ini, wanita di brankar itu membuka mata.
Beberapa jam yang lalu.
Ryu masuk ke sebuah aula out door sebuah hotel. Dekorasi ruangannya tampak indah dan menarik.
Lelaki itu mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu atau apapun yang bisa membuatnya nyaman.
Pandangannya jatuh kepada seorang gadis. Gadis yang ia tahu bernama Luna.
Ryu menghampiri gadis yang menurutnya paling cantik diantara gadis lainnya.
"Luna..." Panggilnya lirih namun masih terdengar.
Luna menoleh, mencari seseorang yang memanggilnya.
"R..Ry..Ryuuu.." Balas wanita itu dengan terbata-bata begitu tahu bahwa yang menyapanya adalah Ryu.
Ryu, pemuda yang dulu pernah sangat ia sayangi. The most wantednya SMA Negeri Harapan.
Luna berusaha memalingkan pandangannya. Namun Ryu sudah mengambil alih semuanya.
Dengan gerak cepat, Ryu menggenggam tangan Luna tanpa izin.
"Lun, maafin aku." Suara lirih yang terdengar di telinga Luna.
Luna masih terpaku, antara percaya dan tidak percaya.
Enam tahun yang lalu, pemuda yang saat ini sudah menjelma menjadi sosok lelaki tampan itu meninggalkannya begitu saja.
Ia hanya berpesan, " Maafkan aku. Jika suatu saat nanti kita berjodoh kita akan bersama lagi."
Setelah itu, Ryu seakan hilang ditelan bumi. Kabar terbaru yang ia dengar lelakinya itu di Autralia.
Dan selama enam tahun ini, Luna sudah berusaha mati-matian mengikhlaskan cinta dan rasa sayangnya.
Luna sudah berjanji akan memulai kehidupan baru tanpa Ryu.
Nyatanya, hari ini Ryu kembali di depan matanya.
Ingin rasanya ia memaki bahkan memukuli lelaki itu. Tapi ia bukanlah sosok seperti itu. Yang ada Luna hanya terdiam.
Ryu membawa Luna menjauh dari lokasi tempatnya berdiri. Saat ini mereka berada di sebuah taman yang masih di area hotel.
"Lun, aku kembali untuk kamu." Ucapnya.
Tapi Luna masih terdiam.
"Pliss, Lun. Jangan diam. Kalo kamu marah, marah saja. Tapi jangan diem kayak gini." Ryu masih mencoba membujuk Luna.
"Luna..."
"Ryu..." Kata pertama Luna.
Ryu semakin intens menatap Luna. Dibelainya rambut kekasihnya itu. Atau lebih tepatnya mantan kekasih.
Ryu mencoba mnenyalurkan hasratnya selama enam tahun tanpa menatap Luna.
Ryu meraih pinggang ramping Luna, menyeret ke dalam pelukannya.
Tanpa penolakan Luna mengalungkan kedua tangannya ke leher Ryu.
Meskipun ada kebencian di hati Luna, tapi rasa cintanya melebihi bencinya.
Ryu semakin merapatkan pelukannya. Menyalurkan kerinduannya selama enam tahun.
Berkali-kali kecupan ia daratkan ke kening Luna.
Luna semakin membenamkan kepalanya di dada bidang lelakinya itu.
"Kamu kenapa tidak ada kabar sama sekali." Ucap Luna sambil menahan isak tangis kerinduannya.
"Aku bisa jelaskan semuanya." Ryu menggandeng tangan Luna.
"Ikut aku." Ryu menggenggam tangan gadis itu lalu mengajaknya keluar area.
Ryu membawa Luna menaiki mobilnya. Dan melajukan kendaraannya dengan tenang.
Sampai di sebuah rumah, Ryu memasukkan mobilnya ke carport. Dan mengajak Luna masuk.
"Rumah siapa ini Ryu?" Tanya Luna begitu mereka sudah duduk di sebuah sofa.
"Rumah kita." Jawab Ryu.
"Maksud kamu?" Lyna menatap Ryu bingung.
"Rumah ini, akan kita tinggali setelah menikah nanti."
"Kita. Menikah?" Luna masih bengong.
"Iya, maukah kamu menikah denganku?" Sebuah lamaran untuk Luna.
Tak ada cincin, tak ada bunga. Hanya kedua tangan Ryu yang membentang menyambut permaisuri hatinya.
"Luna, will you marry me?" Ulang Ryu.
Luna masih menatap Ryu tak percaya.
"Luna, aku kembali untuk kamu." Ryu meyakinkan Luna yang masih terlihat bimbang.
"Aku sangat sangat mencintaimu, Luna. Dari dulu sampai sekarang. Tidak ada wanita lain selain Luna Quiesha. "
"Aku juga memcintaimu, Ryu Mandala." Gumam Luna dalam hati.
"Aku juga mau menikah denganmu." Luna masih bergumam dalam hati.
"Luna, percayalah. Aku menabung ini selama enam tahun demi kamu."
Luna menatap Ryu tak percaya.
Ryu mengangguk pelan, " Iya, sayang. Semua ini demi kamu. Pliss.. menikahlah denganku."
"Ryu.. aku mau menikah denganmu. I love you too." Setelah memantapkan hati, akhirnya Luna mengiyakan ajakan Ryu.
Saking bahagianya, Ryu memeluk Luna dengan erat.
Tubuh keduanya menegang sesaat. Gesekan dari tubuh Luna, membuat Bagian tubuh lain dari Ryu sinkron lebih cepat.
Ryu mengecup setiap inchi bibir Luna. Seakan bibir Luna tak pernah ada ujung pangkalnya.
Entah siapa yang memulai. Masih dalam naungan alam sadar, keduanya melalui malam dengan penyatuan kerinduan.
Pelepasan demi pelepasan mereka lalui. Kesakitan Luna hanya bagian sesaat untuk penyatuan kenikmatan yang tak tertahan antara keduanya.
Sofa ruang tamu menjadi saksi penyatuan keduanya.
Cairan kemerahan yang keluar dari pangkal paha Luna yang tercecer membuat Ryu semakin berbesar hati karena telah menjadi yang pertama untuk Luna.
"Sakit?" Tanya Ryu disela penyatuannya.
Luna hanya mengangguk ada air mata yang keluar dari sudut matanya.
Perlahan Ryu menghapusnya, Mengecupnya dengan penuh cinta.
Satu lenguhan keras mengakhiri penyatuan pertama mereka.
Sesaat keduanya mengatur nafas. Kecupan ringan Ryu daratkan di kening Luna.
Ryu membopong tubuh Luna, memindahkan ke kamar. Setelah merasa tubuhnya lebih segar.
"Kita mau kemana?" Tanya Luna yang merasa sedikit risih karena digendong ala bridal style oleh Ryu.
"Ke ruang pribadi kita." Jawab Ryu sambil mengecup bibir Luna.
Ryu menidurkan tubuh Luna perlahan ke ranjang king sizenya.
Luna menciumi area wajah Ryu. Diperlakukan seperti itu, membuat juniornya kembali tegak.
Tanpa diminta, Ryu sudah membenamkan wajahnya ke tengkuk Luna.
Desahan Luna kembali membuat gairah Ryu membuncah.
Kedua saling menindih bergantian. Saling menyatukan kenikmatan dan kerinduan.
Dan adegan yang sama terulang kembali. Kedua menikmati setiap lenguhan, desahan dan rintihan yang terucap dari Luna.
Desahan panjang membawa keduanya pada puncak kenikmatan.
Malam ini menjadi malam terpanjang keduanya menikmati kebersamaan.
💗💗💗💗
Kumandang adzan subuh membangunkan Luna. Walaupun masih setengah mengantuk tapi rasa ingin buang air kecilnya mengalahkan semuanya.
"Awwwhh.." Pekiknya saat mencoba untuk bangun.
"Sakit sekali." Ia merasakan perih di sekitar daerah intimnya.
Namun ia menahannya dengan payah.
Setelah selesai dengan hajatnya. Luna membasahi seluruh tubuhnya dengan air shower.
Ia berharap setelah ini akan menjadi lebih segar.
Setelah ritual mandi, ia menghadap ke ilahi memohon ampunan untuk semua dosa-dosanya.
Selesai ibadah. Ia melihat Ryu masih terlelap dalam mimpinya.
Luna membiarkan, karena tak tega membangunkannya.
Luna beranjak ke dapur dan menyiapkan sarapan.
Baru lima menit Luna di dapur, Ryu sudah menyusulnya.
"Kenapa gak bangunin aku?" Tanya Ryu sambil memeluk Luna dari belakang.
"Aku gak tega." Jawab Luna.
"Masih sakit, enggak?" Tanya Ryu.
"Masih."
"Kalo begitu kita ulang lagi, biar gak sakit."
"Ryu, aku masih memasak."
"Yaa kan gak pa_pa." Ryu kembali menggesek-gesekkan miliknya ke area sensitif Luna.
"Ryu, pliss.. biar aku selesaikan ini dulu."
"Baiklah, aku tunggu di kamar."
Ryu berjalan ke kamar sembari memberikan ciuman jauh kepada Luna dengan mengerucutkan Bibirnya sambil mengucapkan I love you tanpa suara.
Setelah memadamkan kompor. Luna menata makanannya di meja.
Setelah makanan beres, Luna beranjak ke kamar untuk sekedar mengganti pakaian.
Semalam Ryu sudah mengatakan kalo baju gantinya ada di dalam lemari.
Saat masuk kamar, Luna baru menyadari bahwa Ryu sudah menunggunya.
Pria itu duduk manis di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Lama sekali, sayang."
"Hmm.. aku beresin sekalian dapurnya."
"Kenapa repot-repot nanti Bibi Sulis akan membereskannya. "
"Sudahlah, jangan mengandalkan orang terus."
"Okay...sekarang giliranmu untuk aku bereskaann sayang." Bisik Ryu mesra.
"Ingatkan janjimu tadi."
"Tapi.. Ryu.."
"Tidak ada tapi..."
Cup.
Kecupan mesra sudah mendarat begitu saja di kening, bibir, mata, hidung dan pipi Luna.
Setelah puas di area wajah, Ryu turun ke dada. Bagian terseksi dari tubuh Luna menurut Ryu. Karena ukuran dua bukit Luna yang di luar standar wanita biasa.
Very big. Pujinya.
Ryu semakin turun, turun dan turun menjelajah titik-titik sensitif Luna yang semalam sudah ia ingat.
Perlahan tubuh Luna semakin bergetar dan merasakan gelenyer aneh di setiap sentuhan Ryu.
Puncak aktifitas keduanya adalah penyatuan milik masing-masing.
Desahan dari keduanya semakin membuat keduanya tak terkendali.
Satu desahan panjang yang mereka loloskan mengakhiri penyatuan keduanya.
💗💗💗💗
Bunyi bel terdengar nyaring dari pagar. Menandakan ada tamu.
"Yang, aku buka pintu dulu ya." Pinta Ryu.
Luna mengangguk. Merasa masih dalam posisi ternyaman. Ia masih enggan untuk sekedar berpindah posisi.
Sebentar kemudian, Luna membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah mandi .Badannya kembaki terasa segar.
Luna keluar kamar, menuju ruang tamu..Ia penasaran dengan tamu Ryu. Karena lelakinya itu terlalu lama tidak kembali ke kamar.
"Ryuuu..." Pekik Luna histeris.
Melihar Ryu memeluk seorang gadis di ruang tamu.
"Luna...' Ryu langsung melepas pelukannya.
"Ryu, ternyata... " Luna meneteskan air matanya.
"Luna...ini tidak seperti yang kamu lihat." Bantah Ryu.
Ryu..." Luna melesat lari keluar rumah Ryu masih dengan terisak.
Luna.. maafkan aku Lun... Aku.bisa jelaskan!" Ryu mengejar Luna.
Braaak...
Ryu mempercepat langkahnya.
Di depan rumahnya, tubuh Luna tergeletak dibawah mobil besar milik tetangganya.
"Lunaa...." Teriaknya.
Monitor EKG menunjukkan tanda datar.
Para dokter meminta Ryu menyingkir.
"Maaf Pak Ryu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain."
"Maksud dokter?"
"Waktu kematian tepat pukul 10.48. Hari Sabtu tanggal 5 September 2020."
"Luunaa...."
💗💗💗💗💗💗
"Ryu..." Panggil seorang wanita.
Ia mengikuti posisi Ryu duduk jongkok di samping gundukan tanah.
"Dia cinta pertamaku, Kei." Sahut Ryu sambil mengelus batu nisan bertuliskan Luna Quiesha. Lahir 23 April 1993. Wafat 5 September 2020.
"Di sini juga ada benih cinta pertamamu, Ryu.." Ucap wanita itu sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
Ryu menyandarkan kepalanya ke bahu wanita itu.
"Aku akan selalu ada untukmu." Sebuah senyum misterius tersungging dari wajahnya.
💗💗💗💗