"Ikat dia!" seru seorang wanita paruh baya memerintahkan anak buahnya mengikat seorang wanita ke batang pohon.
"Tidak! Lepaskan aku!" seru wanita tersebut.
Namun, dirinya sudah terikat di batang pohon dengan ekspresi wajah murka.
"Heh? Kau ini bukan tuan putri lagi, sekarang keluargamu dicap sebagai penghianat, mereka sudah berbaik hati dengan menyisahkanmu tanpa memberi hukuman mati seperti kerabatmu yang lain," tegur wanita paruh baya.
Wanita yang diikat di batang pohon itu menggertakkan gigi, membuat wanita paruh baya tadi menamparnya.
"Jika saja kau tidak memiliki kecantikan seperti ini, aku juga tidak sudi menjadikanmu sebagai wanita penghibur,"
"Sampai kapanpun aku tidak akan menjadi wanita penghibur! Sekalipun aku mati!"
Karena tidak tahan, wanita paruh baya tersebut merobek pakai wanita yang terikat di batang pohon. Melepaskannya sedikit demi sedikit, dan menyisahkan pakai dalamnya, yakni celana panjang putih dan bra hingga ke punggung.
"Abaikan dia, wanita ini akan luluh dengan sendirinya!"
Setelah itu, para wanita tadi berpergian.
Tidak jauh dari sana, tampak sosok pria berambut putih pendek memandangi kejadian itu sejak tadi. 3 hari berlalu, saat wanita tersebut tidak diberi makan, selalu disirami air dingin, dan terkena hujan.
Merasa tak tega, membuat pria berambut putih itu hendak menghampirinya. Namun, niatnya terhenti saat sosok pria 3 tahun lebih tua darinya muncul menghadangnya dengan tongkat.
"Teman, kau tidak boleh mencampuri dunia manusia, biarkan wanita itu, ia sudah menjalani takdirnya, sudah waktunya kita pulang," kata Moki, sang peramal.
"Kau bilang sesama manusia harus saling menolong, aku hanya ingin menolongnya, kenapa dilarang?" kata Romi, pria berambut putih.
Tapi, Moki bersih keras menghentikannya, dan Romi menolak.
"A-Air, ku...mohon....se....diki....t.....saj....a....'" kata Miya, wanita yang diikat di batang pohon.
Sebelum Romi mencapai tempat Miya, tiba-tiba lubang hitam muncul di depannya.
Karena percikan lubang hitam tadi, membuat tali yang mengikat Miya terlepas. Dengan cepat, Miya kabur meskipun sudah lemah bukan main.
Setelah sampai di sungai, Miya sudah putus asa. Semua keluarganya telah dibantai, tidak memiliki harapan lagi, Miya melompat ke sungai untuk bunuh diri.
"Bugh!"
....
"Deg!"
Miya terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya. Ia menatap ke sekeliling, mendapati dirinya berada di dalam sebuah gua.
"Eh? Di mana ini?" bingung Miya bangkit.
Tunggu, apa yang terjadi? Baru saja, dirinya melompat ke sungai, dan sekarang ia sudah ada di gua.
Karena pakaiannya terlalu minim, Miya mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya. Ia pun keluar, dan betapa kagetnya saat melihat pemandangan di luar.
Ya, ada banyak aliran sungai kecil membentuk seluruh sisi jalan, bunga-bunga yang membentuk barisan, serta kupu-kupu berterbangan.
"Wah, cantiknya," kata Miya.
Setelah mendapatkan kain yang layak, Miya menyusuri hutan.
"Sreek! Sreek!"
Miya berbalik karena mendengar suara itu. Bagaimana jika yang datang adalah hewan buas?
"Syut!"
"Akh" teriak Miya menutup mata.
"Kenapa kau bisa ada di sini?"
Miya membuka mata saat mendengar suara pria yang agak berat tapi lembut. Dilihatnya, pria putih, dengan bulu mata lentik, mata hitam legam, dan rambut warna putih.
"Kau? Apakah kita saling mengenal? Menyebutku dengan sebutan kau?" tanya Miya dalam hati.
Pria itu menjitak kepala Miya.
"Kenapa malah diam?" tanya pria berambut putih itu yang ternyata adalah Romi.
"Romi-san! Ternyata kau ada di sini?!" seru Moki.
Moki membulatkan mata melihat Miya. "Kenapa dia bisa ada di sini? Apakah kau juga menariknya tadi?"
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku menariknya ke abad ini?" kesal Romi.
Abad? Mendengar kata abad, membuat Miya langsung kaget. "Memangnya ini abad ke berapa?"
"Abad ke-5," jawab Romi singkat.
"Abad ke-5?!!" teriak Miya membuat kedua pria itu memejamkan mata.
"Abad ke-5? Yang benar saja, aku saja sudah hidup di abad 16, ha?! Jangan-jangan aku melintasi waktu saat lompat ke sungai tadi?" ucapnya dalam hati.
"Kau ini kerjanya melamun saja, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Romi.
"Justru aku yang bertanya, tadi memanggilku dengan sebutan kau, apakah kita saling mengenal?" tanya Miya balik.
Romi hanya diam dan mengabaikan. Karena tidak ada hal yang bisa dilakukan, membuat Romi membiarkan Miya tinggal.
Seiring berjalannya waktu, Romi sering membawakan buah, mengajak Miya ke tempat indah dan luar biasa, memberinya puluhan kupu-kupu dan bunga, serta kunang-kunang di seluruh gua.
Romi dan Miya mulai saling menyukai, dan Moki yang melihat hal itu mulai cemas. Sebab, Romi bertanya kepadanya, apakah siluman rubah sepertinya bisa menjadi manusia?
"Bisa, selama 100 hari, kau tidak boleh marah, harus berbuat kebaikan, dan tidak membunuh hewan," kata Moki.
"Ah, itu gampang, aku pasti akan melakukannya," kata Romi santai.
Romi bingung melihat pisau kayu yang diberikan Moki.
"Sebelum 100 hari selesai, dan kau ternyata melanggar semua syarat itu, maka kau harus menusuk gadis itu,"
Mata Romi membulat besar.
"Jadi, bawa pisau ini untuk jaga-jaga,"
....
99 hari telah berlalu, dan itu membuat Romi kesal. Ia benar-benar dihadapkan dengan kejadian konyol. Padahal, sisa sehari lagi sebelum dirinya menjadi manusia, tapi Miya malah mengetahui kebenarannya.
"R-Romi-kun? Kau siluman rubah?" tatap Miya ketakutan.
Gadis itu menjerit sambil melempari Romi. Tak disangka, Miya memanggil pemburu rubah untuk menyegelnga, membuat Romi marah dan hilang kendali.
Romi mengeluarkan pisau yang pernah diberikan Moki untuknya, jika gadis itu menghianatinya.
"Miya, kau menghianatiku,"
"Apa bedanya dengan kau yang menyembunyikan identitasmu?" tanya Miya kecewa.
Dengan wujud setengah siluman, Romi menghampirinya dan mencengkeram bahu Miya.
"Akh!" ringis Miya kesakitan merasakan kuku Romi menembus bahunya.
"Sreet!"
Romi memuntahkan darah sebab perutnya langsung ditikam oleh pemburu rubah lainnya.
Butiran air mata Romi berjatuhan. "Kenapa kau melakukannya?"
Air mata Miya juga berjatuhan sambil meringis. Perlahan-lahan wujud Romi menghilang, dan pemburu rubah juga pergi. Kini tersisa Miya seorang.
Saat itu, barulah Moki datang.
"Romi-san? Romi-san!"
Miya yang melihatnya hanya menangis dalam diam. Tanpa diberitahupun, Moki mengetahuinya. Pria itu spontan histeris dan memarahi Miya.
"Dasar gadis tidak tahu terima kasih, padahal 1 hari lagi, Romi-san menjadi manusia seutuhnya! Kenapa kau malah menghianatinya?!"
Dahi Miya berkerut. Satu hari? Apa maksudnya?
"Romi terpaksa ingin menjadi manusia karena dirimu, meskipun aku sudah memperingatinya, pisau itu! Aku memberinya agar dia menusukmu, tapi dia tidak melakukannya, karena apa? Karena dia mencintaimu dasar bodoh!" histeris Moki.
Entah apa yang dirasakan Miya sekarang. Ia sangat menyesali perbuatannya.
"Kau tahu jika siluman rubah melanggar syarat sebelum menjadi manusia? Ya, kau mengubahnya menjadi iblis 1000 tahun!"
Butiran air mata Miya berjatuhan, rasanya ia ingin mengulang waktu, dan bertemu kembali dengan Romi. Padahal, selama ini Romi sudah menunjukkan kasih sayangnya. Lalu, apa balasannya?
Miya meraih pisau itu.
"Kalau begitu, aku akan menunggunya kembali, dan membayar semua kesalahanku. Saat dimana aku bertemu dengannya, aku sendiri yang akan memegang tangannya untuk menusuk jantungku. Inilah balasan cintaku untuknya,"