Kita adalah pendaki dan penjelajah. Bersembunyi dari garis waktu dan berkorespodensi. Aku menyukaimu.
=•=•=
Tokyo, 1923
Pada malam yang gelap saat itu, seorang gadis terlihat sedang berbaring di lantai sambil menatap sebuah kertas kosong yang dipegangnya. Namun, dengan cepat dia langsung membalikkan posisinya dan mulai mengambil pena tinta. Hanya dengan bantuan cahaya redup lampu minyak, dia mulai menulis satu per satu kata.
Jam telah menunjuk ke angka romawi "XI", tapi dia memutuskan untuk tidak tidur sebelum dia selesai. Sekarang, gadis itu sedang menulis sebuah surat.
"Da ... ri ... Yu ... ko .... Yaah, selesai!" Setelah berhasil menyelesaikan suratnya, dia berteriak girang. Lalu, gadis itu menaruh pena tintanya, kembali berbaring, dan menatap kertas surat tersebut. Ia tersenyum sangat lebar.
Dialah Yuko Kakouru, seorang gadis yang hidup di Era Taisho. Terlahir dalam keluarga yang sedang berada dalam kesenjangan sosial–membuatnya penasaran. Yuko selalu ingin menjadi orang cerdas dan menciptakan sebuah alat agar bisa membantu orang tuanya di masa depan.
Dan yang dilakukannya saat ini adalah menulis surat. Sebuah surat yang ditujukan kepada seseorang di masa depan.
Mungkin itu terdengar aneh.
Tetapi, karena rasa penasaran Yuko terlalu tinggi, hingga dia ingin membuktikan bahwa teori lintas waktu memang benar adanya. Jadi, dia pun melakukan hal ini.
'Hah ... surat ini akan benar-benar terkirim ke masa depan tidak, ya?' batin Yuko sedikit ragu.
Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, hingga tanpa disadari matanya memejam perlahan.
=•=•=
Tokyo, 2023
Cahaya terik matahari pagi menampar keras seorang laki-laki yang sedang tertidur lelap di atas kasurnya. Meski hari telah berganti, tapi ia tetap tidak bersemangat. Laki-laki itu masih saja menutup wajahnya di balik bantal.
Tidak sampai seseorang datang.
"HEII, TOKITO! BANGUN!" Suara teriakan keras seorang wanita dewasa serta ketukan pintu kasar bersatu dalam iringan. Berusaha menjangkau dia yang sedang tertidur itu.
"TOKITO!"
Bruk!
Namun, pada akhirnya suara-suara bising tadi mampu menandingi kemampuan tidur laki-laki itu. Ia bangkit dari posisi jatuh, sambil memegangi kepalanya, dia membenarkan posisi tubuh.
'Ck, siapa, sih yang ganggu pagi-pagi begini?' pikirnya kesal.
"TOKITO!"
Deg!
Suara panggilan yang terakhir langsung membuat dia merinding. Karena yang memanggil adalah ibunya.
"I-Iya, Bu!"
Tak mau semakin terdesak, pemuda ini memutuskan untuk segera melenyapkan seluruh rasa malasnya seketika. Bergerak keluar rumah dan bersiap menjalani aktivitas libur musim panasnya.
Tokito Mirai begitulah nama lengkapnya. Namun, orang-orang di dekatnya lebih suka memanggil dia dengan sebutan Tokito. Seorang siswa SMA di salah satu sekolah di Tokyo. Dia adalah seorang penulis muda. Hobi menulisnya memang telah muncul sejak dia kecil. Terbukti dengan banyaknya karya yang dihasilkan oleh otak dan tangan pemuda ini.
Tokito mampu menulis cerita dalam berbagai genre, tapi ia lebih suka menulis cerita fiksi romantis. Entah kenapa, dia menyukainya begitu saja.
=•=•=
Selepas mandi, Tokito berjalan kembali ke kamarnya. Sembari mengeringkan rambut dengan handuknya, dia duduk di kursi meja belajar.
Di sana terdapat banyak tumpukan buku-buku. Sebagian besar bukunya adalah buku novel. Tokito memang suka mengoleksi buku novel, selain untuk dibaca saat waktu senggang, ia juga sering mencari referensi.
Tling!
Di saat yang bersamaan, terdengar suara notifikasi ponsel berdering. Ternyata notifikasi dari aplikasi menulis cerita miliknya.
"Lomba menulis cerita! Tema : 'Romansa dua insan dalam garis waktu' hadiah ...." Melihat hal itu, tentu membuat laki-laki ini melompat kegirangan.
Entah hanya kebetulan atau memang dia sedang beruntung. Tokito memang telah merencanakan bahwa dia ingin membuat sebuah cerita bertemakan romansa berbeda garis waktu.
Ia sedang merencanakan sebuah cerita tentang kisah romantis di zaman kuno.
"Yossshh ... aku pasti bisa menang kali ini!" teriak Tokito girang.
Mengesampingkan selebrasi gembiranya, ia memilih untuk duduk dan mulai menulis. Laki-laki itu mencari-cari sesuatu di antara banyaknya tumpukan buku.
"Aisshh, di mana buku tentang Era Edo saat itu?" tanyanya bingung. Tokito berhenti sejenak, dia melihat sekeliling sambil berupaya mengingat-ingat.
Namun, pada saat dia sedang terdiam, atensinya teralihkan kepada selembar kertas kuno di atas meja belajarnya. Ia lantas melangkahkan kaki menuju kertas itu.
Diambillah kertas tersebut agar rasa penasarannya dapat terpuaskan.
...
Halo, apa surat ini benar-benar terkirim ke masa depan? Maaf jika membuatmu terkejut, bagi siapapun itu yang menemukan surat ini.
Aku adalah gadis yang hidup di Era Taisho. Itu hakmu jika kamu tak percaya. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya.
Aku sendiri juga tidak tahu apa surat ini bisa sampai di masa depan. Tapi seandainya surat ini memang mencapainya, bagi kamu yang membaca surat ini, tolong balas, ya?
Karena aku sedang membuktikan kebenaran teori lintas waktu.
Oh ya, kalau kamu tidak keberatan, apakah kamu bisa menuliskan sedikit tentang kehidupan di eramu?
Terima kasih.
Dari, Yuko Kakouru.
...
Tokito membaca satu per satu kata yang tersusun di atas kertas tanpa terlewat. Setelah selesai membaca, kedua alis laki-laki ini menyatu ke depan.
Ia menyebar pandangan matanya ke sekeliling.
"Ck, apa Jikan sedang menggangguku lagi?" pikir Tokito sebal.
Jikan adalah nama adiknya. Memang, dia adalah adik yang nakal dan sering menganggu Tokito. Makanya, laki-laki itu kerap menyalahkan Jikan di setiap masalah yang menimpanya.
Tokito menatap ulang kertas kuno dengan tulisan huruf hiragana tulisan tangan itu. Dia masih tidak tahu, apa maksudnya ini.
=•=•=
Malam harinya, Tokito merebahkan dirinya di ranjang seperti biasa. Namun, tiba-tiba ia kembali teringat tentang surat yang katanya dikirim oleh Gadis Era Taisho.
Ia berusaha untuk melupakan, akan tetapi hatinya tak bisa dibohongi. Pada akhirnya, Tokito mengambil kertas itu lagi. Dia membacanya sambil memertahankan posisi terlentang.
Kalimat "Bagi kamu yang membacanya, tolong balas, ya?" sangat menganggu laki-laki tersebut. Dia sangat ingin membalas surat ini.
Tokito mengenggam kertas kuno tadi kuat-kuat. Ia bangkit dari ranjang, beralih ke meja belajarnya. Dia pun mengambil sebuah buku kosong dan menyobeknya di bagian tengah.
Tokito menulis balasan.
=•=•=
10 hari setelahnya, di Zaman Taisho ...
Yuko bersandar di dinding kayu rumahnya. Gadis itu terlihat sangat kecewa. Pasalnya, dia pikir, percobaannya berbalas surat dengan orang di masa depan gagal.
"Hah ...." Ia menghela napas panjang.
Di saat yang bersamaan, muncul sebuah cahaya kecil dari arah sudut ruangan. Tatapan mata Yuko tertarik ke cahaya kecil ini. Dia sedikit terkejut, tapi rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takut itu sendiri.
Cahayanya menghilang secara cepat. Menyisakan sebuah kertas putih dengan tulisan di atasnya. Yuko semakin mendekat. Ia mengambilnya.
"100 tahun setelah masa Taisho". Kalimat besar yang terpampang besar di bagian kertas paling atas adalah kalimat yang ditangkap oleh netra gadis ini.
"Seratus tahun?!" pikirnya penuh pertanyaan.
...
100 Tahun Setelah Masa Taisho
Hai, aku membaca suratmu. Kudengar, kau adalah gadis yang hidup di Era Taisho? Yuko-chan? Itu, namamu, 'kan?
Jika memang iya, maka syukurlah. Aku akan membalas pertanyaanmu. Yah, surat yang kau kirimkan sampai ke sini. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa ada di meja belajarku. Tapi, aku tak terlalu memikirkannya.
Tentang masa depan, sekarang aku hidup di Era Reiwa. Yaitu Era Masa Depan. Aku tinggal di Tokyo pada tahun 2023.
Sekarang, seluruh kebiasaan telah berubah. Banyak ditemukan mesin-mesin luar biasa yang sangat membantu kehidupan manusia. Ponsel, kulkas, AC, televisi, dan lainnya.
Kau pasti akan sangat senang jika bisa melihatnya langsung. Kuharap, kau bisa membayangkannya.
Dari, Tokito Mirai.
...
Sama halnya seperti Tokito, Yuko juga membaca satu per satu kata dengan serius tanpa ada yang terlewat. Ketika ia telah sampai di penghujung surat, gadis ini pun melompat kegirangan. Meski dirinya mengenakan baju kimono, hal tersebut tak bisa menghalangi Yuko untuk mengekspresikan kebahagiaannya.
Dia berhasil membuktikannya. Ia melawan waktu.
Dengan hanya cara mengirimkan sepucuk surat, Yuko mampu menjangkau masa depan. Ia menggunakan cara yang bahkan dia sendiri juga tidak tahu mekanisme kerjanya seperti apa.
"Aaaaa aku berhasil!" teriak Yuko senang bukan kepalang. Sampai-sampai membuat Jidai–salah satu adik laki-lakinya–menghampiri Yuko.
"Kak, kenapa kakak teriak-teriak begitu?" tanya seorang laki-laki dengan tinggi kira-kira 152 centimeter. Dia Jidai.
Yuko berhenti seketika saat melihat Jidai berdiri di depan pintu yang terbuka. Gadis itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, kok. Ahaha ... haha ...," ucapnya disertai tawa kecil di akhir.
Jidai menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali menutup pintu kamar Yuko. Sepeninggal Jidai, Yuko pun kembali bersorak-sorai.
Ini hari terbaik dalam hidupnya.
Dan sejak saat itu, Tokito dan Yuko saling berbalas pesan melalui surat. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai mengerti mekanisme yang bekerja.
Tokito dan Yuko hidup di era yang berbeda. Mereka terpaut 100 tahun lamanya. Jadi, surat yang mereka kirimkan tak akan bisa langsung sampai dalam sekejap. Tidak peduli seberapa cepat balasan ditulis, tetap saja, waktu sampainya harus memakan waktu. 10 hari untuk satu surat.
Walau begitu, mereka berdua tidak begitu mempedulikannya. Yuko yang awalnya hanya ingin menguji teori, perlahan mulai menikmati berkomunikasi dengan Tokito. Sama halnya, Tokito di awal hanya penasaran, tapi akhirnya ia juga menyukai saat-saat berbalas pesan dengan gadis Era Taisho ini.
...
Tokito-kun, aku sudah terima suratmu.
Katanya, di masa depan akan ada sistem pendidikan baru? Studi, ujian kelulusan, dan juga klub?
Woaaahh, aku pasti akan merasa sangat senang kalau bersekolah di sana. Terima kasih telah memberiku penjelasan, sekarang aku bisa membayangkan bagaimana peradaban Kota Tokyo seratus tahun ke depan.
Hari ini, aku menemani adik-adikku bermain, seperti biasanya. Meski kadang aku merasa bosan, tapi tak apa.
Ya sudah, begitu saja. Semoga berhasil dengan ujian kelulusanmu, Tokito-kun!
Dari, Yuko.
...
Tokito membaca surat yang dikirimkan oleh Yuko. Semakin membacanya, membuat Tokito semakin yakin bahwa Yuko memang hidup pada Era Taisho.
Tanpa sadar, dia tersenyum. Membaca kalimat lembut dan sopan ini. Tokito adalah murid yang bisa dibilang sedikit penyendiri. Tak memiliki banyak teman, apalagi gadis.
Jadi, berbalas surat dengan seorang gadis, jelas membuatnya bahagia.
Dengan segera, dia mengambil sebuah kertas kosong lalu mulai menulis.
Laki-laki itu berhenti sejenak untuk berpikir. Namun, kembali melanjutkan saat sudah menemukan kalimatnya.
'Aku ingin sekali melihatmu sekilas, karena aku menyukaimu'. Pesan terakhir dari Tokito. Ia menyisipkan sebuah pesan pernyataan cinta di akhir tulisan. Walau akhirnya dia menarik lagi kata-kata tersebut, karena dia malu.
'Aku ingin sekali melihatmu, walau hanya sekilas'.
Tokito membenahi tulisannya. Ia lalu menulis namanya di sana dan menutup tutup pena.
Dalam waktu singkat, kertas tersebut menghilang menjadi beberapa pecahan di udara. Dia menatap kertas tersebut dengan tatapan sedikit tidak enak.
=•=•=
1 September 1923
Di sisi Yuko. Ia menemani adik-adiknya yang sedang bermain lompat tali di depan rumah. Melihat adik-adiknya tertawa membuat sebuah garis lengkung tercipta di wajahnya.
Namun, sesuatu menarik ingatannya. Benar, hari ini adalah hari ke dua puluh sejak dia mengirim surat itu kepada Tokito. Jadi, kalau Tokito mengirim balasan secara langsung, maka harusnya surat itu telah sampai sekarang.
Yuko masuk ke dalam rumah dengan perasaan berdebar. Pasalnya, dia tahu bahwa dirinya dan Tokito sama-sama menyukai berkomunikasi lewat surat seperti ini. Ia menggeser pintu kayu kamarnya ke samping. Gadis itu mengedarkan tatapan matanya ke sekeliling.
Bingo.
Ia melihat selembar kertas di atas meja. Kertas dengan warna putih susu.
Itu pasti kertas surat Tokito!
Yuko mengambil suratnya dan mulai membaca satu per satu kata tulisan tangan laki-laki itu. Bahasa Tokito sangat lucu. Ia memberi penjelasan lebih lengkap tentang yang akan ada di masa depan.
Gadis tersebut membacanya dengan senyuman di bibirnya. Namun, sesuatu mengganggu Yuko.
Terdapat sebuah coretan pada beberapa kalimat akhir. Yuko penasaran dengan kata-kata yang dicoret oleh Tokito. Namun, sayang ia tidak bisa membacanya.
Yuko melihat sekeliling, mencari kertas dan pena tinta miliknya. Ia ingin segera menulis balasan untuk laki-laki di masa depan.
Tetapi, terdengar suara seseorang berteriak dari luar.
"Yuko nee-chan, ibu dan ayah sudah siap! Ayo kita berangkat ke kuil!" teriak salah satu adik Yuko.
Saat mendengarnya, Yuko pun memutuskan untuk berhenti mencari.
"Iya!"
Yuko bergegas keluar dari kamarnya, meninggalkan surat Tokito di lantai. Ia bersama keluarganya berjalan menuju kuil. Ini memang tradisi keluarganya.
=•=•=
Kembali lagi kepada Tokito. Ia tahu bahwa suratnya pasti sudah sampai sekarang. Kini, dia tengah duduk di meja belajarnya sambil membaca semua surat yang dikirim oleh Yuko. Tulisan tangan kanji dari tintanya memang sangat luar biasa.
Ia tersenyum.
'Aku sungguh ingin bertemu denganmu, Yuko,' ungkap Tokito dalam hati.
Tlek.
Jarum jam panjang berpindah, menunjuk angka empat. Sementara jarum pendek menunjuk angka sepuluh. Menandakan bahwa sekarang adalah pukul sepuluh lewat dua puluh menit.
Hari ini adalah hari pertama dalam Bulan September. Tokito berjalan keluar dari dalam kamar hanya untuk sekedar mencari angin. Ia melihat ibu dan ayahnya sedang duduk berdua di kursi sambil menatap layar televisi.
Awalnya dia tidak peduli. Namun, setelah mendengar apa yang diberitakan oleh pembawa berita, dia langsung terkejut.
"Tepat pada hari ini, seratus tahun semenjak gempa bumi besar Kanto terjadi. Gempa yang menjadi masa kelam dalam sejarah Jepang. Lebih dari sepuluh ribu orang meninggal ...."
Deg!
Berita itu menarik rasa terkejut Tokito. Ia pun langsung bertindak. Dia berbalik dan kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya lagi. Membuka pintu secara kasar.
Tokito meraih pena berwarna hitam miliknya. Laki-laki itu menulis satu demi satu kata di atas kertas dengan cepat. Perasaan dalam hatinya saat ini campur aduk. Sedih, bingung, panik, dan lainnya.
Namun, sekarang dia lebih mementingkan suratnya.
Ketika ia telah selesai, mendadak dia ingat bahwa jangka waktu untuk mengirim sebuah surat adalah sepuluh hari. Jadi, hampir mustahil kalau surat ini bisa diterima oleh Yuko sebelum gempa akbar itu terjadi.
'Kumohon, bangkitlah ... keajaiban!' harap Tokito dengan mata berkaca-kaca.
Kertas yang dia tulis seketika menghilang. Tokito merasa sangat khawatir. Namun, dia sadar, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu.
=•=•=
Musim telah berganti. Namun, Tokito masih belum menerima balasan surat dari Yuko.
Di tengah kerumunan Kota, Tokito berjalan dalam posisi kepala menunduk. Di balik rambut hitamnya, sebuah air mata kesedihan keluar dari sudut kiri netranya.
Kini, ia hanya berjalan menuju satu tempat. Ke perpustakaan.
Sesampainya di sana, Tokito pun mencari dalam tumpukan buku-buku yang amat banyak ini. Ia mencari buku tentang daftar korban dari gempa besar Kanto.
Slak ... slak ...
Suara halaman buku yang dibalik dengan kasar terdengar jelas. Tokito mencari-cari nama dengan huruf depan Y. Tentu sulit menemukan nama Yuko di antara ribuan korban bencana mengerikan tersebut.
Namun, jauh dalam lubuk hati Tokito, ia berharap bahwa ia tidak melihat nama Yuko ada dalam daftar.
Setelah beberapa saat lamanya, dia mulai menelisir nama 'Yuko'. Bukan tidak mungkin seseorang memiliki nama yang sama dengan orang lain. Tapi, nama belakang membedakannya.
"Yuko Kakouru".
Deg!
Seperti ada sebuah petir menyambar di telinganya. Tokito terdiam mematung. Nama itu, nama itu benar-benar tertulis di sana. Yuko.
Tes.
Bulir-bulir air mata mengalir dari sudut netra Tokito. Air mata pedih itu jatuh membasahi halaman buku.
"Ti-tidak mungkin."
Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Yuko yang ada di sini bukanlah Yuko yang dia kenal. Namun, dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri.
Tokito berlari keluar perpustakaan. Dengan air mata yang masih terus saja keluar, ia mengencangkan laju larinya. Setiap langkah cepat yang diambilnya menyimpan banyak kesedihan. Seiringan dengan perasaan hatinya.
Saat tiba di rumah, Tokito langsung berlari masuk ke dalam kamar.
"Tokito?" Ibunya bingung saat melihat dia berlari begitu.
Brak!
Pintu kamar dibanting. Tokito menengok ke kanan dan ke kiri. Ia segera mencari sesuatu. Tak peduli di mana pun itu dan sekasar apa cara yang digunakannya, Tokito berniat menemukan surat Yuko.
Akhirnya, dia menemukan lembaran-lembaran kertas surat tersebut. Tokito lalu menggenggam kertasnya erat-erat.
Sembari memejamkan mata, dia mengucap, "Keajaiban, aku mohon bangkitlah. Sekarang, aku ingin menyelamatkan orang yang sangat kusayangi. Kumohon, kabulkan permintaanku!'
Ia membuka satu matanya dan mengetahui bahwa tidak terjadi apa-apa. Perasaan Tokito mendadak berubah menjadi kecewa. Laki-laki itu sedih.
Tling.
Namun, siapa sangka.
Secercah cahaya putih muncul di tengah-tengah kertas. Cahanya membesar secara perlahan, membesar dan terus membesar hingga menutupi semuanya.
Tokito membuka matanya yang silau karena cahaya putih. Ia memfokuskan tatapan matanya. Samar-samar, dia melihat banyak gambaran-gambaran tentang seorang gadis kuno.
'Yuko nee-chan!' Suara lembut menusuk kalbu Tokito.
'Sama-sama, Kek. Namaku Yuko.' Terdengar suara dari arah berlawanan. Disertai gambaran seorang gadis berambut pendek serta busana kimono dengan motif khas.
Tokito diberikan gambaran yang ketiga di depan matanya. Sebuah gambaran berfokus kepada gadis yang sama. Secara tiba-tiba gadis itu jatuh ke tanah karena guncangan.
"Apa dia Yuko?!" tanya Tokito pada dirinya sendiri.
Di saat semua orang sedang lari menyelamatkan diri, Yuko malah terduduk diam. Tampak, dia juga sedang memegangi kakinya.
"Yuko ... larilah! Apa yang kau lakukan di sana?!" teriak Tokito berusaha mencapai Yuko.
Mendadak, muncul sebuah benang merah. Benangnya terikat di tangan Tokito, sementara ujung benang lainnya mengarah ke dalam gambaran. Lebih tepatnya ke arah Yuko.
Muncul sebuah cahaya putih di dekatnya. Cahaya membesar sehingga menutupi semuanya.
Laki-laki itu membuka kedua matanya. Suasana ramai orang-orang memgenakan baju kuno adalah suasana yang ditangkap oleh sepasang mata Tokito pertama kali.
Dia mendapati dirinya berada dalam sebuah kota kuno. Terdapat banyak bangunan rumah khas zaman dahulu. Tokito menatap sekeliling.
'Ini ... Era Taisho?!" Menyadari bahwa dia sedang berada di Era Taisho membuat Tokito sedikit bingung.
Semua tatapan mata mengarah kepadanya. Bagaimana tidak, mengingat pakaian yang dipakai oleh Tokito adalah pakaian Era Modern. Itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Ia tidak mempedulikan hal tersebut. Karena ini adalah Era Taisho, maka artinya dia bisa bertemu Yuko. Sepertinya, cahaya tadi telah mengajak Tokito untuk memutar balik waktu.
Dengan sebuah benang merah terlilit di tangan, Tokito berlari ke sana kemari mencari sosok Yuko. Sedikit sulit karena kerumunan manusia terlalu banyak.
Satu demi satu jalan ia lalui. Belok, lurus, kanan dan kiri, semua arah dia lewati. Namun, ia tak kunjung menemukan di mana keberadaan Yuko.
"Di mana rumah Yuko?" tanya Tokito bergumam. Satu tangannya memegang dahi, sementara tangan satunya memegang pinggang.
Ketika dia hendak berlari lagi, sesuatu mengejutkannya.
Tek.
Laki-laki itu tak sengaja menyenggol tangan seseorang. Bagian ujung matanya samar-samar melihat gelang berwarna merah seperti yang dimiliki oleh dia. Tokito berhenti bergerak, dia berbalik secara cepat. Melihat kepada seorang gadis berambut pendek.
Mata Tokito membelalak. Itu, itu Yuko!
Tokito segera melewati kerumunan. Menerobos satu per satu seraya meneriakkan nama Yuko berkali-kali. Namun, Yuko tak kunjung berbalik atau jangankan berhenti. Tampaknyaz suara Tokito terhapus oleh suara bising kerumunan.
Saat Tokito telah bebas dari kerumunan, ia menengok ke segala arah. Beruntung, dia masih belum kehilangan jejak. Dengan segera, laki-laki berusia sembilan belas tahun tersebut mengejarnya.
"Yuko! Yuko!" teriak Tokito mengulangi.
Slep.
Tangan Tokito mampu meraih salah satu tangan gadis rambut pendek tadi.
"Hah ... hah ... akhirnya, aku menemukanmu, Yuko-chan." Diiringi napas terengah-engah, dia tersenyum. Ia bahagia karena bisa melihat Yuko satu kali lagi.
Namun, tidak seperti yang dibayangkan olehnya. Saat gadis itu berbalik, Tokito tidak melihat wajah Yuko. Melainkan wajah gadis lain.
"Maaf? Anda bilang apa tadi?" tanya gadis itu.
Tokito tersentak kaget. Buru-buru ia melepas tangan yang menggenggam. "Tidak ada apa-apa. Maaf, aku hanya salah orang."
"Ooh. Baiklah." Gadis tersebut berbalik lalu berjalan lagi.
Sementara Tokito bingung. Dia gagal menemukan Yuko. Padahal sudah sedekat itu.
"Ahahahaa, jangan begitu, Kak Yuko!"
"Hah?!"
Terdengar suara anak kecil dari arah samping. Suara yang cempreng itu menyebut sebuah nama. Yuko.
Tokito menatap ke arah anak kecil tersebut. Benar saja, di sana dia melihat seorang gadis remaja sedang bermain bersama banyak anak kecil.
"Hayo, kalau kalian tidak makan, maka Harimau Yuko akan memakan kalian! Graaawrr!"
Tatapan dan wajah itu. Senyumannya juga. Tokito mengenal jelas siapa dia.
Yuko ...
Terlihat, dia tertawa bahagia bersama adik-adiknya. Tokito tersenyum tipis. Namun, dia harus segera melakukannya. Agar senyuman-senyuman itu bisa terlindungi.
Tokito mengambil langkah mantap, berjalan mendekati Yuko.
"Permisi, apa benar kau Yuko Kakouru?" tanya Tokito berpura-pura tidak tahu di awal.
Yuko berhenti bermain saat Tokito datang. "He'em, benar, aku adalah Yuko. Eemm, maaf kalau boleh tahu, kau siapa, ya?"
Tokito terdiam. Dia hanya menjawab, "Yuko. Aku ingin berbicara denganmu. Hanya berdua saja, boleh?"
Yuko menatap Tokito dengan tatapan kosong. Ia mengalihkan tatapan matanya ke arah adik-adiknya, seolah ingin meminta pendapat.
"Emm ... baik."
Tokito mengajak Yuko ke sebuah kebun sepi penduduk. Di sanalah dia akan memberi tahu semuanya.
"Yuko. Sebelumnya, apa kau mengenalku?" tanya Tokito memastikan.
Yuko terdiam, dia berusaha mengingat. Namun, dia tidak tahu. Gadis tersebut menggelengkan kepala.
"Aku adalah orang yang berbalas surat denganmu."
Deg!
Kedua netra Yuko membola. Ia terkejut dengan ucapan Tokito barusan.
Yuko membuka mulutnya, tetapi tak mengeluarkan kata-kata apapun.
"To-Tokito-kun? Itukah kamu?" Yuko menahan tangis.
Tokito mengangguk. "Ya, ini aku, Yuko-chan."
"Hwaaah ...." Yuko berjalan perlahan mendekati Tokito. Ia memegang kedua bahu laki-laki itu. "Tokito-kun ...." Tangis bahagia tak bisa lagi dibendung. Air mata bahagia pecah begitu saja.
Tokito tersenyum tipis sambil tertawa kecil. "Ahaha, iya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa ke sini. Tapi, syukurlah. Aku bisa melihatmu," ujar Tokito, lalu melanjutkan, "Yuko. Ada yang ingin kukatakan padamu. Tolong, kau percaya apapun yang kukatakan, ya?"
Yuko mengusap kedua air matanya dengan telapak tangan. "Ada apa?"
Tokito terdiam untuk beberapa saat. "Yuko. Hari ini tanggal berapa?"
"Hm? Hari ini tanggal tiga puluh satu agustus. Ada apa, Tokito-kun?"
Tokito menatap mata Yuko serius. "Baiklah. Besok akan terjadi sebuah gempa besar di daerah sini. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia karenanya. Dan kamu ... kamu juga ada dalam daftar korban meninggal."
Yuko menutup mulunya dengan kedua tangan. "Jadi, aku sudah mati?" tanya Yuko.
Tokito memegang tengkuk kepalanya. "Yaa, bisa dibilang begitu. Tapi, aku tahu kau bisa selamat kalau kau bersiap mulai dari sekarang. Aku akan membantumu untuk memberi tahu semua orang agar mengungsi ke tempat terdekat."
Yuko tersenyum lebar. "Aku percaya padamu, Tokito-kun. Lagi pula, aku senang karena kamu ada di sini. Akhirnya, aku bisa melihat wajah orang yang kusuk–eh."
"Kusuk?"
"Kusuku!" jawab Yuko malu-malu.
"Hah? Apa?"
"Ti-tidak, lupakan!"
Tokito tertawa kecil. "Yuko-chan, apa kau ...?"
"TIDAK!"
Begitulah. Beberapa saat mereka lewati dengan canda gurau. Langit senja yang menjingga menemani suasana romantis dua insan berbeda era ini.
"Eh, apa ini?" tanya Yuko saat melihat sebuah kain merah terikat di tangan Tokito.
Tokito menjawab, "Oh. Ini aku dapat dari cahaya. Aku juga tidak tahu bagaimana, tiba-tiba gelang ini muncul."
"Waah ... indah."
Laki-laki itu tersenyum. "Apa kau menyukainya? Ini, ambil saja." Tokito melepas gulungan kain merah tersebut lalu memberikannya kepada Yuko. "Anggap saja itu sebagai kenanganku. Tolong jangan lupakan aku, ya?"
"Waahhh terima kasih ...! He'em! Aku janji, aku tidak akan melupakanmu. Aku juga berjanji bahwa aku akan hidup lebih lama!" ujar Yuko penuh keyakinan.
Tokito tertawa kecil. Ia mengusap rambut Yuko perlahan.
"Yuko-chan. Sebentar lagi senja berakhir. Mari kita tuliskan perasaan kita masing-masing di telapak tangan satu sama lain," ajak Tokito seraya mengambil sebuah spidol dari sakunya.
"Eh? Apa itu?"
"Hahaha, ini namanya spidol. Di masa depan nanti, akan ada alat ini. Kita bisa menulis dengan lebih jelas dan mudah."
Tokito meraih telapak tangan Yuko. Sementara di sisi lain, gadis itu terlihat masih mengagumi sebagian ciptaan kecil dari masa depan.
"Sudah selesai. Sekarang, giliran kamu, Yuko-chan."
Tokito memberikan spidolnya kepada Yuko. Meminta gadis tersebut untuk menulis perasaannya dalam telapak tangan.
Namun, ketika hendak menulis.
Tlak tlak.
Spidol milik Tokito jatuh di tanah. Sosok Tokito di masa lalu juga seketika lenyap.
"Tokito-kun? Tokito-kun?" tanya Yuko melihat sekeliling.
=•=•=
Tokito kembali lagi ke masa depan. Dia telah melewati akhir senja yang artinya waktu untuk ke masa lalu telah berakhir. Ia melihat dirinya sedang bersandar di kursi belajarnya.
Laki-laki itu menghela napas. "Hah ...."
'Semoga kamu benar-benar bisa hidup lebih lama, Yuko ...,' pikir Tokito.
15 tahun kemudian ...
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sekarang, Tokyo telah sampai di tahun 2038. Segala teknologi berkembang sangat pesat.
Sekarang, Tokito telah menginjak usia 34 tahun. Ia bekerja sebagai seorang penulis dan pekerja paruh waktu. Pendapatan yang didapat olehnya bisa dibilang standar.
Suatu saat, di musim salju yang dingin, Tokito memutuskan keluar rumah untuk membeli persediaan makanan. Dengan payung transparan yang melindunginya dari hujan salju. Serta syal dan baju hangat yang menghalangi hawa dingin–dia berjalan keluar.
Di tengah-tengah perjalanan menuju supermarket, Tokito tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang. Lagi-lagi, ujung matanya melihat samar sebuah gelang kain berwarna merah melingkar di pergelangan tangan.
Tokito seketika berhenti. Berbalik dengan cepat. Namun, dia hanya melihat seorang gadis berambut panjang membawa payung berwarna senada dengan gelangnya.
"Ee ano! Chotto matte!" (Ee ano! Tunggu sebentar!) teriak Tokito keras, membuat wanita muda tersebut menghentikan langkah. Dia mendekat ke arah wanita tersebut. "Maaf menganggu, tapi kalau boleh tau ... di mana Anda mendapat gelang kain merah ini?" tanya laki-laki itu.
Si wanita menjawab, "Ini? Ini adalah gelang pemberian ayahku. Katanya, gelang ini milik nenekku yang sudah meninggal."
Tokito terkejut. "Apa saya boleh pergi ke rumah Anda, Nona?"
Dia menjawab, "Tentu saja."
Tokito mengikuti langkah wanita itu. Mereka pergi ke rumah ayahnya. Pria ini penasaran dengan siapa nenek yang dimaksud.
Sesampainya di sana. Si wanita mulai menjelaskan semuanya. Menjelaskan bahwa pria itu ingin melihat kenangan tentang nenek. Tokito juga, dia menambahkan apa yang ingin dia ketahu.
"Dulu, ibu pernah mengatakan kalau dia bertemu seorang laki-laki dari masa depan. Aku tidak tahu itu benar atau tidak," ucap sang kakek dengan nada bicara kesulitan.
Tokito meminta dengan sopan. "Kalau boleh tahu, apa nenek menitipkan surat atau apa kepada bapak?" timpal Tokito bertanya.
"Oh, ada. Sebentar ...." Dengan bantuan tongkat, sang kakek bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan ke meja untuk mengambil sebuah kertas yang telah dilipat. "Ini," ucap Sang Kakek sambil memberikan suratnya.
Di depan kertas terpampang jelas tulisan 'Untuk Tokito-kun'.
"Apa saya boleh membawanya? Karena saya sangat memerlukan surat ini," ucap Tokito.
"Boleh. Lagi pula, ibu memang menyuruhku untuk memberikannya kepada seorang laki-laki yang meminta surat ini."
Tokito mengangguk. Dia berpamitan dengan Sang Kakek serta si wanita. Pria itu kemudian berjalan menyusuri hujan salju musim dingin.
Saat sampai di atas jembatan, Tokito memutuskan untuk berhenti sesaat. Ia membuka suratnya.
...
Tokito-kun, terima kasih atas bantuanmu saat itu. Karena kau memperingatkanku, aku dan seluruh keluargaku bisa selamat dari gempa bumi.
Dan saat aku kembali setelah keadaan mulai pulih, aku melihat suratmu. Di saat semua bangunan telah hancur, hanya suratmu saja yang tersisa.
Entah kenapa aku menangis saat membacanya. Kau sudah berusaha memberi tahuku bahkan sebelum kamu menghampiriku secara langsung. Terima kasih banyak, Tokito-kun.
Aku langsung menulis balasan, tapi aku tidak yakin bisa menjangkau era itu lagi. Makanya aku serahkan surat ini kepada putraku. Dengan percaya bahwa keajaiban akan membawamu bertemu dengan surat ini.
Bulan depan aku akan berusia 80 tahun dan sebentar lagi aku akan mati. Mengenai seluruh mesin-mesin itu, aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kulkas, mesin cuci, televisi, itu memang benar adanya.
Terima kasih banyak. Dan, walau aku tahu ini sudah terlambat, aku ingin menulisnya ulang.
Tokito-kun.
Aku menyukaimu.
Dari Yuko.
...
Setelah membaca surat cinta terakhir dari Yuko, mata Tokito berkaca-kaca. Tapi, dia memutuskan untuk tidak menangis.
Pria itu melipat kembali kertas suratnya dan mengambil langkah besar.
~Tamat~