Aku tidak pernah mengerti mengapa harus sesakit ini mencintai seseorang. Tidak, aku tidak ingin sembuh dari rasa sakit yang aku rasa. Aku menyukainya, aku mencintainya. Tidak mungkin aku sembuh dan tersenyum tanpanya.
***
Pagi itu matahari tidak bersinar cerah, mendung seperti pertanda buruk. Mungkin Ibuku akan menyumpah hari ini dengan petir yang membuatnya semakin terlihat dramatis.
"Ara!" teriak Ibuku. Ya benar, pasti ia akan menyumpah lalu ada petir dan aku menjadi batu.
"AAARRRAAA!" teriaknya lagi dan lagi. Aku berlari keluar dari kamarku, berlari menghampirinya.
"Kalau dipanggil itu menyahut!" perintahnya menjitak kepalaku. "Belikan aku terasi!" Menyodorkan beberapa lembar uang 2000an padaku. Ku rampas dengan cepat agar ia tak lagi berteriak.
Aku berjalan menyusuri jalanan komplek rumahku. Sepertinya hari ini akan turun hujan. Angin benar-benar berhembus kencang hingga membuat beberapa jemuran tetangga terpelanting ke jalanan. Beberapa ibu-ibu berlarian mengejar pakaiannya. Anak-anak pun ikut berlari mengejar layangan yang putus karena angin terlalu kencang.
Tiba-tiba William, pacarku lewat menaiki motor dengan seorang wanita yang ia bonceng. Petir menyambar mengiringi perjalanan mereka. Mengagetkanku dan semua orang yang berada disini.
Aku terdiam, warung tujuanku untuk membeli terasi kini terasa sangat jauh. Kakiku berat untuk melangkah ke sana. Abang-abang yang sedang bermain catur di depan warung menatapku yang terdiam di tengah jalan. Mereka berbisik-bisik. Ku putar langkahku balik ke rumah.
Hujan mengguyur tubuhku, ku teruskan berjalan. Tubuhku sudah kuyup tersiram air hujan.
Ibu memarahiku sesampainya aku di rumah. Kupingku sudah dalam mode mute secara otomatis. Semua omongan ibuku bahkan caci makinya, secara tiba-tiba tak bisa ku cerna dengan baik.
Aku terus berjalan memasuki kamarku dengan tubuh dan pakaianku yang basah. Ibu memukuli lenganku, aku tak merasa sakit sama sekali. Tubuhku mendadak kebal.
Aku menghanti pakaianku dan berbaring di atas kasur, menutup tubuhku dengan selimut. Ku biarkan ponselku di atas meja. Ia terus berdering, ingin ku jawab panggilan itu. Tetapi aku ingin menangis dulu agar terlihat seperti sedang galau. Aku menangis di balik selimut hingga aku tertidur.
***
"Araaa!" panggil seseorang membangunkanku. Itu suara Dinda, sabahatku. Ku buka pintu kamarku dan mempersilakannya masuk.
"Dih dihh diiihhh!" ucapnya seperti sedang melihat sesuatu yang menjijikan. "Nangis nih, pasti nangis. Kamu nangis kan?" Ia menebak dan bertanya sekaligus.
"Aku bertemu dengannya tadi pagi, ia membonceng seorang wanita!" ucapku padanya.
"Kenapa tidak kau putuskan saja, Ara!" geram Dinda. Begitulah ia setiap kali mendengar curahan hatiku.
"Bagaimana aku bisa hidup tanpanya?!" Aku pun ikut geram jika ia memberi saran semacam itu.
"Kau cukup menarik napasmu agar tetap bisa hidup, tak perduli ada dia ataupun tidak! Jantungmu akan tetap berdetak meski dia sudah memiliki ribuan wanita lain!" Dinda menarik tanganku, mengambil ponselku dan menaruhnya di telapak tanganku. "Telepon dia, katakan kau ingin putus dengannya!" perintah Dinda.
Aku hanya bisa menatap saja. Tidak mungkin aku memutuskan hubunganku dengan William begitu saja. Aku masih menyayanginya. Tak perduli berapa kali ia membohongiku atau bahkan menduakanku.
Tiba-tiba ponselku berdering. Tertulis disana 'My Love'
Dinda merampas ponselku. Tidak, aku menahannya. Aku tidak akan membiarkan ia berkata yang tidak-tidak pada pacar kesayanganku itu.
"Lepaskan, Ra!" perintahnya.
"Tidak! Kau yang lepaskan! Aku akan menjawabnya! Dia pasti ingin meminta maaf padaku!" teriakku menarik ponselku itu sekuat tenaga. Dinda tak berhenti sampai di situ saja. Ia berusaha sangat gigih merampas ponselku.
"Apa kau akan memaafkannya lagi?!" teriak Dinda membuat Ibuku membuka pintu kamarku.
"Berisik sekali! Sedang apa kalian?!" Ibuku ikut berteriak.
"Tidak tidak Bu, kami membahas drama korea hehe," ucap Dinda menutupi hal bodoh ini dari ibuku.
"Kim Hyun Sik gantengnya ya tuhaaaan!" Aku ikut beralibi agar Ibu cepat pergi.
"Cuma korea, teriaknya sampai terdengar ke rumah tetangga!" omel Ibu berlalu menutup pintu kamarku.
"Kim Hyun Sik jadi malaikat penyelamat kau hari ini!" bentak Dinda menyenggolku dan merampas ponselku.
Tertulis '20 panggilan tak terjawab dari My Love'
Mata Dinda terbelalak menatap ponselku. "Bucinnya ya Tuhaaan!" omel Dinda mengetuk-ngetuk layar ponselku membuka kuncinya.
"Dia akan meminta maaf padaku!" ucapku pasti.
Dinda menelepon William. Tanpa nada sambung William langsung menjawab panggilan itu. "Ku mohon maafkan aku aku tidak akan mengulanginya lagi aku tidak mencintainya aku tetap mencintaimu tidak ada wanita sebaik kau dan sesetia kau ku mohon maafkan aku aku sudah memutuskan hubunganku dengannya kau tetap menjadi wanita terbaik di dalam hidupku jika kau memaafkanku aku akan datang ke rumahmu sekarang juga!" ucapnya tanpa jeda.
Dinda terperangah mendengar William mengucapkan kalimat itu hanya dengan satu tarikan napas.
"Aku memaafkanmu jika kau datang dalam waktu 5 menit dari sekarang! Jika kau terlambat 1 detik, jangan temui aku lagi!" teriakku agar suaraku sampai ke ponsel yang Dinda pegang.
Dinda menatapku kesal karena aku memaafkan William lagi dan lagi.
"Aku sudah sampai!" ucap William.
"Apa?!" Dinda berteriak tak percaya. Ku tutup mulutnya dan merampas ponselku kembali. "Bagaimana bisa kalian melakukan hal seperti ini?! Dasar tidak waras!" omelnya.
"Masuklah! Aku sedang bersiap. Ibuku ada di depan," ucapku dan mengakhiri panggilan itu.
Ku tatap wajahku di cermin. Mengambil bedak dan memoleskannya di wajahku dengan tambahan sedikit perona bibir agar tak terlihat pucat.
"Kau memang sudah gila, Ara! Kau masih memberi maaf untuk pria semacam dia?!" Dinda terus memarahiku.
Aku keluar dari kamarku dan melihat William berdiri di ruang tamu bersama Ibuku. Dinda pun ikut berdiri di belakangku.
Yah, seperti itulah setiap kali aku melihat William bersama seorang wanita. Meski aku tahu bahwa dia tidak setia, aku tetap akan setia padanya.
Bagaimana jika aku melihatnya bersama wanita lain lagi?
Tentu saja aku akan memaafkannya lagi asal dia datang ke rumahku 🤘😎