Teng teng teng.
"Yeeee... pulaaaaang" teriakku.
"Senangnya kayak nemu lotre." sambungku.
"Iya, lotre besar. Sebesar kamu Kar." jawab Eka.
"Dasar, kamu pikir aku apaan, badanku yang bulet ini adalah anugrah." ketusku.
"Iya deh, uda yok. Ke kelasnya Yuni takut dia nungguin." ajak Eka.
"Yuniiii..." teriakku dan Eka barengan.
"Hai putri putriku." jawab Yuni dengan merentangkan kedua tangannya.
Aku adalah Kartika Sari, aku punya sahabat bernama Yuniar Putri dan Eka Puspita. Kami bertiga berteman sejak masuk SD hingga sekarang mau lulus. Setiap pagi kami selalu berangkat sekolah bersama, mulai Yuni yang menjemput Eka dan berakhir di rumahku, karena rumahku lah tujuan akhirnya saat mau berangkat dan paling awal saat pulang sekolah. Mereka sudah seperti saudara bagiku yang tak punya saudara alias anak tunggal.
Setiap berangkat dan pulang sekolah kami selalu bersama sama melewati jalan setapak. Sesekali kami berhenti untuk menghirup udara segar, karena jalan yang kami lewati emang sejajar dengan sungai dan pesawahan, jadi walau panas udaranya akan terasa sejuk. Seperti siang ini, kami berhenti disebuah gubuk ditepi sungai yang menjorok ke pesawahan milik Nenekku.
"Tik, aku dengar kamu setelah lulus nanti akan balik ke kota ya." tanya Eka.
"Iya Ka, rencananya begitu. Tapi jangan takut aku akan kesini saat liburan. Aku juga akan menulis surat." jawabku dan memeluk mereka.
"Tika, janji ya kamu gak akan melupakan aku dan Yuni." ucap Eka.
"Tentu saja, gimana bisa aku melupakan kalian, bagiku kalian tak sekedar teman atau sahabat, tapi kalian saudaraku." jawabku dengan serius.
"Aku sangat menyayangimu Tika." ucap Eka yang terdengar aneh bagiku.
"Aku juga Ka." jawabku.
"Aku juga mau dipeluk, kalian jangan hanya pelukan berdua saja." ucap Yuni.
"Kalian berjanjilah padaku, bahwa kalian akan selalu membalas suratku jika aku mengirim surat pada kalian." pintaku.
"Iya kalau tak repot?" jawab Yuni dan Eka sambil tersenyum.
Hari kelulusan pun datang, semua berbahagia. Namun aku merasakan ada yang aneh pada sahabatku, mereka begitu manja padaku. Mereka terus menempel dari akhir acara sampai selesai. Mereka minta foto bersama, makan disupai dan minum pun minta satu gelas yang sama.
Hari itu kami bermain bersama mulai dari pagi sampai sore, karena malam harinya adalah keberangkatanku ke kota.
"Jangan lupain kami ya Tik, kami menyayangimu, kami akan membawa persahabatan ini sampai kapanpun." ucap Eka.
Aku memeluk mereka, berat rasanya aku meninggalkan mereka, seperti akan ada sesutu yang terjadi. Mereka membisikkan kata yang sama disaat yang bersamaan.
"Aku mencintai dan menyayangimu Tika, selamanya sampai akhir hayat." bisik Eka dan Yuni bersamaan.
Aku memeluk semakin erat, aku merasa mereka akan meninggalkan aku dan pergi jauh. Padahal aku lah yang akan pergi untuk tinggal bersama orang tuaku. Karena di kampung ini aku tinggal bersama Kakek dan Nenekku.
Hari hari berlalu dan berganti tahun, tak pernah ada kabar dari mereka, padahal setelah sampai di kota aku langsung menulis surat untuk mereka. Namun, tak satu pun suratku terbalas. Kesedihan meliputi hatiku, apakah mereka telah melupakanku, atau telah menemukan teman lain pengganti diriku.
"Ma, aku mau liburan dikampung di rumah Nenek." pintaku pada Mamaku.
"Aduh sayang, kan sudah Mama bilang kalau tahun ini gak bisa, karena mau ada pertemuan dengan keluarga Papa yang dari Singapur." jawab mamaku yang kuanggap selalu saja beralasan untuk mencegah aku pergi ke kampung Nenek.
"Gak bisa! Aku harus bertemu Yuni dan Eka karena aku uda kangen mereka." tegasku.
"Yuni, aku datang ... dimana Eka?" kutanya saat aku bertemu dengan dia di persimpangan jalan.
"Maaf, aku baru datang setelah tiga tahun, karena urusan dengan keluarga Papaku." jelasku.
"Yuni, kenapa kamu diam saja, apa kamu marah padaku?" sambungku saat Yuni tak menjawab.
Aku tak dihiraukan, bahkan dia pergi begitu saja. Begitu juga dengan Eka, dia juga bersikap sama seperti Yuni, dia tak mau bicara denganku saat bertemu. Bahkan saat aku memberikan jaketku karena tubuhnya yang dingin saatku sentu, dia membuangnya.
Aku sangat sedih dan kecewa sama mereka berdua. Kenapa mereka berubah, padahal mereka berjanji padaku akan selalu mengingatku, mereka juga mengatakan akan menjaga persahabatanku untuk selamanya. Aku menangis dalam kamarku dan bertanya, Inikah jawabannya kenapa mereka tak pernah membalas suratku? Satu saja tidak ada.
Hari terakhir liburanku. Aku berencana mau mendatangi rumah mereka untuk meminta kejelasan, namun aku melihat mereka ada di gubuk yang berada di tepi sungai, tempat favorit kami bertiga saat pulang sekolah.
Kudekati dan kusapa mereka, namun mereka tak menjawab, malah bicara sendiri seolah tak melihatku. Karena kesal mereka mengabaikanku, aku pun berteriak marah pada mereka. Bukannya mendengarkanku mereka malah pergi. Aku pun mengikuti mereka dari belakang.
"mau kemana mereka pergi?" pikirku sambil terus mengikuti.
Kulihat mereka ke arah sekolah, namun berbelok dan melewati anak hilir sungai yang aliran airnya sangat deras, mereka berhenti disebuah gapura yang terlihat seperti gang masuk suatu rumah. Aku yang melihat dari Jauh, berfikir rumah siapa yang mereka datangi.
Aku mendekat dan melihat, namun saat aku semakin dekat dan melihat, betapa terkejutnya aku terhadap mereka. Aku menangis sejadi jadinya, rasanya hatiku sakit seperti tersayat sayat, sesak, sungguh tega mereka padaku, mereka sangat kejam padaku.
Kupukul pukul tanah yang ada didepanku, ku arak arik, ku cakar cakar, aku gak terima dengan mereka berdua, karena menurutku mereka sungguh kejam, bagaimana bisa mereka meninggalkan aku selamanya, bagaimana bisa mereka pergi lebih dulu.
Didepan mataku tertulis nama mereka dengan tulisan tinta hitam yang sudah mulai luntur dimakan waktu. Telah Wafat Yuniar Putri 02 Juni 1996, Telah Wafat Eka Puspita 02 Juni 1996.
Dadaku sesak, nafasku seolah berhenti dan pandanganku menggelap, mereka telah meninggalkan aku. Saat tersadar aku sudah di rumah Nenek karena ditemukan pingsan di makam Yuni dan Eka.
Jadi, di hari keberangkatanku ke kota telah terjadi kecelakaan yang menimpa Yuni dan Eka, karena berlari mengikuti mobil yang membawaku, dan demi bisa melihat mobil itu mereka naik ke bukit yang akhirnya mereka tergelincir dari tebing karena tak memperhatikan langka mereka. Mereka masuk ke aliran hilir sungai yang menyeret mereka, karena mereka gak bisa berenang dan aliran airnya terlalu deras merekapun sudah wafat saat ditemukan.
"Jadi ini pesan yang disampaikan oleh mereka yang akan menyayangiku sampai akhir hayat." gumamku disela isak tangis mengenang kedua sahabatku, Yuni dan Eka. Yang selalu dipanggil Yukati (Yuni, Eka dan Tika).
Selesai
Sidoarjo, 28 September 2021