Bukan salahku yang terlahir dengan wujud seperti ini. Apakah aku menyalahkan takdir? Tidak, aku berterimakasih pada takdir. Karena telah mempertemukanku denganmu Aislinn.
*****
Lolongan panjang bergema di setiap sudut hutan. Berselimut dinginnya salju, hutan di puncak tertinggi gunung ini membeku. Bersama dengan tubuh kecil yang lemah ini, aku termenung.
Aku menatap dua pasang kaki berbulu putih abu lebat dengan cakar yang menancap pada gundukan salju. Ekor panjang yang sungguh lebat berkibas menyapu salju di belakangku. Ini... adalah diriku?
Tak jarang aku memastikan wujudku pada pantulan air di sungai sebelah selatan berbatasan. 'Makhluk aneh apa ini?' Pikirku ketika melihat bayangan diriku sendiri. Yang benar saja! Ada dua wujud yang ku lihat. Seekor serigala dan anjing hutan. Perpaduan yang tidak bisa dipercaya. Hewan hibrida? Itu sebutan para manusia untuk makhluk sepertiku.
Suara langkah kaki kuat terpendam salju mengganggu pendengaranku. Secara spontan aku menoleh ke sumber suara. Masih belum terlihat kedatangan mereka. Para manusia bangsawan dan pemburu itu selalu saja datang tanpa diundang. Aku tidak peduli dengan apa yang akan mereka buru hari ini. Di musim hangat tahun ini, kota di bawah gunung terlihat baik-baik saja. Ini memungkinkan untuk mereka bersenang-senang sejenak ke puncak ini.
SREEB!!!
Suara tembakan anak panah melesat melewati langit di atas kepalaku. Mereka memanah apa? angin? Burung? Burung apa yang akan muncul di puncak yang dingin ini? Dasar manusia bodoh.
Aku melangkahkan kakiku di atas salju yang dingin. Siang ini, sepertinya seekor kelinci di kaki gunung tumbuh dengan baik. Aihh.. aku benar-benar lapar.
SREEGG!!!
Aku tersentak. Sebuah panah menancap tepat di dekat kaki depanku. Ini hampir melukaiku. Apa-apaan ini? Panah manusia itu meleset? Seburuk itukah kemampuan para bangsawan itu?
"Cih! Lebih baik kalian diam di rumah dan mengadakan pesta minum teh!"
SREEGG!!!
Beberapa panah muncul lagi, membuatku tidak yakin dengan apa yang aku pikirkan. Tiba-tiba puluhan panah mencuat ke langit dan akan berjatuhan, semuanya mengarah padaku. Sial, aku adalah sasaran buruan mereka.
Dengan tubuh muda ini, bisakah aku menghindarinya? Aku melesat dengan cepat, secepat yang aku bisa. Kuda-kuda itu mengejarku. Kaki-kaki panjang mereka tidak bisa dibandingkan dengan gesitnya tubuh sebagian serigala ini. Aku rasa aku akan bebas dengan mudah.
SREGG!!
CRAKK!!
Sial, sebuah anak panah berhasil menembus paha kaki belakangku. Membuatku tak sanggup berlari lebih kencang lagi.
CRAKK!!
Tak puas dengan satu anak panah, mereka melesatkan beberapa lagi, menancap tepat pada kaki-kakiku. Aku terjatuh lemah, darah merah mengalir di atas salju putih. Kesakitan? jangan tanyakan lagi. Rasanya aku akan mati. Kenapa mereka tidak langsung membunuhku saja? Mereka bahkan menghindari bidikan ke alat vitalku.
Mataku berkunang-kunang, tak kuasa menahan rasa sakit. Tenagaku terkuras, wujud manusiaku muncul tanpa aba-aba. Aku kalah.
*****
Kakiku terasa sakit dan berat, namun mereka mengikatku dengan rantai dan membuatku berjalan dengan paksa. Ahh.. iya, kini aku kembali ke wujud hibrida. Aku bersama rombongan bangsawan itu berjalan di antar pecahnya formasi kerumunan manusia. Aku di kota? Aihh.. pers*t*n. Aku ingin mati saja.
Aku terjatuh, kakiku yang penuh luka tidak bisa seimbang. Dan setiap kali tubuhku melemah, wujud manusiaku muncul menandakannya.
"Cepat jalan!!" Bentak penjaga sialan yang menarik rantaiku. Pasrah, aku menuruti perintah. Kembali berjalan. Ya, ini mungkin akhir dari hidupku.
Seketika pandanganku tertuju pada seorang gadis kecil, ia menatapku penuh kasihan. Kepalan tangannya menandakan amarah tak terima. Dia peduli padaku? Bahkan ketika semua manusia itu memandangku dengan tatapan aneh. Namun siapa peduli? Apa dengan begitu saja aku bisa selamat? Mimpi! Bangunlah! Sebentar lagi kau akan menemui keluargamu yang telah lenyap itu.
*****
Menggulung tubuhku di atas dinginnya lantai dalam ruang jeruji besi ini. Apa salahku? Kenapa aku ditahan? Sial, aku hanya lapar.
"Hei! Ku dengar tuan Duke Lyth berhasil menemukan hewan hibrida Coywolf itu!" Suara itu terdengar dari sudut dinding. Para penjaga sedang membicarakanku.
"Ah! Iya! Duke Lyth benar-benar hebat! tahun ini persembahan kepala Coywolf untuk patung naga akan berjalan lancar. " Sahut penjaga lain.
Aku mendengarkan, terkejut? Ya, sedikit. Lagipula jika sudah seperti ini awalnya, bagaimanpun juga aku akan mati di tangan para manusia itu.
"Terlebih lagi hibrida ini punya sihir yang lumayan kuat, kau lihat kemarin bukan? Dia bisa mengambil wujud anak kecil!" Kagum si penjaga bodoh.
Haahh.. Ini mungkin sebuah pujian untukku yang akan menemui kematian. Sudahlah, mati besok atau sekarang tidak ada bedanya.
KLAK!!
Suara pelannya benturan besi itu memaksaku mengangkat kepala. Aku terkejut, gadis kecil kemarin itu datang! Membuka tahanan ini untukku. Membungkusku dengan selimut yang telah ia bawa, lalu mengendap dengan kaki mungilnya, membawaku kabur. Apa sekarang... aku selamat berkat dirinya?
*****
Aku duduk di atas ranjang, Aihh.. dua tahun yang membosankan berada di dalam kamar seorang gadis yang menyelamatkan nyawaku kala itu. Cahaya matahari yang sama selalu muncul dari jendela besar itu, benar-benar menyilaukan. Turun dari atas ranjang, aku masuk ke kolong ranjang gadis itu. Berharap cahaya matahari tak bisa menemukanku.
Bulu-buluku menjadi lebih lebat, ini berkat gadis itu yang merawatku. Jujur saja, saat ini aku ingin mengabdi seutuhnya padanya.
Seseorang mendekati pintu, kunci pintu berhasil dibukanya. Aku mencium aroma yang ku kenal. Itu dia!
GUK!!!
Hei! Jangan terkejut! Aku tidak hanya bisa melolong saja, tapi menggonggong juga keahlianku.
Aku keluar dari kolong ranjang, berlari mendekatinya sembari mengibaskan ekorku yang lebat.
Aku mendekap hangat tubuhnya dari belakang dengan wujud manusiaku. Aku merindukan aroma tubuhnya.
"Sstt..!! Sudah ku bilang berkali-kali! jangan membuat suara apapun yang akan membuat orang curiga!" Bisiknya yang masih berada dalam dekapanku.
Aku semakin mengeratkan pelukan, kepalaku letakkan tepat di atas bahunya.
"Aku tidak bisa menahan diri ketika melihatmu. Selamat datang kembali ke rumah, Aislinn." Ucapku dengan lembut tepat di sebelah telinganya.
Ia melepaskan diri dari dekapanku, menatapku.
"Bocah nakal!" Ucapnya sembari mengusap puncak kepalaku.
Seketika aku teringat akan sesuatu, membuat senyumku memudar.
"Aislinn..." Aku menghentikan pergerakan tangannya yang berada di puncak kepalaku. Menyingkirkannya, lalu ku genggam erat.
"Berjanjilah! Kau akan menjadi pemilik dari jiwaku ini selamanya, Aislinn!"
Ia memberi raut wajah bingung, ada apa ini? Bukan ini yang aku inginkan.
"Kau tidak ingin kepalaku dijadikan persembahan untuk naga itu bukan?" Ucapku mulai memancingnya.
Ia memalingkan wajah, aku tidak paham dengan sikapnya ini.
"Besok, waktu yang tepat untuk menjalin kontrak antara bangsa hibrida dan manusia. Dengan begini, seutuhnya aku akan menjadi milikmu!" Yakinku.
Ia mengangkat kepala, memaksakan sebuah senyuman. Terlihat jelas seperti itu.
"Rev, sepertinya kau mengalami masa-masa sulit karena sudah dua tahun berada dalam ruangan tertutup ini. "
"Aku akan membawamu keluar." Ucapnya yang tiba-tiba menjauh dariku.
"Aislinn..?" Panggilku, apakah aku telah ditolak?
"Bersiaplah! Aku harap kau menutupi dirimu agar tidak dikenali para penjaga." Sambungnya tanpa menatapku.
Aku terdiam, sepertinya benar aku telah ditolak.
"Ha... Jadi begitu ya," Sepatah kata dariku, mungkin cukup memecah kecanggungan.
"Kau tidak ingin berucap janji dengan ku bukan?" Ini berat, tapi mungkin ini kenyataannya.
Berucap janji bersama, Cih. Ini memang terdengar sangat aneh.
"Baiklah, aku mendengarkan ucapanmu." Aku menyetujuinya.
Entahlah, aku telah habis. Ditolak? Ya, menyakitkan bukan?
*****
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun terakhir, aku berdiri di atas tanah yang telah lama tak ku pijak. Ke pasar, ini tujuan gadis itu.
Aku menerawang ke sekitar, ada penguntit. Mereka mengenaliku. Sial, aku sedang bersama Aislinn, aku tidak bisa membahayakannya.
"Aislinn!" Panggilku.
"Ya?"
"Bisakah aku mencoba itu?"
"Kau mau?"
Aku mengangguk cepat, dan berharap ia segera menjauh.
"Baiklah, tunggu disini! Aku akan membelikan satu untukmu." Ia membenahi penutup kepalaku sebelum pergi, mungkin ini sejenis penyaluran tenaga untukku melawan mereka.
Mereka mendekat, aku sudah tahu. Di keramaian ini, aku tidak bisa kabur dengan wujud hibrida. Ini akan membuat kehebohan.
"Wah...wah... Buronan yang kabur sedang berbaur dengan manusia." Ocehnya.
"Omong kosong!" Ketusku yang membuat mereka marah. Mereka menarik leher bajuku, lalu memukul wajahku dengan keras.
"AAHHKK!!"
Sebisa mungkin aku memberontak, Sial! Tubuh ini masih terlalu kecil dan lemah.
"Rev..."
Ada yang menyebut namaku. Aihh.. Aislinn terlalu cepat kembali.
BHUGG!!!
Mereka memukul wajahku, meninggalkan bekas biru. Menendangku hingga jatuh tersungkur, tidak bisa! Ini akan membuat Aislinn kesal dan menjadi sasaran mereka.
"REV!!!" Gadis itu meneriakkan namaku. Salah seorang penjaga mendekatinya.
"SIALAN!! MENJAUH DARINYA!!" Marahku.
BHUGG!!!
Tangan sialan penjaga itu menghantam kepalanya dengan keras, membuat gadis itu tak sadarkan diri.
"PERS*T*N!!!"
*****
Lagi dan lagi. Aku merasakan kembali penderitaan yang kualami dua tahun lepas. Tubuh lemah penuh luka, bukankah ini menyakitkan? Tidak, hal yang lebih menyakitkan ada di hadapanku. Aislinn, tangan diikat di belakang. Pakaian yang kotor, ia di perlakukan bak budak di pasar gelap.
Dengan wujud hibridaku yang sementara ini, aku memanggilnya. Hingga akhirnya ia terbangun, melihatku yang telah kembali ke wujud manusia.
Ia membuka matanya, panik. Wajah gadis itu nampak tak tenang melihat tampilan diriku yang kembali seperti dua tahun lepas.
Para penjaga itu membawaku pada benda besar dengan benda tajam tergantung di atasnya. Leherku sedikit sakit melihatnya. Meletakkan leherku di antara balok kayu, baiklah. Aku sudah lelah, mari akhiri saja.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Marahnya.
"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan dua tahun yang lalu." Sahut seorang pria yang tiba-tiba muncul.
"A-ayah?!"
Ia tak merespon. Dengan dinginnya ia mengabaikan putrinya.
"Lakukan!" Perintahnya.
"TIDAKK!! HENTIKAN!!! KUMOHON!!" Jeritnya sekuat tenaga. Tolonglah, aku tak ingin suara indahnya hilang.
"Ku mohon... hentikan.." Lirihnya, tangisan tak bisa lagi ia tahan. Membanjiri wajahnya. Tolong jangan tunjukkan wajah seperti itu di hadapan orang yang akan mati. Aku tidak suka.
"A.. Ai..." Suara lemah ini memuakkan. Aku mencoba menunjukkan wajah baik-baik saja padanya. Aku ingin memberikan kesan yang baik untuk perpisahan ini.
"Aislinn... "
"Di kehidupan selanjutnya, seutuhnya.... jiwaku, akan menjadi milikmu..."
SREGGG!!!!
"AAAKKHHHH!!!!"
*****
BRAKK!!!
Aku mendesis kesakitan, Aihh.. ternyata aku terjatuh dari ranjang. Aku mengusap wajahku, terasa basah di pipiku dan mataku. Apa ini? Aku menangis? Apa aku bermimpi buruk? Tapi mimpi apa? Aku bahkan tidak mengingat mimpiku semalam.
Seseorang datang, melemparkan bantal padaku. Tak sempat mengelak, wajahku sasaran empuknya.
"Wah!! Tuan muda baru bangun.. hm?" Ucapnya.
"Ha?" Sebentar, aku sedang mengumpulkan nyawa.
"Cepat bangun dasar pemalas! Pesawat kita akan berangkat sejam lagi!" Sambungnya sembari merapihkan ranjang.
"Iya."
Aku beranjak, bersiap menuju Bandara bersama Reon. Ya, dia pria yang mengusik pagiku tadi. Ini adalah perjalanan dari Belanda menuju Indonesia, Indonesia! Aku pulang!
*****
Aku keluar dari dalam mobil, aroma dari suasana yang telah lama ku rindukan. Aku dan Reon sampai di Indonesia.
"Van! Aku mau mampir di toko kue di seberang. Kau tunggu di sini." Ucap Reon. Aku mengangguk sekali, mengiyakannya.
"Ah, iya! Aku titip ini." Reon memberiku sebuah buku, novel tua yang usang.
"Kau membawa buku dongeng ini selama perjalanan?" Tanyaku heran.
"Ya, Itu peninggalan ibuku. Aku selalu membawanya kemanapun." Sahutnya.
"Sudahlah, aku mau beli kue." Segera Reon meninggalkanku sendiri di tempat parkir sepeda dekat toko buku.
Aku menatap buku usang itu, ini bukan pertama kalinya aku melihat novel tua milik mendiang ibu Reon ini. Aku bahkan pernah membacanya. 'Aislinn Belofte', buku ini lebih terlihat seperti dongeng. Aku teringat mimpi semalam, mimpi itu ternyata mirip dengan adegan pada novel yang seperti dongeng ini. Sudahlah, tidak penting.
Tiba-tiba ada seekor anjing mendekatiku, mengibaskan ekornya kegirangan. Apa anjing ini mengenaliku? Sepertinya anjing ini kabur, tali lehernya ia seret kemana-mana.
Aku berniat mencari pemiliknya, kasihan. Ia pasti bingung mencari hewan kesayangannya.
Aku berjalan sembari memegangi tali anjing itu, aku berniat menuntunnya. Tapi anjing ini malah menuntunku balik membawaku pergi meninggalkan koper besarku.
Ku lihat seorang gadis sedang bingung mencari-cari sesuatu. Aku rasa ini pemilik anjingnya.
Sejenak aku terdiam ketika melihat wajahnya yang panik. Wajah itu, nampak tak asing bagiku.
"Ai..." Gumamku, namun aku tersadar. Kenapa aku menyebut nama 'Ai'? tidak mungkin aku pernah mengenal gadis bernama itu.
Gadis itu menoleh, ia sadar akan kehadiran kami karena bunyi lonceng di kalung anjing itu.
"Eh? Kiki? akhirnya ketemu!" Ucap gadis itu yang tampak lega.
Pandangan kami bertemu, tiba-tiba raut wajah gadis itu berubah. Setitik air mata jatuh dari bola matanya yang indah. Membuatku bingung seketika.
"Rev..?"
*END*
*PERINGATAN!!!
JANGAN LUPA LIKE! KOMENTARNYA JUGA!
PLEASE! AUTHOR MAKSA🙂🔪
AWKWK, CANDA NGAB🗿✌️