"Ratna…" Ya ini adalah nama panggilan kesayangan dari keluarga maupun dari sahabat-sahabatnya. Sebenarnya Ratna adalah gadis yang ceria, namun entah sebab kenapa terkadang ia terlihat murung bahkan tak jarang ia menetes kan uraian air mata. Sering yang melihat Ratna menangis.
Anice adalah sahabat dekat Ratna, ia selalu ada di dekat Ratia saat ia senang maupun duka. Tak jarang ia melihat Ratna menangis tanpa sebab, padahal sebelum nya ia tersenyum becanda dengan nya. Persahabatan mereka telah terjalin lama, sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar.
Di hari libur tak jarang Anice menginap di rumah Ratna.
"Ratnaaa… hari libur besok aku nginap di rumah kamu lagi ya…"
"Iya… pasti asyik… ntar kita cerita-cerita yaang lucu-lucu ya…"
"Okay Ratna…” Kata Anice diiringi dengan senyum manis di wajahnya… sampai hari ini, jam ini, menit ini, detik ini Anice belum tau apa yang menyebabkan. Ratna kadang menangis tersedu tanpa alasan. Dan pula Anice cetak mau menanyakan nya, ia takut.
Sekarang pukul 16.00 wib, Anice telah sampai di rumah Ratna.
Ibu Ratna telah akrab dengan Anice, karena memang Anice sahabat akrab putri satu-satunya itu. Ibu Ratna telah menganggap Anice sebagai anaknya sendiri.
Ratna langsung mengajak Anice ke kamarnya, namun karena Ratna belum mandi.. Ratna terpaksa meninggalkan karibnya di kamar di temani boneka imut-imut nan lucu milik Ratna.
Tanpa sengaja Anice melihat sesuatu yang sebelumya tak pernah dilihatnya di kamar Ratna. Wah ternyata buku harian Ratna. Lembar demi lembar ia baca, dan ternyata rahasia mengapa Ratna selama ini menangis tanpa sebab terungkap, ternyata Ratna selama ini mencintai seseorang namun orang itu telah menikah kini.
Ratna hanya bisa menangis, dan mungkin perasaan di hatinya tak bisa hilang. Mungkin dengan air mata luka di hatinya dapat sedikit terobati. salah… Takut terjadi kesalah pahaman nantinya.
Ratna tak pernah menceritakan hal ini pada Anice maupun ibunya.
Setelah Ratna selesai mandi ia lekas ke kamar dan terkejut melihat Anice yang tengah membaca buku harian nya…
“Loh An… Kamu kenapa ga sopan baca buku harian ku…
Lekas Anice memeluk Ratna…
”Rat… kau tahu.. cinta itu anugerah, namun kau salah menikapinya. Bukan begini Rat… sudah bertahun-tahun kau begini. Lekaslah buka lembaran baru dalam hidupmu. Aku tau melupakan seseorang yang dicintai memang susah, namun perlahan pasti bisa. Jangan sakiti dirimu sendiri.
Rat, ku hadiahkan air mata ini untuk mu agar kau tak menangisi makhluk Tuhan yang tak berjodoh ddengan mu… aku tak mau kau meneteskan air matamu untuk hal ini. Ku mohon buka lembaran baru.. Rat aku enggak akan berhenti menangis sampai kamu mau berjanji enggak akan menangis untuk hal ini lagi. Kau tau jodoh sudah ada yang mengatur, semua ada garisnya. Tak perlu kau menangisi ini."
“Dengan mata berkaca-kaca Ratna berjanji tak akan menangisi hal-hal yang sudah-sudah. Ia kini akan menjadi gadis yang tegar"
THE END