Pagi hari yg begitu indah embun yg masih membasahi bumi dengan harum khas dunia di pagi hari,Asha gadis 22 tahun yg sangat menyukai harum di pagi hari
"Asha ,ayok segera sarapan" panggil wanita paruh baya
"baik bu,," asha berlari menuju meja makan
"selamat pagi ayah,(mencium ayahnya) selamat pagi ibu (memcium ibunya yg sedangemasak sarapan)" lalu asha duduk di meja makan
"kau tampak sangat bahagia hari ini,apa balkon itu terasa berbeda hari ini?" tanya ledek sang ayah yg sedang membaca koran
"ah ayah,balkon itu selalu terasa sama,hanya saja hari ini akan ada yg datang" asha mulai dengan sarapannya
"oh ya siapa yg akan datang?" apakah gadis manis ayah memiliki kekasih tanpa sepengetahuan ayah" goda ayah nya
"ah ayah ini,bukan kah ayah sudah tau" asha malu*
"ya iya,sebelum kau menjemput dia kau harus sarapan dan minum obat dulu jika tidak kau tidak akan bisa menjemputnya" ibu asha membuka celemeknya dan duduk bersama
asha menganggut dan mulai sarapan,setelah sarapan ia langsung minum obat
"ibu aku sudah selesai aku akan mandi jika tida aku akan terlambat" asha naik lagi ke kamarnya yg ada di lantai atas
"gadis kecil ku sepertinya sudah bertambah besar" pandang sang ayah pada asha
"yah,akan kah asha baik* saja?" tanya lirih ibu asha memegang tangan suaminya
"kita akan melakukan segalanya yg terbaik,asha akan baik* saja" lembut sang suami menggengam tangan istrinya
setelah beberapa menit asah selesai mandi ia memilih* baju hampir semua baju di lemarinya di keluarkan
"yg ini,em ini terlalu mencolok, (melemparkan baju),apa yg ini ah tidak ini terlalu ke kanak*an (melemparkan baju),atau yg ini uh warna ini membuat kulit ku terlihat pucat,(melemparkan dan duduk),apa*an ternyata baju ku semua jelek" asha menggaruk kepalanya yg masih di balut handuk
"apa yg terjadi dengan kamar ini" ucap sang ibu dengan senyuman manis
"ibu baju ku tidak ada yg bagus,semuanya terlihat tidak cocok untuk ku" rengek asha
"em benarkah" ibunya membuka lemari dan memilih* baju asha hanya menganggut sambil manyun
"wah bukan kah ini sangat indak,sangat cocok di kulit mu" ibunya mengeluarkan baju berwarna pink lembut dengan hiasan renda putih yg indah
"Ah baju ini,aku hampir lupa"asha bangun mengambil bajunya dengan bahagia
"sudah sana cepat salin ibu akan bantu merapihkan baju mu nanti" pinta sang ibu asha pun langsung ke kamar mandi dan salin dan setelah beberpa saat keluar lagi
"ibu bagai mana aku yg mengenakan gaun ini" asha dengan centiknya berputar ke kanan dan kiri
"anak ibu memang luar biasa,sini biar ibu bantu untuk merapihkan rambut mu" ibunya mengapai tangan asha dan menyuruhnya duduk di depan meja rias
ibu asha mulai membuka handuk nya dan mulai menyisir rambut asha,perlahan helai demi helai rambut rontok "Ahhh..." bisik kaget sang ibu yg berkaca* melihat arah sisir
"ibu,tidak apa tenang,bukan kah ka rey telah kembali dari pendidikan nya,dan menjadi dokter hebat ia akan membantu ku sembuh" ucap asha optimis menggengam tangan ibunya
"ya ibu yakin itu rey sudah kembali harusnya semua nya baik* saja" ujar sang ibu menahan tangis,ibunya trus merapihkan rambut asha hingga terlihat cantik
"selesai,ibu akan turun dulu ya,nanti mang dimo akan mengantar dan menemani mu" ibu asha mencium kepala asha dan keluar lalu menutup pintu dan bersandar di tembok
menahan seolah sesak di dalam dada dan sulit bernapas
"Huhu huhu" tangis ibu asha yg di lihat ayah asha lalu mendekati ibunya
"ayah,asha yah huhuhu" menunjukan rambut asha yg rontok dan memeluk erat ayah asha pun hanya bisa menitikan air mata
"Kak rey sudah kembali aku pasti akan sembuh,untung lah rambut ku tebal jadi tak terlalu berdampak karna rontok sebulan terakhir ini" asha merapihkan rambutnya dan bangun dari duduknya merapi kan yg lainnya lalu pergi ke bandara
di perjalanan menuju bandara asha nampak sangat senang hingga tersenyum sepanjang jalan saat sampai ia langsu menuju terminal di mana rey akan mendarat dan menunggunya dengan harap cemas
"apa kak rey mengenali ku,kita tidak bertemu sudah hampir 4 tahun" cemas asha menundukan kepala dan memainkan kakinya
"hai asha" ucap pria yg tiba* di depannya
"kak..kak rey" asha terpanah melihat rey dan pipinya merona
"kau sudah lebih tinggi sekarang" rey tersenyum manis dan memegang kepala asha
"kak rey ,aku merindukan mu" asha langsung memeluk rey tapi rey kaget melihat beberpa helai rambut asha yg rontok di tangannya
"(apa keadaannya makin parah)" rey dalam hati
"eh,maaf.." asha merasa malu dan melepaskan pelukannya
"mengapa di lepaskan aku juga sangat merindukan mu" rey memeluk erat asha
asha merasa bahagia dan wajahnya memerah
"apa kaka lapar,ayok kita makan" ucap asha menarik rey,rey hanya menurut mengikuti asha merkea menuju salah satu restoran dan duduk di kursi yg untuk dua orang
"kaka masih ingat restorna ini"ucap asha sumringah
"tentu restoran di mana terakhir kita bertemu sebelum aku pergi ke singapore untuk melanjutakan studi" jelas rey
"iyah.." asha tersenyum lebar
"ya dan tempat di mana aku berjanji akan menikahimu kelak" ucap rey mendekati wajahnya ke arah asha
"kaka kau," wajah asha makin memerah pesanan datang dan ia pun makan bersama makanan yg di makan asha hanya puding karna ada banyak makanna yg tak bole di makan oleh nya
Asha adalah seorang yg menderita leukimia stadium lanjut,ia melawan leukimia sudah hampir 8 tahun semua pengobatan telah di coba untuk membuat nya bertahan, karna ia juga merupakan anak tunggal dari pasangan andi dan raisa pengusaha ternama di salah satu kota,ia mengenal rey sejak kecil,saat asha sakit rey lah yg menemani asha hubungan mereka memang dekat bahkan sangat dekat hingga membulatkan tekat rey ke singapore untuk melanjutkan studi kedokterannya yg bertekad ingin menyembuhkan asha mereka berbincang* dan jalan* hingga sore hari asha mengajak rey kerumahnya untuk sekedar main dan bertemu ibunya
"Ayah ibu" asha masuk dengan bahagianya menggandeng rey
"hai om tante" ujar rey
"hey rey,kau makin tampan saja" bangkit ayah asa bersalaman dengan rey
"ya betul,kau persisi seperti ayah mu sangat tampan" timbal ibu asha
"oh ya kalian berbincang* lah aku akan naik untuk mandi"asha meninggalkan mereka bertiga
"bentar tante akan buatkan teh" ibu asha ke dapur
"silahkan duduk" ujar ayah asha mengajak
"terimakasih om" rey duduk
"om bagai mana kondisi asha akhir* ini" rey cemas
"rey om sudah tidak tau harus apa lagi,asha harus benar* bergantung pada obat tubuhnya semakin lemah" ayah asha nampak sedih
"pantas saat bersama ku tadi ia berkali* minum obat" ujar rey makin cemas
"rey,kami berharap kamu bisa menyembuhkannya" dayang ibu asha dengan teh yg di bawanya
"aku akan melakukan semaksimal mungkin tapi mengingat kondisi asha,aku tidak bisa menjanjikan banyak" rey khawatir
"maksudmu asha kita takan sembuh?" ibu asha menangis
"bukan seperti itu tante,tubuh asha sudah sangat bergantung obat itu akan berdampak buruk juga" jelas rey
"lalu apa yg harus kami lakukan?" ujar ayah asha sangat sedih
"bole aku lihat hasil pemeriksaan asha" rey meminta tanpa banyak aba* ibu asha langsung mengambil dan memberikannya pada rey,dan rey membaca nya dengan seksama
"jadi asha sudab mulai kemoterapi" tanya rey
"yah karna dokter bilang,obat sudah melemah pada dirinya itu jalan terbaik" ayah asha cemas
"lalu reaksi tubuh asha?" rey
"sebelum kemi ia sering pingsan dan mimisan,setelah kemo itu jarang terjadi tapi saat awal setelah kemo dia sering merasa lemas tak bertenaga saja,dan dosis obat nya di tambah untuk menunjang hidup nya" jelas sang ibu
"apa asha kemo dan menambah dosis obat bukan kah itu sangat berbahaya" rey benar* kaget
"ya kami tau tapi itu jalan terakhir bahkan dokter bilang asha takan bertahan selama 3 bulan,rey tolong kami aku tak ingin kehilangan asha" ayah asha dan ibunya menangis
"aku tau,tapi bukan kah akan buruk tubuhnya takan kuat menahan reaksi kemo dan obat dosis tinggi secara berlebihan,rambutnya akan habis rontok dan tubuh nya" rey berkaca*
"cukup rey kamu tau semua itu hanya kami
coba menutup kemungkinan terburuk itu" ayah ibu asha menangis
ternyat sedari tadi asha mendengar pembicaraan mereka,asha melupakan telponnya di mobil dan niat mengambilnya tapi saat mau turun mendengar percakapan itu hingga terduduk lemas menangis
"apa aku separah itu" asha menhan tangis dengan air mata berlinang
"asha lama sekali aku akan memanggilnya" ibu asha bangun dan mengapus air matanya dan pergi menuju kamar asha asha yg mendengar itu langsung lari kekamarnya dan mengunci dirinya di kamar mandi
"sayang apa kau baik* saja" ibu asha mengetuk pintu dengans uara shower yg masih gemercik
"ia bu sebentar lagi" asha menangis menahan teriakannya di bawah shower dengan baju yg masih terpakai
"jangan terllau lama mandi nya ya sayang kami menunggu mu di bawah" ibu asha meninggalkan asha dan turun lagi ke bawah
setelah 10 menit asha turun ke bawah
dan di bawah sudah di siapkan meja makan yg penuh makanan enak yg aman untuk asha
"kau mandi lama sekali" tanya rey
"iya badan ku sangat lengket ka" asha menyeringas
"hey kenapa apa kau menangis apa yg terjadi mana yg sakit" rey langsung bangkit melihat mata asha yg sembab dan lihat* lengan dan tubuh asha
"aku tidak apa* ka aku baik* saja" ucap asha lembut
"iya sayang apa yg terjadi kau bisa bilang pada ibu" ibunya menghampiri asha
"ayoklah bisa kah kalian memperlakukan ku sama dengan manusia normal lainnya,aku baik* saja" ucap tegas asha
"asha,," ibu asha kaget akan responnya begitu pun yg lain nya
"baiklah ayok kita makan,," rey menuntun asha ke meja makan dan mereka makan bersama sambil berbincang bahagia
setelah itu asha sering keluar hanya untuk jalan* dengan rey tapi kondisinya makin parah ia makin sering pingsan misisan atau bersembunyi menahan sakitnya
setelah dua minggu berlalu kondisi asha benar