Gadis kecil itu terbaring lemah di rumah sakit. Kabel infus terpasang di tubuhnya. Mukanya memar. Tangannya luka-luka. Bibirnya pucat. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kaki kecilnya hanya tinggal satu. Ya, satu kaki gadis kecil itu harus diamputasi. Malang benar nasib gadis kecil itu.
***
Rabu, 10.15 WIB.
"Mama tidak jadi ke Jakarta?" sahut Mila yang baru pulang dari sekolah. Libur lebaran telah usai semenjak dua hari yang lalu. Hari ini adalah hari pertama Mila duduk di bangku SMP.
"Tidak, La. Pertemuannya dibatalkan," jawab Mama. "Kamu nanti jadi pergi les kan, La?"
"Jadi kok, Ma. Sehabis Ashar, Elsa akan menjemputku ke rumah."
"Ya sudah, istirahat dulu sana. Tapi kok kamu pulangnya cepat, La? Ini masih jam sepuluh loh," Tanya Mama.
Mila melempar tasnya ke sofa. "Guru rapat, Ma. Katanya karena hari pertama sekolah, ada banyak hal penting yang harus dibicarakan."
Mama hanya ber-oh panjang lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, menyiram bunga.
Pagi ini tidak ada yang aneh. Semua normal. Hari cerah. Awan membentuk gumpalan putih besar di angkasa. Cuaca tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Hingga beberapa jam lagi semuanya akan berubah pilu.
***
Rabu, 15.45 WIB.
"Ayo, Mila. Nanti kita telat. Aku tidak mau terlambat dihari pertama les kita."
"Aduh, sabar, El. Kita tidak akan telat kok. Masih ada lima belas menit lagi," sahut Mila. Gadis itu berlari tergopoh-gopoh mengikuti Elsa yang lumayan kencang larinya.
Setelah berlari hampir lima menit, mereka berdua telah sampai. Anak-anak sepantaran mereka juga banyak terlihat. Membawa tas berisi buku. Saling bercengkrama satu sama lain.
Mila dan Elsa mengikuti les di Gedung Bimbel. Gedung Bimbel ini cukup terkenal. Banyak orang tua mendaftarkan anak-anaknya belajar di sana. Letaknya juga strategis, berada di pusat Kota Padang. Makanya tidak heran dihari pertama sekolah pun, Bimbel itu menampung lebih dari dua ratus murid.
Mila dan Elsa terlihat sibuk menyapa teman-teman satu sekolahnya yang ternyata juga ikut belajar di sana. Pelajaran pertama mereka dimulai.
***
Rabu, 17.00 WIB.
"Aku kira belajar di Bimbel ini akan lebih mudah, ternyata sama saja. Susah." Elsa menghela nafas panjang. Mulutnya sibuk mengunyah roti bakar yang baru dibelinya.
"Namanya juga belajar, mana ada yang gampang, El," jawab Mila. "Cepat habiskan makanmu, El. Sebentar lagi waktu istirahat akan selesai."
Setelah menghabiskan roti bakar dengan sekali lahap, Mila dan Elsa bergegas menuju kelas. Istirahat lima belas menit mereka telah usai.
"Nanti malam jadi tidur di rumahku kan?" Elsa menyikut lengan Mila.
"Iya, tenang saja," jawab Mila pendek.
***
Rabu, 17.10 WIB.
Pelajaran fisika berjalan lambat. Murid-murid terlihat mengantuk.
KRING, KRING
Mila terkejut. Ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Mamanya. Elsa menyikut lengan temannya itu.
"Saya permisi sebentar, Pak. Mama saya menelfon," mohon Mila.
Bapak Guru yang mengajar hanya mengangguk. Kesal kelasnya diinterupsi. Mila segera berjalan keluar.
Sinyal cukup buruk di dalam gedung. Apa lagi kelas mereka yang berada di lantai dua bangunan Bimbel. Mila harus turun demi mendapatkan sinyal yang lebih bagus. Lobi gedung adalah tempat yang memadai.
"Halo, Ma. Ada apa? Mila lagi belajar loh. Malu dilihat teman-teman." Mila bersungut-sungut. Kesal.
Di ujung sana, Mama hanya tertawa lebar. "Maafkan Mama, La. Mama kira kamu masih istirahat. Makanya Mama telfon deh."
Mila mendengus sebal. "Jadi ada apa, Ma?"
"Gini, La. Nanti Mama pergi sama Papa ke tempat kenalan Papa. Kamu jadi nginap di rumah Elsa, kan? Kalau iya, kunci rumah Mama letakkan di bawah pot bunga Anggrek. Misalnya kamu ingin mengambil baju ganti."
"Aduh, Ma. Yang begini kan bisa di SMS saja. Gak perlu sampai nelfon segala. Tapi terimakasih, Ma. Aku harus kembali ke kelas sekarang. Bye, Ma."
"Bye, Mila." Sambungan telfon terputus.
Mila kembali berjalan menuju kelas. Menaiki anak tangga.
***
Rabu, 17.16 Wib.
Mila memasukkan ponselnya ke dalam saku dani mulai menaiki satu persatu anak tangga.
Tiba-tiba, getaran terasa keras. Kaca-kaca jendela bergetar. Badan Mila terduduk di anak tangga. Getarannya makin keras. Bukan mengayun, namun menghempas.
Setelah terduduk beberapa detik, Mila mencoba bangkit. Mila berpegangan erat pada sisi-sisi tangga. Otaknya mulai paham dengan apa yang terjadi. Gempa. Gempa yang sangat besar tengah melanda kotanya.
Gedung Bimbel bergemuruh. Tiang-tiang penyangganya mulai retak. Mila tahu apa yang harus dia lakukan. Dia harus berlari ke tempat terbuka. Suara panik anak-anak di lantai atas terdengar jelas. Teriakan-teriakan mereka membuat suasana makin mencekam.
Langit-langit bangunan mulai runtuh. Mila berlari tergopoh-gopoh menuju pintu. Dia berteriak ketakutan. Getaran gempa membuatnya kesusahan untuk berlari. Di belakangnya, guru-guru Bimbel mulai berlarian. Panik.
Mila sudah hampir sampai di depan pintu. Lima langkah. Hingga kaca di depannya bergetar hebat lalu pecah. Serpihan kacanya berterbangan. Satu dua serpihan mengenai tangan Mila. Tertancap. Mila menjerit kuat. Badannya terjatuh. Orang-orang yang berlari di belakangnya hanya bisa bergidik ngeri melihatnya. Tidak bisa melakukan pertolongan. Sibuk menyelamatkan diri.
Mila yang terjatuh segera berlari sambil menahan sakit menuju meja resepsionis. Meja itu terlihat kuat, pikir Mila di tengah kepanikan. Gadis kecil itu segera meringkuk cepat di bawahnya. Badannya kesakitan. Mila menangis. Biasanya jika dia menangis Mama akan menenangkannya, tapi tidak sekarang. Kini dia sendirian. Tidak ada Mama di sampingnya.
Naas, orang-orang yang berlari panik itu tidak sadar apa yang sedang menunggu mereka. Tiang-tiang penyangga bangunan mulai merekah. Kawatnya terlepas dari semen. Mereka berlari berdesak-desakan. Hingga akhirnya tiang itu roboh dan menimpa orang-orang yang berdesakan itu. Beberapa orang berhasil selamat, namun saat hampir sampai di luar, atap besi bangunan Bimbel itu juga roboh. Seng tajamnya jatuh ke arah orang-orang malang itu.
Dalam hitungan menit, bangunan Bimbel itu mulai runtuh. Anak-anak yang masih berlari menuju bawah tidak dapat menyalamatkan diri mereka. Mereka dengan cepatnya tertimpa bangunan yang berjatuhan. Tiang-tiang, beton-beton semuanya luluh-lantah. Bak istana pasir, gedung itu hancur seketika. Meninggalkan debu-debu berterbangan.
Suara jeritan sedih terdengar. Teriakan-teriakan minta tolong menggema di sekitar gedung Bimbel yang hancur. Mila masih sadar. Meja resepsionis itu berhasil melindungi badannya, namun tidak kakinya. Kaki kanannya terhimpit tembok setebal tiga meter. Susah payah gadis itu mendorong tembok itu, yang ada malah membuatnya makin kesakitan. Suaranya tidak bisa keluar lagi. Dia takut. Di depannya, di depan matanya tubuh seorang anak terhimpit tembok. Wajahnya tak terlihat, hanya badannya. Namun Mila tahu, anak malang itu sudah tiada. Badan Mila yang tengkurap itu sudah tidak bisa digerakkan. Dia kelelahan. Bersabar menunggu bala bantuan.
***
Rabu, 19.00 WIB.
Televisi nasional menyiarkan berita pilu. Musibah besar telah melanda Kota Padang. Gempa besar berkekuatan 7,6 SR telah menghancurkan hampir sebagian besar Kota Padang. Bukan hanya di Kota Padang, gempa ini juga terasa hampir diseluruh wilayah Sumatera Barat dan menyebabkan efek yang sangat besar. Di Padang Pariaman misalnya, satu kampung terkubur ke dalam tanah akibat gempa ini. Pemerintah memutuskan untuk menjadikannya kuburan massal. Sebanyak seratus lebih kepala keluarga dikuburkan di dalam tanah itu. Bahkan Malaysia juga ikut merasakan gempa yang berasal dari pergesekan lempeng teutonik Indo-Australia dan Eurosia ini.
Banyak orang yang kehilangan rumahnya. Bukan hanya rumah, orang-orang juga kehilangan kerabat dekat, keluarga, dan lainnya. Sinyal benar-benar hilang. Listrik dihampir seluruh provinsi terputus. Kota Padang berubah menjadi kota mati. Beberapa orang nekat berjalan kaki menuju rumah sakit dengan luka di sekujur tubuhnya. Berjalan sempoyongan dengan darah segar masih mengalir. Sungguh pemandangan yang mengiris hati.
Bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan malam itu juga. Bahkan negara-negara seperti Jepang dan Prancis juga mengirim bantuan berupa jasa untuk menolong evakuasi warga yang masih tertimbun.
***
Kamis, 10.00 WIB.
Mila berhasil diselamatkan melalui proses evakuasi yang berjalan lambat. Tubuh kecilnya digotong oleh anggota PMI. Mila benar-benar terlihat tidak bertenaga. Badannya dipenuhi debu. Kaki kanannya yang tertimpa tembok terlihat mengenaskan. Beruntung tim evakuasi berhasil menyelamatkannya karena Mila, dengan sisa tenaga yang ada berteriak sekencang-kencangnya. Tim evakuasi yang mendengar itu pun segera melakukan proses penggalian. Tubuh Mila ditemukan di kedalaman dua meter. Gadis kecil itu segera di bawa menuju rumah sakit.
Sungguh ajaib, hanya Mila yang berhasil selamat dari reruntuhan gedung Bimbel itu. Semua orang harus menjemput ajalnya. Begitu pula Elsa, teman Mila.
***
Sabtu, 13.00 WIB.
Mila terbangun dari tidurnya. Badannya masih merasa sakit. Cahaya putih bersinar terang saat dia membuka mata. Silau. Papa dan Mama langsung meloncat menuju kasur tempat Mila tidur. Sudah dua hari ini kedua orang tua Mila tetap terjaga demi menunggui putri kesayangannya siuman.
Mama langsung menangis memeluk Mila. Papa yang berdiri di belakang Mama mengelus lembut kepala Mila. Gadis itu masih kebingungan. Namun dia segera teringat, memori kejadian sewaktu gempa membuatnya menangis di pelukan Mamanya.
"Ma, Mila takut," ucap gadis kecil itu lirih.