Yonggi adalah pemuda Yang tampan rupawan. Perawakannya tinggi tegap, sorot mata Yang tajam, alis tebal, hidung mancung dan bibir Yang tipis. Dia banyak dikagumi kaum hawa dan tak menyangka dia adalah kekasihku.
Teng teng teng. .suara bel masuk sekolah
Aku adalah Anisa Margaret, saat ini aku mendudukki bangku kelas 2 SMU di sekolah Harapan Nusa. Sekolah tempatku sekarang gabung dengan Universetas teknik Harapan Nusa.
"Selamat pagi namaku Anisa Margaret kalian bisa memanggilku Nisa. aku anak pindahan dari Jakarta, aku pindah kesini karna mengikuti ayahku Yang dipindahkan tugas di daerah sini. Semoga kita semua bisa menjadi teman kedepannya, mohon bantuannya" kataku panjang lebar mengenalkan diri di depan semua anak kelas 2 IPA1 Yang akan menjadi kelasku juga
"Baiklah Nisa kau bisa duduk dibangku kosong Yang ada di ujung" suru bu nunuk wali kelas IPA1
"Hay. Nisa aku Yuni dan ini Yuyun salam kenal ya" sapa Salah seorang teman sekelasku
"Aku Nisa" balasku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala
Priiiiiiitt... goooolll yeeeeee
Suara sorak sorai dan teriakan menggemah keseluruh lapangan bola. Pagi itu ada kegiatan lombah sepak bola antara anak SMU dan Universitas Harapan Nusa.
"Yonggi... yonggi... yonggi..." nama itu terus diteriakkan semua anak anak cewe mulai dari Yang SMU dan Yang mahasiswi
Aku melewati lapangan begitu saja tanpa melihat permainan, karna percuma juga begitu banyak kerumunan pasti g bisa lihat.
"Nisaaa..!" triak Yuni dari lantai 2
Aku mendongak, tersenyum sambil melambaikan tangan.
Aku lari ke anak tangga, menaiki tangga dan mendekati Yuni, ternyata disana uda ada Yuyun Yang lagi selonjoran di lantai. Dia bilang dia lagi capek karna tadi lari menaiki tangga sebelum aku. Kami bertiga tertawa dan menuju perpustakaan.
*Malam jum'at kliwon. ini malam Yang sakral aku harus menghindari ruangan dan jalanan Yang gelap. aku gak mau hal itu terjadi lagi pada ku.
Aku menggerutu dalam hati dan berjalan cepat meninggalkan ruang kelas, karna hari ini aku piket jadi aku pulang telat, tapi karna terlalu asyik membaca setelah bersih bersih sampai tak sadar kalo uda gelap.
Aku menyusuri koridor sekolah, ku lihat hujan mulai turun, ku percepat langkahku namun saat sampai di belokan tangga tiba tiba lampu mati karna ada kilat dan geledeg yang sangat menggelegar.
Tap
"Nona, kau tak papa? apa ada Yang luka?" suara cowo Yang bertanya dan menepuk pundakku
*Tidak tidak kumohon jangan datang. aku mohon jangan. Aku bergumam dalam hati dan aku mulai menangis, tubuhku bergetar, aku tak menyaut pertanyaan Yang ditanyakan oleh orang itu padaku.
Terang.. Lampu uda menyala
Aku membuka mata karna ku pikir lampu uda menyala, namun saat aku mendongak ternyata itu bukan lampu melainkan penerang Yang dinyalakan oleh seseorang dan diarahkan padaku.
"Kau baik baik sajakan?" tanyanya padaku.
Aku tak menjawab dan hanya mengangguk
"Ayo.. ku temani keluar. kau masih SMU, apa kau piket hingga pulang larut?" tanyanya lagi padaku
"Iya. tapi aku gak sadar kalo uda malam, karna keasikan baca buku" jawabku sambil bejalan menggandeng tangan cowok itu
*Tangannya hangat, aku rasa dia bukan hantu atau maklhuk lain. gumamku dalam hati sambil mengawasinya dari samping
"Kita uda sampai. sapa namamu?" tanyanya sambil tersenyum melihatku
"Aku Anisa Margaret" jawabku
"Hem. Anisa"
"Boleh ku panggil Isa?"
Aku mengangguk tanda setuju
"Aku Yonggi Abigail"
*oh. jadi dia orang Yang namanya selalu diteriakkan oleh semua anak cewe. ya dia memang cakep dan kebangetan cakepnya
Pagi hari suasana mendung, dan aku sangat menyukai bau harum tanah sisa sisa hujan semalam. Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah seperti biasanya, aku tak suka naik sepeda. karna suasana desa ini sangat menyenangkan gak seperti di kota, jadi selama disini aku ingin menikmati setiap moment seperti pagi ini. Susana mendung ditemani bau harum sisa hujan dan angin Yang semilir menyapu muka rasanya aku merasa seperti berada di Negri dongeng Yang menenangkan.
"Yeeeeee...Yonggi"
"Go Yonggi go yonggi go"
Lagi lagi mereka meneriakkan nama itu. Ya emang dia keren banget. Uda cakep, pinter, kaya, baik dan bintang diangkatanya. jadi gak heran banyak orang Yang menyukainya.
"Sendirian? boleh aku duduk disini?"
"Eh. kak Yonggi?" kataku Yang terkejut melihatnya di kantin sekolah
"Kenapa? apa aku gak boleh ke kantin sekolah?" tanyanya padaku seraya duduk di kursi sebelahku
"Boleh. cuma aneh saja. bukannya kantin Kampus lebih lengkap dan nyaman karna ber AC" jawabku
"Tidak lebih nyaman disini karna ada kamu" jawabnya
Aku Yang bingung dengan kalimatnya pun tak bicara lagi, aku menghabiskan makananku dan beranjak saat mendengar bel masuk dari sekolahku
"Nisa ayok kita pulang bareng." ajak yuni
"Iya. ada Yang mau kami tanyakan padamu nis" sambung yuyun
"Tanya apa emangnya?" aku mengerutkan kening karna bingung
Sampai di gerbang sekolah Yuni dan Yuyun meninggalkan aku, karna kak Yonggi menunggu ku dan bilang pada meraka kalo mau mengajakku pergi.
Aku dan kak Yonggi berada ditaman bunga Yang sangat indah. Disana kak Yonggi mengutarakan perasaannya padaku dan aku tanpa pikir panjang menerimanya.
Aku menjalani hubungan dengan kak Yonggi Yang keren, hatiku sangat bahagia. Apa lagi perhatian kak Yonggi padaku benar benar sangat berlebihan, dia selalu melakukan apa pun yang aku mau dan inginkan. Aku merasa sangat nyaman dan aman bersamanya.
Kamis jam 7.30 suasana sekolah sangat riuk. Aku tak memperdulikannya. Sampai Yuyun lari menabrak mejaku, sontak aku dan Yuni terkejut melihatnya. Yuyun sekolah mau mengatakan sesuatu namun kalimatnya tertelan karna ada seseorang yang memanggilku.
Ku lihat kak Yonggi berjalan ke arahku dan dia merai kepalaku lalu mencium keningku sangat Lama. Rasa terkejutku sama dengan orang orang Yang saat ini menatap kami. Bagaimana tidak orang Yang selama ini kalem dan tak pernah minta apa pun walo kami uda pacara 3 bulan tiba tiba menciumku di depan umum dan dengan terang terangan mengajaku main ke rumahnya.
Rumah bangunan kuno Yang sangat besar dan luas dengan nuansa alam Yang sangat kental dengan suasana pedesaan, membuat suasana hati hangat dan tenang. Namun anehnya dalam rumah itu tak ada satu pun orang, kak Yonggi bilang kalo keluarganya lagi liburan ke gunung kawi dan mereka tak punya pembantu, karna ibunya lebih suka mengurus sendiri rumah ini.
Setelah makan malam kak Yonggi membisikkan kalimat ditelingaku agar aku menginap di rumahnya karna dia gak mau kesepian sendirian di rumah, dan aku pun mengiyakan.
"Bu maaf Nisa bermalam di rumah teman ya mau mengerjakan tugas" kataku bohong padaku ibu ku
"Iya sayang hati. hati" jawabku suara ibuku dari sebrang telpon
Kak Yonggi memelukku dari belakang dan berkata agar aku tak bohong lagi pada orang tuaku ke depannya karna itu tak baik katanya, dan kebohongan bisa membuat aku dalam kesulitan bahkan bahaya
Malam itu aku dan kak Yonggi banyak bercerita mulai dari keluarga kak Yonggi sampai aku menceritakan kenapa aku takut gelap. Kak Yonggi memelukku dan dia bilang jika aku mau menikah dengannya maka makhluk jahat itu tak akan berani mendekatiku.
Aku memejamkan mataku, menikmati setiap sentuhan dan belaianya, aku benar benar terbuai dan terlena. Malam itu aku menyerahkan tubuhku pada kak Yonggi. Suasana hujan dan nyanyian katak menambah kenikmatan kami malam itu. Kak Yonggi melakukannya dengan sangat lembut dan penuh sayang, karna dia bilang tak ingin menyakitiku. Malam pertama dan pengalaman pertama Yang ku lakukan dengan. kak Yonggi amat sangat berkesan bagiku.
"Bangunlah sudah pagi" bisiknyan tepat ditelingaku
"Hem.. sebentar 5menit lagi" aku meregangkan tubuh dan menyusupkan lagi kepalaku di dada kak Yonggi
Pagi Yang sangat cerah, kicauan burung terdengar seolah mereka sedang bernyayi gembira.
Ku lihat kak Yonggi mendekatiku Yang duduk di sofa dengan membawah sebuah kotak. Dia membuka kotak itu dan memakaikan gelang di tangan kiriku, gelang itu sangat indah dan ada permatanya berwarna rubi. Dia bilang agar aku tak melepaskan gelang itu, dengan memakai gelang itu tak akan ada Yang berani menggangguku.
"Kenapa kakak seperti ini? kakak sekolah mau pergi meninggalkan aku" kataku dengan sedih karna kak Yonggi bersikap sekolah dia akan pergi
Dia tak menjawab, dia hanya tersenyum dan menciumiku, memelukku dengan erat dan mencium bibirku dengan sangat lembut, Lama dan dalam.
Sambil memeluk dia membisikkan kata bahwa dia akan mengantarku pulang dan akan datang menikahiku saat usiaku 20 tahun. agak janggal tapi aku tak menghiraukannya.
Dalam perjalanan pulang aku melihat ada seekor kelinci Yang sangat lucu. Kak Yonggi menyuruhku mengejarnya, namun sebelum aku membuka pintu mobil dia memintaku berjanji apa pun yang akan terjadi aku gak boleh lagi berbohong dan melepas gelang pemberiannya, karna gelang itu pengikat cinta kami. Aku mengangguk mencium pipi dan bibirnya.
"Kaaaaak..!" triakku saat aku berhasil menangkap kelinci itu
Kak Yonggi melangkah maju dia tersenyum dan mendorongku dengan kuat.
"Nisa... bangunlah sayang"
"Tenang bu.. bukankah kata pak ustad dia gak papa"
"Tapi kenapa dia masih juga belum bangun juga yah?"
"Istigfar ibu. percayalah Allah akan menyelamatkan anak kita"
"Ibu. Ayah"
"Nisa alhamdulillah nak" ibuku menarik tubuhku dan memelukku
Di rumahku begitu banyak orang, mulai dari sanak saudara, tetangga, semuanya berkumpul mereka melantunkan ayat ayat suci al-qur'an.
Setelah mendengar cerita dari ibu bahwah aku ditemukan pingsan De dekat pohon beringin, aku tak bangun selama 7 hari.
Aku pun ingat kalo aku berbohong padaku ibu dan mencuri uang ibu untuk main sama Yuni dan Yuyun. Tapi kami mengalami kecelakaan saat diperjalanan.
Sore itu aku datang ke pemakaman Yuni dan juga Yuyun detemani sama pak sarmin supir ayahku.
Saat aku menyentuh batu nisan Yuyun aku melihat sekelebat gelang dengan permata rubi di tangan kiriku, namun saat aku melipat baju tak ku dapati gelang itu.
Seperti ada ingatan Yang hilang dariku. Dan saat berjalan di sekolah seperti ada kerinduan Yang sangat mendalam sampai membuatku menitikkan air mata. Itu bukan kerinduan tentang sahabatku, tapi lebih padaku seseorang Yang bisa ku rasakan kehadirannya di dekatku.
Saat ku ceritakan apa Yang ku rasakan pada nenek Sawi sesepuh desa itu, bliau membelai kepalaku dan berkata kalo aura tubuhku adalah aura Yang sangat disukai oleh bangsa jin. Namun ada Salah satu dari mereka Yang saat ini menjaga dan melindungiku.
Aku merenungi apa yang dikatakan oleh nenek Sawi, aku adalah kekasih jin. Jin Yang menjaga dan melindungiku sangat menyukaiku.
Aku menjalani hari hariku seperti biasa. Kini aku telah duduk di bangku perkuliahan, aku telah menjadi seorang mahasiswi.
Dan sejak 5 tahun lalu aku telah melakukan ritual ritual jawa yang diajarkan oleh nenek Sawi. Aku memilih menetap di desa ini walo sekarang aku tinggal sendiri karna ibu mengikuti ayah yang lagi lagi dipindahkan tugas. Tapi rumah Yang di tempati ayah dulu telah dibeli dan sekarang ku tempati.
Orang orang desa sini sangat baik padaku, jadi aku merasa nyaman tinggal di desa ini. Seperti malam ini mereka berkumpul untuk melakukan malaman suro dan aku ikut dalam acara itu.
Ya desa ini masih begitu kejawen orang orangnya dan mereka masih melakukan ritual ritual untuk bisa tau bangsa jin dan sejenisnya. Seperti Yang diajarkan nenek Sawi padaku ku.
Malam Suro kali ini bertepatan dengan malam jum'at keliwon. Perayaannya begitu sangat meriah. Aku, Odeng dan Wira sangat menikmati acaranya dan kamipun bermalam di rumahku. Odeng dan Wira adalah teman baikku Yang ku kenal 2 tahun lalu saat awal masuk kuliah dan meraka pasangan kekasih Yang sangat percaya dengan hal hal mistis.
Entah kenapa malam ini tubuhku terasa sangat panas, aku pamit pada Odeng dan Wira untuk tidur dulu dan mereka ku kasik tau bisa menempati kamar tamu Yang sudah ku siapkan.
"Bangunlah sayang.. sudah saatnya kau melayaniku. apa kau tak merindukanku hem?"
Betapa terkejutnya aku ada pemuda tampan di atas tubuhku. Belum siap aku berteriak dia sudah membungkam mulutku dengan ciumannya. Tubuhku mengikuti permainannya, aku terbuai dan terhanyut dalam suasana.
Saat terbangun dipagi hari, betapa terkejutnya aku. Kejadian semalam bukan mimpi aku bercinta dengan jin dan lebih lagi jin itu adalah kekasihku. Sekarang genap usia ku 20 tahun dan gelang dengan permata rubi telah nampak dan Aku telah menjadi kekasih dan akan menjadi istrinya juga.