Seperti apapun wujudmu, seperti apapun sisi lain dari dirimu, aku akan tetap berdiri di sisimu. "Berjanjilah! Kau akan menjadi pemilik dari jiwaku ini selamanya, Aislinn!" Ucapmu dengan tatapan penuh harap padaku.
*****
Suara hentakan kaki kuda terdengar merambat di udara hingga akhirnya sampai pada gendang telingaku. Langkah-langkah kuat mereka bergemuruh di atas tanah, membuat guncangan pada genangan air hujan yang telah membasahi kota siang itu.
Semua orang yang berkerumun dan berdesakan di tempat itu mendadak memecah formasi, memberi jalan untuk mereka yang dimuliakan.
Sebuah tangan dengan sedikit keriputan menarik lenganku, membawaku menyamping ke sisi jalan.
"Mundur nak!" Ujarnya.
Segerombolan orang dengan kuda perkasa lewat di jalan itu. Ku lihat semua orang tertunduk hormat pada mereka. Apa mereka pahlawan perang yang baru saja kembali? Tidak, mereka terlihat seperti habis dari hutan perburuan. Dan disini, hanya aku yang tidak tertunduk.
KAINGG!!!
Gendang telingaku menangkap kembali sebuah suara. Suara seekor hewan yang menjerit kesakitan. Tatapanku terbidik pada seekor hewan yang dirantai di leher dan kedua pasang kakinya. Apa itu seekor anjing? Tidak, ia terlihat seperti seekor serigala. Benarkah itu serigala? Sulit dijelaskan, tapi dia terlihat seperti salah satu jenis hewan hibrida, Coywolf.
Langkah kaki hewan itu melemah, sekujur tubuhnya tertutup oleh luka. Ia jatuh tak sadarkan diri. Dadaku terasa berat melihatnya, aku ingin membantu hewan malang itu, hingga tanpa sadar kaki kecilku melangkah. Namun seorang wanita paruh baya mencegahku. Ia menahan tanganku, menggeleng tak memberi ijin. Aku menurut, aku hanya diam. Namun hatiku tak tenang melihatnya.
Sebuah hal aneh terjadi, memaksaku untuk membuka mata lebar lebar. Hewan hibrida itu berubah menjadi seorang anak laki-laki. Tubuhnya yang kurus dan penampilan yang lusuh. Aku benar-benar tak sanggup melihatnya.
"Cepat jalan!!" Bentak seorang penjaga yang sedari tadi memegangi rantainya. Penjaga itu menarik rantai, membuat leher anak itu tercekik. Memaksanya untuk sadarkan diri.
Anak itu tersadar, dengan lemahnya ia mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya yang lemah. Aku tak kuasa menahan amarah, jari jemari tanganku lipat membentuk kepalan. Mengumpulkan semua emosiku pada kepalan tangan. Namun wanita paruh baya itu menggenggam tanganku, mencoba menahan amarahku yang membara. Hatiku yang panas terasa sedikit mereda.
Anak itu melihat ke arahku dengan tatapan lemahnya. Pandangan kami bertemu, ini pertama kalinya aku melihat anak istimewa sepertinya. Aku berharap agar bisa menyelamatkannya.
"Nona Aislinn?!" Ucap seseorang di antara kumpulan manusia di belakangku.
Belum sempat aku menoleh, orang itu tiba-tiba memelukku dengan erat lalu melepaskan pelukannya.
"Anda kemana saja nona? Saya benar-benar khawatir." Ujarnya, dari raut wajahnya, ia tidak berbohong. Wanita ini bersikap seolah-olah dia ibuku.
"Mari kita kembali ke rumah, hm..?" Ucapnya dengan lembut sembari mengusap wajahku dengan halus.
Aku mengangguk, menyetujui ajakannya. Pandanganku masih tertuju pada jalan itu. Ku lihat rombongan orang itu telah menjauh, membawa anak laki-laki itu pergi dengan paksa.
"Ada apa nona?" Ia bertanya padaku yang masih membidikkan pandangan pada punggung rombongan yang mulai samar-samar itu.
"Apa... yang akan mereka lakukan pada anak itu?" Tanyaku.
Wanita ini menatapku penuh arti, ia merubah raut wajahnya menjadi serius namun diimbangi oleh senyuman di wajahnya.
"Dia anak istimewa yang telah terpilih, Nona. "
Terpilih? apa maksudnya ini?
"Terpilih?"
"Iya, terpilih sebagai persembahan untuk leluhur kita, para naga." Sambungnya, seketika perasaan campur aduk kembali muncul dalam diriku. Sekeji ini kah sifat manusia?
*****
Langit-langit kamar yang membosankan, membuatku malas untuk memejamkan mata. Di benakku tertinggal bayangan anak itu, tatapan menyedihkan dan penuh kepedihannya seolah olah sedang meminta uluran tanganku.
Tiba-tiba seseorang memasuki kamarku. Mendekati ranjangku lalu duduk di sebelah tubuhku yang terbaring.
"Nona belum tidur?"
Aku menggeleng. Ia memberikan senyumannya. mengangkat kepalaku, meletakkannya di atas pangkuannya.
"Tidurlah, saya akan menemani Nona."
Wanita itu bersenandung, menyanyikan lagu tidur untukku. Aku terlelap. Aku harus beristirahat, ada hal yang harus aku lakukan di esok hari.
*****
Aku memutuskan untuk pergi dari kediamanku yang membosankan. Keluar untuk bermain-main, Aihh.. tidak, lebih tepatnya menyelinap ke dalam tahanan.
Aku berhasil melewati para penjaga dengan mudah, hanya melewati celah tembok yang sempit. Aku harus berterimakasih pada tubuhku yang kecil dan mungil ini.
Sebuah tempat dengan minim pencahayaan, banyak jeruji besi tertancap membentuk sel tahanan. Aku menerawang, dan ku temukan dia. Dia ada dalam wujud semulanya, seekor anak anjing mirip serigala yang malang.
Ia terlihat tak berdaya, ia bahkan tidak bisa mengangkat pandangannya untuk menatapku. Aku mengeluarkan sebuah kunci, ini adalah hasil kerja kerasku kemarin malam. Mencuri? Ahh, tidak. Aku hanya meminjamnya sebentar.
Tanpa permisi aku masuk, membungkus tubuhnya dengan kain yang telah ku siapkan. Mengendap-endap aku keluar dari sel itu, tak lupa ku tinggalkan gunungan jerami yang terbalut kain berbulu sebagai penggantinya.
Aku berhasil membebaskannya.
*****
Sudah hampir dua tahun aku menyembunyikan makhluk ini di dalam kamarku. Haihh.. Selama ini aku menyembunyikan buronan.
Aku melangkah memasuki kamar yang ku kunci setiap saat, aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak membiarkan satu pun dari para pelayan masuk ke dalam ruanganku tak terkecuali wanita yang sudah seperti ibuku itu, Lere.
GUK!!
Ia muncul dari bawah ranjang, berlari kecil mendekatiku sembari mengibaskan ekornya yang lebat.
Seketika ku rasakan hangatnya dekapan seseorang di punggungku, ia mendekapku dengan wujud manusianya yang tiba-tiba muncul.
"Sstt..!! Sudah ku bilang berkali-kali! jangan membuat suara apapun yang akan membuat orang curiga!" Bisikku yang masih berada dalam dekapannya.
Ia semakin mengeratkan pelukannya, kepalanya ia letakkan tepat di atas bahuku.
"Aku tidak bisa menahan diri ketika melihatmu. Selamat datang kembali ke rumah, Aislinn." Ucapnya dengan lembut tepat di sebelah telingaku.
Anak ini benar-benar manis, dia sungguh seperti seekor anak anjing yang menggemaskan.
Aku melepaskan diri dari dekapannya, menatap anak itu. Haihh, aku tak kuasa menahan rasa gemasku.
"Bocah nakal!" Ucapku sembari mengusap puncak kepalanya.
Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, ia tampak murung. Pikiran apa yang sedang berputar dalam otaknya?
"Aislinn..." Ia menghentikan pergerakan tanganku yang berada di puncak kepalanya. Menyingkirkannya, lalu menggenggamnya erat.
"Berjanjilah! Kau akan menjadi pemilik dari jiwaku ini selamanya, Aislinn!" Ucapnya dengan tatapan penuh harap padaku.
Aku memberi raut wajah bingung, ada apa dengannya? Apa maksud dari ucapannya itu?
"Kau tidak ingin kepalaku dijadikan persembahan untuk naga itu bukan?" Ucapnya yang tiba-tiba mengungkit masalah yang sedang ku kubur dalam-dalam itu.
Aku memalingkan wajahku, entahlah. Aku tak ingin mendengar hal tentang persembahan yang mengorbankan nyawa makhluk istimewa ini demi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar.
"Besok, waktu yang tepat untuk menjalin kontrak antara bangsa hibrida dan manusia. Dengan begini, seutuhnya aku akan menjadi milikmu!" Sambungnya.
Besok? Tidak ada yang spesial di hari esok. Hanya hari bulan mati, tidak lebih.
Aku mengangkat kepalaku, memaksakan sebuah senyuman.
"Rev, sepertinya kau mengalami masa-masa sulit karena sudah dua tahun berada dalam ruangan tertutup ini. "
"Aku akan membawamu keluar." Ucapku yang menjauh darinya.
"Aislinn..?"
"Bersiaplah! Aku harap kau menutupi dirimu agar tidak dikenali para penjaga."
Aku sibuk memandang ke lain arah, mencoba menjauhi kontak mata dengannya. Tak ada suara, hening. Itu yang kurasakan memenuhi seluruh ruangan.
"Ha... Jadi begitu ya," Sepatah kata darinya memecah keheningan.
Aku masih setia dalam diam. Menunggu lanjutan dari perkataannya.
"Kau tidak ingin berucap janji dengan ku bukan?" Sambungnya yang membuatku terpaku diam.
Berucap janji bersama? Ayolah! Janji antara anak-anak seperti kita hanya ada untuk diingkari, dan aku benci hal itu.
"Baiklah, aku mendengarkan ucapanmu." Ia menyetujuinya.
Aku menghela napas, rasa berat didadaku muncul kembali. Aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan. Salahkah aku menolaknya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku tidak ingin tahu. Inginku hanya bersama dengannya selama mungkin.
*****
Hari yang menyenangkan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku membawa Rev keluar. Membeli macam macam makanan yang kami inginkan, mencoba banyak pakaian yang menarik, berdesakan di dalam kerumunan pasar tanpa takut identitas kami diketahui. Baru kali ini kami merasakan kebebasan yang menyenangkan. Bergerak tanpa melepaskan genggaman tangan, aku dan Rev tak ingin keluar dari zona nyaman ini.
"Aislinn!" Panggilnya.
"Ya?"
"Bisakah aku mencoba itu?" Ucapnya sembari menunjuk pada cemilan manis di seberang jalan.
"Kau mau?" Tanyaku.
Dengan lugunya ia mengangguk, ia bersikap sangat manis hari ini. Sial, bisa-bisa aku diabetes karenanya.
"Baiklah, tunggu disini! Aku akan membelikan satu untukmu." Ucapku sembari membenahi penutup kepalanya agar sempurna menyembunyikan wajahnya.
Aku melepaskan genggaman tangannya, lalu melangkah meninggalkannya. Tak lama, aku akan sesegera mungkin untuk kembali.
Ya, dan kini aku kembali sembari membawa cemilan itu di tanganku.
"AAHHKK!!" Seketika pandanganku terbidik padanya yang ku kenal. Tanganku seperti mati rasa, tak ada tenaga. Aku menjatuhkan barangku.
Segerombolan penjaga itu berhasil menemukannya, tidak! Sedari tadi mereka menguntit kami. Dari kejauhan, ku lihat mereka memaksa Rev. Buronan yang telah mereka cari selama dua tahun terakhir ini telah mereka dapatkan. Tidak, masih belum. Masih ada aku, aku pasti bisa menyelamatkannya lagi.
Aku bergegas menuju tempatnya, namun kumpulan manusia yang lalu lalang menghalangi jalanku. Membuatku kesulitan mempercepat langkahku.
"Rev..." Aku menyebut namanya.
BHUGG!!!
Mereka memukul wajah indahnya, meninggalkan bekas biru. Menendangnya hingga jatuh tersungkur, membuat dadaku terasa panas.
"REV!!!"
BHUGG!!!
Sebuah benda keras menghantam kepalaku. Berkunang-kunang kedua bola mataku, semuanya berputar putar. Apa yang terjadi? Aku diserang? si*lan. Tubuhku yang lemah ini benar-benar tidak berguna!
*****
Aku tersadar oleh suara gonggongan anjing. Ya, ini panggilan tidak asing dari seseorang untukku, Rev.
Tanganku terikat di belakang, pandanganku kabur. Namun aku masih bisa melihat hal yang mengerikan di hadapanku. Aku melihat Rev, ia berada di dekat benda besar dengan benda tajam yang di gantung setinggi tujuh meter. Ini adalah alat eksekusi paling keji yang pernah aku lihat.
Mereka membawa Rev yang telah kembali pada wujud manusianya ke benda itu, meletakkan lehernya di antara balok kayu. Si*lan! Apa yang sedang dilakukan para perset*n itu?!
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Marahku.
"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan dua tahun yang lalu." Sahut seorang pria yang tiba-tiba muncul di sebelahku.
"A-ayah?!"
Ia tak meresponku. Dengan dinginnya ia mengabaikanku.
"Lakukan!" Perintahnya.
"TIDAKK!! HENTIKAN!!! KUMOHON!!" Jeritku sekuat tenaga. Semua orang menatap ke arahku. Tatapan aneh, mereka menganggapku apa? Aku tidak peduli suaraku hilang, aku hanya inginkan Rev.
"Ku mohon... hentikan.." Lirihku, tangisan tak bisa lagi ku tahan. Membanjiri wajahku, ini lebih menyakitkan dari pada luka apa pun. Siapa saja, tolong selamatkan Rev!
"A.. Ai..." Suara lemah itu membuat kepalaku terangkat. Rev yang lemah, mencoba menunjukkan wajah baik-baik saja padaku.
"Aislinn... "
Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku adalah pecundang yang gagal menyelamatkannya. Seharusnya aku bersedia berucap janji bersamamu waktu itu. Seperti apapun wujudmu ,seperti apapun sisi lain dari dirimu, aku akan tetap berdiri di sisimu.
"Di kehidupan selanjutnya, seutuhnya.... jiwaku, akan menjadi milikmu..."
SREGGG!!!!
"AAAKKHHHH!!!!"
*****
Sebuah titik air jatuh, membasahi lembaran kertas itu. Aihh... aku menangis? Aku terlalu menghayati peran Aislinn dalam buku ini.
"Alina?! Kau menangis?" Ucap seorang gadis yang mengejutkanku.
"Ah? Tidak, aku hanya kelilipan. " Elakku sembari mengusap sisa air mata di wajahku.
Yuna mengambil alih buku di tanganku, ia melihatnya dengan tatapan penuh heran.
"Hanya buku dongeng biasa, bagaimana bisa ini membuatmu menangis?" Ucapnya meremehkan.
Ya, tentu saja. Ini terlihat seperti novel biasa. Novel tua yang berjudul 'Aislinn Promise' ini berhasil membuat emosiku campur aduk di setiap membaca kisahnya. Tapi kenapa aku merasa seperti Aislinn adalah diriku? Aihh.. sudahlah. Ini hanya novel.
Tiba-tiba Yuna memberikan tatapan tajam padaku, gadis ini gemar membuat jantung berdegup tak karuan.
"Dimana Kiki?" Ucapnya menanyakan seekor anjing peliharaannya.
Aku menepuk jidatku bodoh, aku meninggalkan Kiki di tempat parkir sepeda sebelum memasuki toko buku ini.
"Di parkiran!" Segera kami beranjak, mencarinya di lokasi. Namun hasilnya nihil.
Sudah hampir dua jam kami berjalan di bawah sinar matahari terik untuk mencari hewan nakal itu. Namun di sepanjang jalan dan sekitarnya tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Kami hampir saja menyerah.
Sekilas ku dengar suara lonceng dari kalung Kiki. Aku menoleh, ku lihat Kiki menghampiriku dengan ekor yang tiada hentinya dikibaskan. Ia dibawa oleh seorang pria. Pria itu, terlihat familiar tapi aku rasa belum pernah bertemu sebelumnya.
"Eh? Kiki?"
Aku terdiam ketika melihat wajahnya, senyumnya terasa tak asing bagiku. Tanpa sadar aku mengucapkan sebuah nama.
"Rev?"
*END*
*PERINGATAN!!!
JANGAN LUPA LIKE! KOMENTARNYA JUGA!
PLEASE! AUTHOR MAKSA🙂🔪
AWKWK, CANDA NGAB🗿✌️