Jika berbicara tentang IBU tidak akan pernah habisnya.Mahluk yang satu ini Masya allah luar biasa.Bisa di katakan wonderwoman di dunia nyata.Apalagi keahliannya bermacam-macam.
Mahluk yang di ciptakan dari tulang rusuk yang bengkok ini,selalu siap siaga bekorban apa saja demi buah hatinya.Dari melahirkan,menyusui serta membesarkan buah hatiya dengan kasih sayang.
Butir butir peluh mengalir di sekujur tubuhnya.Tak membuatnya putus asa untuk membesarkan putra putrinya.
Deraian kata doa selalu ia ucapkan saat bersujud kepada Sang Pencipta.Berharap nantinya buah hati yang ia sayangi menjadi hamba yang sholeh dan sholeha.
Begitulah yang di lakukan seorang ibu bernama Tari.Ia bekerja sebagai penjual Roti Keliling demi membesarkan buah hatinya bernama Tasya.
"Tasya,ibu berangkat dulu ya!" ucap Tari sembari mengecup kening putrinya.
Kala itu Tasya masih berumur 8 tahun.Dia mengantarkan putrinya hingga sampai di gerbang sekolah.
"Belajar yang rajin dan jangan nakal di sekolah". ltulah ucapan yang selalu ia ucapkan saat mengantar putrinya di Sekolah.
"Iya ibu",Tasya mencium pundak tangan wanita yang masih muda itu dan melambaikan tangan dengan senyuman.
Tari berjalan seperti biasanya.Ia berdagang Roti dari Pagi hingga Sore hari.Alhamdulillah Roti dagangannya selalu laris karna Rasanya enak serta pelayanannya ramah terhadap Pembeli.
Hari itu gemuruh petir menghampirinya tatkala ingin pulang ke rumah.Rasa khawatirnya bergejolak memikirkan putrinya sendiri di rumah.
Dia berlari hingga guyuran hujan membasahi tubuhnya.Terlihat putri sematang wayangnya sedang menunggu di depan pintu memeluk Boneka lusuhnya.
Tampak wajah Tasya yang ketakutan.Tari bergegas memeluknya meskipun pakaian sudah basah.
"Tasyaa!kenapa duduk di luar tanya ibunya.Tari masuk dan membersihkan diri di wc nya yang kumuh.
Dia memeluk putrinya kembali."Tasya takut bu,makanya Tasya menunggu ibu di luar."
"Yaudah,sekarang Tasya tidur ya!,Tari mengusap lembut putrinya hingga terdengar dengkuran kecil dari putrinya.
Ia meletakan kepalanya putrinya secara perlahan.Kemudian melanjutkan rutinitasnya membuat Roti.
Tahun berganti tahun, tanpa terasa putrinya kini menginjak kelas bangku SMA.
Tasya murid yang pintar sehingga ia mendapat beasiswa masuk ke Sekolah Menengah Atas tanpa biaya dari ibunya.
Tari sangat bangga pada putrinya.Senyum bahagia tampaksaat melihat anaknya kini mamakai Seragam bewarna Putih abu-abu.Rasa syukur kepada Sang Pencipta tidak henti-henti ia ucapkan.
"Bu,Tasya berangkat dulu".Mencium pundak tangan ibunya.
"Iya sayang,hati-hati di jalan ucap Tari dengan penuh kelembutan.
Tasya semakin jauh melangkah hingga pundak tak terlihat barulah Tari melakukan kegiatannya.
Seperti biasa ia berdagang dari Pagi hingga Sore.
Dia melakukan ini demi putri sematang wayangnya.
Suatu ketika ia mencoba berdagang tepat di Tasya menuntut ilmu.
Semua siswa di sana ternyata sangat menyukai Roti buatan bu Tari.
Tasya yang merasa malu memarahi ibunya berdagang di situ.
Dia membuang dagangan ibunya tanpa rasa kasihan,namun ibunya hanya tersenyum sambil memungut rotinya dan membawa pulang.
Sepanjang perjalanan cairan kristal bening itu terjatuh membasahi pipinya.
Keesokan harinya teman dekat Tasya bernama Nadia menghampirinya.Nadia anak dari seorang pengusaha yang hanya memanfaatkan Tasya sebagai alat untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
"Tasya,gue baru tahu kalau Lu itu anak tukang roti di jalanan itu,sebenarnya gue malu mau berteman sama Lu.Karna Lu pintar gue manfaatin Cetus Nadia.
Spontan membuat Tasya semakin kesal dengan ibunya.Di tambah lagi teman-temannya mengejek dirinya ANAK HARAM karna tidak memiliki orang tua.
Tasya berlari penuh amarah dan kekecewaan.Sampai di rumah ia melihat ibunya di dapur sedang membuat Roti.Tasya marah hingga ia membuang seluruh adonan ibunya ke lantai.
"Tasya apa yang kau lakukan.Ibu sudah bersusah payah untuk membeli bahan bahan Roti ini, tapi kau malah membuangnya lirih ibunya yang kecewa sikap Tasya yang sudah melewati batas.
Tasya membentak ibunya hingga tanpa terasa tangan ibunya menampar pipinya.Tasya geram dan marah.Rasa Kecewa membuta hati nuraninya.
Dia menolak ibunya dengan kencang hingga Tari terjatuh.Belumuran darah segar keluar dari kepala ibunya.
Bibinya datang dan berlari mendengar paduan suara dari arah dapur.
Tasya terduduk memeluk lutut,menangis memeluk ibunya.Bibi menatap Tasya dengan tatapan marah.
Mereka bergegas pergi menuju rumah sakit namun di sayangkan ibunya di jemput sang ilahi.
Bibinya menatap Tasya"Tasya apa yang kau lakukan pada ibumu?dia adalah sosok yang sangat menyayangimu.Bahkan rela menghabiskan waktunya hanya untukmu.Apa karna kau malu memiliki ibu seorang penjual Roti" bentak bibinya.
Tasya hanya terdiam seakan mulutnya sudah terbungkam tak bisa bicara.Bulir bulir Air mata penyesalan yang ia rasakan saat itu.
Bibinya mengoceh sesuatu dari tas kecilnya.
"Ambil ini,dan kau lihat betapa besarnya dia menyayangimu.Dia rela tidak menikah hanya karna takut kasih sayangnya terbagi.Dia rela di bilang Pelacur karna memiliki anak tanpa ayah.Apa kau puas "tegas bibinya.
Ternyata itulah buku tabungan yang ia kumpulkan untuk biaya kuliah Tasya.
"Yang lebih penting harus kau ketahui, kenapa kalau kau bertanya tentang ayahmu,ibumu selalu diam!itu karna kau adalah anak pungut yang ia temukan di tumpukan sampah" ucap bibinya lagi.
Hati Tasya bergemuruh,Rasa penyesalan tiada akhir yang ia rasakan.Malaikat tak bersayap kini telah pergi untuk selamanya.