Arga Lion Danuarta bersahabat dari kecil dengan Hanum Pramudikta. Keluarga Pramudikta berbeda dengan keluarga Danuarta yang penuh kasih sayang. Orang tua Hanum lebih memilih sibuk dengan bisnisnya sampai sekarang Hanum sudah berumur 17. Karena kurangnya kasih sayang membuat orang tua Arga iba dan menganggap Hanum seperti anaknya sendiri.
Dimalam gelap yang sepi, angin malam bertiup lebih kencang dari biasanya. Terasa dingin namun, semua itu tak dihiraukan oleh dua anak manusia yang tak lain adalah Arga dan Hanum, bahkan mereka sekarang sedang duduk di taman kota.
"Kapan gitu Tuhan memberikan aku pacar cowok yang ganteng pakai banget seperti Bright," gumam Hanum sambil melihat orang-orang berlalu lalang didepannya.
Mendengar itu Arga pun angkat bicara, "Kamu kurang bersyukur banget sih Han!"
Hanun mengernyitkan dahinya. "Kurang bersyukur gimana maksud kamu?"
"Kamu pikir aja sendiri, disamping kamu udah ada cowok paling ganteng di dunia ini. Eh kok kamu malah ngeluh sih! Itu tandanya kamu kurang bersyukur!" Arga menoyor kepala Hanum agak keras.
"Aduh! Ga usah begitu juga dong Arga, iya-iya Bambang Arga paling ganteng sedunia raya!" ucap Hanum gemas sambil mencubit pipi Arga.
"Ayo kita cari makan, udah malam aku lapar!" Arga mengandeng tangan Hanun menyebrangi jalan.
Dari arah belakang sepeda motor melaju dengan kencang. Arga yang menyadari dengan sigap menarik cepat tangan Hanum.
Brakkk
Pengemudi itu terjatuh tak jauh dari motornya. Genangan darah membasahi jalanan sepi. Hanum yang shock seketika tersadar. Ia berlari menuju orang itu disusul Arga dibelakangnya.
"Arga! Panggil ambulans! Cepat!" Dengan tangan bergetar Hanum melepaskan helm dari pria itu. Ia sempat terpaku melihat wajah tampan itu.
Hanum berkata, "Ya Allah, apa harapanku diberikan pacar cogan akan menjadi kenyataan?"
"Apa sih Han yang ada dipikiran kamu? Orang ini lagi sekarat malah bilang begitu," ucap kesal Arga.
"Ya maaf, terus ini gimana?!" pekik Hanum yang melihat darah terus mengalir di pelipis cowok itu.
"Ya aku juga ga tau, orang waktu ekstrakulikuler Palang Merah Remaja aja aku bolos. Itu juga kamu 'kan yang ngajakin," gerutu Arga.
"Sudah deh! Daripada ngomel disitu mending sini angkat calon pacar aku kesitu. Ga usah kita apa-apain nunggu tim medis datang saja, entar kenapa-kenapa lagi."
Arga mengangkat lelaki itu ke bangku taman. Setelah menunggu beberapa menit, ambulan pun datang. Tanpa menunggu lama mereka bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.
Hanum mondar-mandir di depan ruang UGD membuat Arga gemas. "Han! Kamu bisa duduk tidak? Aku bosen lihat kamu kaya gitu."
Mendengar teguran dari Arga membuat Hanum segera duduk di sampingnya.
"Aku ga mau dia sampai kenapa-napa Ga!"
"Emang dia siapa sih? Kamu kenal? Cemas boleh tapi tidak usah berlebihan bisa 'kan!" Bentak Arga yang merasa tidak suka akan sikap Hanum.
Hanum menangis dan berkata, "Hiks ... Kalau kamu ga mau nemenin aku disini, yaudah sekarang kamu pergi saja! Ga usah pakai bentak-bentak aku segala."
"Oke, aku temani. Tapi, kamu ga usah nangis lagi," ucap Arga sambil membersihkan air mata Hanum.
"Peluk!" pinta Hanum dengan wajah manyunnya.
Arga mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu seolah berpikir. "Ga mau ah!"
Ia menatap Hanum yang sekarang melengkungkan bibirnya kebawah, karena tak ingin melihatnya menangis ia langsung mendekap erat tubuh Hanum. "Sekarang senyum dong! Sudah aku peluk gini, erat banget malah ga pingin lepas," Arga tertawa.
Selang beberapa menit handphone Arga berbunyi.
"Hallo!"
"Kamu sama Hanum sedang dimana? Sudah malam, kenapa tidak pulang? Awas saja kalau kamu macam-macam, mama sunatin kamu lagi!" Cerocos Sinta--Ibunda Arga.
"Bun, tanyanya satu-satu Arga jadi bingung 'kan. Arga ga macam-macam kok Bun, cuma satu macam." Hanum menatap Arga mendengarkan apa yang diucap sang bunda.
"Arga!" teriak Bunda diseberang sana.
"Enggak bundaku sayang, bercanda. Iya aku jelasin, aku sama Hanum saat ini ada di rumah sakit."
Belum sempat Arga menyelesaikan perkataannya malah terpotong ucapan sang bunda. "Apa di rumah sakit! Siapa yang sakit? Hanum tidak apa-apakan?"
"Bunda sayang! Tolong dengarkan penjelasan Arga dulu ya jangan dipotong," ucap Arga lembut menahan kekesalannya.
"Jadi, tadi ada orang kecelakaan terus kita tolongin. Sebentar lagi kita pulang, Bunda ga usah cemas ya."
Hanum melotot mendengar ucapan Arga yang ingin pulang.
"Iya, kalian hati-hati kalau pulang!" ujar Bunda di sebrang telepon.
"Iya Bun."
"Kok kamu bilang sama bunda kita pulang sih! Kan aku masih mau nemenin dia Ga!" protes Hanum karena keinginannya tidak terpenuhi.
Arga menatap dalam Hanum. "Come on! Ini sudah malam, disini dia juga ada yang jagain. Jadi tak perlu cemas lah. Besok setelah pulang sekolah kita kesini lagi."
"Janji!" Hanum menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut jari kelingking Arga. "Janji!" ucap Arga melakukan 'pinky promise'.
Rembulan pun berganti dengan sang surya. Disebuah kamar Arga sedang menyibakkan gorden membuat seseorang yang tertidur pulas merasa terusik.
"Eugh ...." Gadis itu mengucek matanya.
"Bangun kucing kecil!"
"Ini masih pagi burung gagak! Kenapa kamu menggangguku! Pergi sana! Cari pasangan!" Setelah berbicara seperti itu Hanum menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Oh iya! Yasudah nanti tidak jadi aku anterin ke rumah sakit!" Mendengar hal itu Hanum segera membuka selimutnya.
" Jangan! Arga ganteng ga boleh jahat sama Hanum cantik ya!" Ujarnya dengan nada lembut dan wajah memelas.
"Yasudah, cepetan mandi!" Hanum berlari terburu-buru tak ingin ditinggalkan Arga membuat ia kejedot pintu. "Siapa sih yang taruh pintu disini?" Gerutunya.
Arga hanya bisa menahan tawanya, ia keluar tak lupa menutup pintu kamar Hanum.
Sesuai kesepakatan mereka, hari ini akan pergi berkunjung ke rumah sakit tempat cowok tampan itu dirawat.
Ceklek
Sesaat pintu terbuka, terlihatlah Laki-laki itu sedang setengah duduk sambil memakan apel.
Pria itu menolehkan pandangannya kearah pintu, seketika ia mengernyitkan dahinya melihat dua orang asing yang datang ke ruangannya. "Siapa?"
Hanum tersentak dengan gugup ia melangkah mendekati ranjang pasien. "Aku Hanum!" ucapnya sembari menyodorkan tangannya.
"Raka!" Pria itu menatap seseorang di sebelah Hanum.
"Arga." ucap Arga tanpa menjabat tangan Raka.
"Kamu yang nolongin aku semalem?"
"Iya, eh ini ada buah tangan buat kamu." Hanum menyerahkan bungkusan ditangannya. Suasana menjadi canggung.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Suara Hanum memecah keheningan diantara mereka.
"Sudah lebih baik, by the way, thanks! Kamu udah nolongin aku."
"Emm iya tak apa."
Selama Raka berada dirumah sakit, Hanum sering sekali menjenguknya. Hal itu mampu membuat keduanya dekat. Meski pada awalnya Raka bersikap cuek kepada Hanum.
Disisi lain, Arga sedang berada dirumahnya. Tak sengaja ia mendengar perkataan Ayah dan Ibunya yang berada dikamar.
"Dia meminta Arga kembali Ayah! Bunda ga mau Arga pergi dari sisi Bunda!" Seru Bunda diiringi isak tangisnya.
"Ayah juga ga mau Bun, kita jauh dari Arga. Tapi Ayah bisa apa? Dia ketua mafia dan jelas saja kita tidak bisa melawan. Apalagi Arga memang anak kandungnya."
'Jadi aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda. Kenapa ini harus terjadi Tuhan!' jerit batin Arga.
Arga memberanikan diri membuka pintu itu. Membuat mereka kaget.
"Bunda, apa benar yang dikatakan Ayah tadi?" Tanyanya lirih.
Bukan jawaban yang didapat hanya Isak tangis sang Bunda yang semakin menjadi.
"Jawab Bunda!"
"Hiks … Maafkan kami nak, hiks … kami bukan orang tua kandung kamu." Tanpa berkata apa-apa Arga segera pergi dari sana.
"Nak, tunggu! Jangan pergi!" Namun, seruan itu tak dihiraukan Arga.
Arga mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia akan menemui Hanum.
Sebelum sampai rumah Hanum, ia melihat ada sebuah motor yang terparkir di halaman.
'Apa Hanum sedang memiliki tamu? Tapi siapa?' batin Arga
Arga menghentikan motornya sedikit jauh dari rumah Hanum. Ia mendekat dan melihat dari jendela. Pemandangan yang menyesakkan terlihat didepan matanya. Hanum sedang bercanda ria dengan Raka. Sedangkan dia, dia butuh tempat bersandar. Arga pergi.