"Aku cinta kamu...." kata Angga sambil memegang kedua tanganku.
"Cinta ? Kamu pilih Nadya Atau aku?"
balasku dengan lantang.
"Aku ... Aku.." Angga menjawab seolah dia sangat sulit untuk memilih aku sebagai pacar aslinya.
"Sudah lah Angga, Aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi, aku mau kita putus." melangkah pergi, namun Angga menarik tanganku dan memelukku.
"percaya lah aku mencintaimu Sarah, hanya saja ada alasan untuk Nadya." jawab nya
"Lepasin aku, memang benar tidak ada wanita dan pria yang bersahabat, semua itu akan berakhir manjadi cinta." melepaskan pelukan Angga
"Aku janji hanya 2 bulan tetap lah menungguku dan jangan pergi, setelah 2 bulan ini, aku akan menjelaskan semuanya padamu" angga menatapku dengan wajah memohon, aku tidak bisa menolak sama sekali karna aku tau, hal ini terjadi pasti karna Angga sudah mempertimbangkan nya. Dan aku memutuskan untuk bertahan.
sedikit cerita tentang Angga dan Nadya. Kalian pasti sudah tahu kalau Angga adalah pacarku, kami sudah menjalani hubungan ini sejak SMA kelas 2 di sekolah yang sama. Dan Nadya adalah teman semasa kecil Angga, mereka selalu bersama sejak umur 7 tahun. Memang Angga sering menceritakan tentang Nadya namun hanya sebatas rasa antar sahabat saja. Karna itu aku tetap menerima Angga, Karna Angga pernah berjanji dia tidak mungkin mencintai Nadya.
"sayang, hari ini aku tidak bisa menemanimu pergi, karna ibu menyuruhku ke rumah Nenek untuk mengantarkan barang." pesan chat dari Angga.
"gapapa, aku bisa sendiri, titip salam untuk nenek." aku langsung membalas chat dari Angga dan menunggu beberapa saat balasan dari Angga, tapi ternyata tidak ada balasan.
Seharusnya, hari ini aku dan Angga ingin menonton film, Karna Angga tidak bisa aku memutuskan untuk pergi sendiri.
"Mba, Tiket ini satu ya." menunjuk ke arah monitor tiket
"Mau di kursi yang mana mbak, yang hijau yang kosong yah mbak." kata mbak pelayan tiket dengan senyuman yang ramah.
Aku memilih bangku D paling ujung, karna aku yakin pasti di samping ku berpasangan, jika aku pilih untuk sendiri mungkin tidak akan ada yang mau mengambilnya.
Aku membeli minum dan popcorn karna mulut ku tidak akan suka menonton tanpa mengunyah.
Aku masuk ke teater 3 dan langsung duduk. aku kira yang menonton tidak sebanyak ini ternyata hampir semua bangku terisi penuh.
"permisi .." suara lelaki yg begitu berat
"Oh iyaaa, maaf." mengambil popcorn dari kursi pria itu. aku terkejut, sengaja mengambil tempat ini agar tidak ada yang memilih lagi, ternyata masih ada juga.
"sendirian?" dia menyapaku dengan nada lembut.
"ahh iya sendirian, kamu juga sendirian?" ya iyalah sendirian kalo berdua dia ga mungkin ambil tempat ini, ucapku dalam hati.
"iya kebetulan hari ini ga ada teman untuk nonton, oh iya .. saya Dimas." tersenyum sambil mengulurkan tangan.
"Iyah, aku Sarah ..." balasku.
Lampu teater sudah mulai mati menandakan film akan segera mulai, masalah yang paling utama adalah film yang aku pilih adalah film horor, sebenarnya aku suka horor tetapi tidak berani untuk menonton, setiap menonton horor pasti aku akan memegang tangan Angga dan bersembunyi di dada nya. tapi hari ini bagaimana. aku sama sekali tidak memikirkan panjang hal itu.
(film sedang diputar)
Tiba tiba........ jjjeeng jjjeng
"aaaaaaa mamaaaaa." bersembunyi di dada Dimas.
"kamu takut?" kata Dimas.
"ohhh, maaf Dimas, hahaha" aku menarik diri dan merasa sangat malu.
"kalau kamu takut bisa pegang tangan ku." kata Dimas sambil menatap ku
"gapapa Dimas, ga usah." jawab ku tanpa ragu.
(beberapa menit kemudian)
baaarrrrrrr.......
"aaaaa ga mauuu, ga mau nonton lagi." tanpa sadar aku memeluk dimas. dan Dimas langsung memegang kepalaku agar aku tidak melihat ke arah layar itu. karna aku merasa malu aku tetap diam. membiarkan hal ini terjadi, sampai akhirnya aku tertidur di pelukan Dimas.
(film sudah selesai)
"Sarah... raahhh ... ayo bangun film nya sudah selesai." menepuk bahu
"wooaaahhhmmmmm, ohhh udah selesai? maaf Dimas dan makasih." sangat malu
"iya gapapa kok, aku paham, udah jam 11 nih kamu tinggal dimana? biar aku anterin." ajak Dimas
"oh gapapa Dimas, aku di jemput pacar kok." jawab ku
"emmm kalau begitu aku duluan yaa." wajah sedikit sedih
"iyah, sekali lagi makasih Dimas"
" Iyah sama sama."
aku pergi dan menunggu Angga diluar, karna Angga berkata dia akan menjemputku.
"sayang, maaf, aku ga bisa jemput kamu, karna nenek sedang butuh aku." pesan masuk dari Angga.
aku tidak membalas chat Angga dan hanya membaca lewat notifikasi.
"memang hanya aku yang terlalu berharap, sekarang bagiamana, sudah mau jam 12, kalau naik taxi sendiri aku takut haduhh." tiba tiba ada mobil yang menuju ke arah ku, dan membunyikan klakson nya.
"Sarah, kenapa belum pergi?" ternyata itu Dimas.
"pacar aku ga bisa jemput ternyata, jadi aku bingung harus pulang naik apa." kataku
"yaudah, aku antar kamu pulang." keluar dari mobil. lalu dia membukakan pintu mobil untukku.
"ayo naik.." sambil tersenyum
"makasih banyak dimas." Dimas membalasnya hanya dengan senyuman.
(di dalam mobil)
"kamu kuliah atau kerja?" Dimas memulai membuka pembicaraan yang hening ini.
"aku kuliah, kalau kamu?" tanya ku balik
"aku kerja. btw kamu kuliah dimana?." sahut Dimas.
"Di universitas A." jawabku
"jurusan?." tanya Dimas kembali
"dokter." dengan nada sedikit rendah.
"oh calon dokter, bagus dong, nanti rawat aku ya Bu dokter." mencoba menggodaku
(sampai di rumah)
"makasih ya Dimas, aku balik dulu." saat mau membuka pintu
"tunggu rah, apa boleh kita berteman di instaram" kata Dimas
"oh tentu saja boleh." setelah memberikan nama akun ku, aku langsung pergi.
sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur dan melihat hp apakah ada pesan dari angga. ternyata tidak ada apa apa. karna aku sangat lelah dan tiba tiba langsung tertidur tanpa menukar baju dan menghapus Make up.
beberapa hari berlalu, aku dan Angga terasa semakin jauh, pesan yang jarang datang, dan Angga sangat susah di ajak bertemu.
tiba tiba ada sejauh notifikasi datang, aku kira itu Angga, aku sangat semangat untuk membuka nya, ternyata itu Sean. teman kelasku di perkuliahan.
"sar, aku mau tanya? tapi kamu jawab jujur yaaa." kata Sean.
"emang nya kenapa an?" aku penasaran, kenapa tiba tiba Sean mengatakan ini.
(Sean mengirim foto)
"kamu sama Angga kapan putus nya? aku lihat Angga 4 hari yang lalu pergi sama cewek ke cafe, sambil gandengan tangan." aku terkejut dan mengingat kalau itu baju yang di pakai Angga saat pergi kerumah nenek nya, karna dia waktu itu mengirim foto sebagai bukti ke aku. aku langsung cek kembali foto yang di kirim Angga dan mencocokkan ke foto yang dikirim oleh Sean. setelah aku ingat lagi itu juga hari dimana aku mengajak Sean menonton film.
aku tidak mau memikirkan hal ini terlalu panjang, tapi aku akan membuktikan dengan mata kepalaku sendiri.
sebentar lagi hari jadi ku dengan angga, yang ke 5 tahun. aku mengajak Angga untuk pergi merayakan, namun Angga langsung mengatakan kalau hari itu dia pergi bersama keluarga. aku curiga dan mencoba membuktikan apa yang di katakan Sean itu benar.
Ting ...
notifikasi instaram.
(Dimas mengikuti anda)
langsung membuka instaram, dan mengunjungi profil Dimas, isinya tentang Alam semua.
"sepertinya Dimas sangat suka travelling." sambil melihat lihat.
(hari jadi Sarah dan angga )
"happy anniversary sayang, semoga kita tetap bersama sampai akhir." mengirim pesan.
aku menunggu balasan dari Angga, namun di balas 1 jam kemudian
" iya sayang, aamiin." balas angga.
aku mulai curiga dan langsung berfikir untuk mengikuti Angga.
(memarkir mobil di dekat rumah Angga)
beberapa menit kemudian Angga keluar, pas sekali. tapi aku heran kenapa Angga hanya sendiri, kenapa kelurga nya tidak ikut, katanya dia akan pergi bersama keluarga.
(menyalakan mobil dan mengikuti Angga).
"ini jalan kemana? kenapa dia ke arah sini. apa jangan jangan?"
sudah sampai, aku mematikan mobil dan memantau dengan hati hati layak nya detektif. ternyata benar itu adalah rumah Nadya.
(Angga mencium kening Nadya)
aku menangis, dan langsung menghampiri mereka berdua.
"Angga.. ternyata kamu bohong." mendekat
"Sarah... ini aku hanya .. " terbata bata
"kamu bilang tidak akan mencintai Nadya tapi apa? adegan seperti ini di bilang cuma sahabat?, aku terima kamu pacaran dengan Nadya karna kamu bilang Nadya sedang sakit parah dan ingin mengabulkan keinginannya, apa harus kontak fisik?" sambil menahan tangis
"Maafin aku Sarah ... tapi ." memegang tangan Sarah
"awas, aku gak butuh penjelasan, aku mau kita putus." menepis tangan Angga
"Sarah dengarin aku dulu." tahan Angga
"apa ? apa lagi? alasan apa lagi? kenapa harus berbohong? apa kamu lebih memilih Nadya? jawab....!!!" membentak Angga
" iyaaaa, aku lebih memilih Nadya, karna dia adalah teman ku dari kecil, dan sekarang sedang sakit, seharusnya kamu paham." jawab Angga
"apa ? memahami? lebih baik kita putus." pergi meninggalkan mereka berdua.
aku kira Angga akan mengejar ku ternyata tidak. Sepenjang jalan aku menangis tanpa henti memutar lagu yang sangat sedih dan mencari tempat untuk sendiri dan berteriak.
(Samapi di jembatan)
aku menangis sangat keras, di malam yang ramainya suara kendaraan berlalu lalang. tidak lama hujan pun turun semakin lama semakin deras. aku tetap diam sambil menangis, dan tiba tiba terduduk dengan lemas.
tidak lama aku melihat kedua kaki yang berjalan menuju ke arah ku, lalu aku melihat ke atas.
"kamu kenapa disini, kenapa menangis?." ternyata itu Dimas, sambil membawa payung dan jongkok di hadapan ku.
"aku putus dengan angga, dia ... hhhhh diaaa... lebih memilih Nadya daripada aku." menangis dengan sedih
"ada aku disini, Sarah ayo berdiri, kamu harus lupain hal yang buat kamu terluka." membantu ku berdiri.
"Dimas, bantu aku lupain Angga." menangis kuat
"Aku akan menggantikan Angga di hatimu." memeluk ku dengan erat.
setelah kejadian malam itu aku mulai melupakan angga, dan berhubungan baik dengan Dimas. tapi aku dan Dimas tidak pacaran, hanya hubungan tanpa status.
(2 tahun kemudia)
"Sarah, besok kamu ada acara atau sibuk? aku mau ajak kamu makan malam." pesan dari Dimas
"besok? bisa, soalnya besok kan aku ga masuk kerja." balasku .
Sekarang usiaku sudah 24 tahun, aku sudah lulus dan sedang bekerja di Rumah sakit C.
begitu juga dengan Dimas, tetapi Dimas lebih hebat, karna dia meneruskan perusahan yang di miliki papanya, dan di tunjuk sebagai CEO di perusahan terbaik kota ini.
(Besoknya)
Malam itu aku siap siap karna akan pergi dengan Dimas, aku memakai gaun karna entah kenapa aku tiba tiba tertarik untuk memakai gaun pada malam itu.
tidak lama Dimas sudah di depan rumah ku dan kami pun pergi ke tempat yang di katakan Dimas.
tempat itu sangat indah, restauran di rooftop dengan nuansa yang tenang. banyak lampu lampu indah, dan pemandangan kota yang berkelap kelip.
"waahhh bagus banget Dimas." melihat dengan takjub
"Aku tau kamu pasti bakal suka, sini duduk." menarik meja untukku.
"Aku paling suka dengan tempat begini, tenang, Indah dan romantis." kataku
"maka dari itu aku bawa kamu kesini." jawab Dimas.
(sambil menikmati makanan)
tiba tiba semua lampu di restauran itu mati.aku terkejut dan terus memanggil Dimas.
"Dimas, kenapa lampu tiba tiba mati? dimassss...." Dimas tidak menyahut
(lampu menyala)
Dimas sudah berlutut di hadapan ku.
"Sarah, Aku Dimas, lelaki biasa yang ingin menjadikanmu wanita terakhir di lembar cerita hidupku, ingin menjagamu, menemanimu, dan menjadi imam yang baik untukmu, Sarah, maukah kau menikah denganku." aku terdiam dan meneteskan air mata, karna aku sama sekali tidak menyangka Dimas melamar ku di malam itu.
"iya, aku mau." Dimas memasukkan cincin itu ke jari manis ku dan memelukku. aku menangis dan sangat bahagia. karna aku sangat menunggu hal ini.
"Sarah aku sangat mencintaimu, sejak saat kita bertemu di bioskop." menatap ku sambil memegang kedua tanganku.
"dimas, aku juga mencintaimu, terimakasih karna sudah mengisi bagian dari kisah cintaku." dimas mencium bibir ku dengan lembut.
kamipun menikah dan bahagia.
(1 tahun kemudian)
"bundaaaaaaaa ..... ayah jangan kerjar akuuu." suara anak kecil
"sini sama bundaaa." memeluk
"ayah kalah, Rio sama bunda menang." mencium Rio
"ayah juga mau di cium Bun." merengek dengan gemas
lalu mencium dimas.
(Ayah,Bunda,Rio Selamanya)
Terimakasih Tuhan sudah pertemukan aku dan Dimas, dengan lelaki yang sangat perhatian, dan Hebat.
aku mencintaiku Dimas...
selamanya.