Pagi itu ku mulai bersihkan setiap sisi jendela kafe dengan seksama. Terlihat olehku seorang pengendara sepeda fixie, lengkap dengan atributnya, perlahan berhenti di depan area kafe tempat aku bekerja.
Di parkir sepedanya di lampu jalan yang ada di depan kafe. Dia mulai berjalan ke arah dalam kafe. Aku selalu tertegun bila melihat pesepeda, entah lah, beribu alasan bisa diungkapkan kenapa suka dengan mereka.
Tak sadar mataku terus mengarah kepadanya.
Dia mulai membuka kacamata hitamnya disusul dengan helm nya."Kring" suara bel pintu kafe menyadarkanku dari ketertegunanku.
Kuteruskan pekerjaanku, sayup terdengar pesanan dia di kounter, "1 cappucino panas ya"
-
Tugasku pagi ini dimulai di meja kounter. Ketika ku tata gelas-gelas, "Kring" bel pintu kafe berbunyi, seketika mataku mengarah kesana. "Wah dia lagi..." begitu dalam hatiku berkata. Dia mendekati kounter dan mulai memesan pada cashier dengan pesanan yang sama, cappucino panas. Berjalan lah dia yang memiliki perawakan tinggi dengan badan yg cukup atletis, kulit putih, berambut coklat menuju meja di luar kafe. Dia taruh perlengkapan nya dan mulai mengeluarkan hp dan jari telunjuknya mulai menyentuh layar hp itu.
-
"Kring".... Ah jam 08.00, biasanya dia datang pada jam ini, dalam hatiku berkata. Aku sedang membelakangi kounter, ketika ku berbalik, tepatlah dia dihadapanku dan mulai berkata "Mba, cappucino panas 1 ya". Dengan sedikit gelagapan dan gemetar aku iya kan, dan kuminta untuk membayar pesanan di cashier.
Ku antar kan pesanannya ke meja di mana dia selalu duduk, di depan kafe, dan dia sedang tekun melihat hp nya. "Ini pak pesanan nya", ku taruh itu di hadapannya. "Terima kasih" dan dia tersenyum ke arah ku. Ah... lemas terasa kaki ku melangkah, tanganku seperti ingin menjatuhkan nampan yang kupegang.
-
Kembali ku bersihkan jendela kafe. Ku perhatikan terus dia, pelanggan 08.00,begitu ku menyebut nya, duduk menikmati cappucino panasnya sambil memandang ke arah jalan raya. Entah hipnotis apa yang terjadi padaku, ku tak lepas memandangnya. Dan tak disangka dia menoleh ke arah ku, seperti tahu bahwa dia dipandangi olehku. Dan dia tersenyum. Senyum yang membuat aku lemas kaki dan gemetar tak tentu. Tertunduk aku dibuatnya.
-
Aku menatap jam dinding di kafe. Pukul 08.05. "Apa dia tidak mampir ke kafe hari ini?", begitu aku berkata pada diriku. Mataku terus melihat ke arah luar kafe, berharap dia menepi dengan sepedanya. Beberapa menit berlalu tak ada tanda dia datang. Kubersihkan meja luar bekas kostumer. Tiba-tiba datanglah dari kanan arah jalan raya, sepeda dan pengendaranya yang aku kenal. Tidak seperti biasanya, dia tidak memarkirkan sepedanya, dia tuntun dan mengarah mendekatiku, dibuka kacamata hitamnya, dia berikan senyuman yang bisa meluluh lantakkan badan ini, dia mengarahkan tangannya ke belakang jersey yang dipakai, dan dia menyodorkan bunga mawar putih kepadaku. "Buat kamu" itu kata dia. Aku pun mengambil bunga itu dari tangannya. "Sampai jumpa ya", dia berkata dan memakai kembali kacamatanya, dinaiki sepeda nya, ke arah kiri kafe dan berlalu. Belum sempat ku berterima kasih padanya, karena kaget.
"Brak".
Suara keras seperti hantaman terdengar.
-
Suara itu datang dari kanan ku, tepatnya di perempatan jalan. Tak sadar ku mulai berjalan ke arah suara itu, masih menggenggam bunga mawar putih pemberiannya. Ku lihat kerumunan orang. Ku coba terobos kerumunan itu. Ku melihat sejenak sekeliling kerumunan itu, ada mobil, motor yang rusak karena tabrakan, ku alihkan pandangan, ku lihat sepeda fixie dan pengendaranya, bersimbah darah, tergeletak diam. Kucoba dekati walau dihalangi massa, kulihat jersey yg digunakan pengendara, "Itu...." ku toleh ke kanan tubuh itu, ada mawar putih hancur, tergeletak terkena darah. Jatuh bunga yang ada di tanganku, aku merasa lemas, melayang dan entah apalagi. Dan semua jadi gelap.