Perjalanan kali ini terasa begitu berat dan melelahkan, terasa lama hingga berabad rasanya, inginnya segera tiba di tempat tujuan. Tak kuat lama lagi menahan rindu pada sesosok gadis cantik yang kuyakin kini sudah menunggu.
Hari ini, tepat hari ke dua puluh lima bulan Ramadhan, ingin rasanya segera tiba di tempat tujuan, fikiran melanglang buana, alangkah indahnya jika buka puasa hari ini batal hanya karena mencium pipi putih bak pualam miliknya. Tapi sayang beribu kali sayang, pagi-pagi sebelum menaiki bus jurusan tempat tinggalnya, aku sudah tak sabar untuk meneguk secangkir koffee pavoriteku. Ya sudahlah, toh kali ini aku akan melakukan perjalanan jauh, Ustadz Hanafi bilang kita boleh tidak melakukan puasa saat sedang musafir, tapi nanti harus di kodho tentu saja.
Meskipun kampung halamannya ada tepat di pesisian, tapi atas nama cinta, sejauh apapun dia berada tetap saja di datangi.
Arini. Gadis manis kembang desa, membuatku tak fokus jika sedang bekerja, dan malam hari bayangannya selalu hadir dalam mimpi.
"Maaf Mas, bisa tolong di matikan rokoknya? Selain banyak penumpang yang sedang berpuasa, juga asap rokok tidak baik untuk anak-anak dan Ibu hamil" tiba-tiba saja seorang kondektur bus mengingatkan, dengan pandangan mata mengarah pada Ibu hamil yang sedang mengelus perutnya, di sisi kirinya terlihat anak kecil yang tengah menatapku horor. Aku tersenyum kikuk sembari mematikan rokokku.
"Maaf Mas, lupa" aku tersenyum, meringis dengan tatapan seisi penumpang bus, apalagi perempuan yang kini tengah berada di sampingku, terlihat menatapku dengan tatapan jijik, aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Kebiasaan gak pernah puasa ya?" tanyanya dengan nada sinis.
"His! Enak saja! Baru sekarang saya tidak puasa! Terpaksa! Karena memang saya sedang bepergian jauh!" aku yang tidak terima dengan ucapannya, langsung menatapnya tidak suka, sedikit menaikkan nada suara, agar dia tidak berkelanjutan mengejek. Aku? Di bilang jarang puasa? Iya juga sih ... Kalo ngomong suka bener ni cewek.
Terbukti, perempuan di sampingku tak lagi banyak bicara, hanya mendengus kesal memalingkan wajahnya, lalu tatapannya terfokus pada pemandangan sepanjang jalan yang begitu indah.
Adzan dzuhur berkumandang, bertepatan dengan itu, bus berhenti di terminal, segera aku turun dari bus dengan langkah tertatih menahan pegal, perjalanan cukup jauh, wajar jika aku merasa tidak nyaman di sekujur tubuh.
Aku melanjutkan perjalanan menuju Desa si gadis cantik dengan menggunakan ojek yang sedang mangkal di terminal, hingga pada akhirnya aku tiba di sebuah rumah sederhana dengan taman kecil yang di tumbuhi bunga berwarna-warni, terlihat indah juga asri.
Arini dan kedua orangtuanya sudah menunggu di teras rumah, menyambutku datang dengan suka cita, oh ... Jelas aku akan langsung di angkat jadi mantu kesayangan, secara aku ini pria kota, dengan tampang rupawan, uang?? Jangan di tanya sebagai seorang karyawan pabrik, jelas, aku memiliki uang yang lumayan, jika di banding Buruh cangkul di kampung. Haha ... Setidaknya begitulah imageku di hadapan mereka, padahal ... Mereka tidak tahu saja, bahkan untuk ongkos berangkat ke kampung inipun aku harus ngutang pada teman.
"Bagaimana hari ini puasanya? Lancar?" tanya calon Ayah mertua, mulai membuka suara saat aku sudah duduk di sebuah kursi di ruang tamu, dari awal Ayah mertua adalah orang yang paling jeli menatapku dari atas hingga bawah.
"Insya Allah" aku mengangguk, dengan jawaban yakin, meski sejujurnya perut sudah keroncongan sedari tadi, bagaimanapun di hadapan calon mertua harus terlihat kalem dan alim.
"Wah ... Hebat banget nak Andi ini, meski dalam perjalanan jauh tapi masih berpuasa, pasti capek, jarang lho, pemuda seperti nak Andi ini di zaman sekarang" calon Ayah mertua berdecak kagum.
Kruuccuuukkk ...
Kkrruuccuuukkk ...
Duh!
"Hheee ... Bapak bisa saja" aku mengibaskan tangan sembari tersenyum malu-malu.
"Boleh saya numpang shalat dzuhur Pak?" tanyaku kemudian, untuk menyempurnakan image baik, tentu aku tidak boleh tanggung-tanggung dalam menjalani peran.
"Oh, tentu, silahkan. Jangan malu-malu nak Andi, duuhhhh ... Beruntungnya Arini mendapatkan pria se-shaleh Nak Andi ini" calon mertua semakin berdecak kagum, aku tersrnyum puas.
Berjalan menuju mushala kecil, yang tepat berada di belakang rumah. Menjalani shalat dzuhur yang sebenarnya akupun sudah lupa, kapan terakhir kali aku melakukannya, tapi ... Demi mendapat image baik dari calon mertua, shalat dzuhur yang biasanya Hanya lima menit, kini menjadi lebih dari setengah jam, sengaja di lama-lamain biar mendapatkan kesan sempurna di depan calon mertua. Haha.
Setengah jam kemudian, aku keluar dari mushala, tasbih masih di tangan, dengan mulut komat-kamit seperti membaca mantra sambil berjalan, sementara kain sarung dan peci milik calon ayah mertua yang tadi di pinjamkan masih pada posisinya, jika seperti ini, apa calon mertua tidak semakin merestui hubungan kami, jangan tanya Arini, aku yakin dia pasti sudah tergila-gila padaku.
Tapi, alangkah terkejutnya aku, kala melewati ruang makan, untuk menuju ruang tengah, kulihat calon Ayah mertua tengah menikmati sebatang rokok di dapur, dengan secangkir koffee yang masih mengepul, di temani sepiring goreng pisang yang masih hangat. Seketika aku menelan liurku kuat-kuat.
"Duh ... Maaf ya Nak Andi, Bapak sedang tidak puasa, kebetulan tadi Bapak sahurnya kesiangan" ucapnya tersenyum tidak enak.
"Hah??" aku tersenyum canggung sembari menatap nanar nasi putih yang masih mengepul yang sedang di kipasi oleh calon Ibu mertua. Wangi menyeruak, membuat perutku semakin keroncongan.
Glek!
"Iya, maaf ya A Andi, saya dan Ibu juga sedang tidak berpuasa, kebetulan lagi ada halangan" Arini datang dengan sepiring ikan bakar di tangan, lalapan dan sambal yang menggoda, ikut memenuhi meja makan.
Kkrruuccuukkkk
Duh ...
"Iya, gak apa-apa, silahkan di lanjut" ucapku sembari mengelus perut yang srmakin terdengar rusuh.
Mereka makan dengan damai dan nikmat, sementara aku hanya merutuki diri sendiri, kenapa juga aku tidak jujur saja tadi, kalau aku jujur mungkin aku bisa ikut makan bersama dengan mereka sekarang. Tapi ... Demi image baik, aku harus kuat!.
Alhamdulillah, akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba, adzan maghrib berkumandang, puasaku akhirnya bisa di katakan tamat, meski hanya dari dzuhur, he.
Arini sekeluarga semakin terkesan dan terlihat kagum karna akhlakku, aku bangga. Segala macam makanan sudah tersedia, dari mulai kolak, sop buah, marjan, kurma, dan makanan lainnya sudah bertumpuk di meja.
Dengan semangat empat lima, akhirnya aku mulai mengulurkan tangan untuk meraih syrup marjan dengan warna hijau menggoda, sesuai iklan di tipi, 'berbukalah dengan yang manis' haha.
Namun ... Belum sampai tangan ini meraih syrup tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara motor berhenti dari halaman depan, sontak kami semua saling tatap.
"Biar Arini yang bukain pintu" si cantik pujaan hati segera bergegas menuju pintu utama, tak lama terdengar teriakan merdunya.
"Ibuuuuu ... Ada Tante!"
Mendengar teriakan Arini, sontak Ibu dan Bapak Arini beranjak dari tempat duduk mereka, berjalan semangat, dengan senyum mengembang di bibir.
"Manda? Jam berapa dari kota? Kenapa tibanya malam?" terdengar suara calon Ayah mertua yang bertanya.
"Tiba di terminal sih dari dzuhur, cuman sengaja main dulu di tempat pariwisata, ketemuan dulu sama temen" terdengar jawaban perempuan mengalun merdu, suaranya semakin mendekat di iringi dengan ketukan sandal yang kian hampir tiba di dekatku.
Penasaran, akhirnya aku menoleh, tepat ke arah mereka berdiri.
Deg!!!
Dug!
Dug!
Dug!
Bukan suara bedug.
Tapi suara hati yang bertalu, Seketika, keringat dingin membanjiri seluruh tubuh. Ternyata orang yang di panggil Tante oleh Arini, adalah perempuan yang tadi siang duduk di sebelahku saat di bus kota.
Yassalaam.
Tulisan ini di tulis di tahun 2010😂