Kisah ini hanya lah fiktif belaka, kesamaan tokoh ataupun kejadian hanya lah karangan dari penulisnya.
***
Para penduduk di sebuah desa di dekat pegunungan awalnya hidup dengan aman dan damai. Sampai suatu ketika ada tragedi yang meresahkan kehidupan mereka.
Seorang putra kepala desa jatuh cinta pada seorang peri yang kebetulan sedang turun ke bumi untuk mengambil air dari mata air di pegunungan itu.
Putra kepala desa itu bernama Rafles dan Peri itu bernama Aurora. Pertemuan tidak sengaja mereka di tepi sungai membuat keduanya saling jatuh cinta.
Tapi tentu saja sebagai seorang peri, Aurora tidak di perbolehkan menjalin kasih dengan bangsa manusia.
Sang Raja peri pun mengutus orang untuk memisahkan putrinya dari Rafles. Aurora dengan seluruh kekuatan yang dia miliki berusaha untuk melindungi Rafles.
Tapi sebaliknya Rafles malah menyerah dan ingin meninggalkan Aurora.
"Apa kamu bilang?" tanya Aurora kesal.
"Kita memang tidak seharusnya bersama, aku tidak ingin kamu melawan ayahmu dan menjadi anak durhaka!" jawab Rafles.
"Tidak, kita harus memperjuangkan cinta kita, kita pasti bisa!" ucap Aurora bersi keras.
Tapi Rafles lebih memilih menyerah, dia juga tidak ingin sampai kedua orang tuanya juga semua saudaranya menjadi korban atas keegoisannya mempertahankan cintanya dan Aurora.
Meski Aurora bisa melindungi dirinya lalu bagaimana dengan keluarga dan seluruh penduduk desa.
Rafles memilih meninggalkan Aurora dan tak pernah pergi ke sungai lagi.
Aurora menantikan Rafles setiap hari ke tujuh namun Rafles tak pernah datang. Setahun kemudian Aurora menyempurnakan kekuatan nya agar bisa merubah wujudnya.
Akhirnya dia berhasil, dia menyamar sebagai seorang wanita sederhana seperti penduduk desa dan mencari Rafles.
Tidak di sangka, saat dia sampai di rumah kepala desa. Sedang ada perayaan kelahiran seorang bayi disana.
"Kita beri nama siapa anak kita ini, suamiku?" tanya seorang wanita di samping Rafles.
Aurora menangis melihat Rafles menggendong bayi laki-laki yang mungil dan mirip sekali dengannya itu.
"Kita beri nama putra kita ini Romero!" ucap Rafles tersenyum bahagia.
Istri Rafles yang sangat senang, memeluk suaminya itu hingga membuat amarah Aurora sampai pada puncaknya.
Dia berubah menjadi seekor naga raksasa dan membawa pergi Romero dari sana.
Rafles yang terkejut terjatuh dan tidak bisa berkata-kata.
"Kalian telah menyakitiku, kamu..." Aurora menatap istri dari Rafles.
"Telah merebut cintaku, sekarang aku akan memberikan kalian rasa sakit dan kehilangan yang sama yang kalian berikan padaku!" teriaknya lalu terbang pergi meninggalkan desa.
Para penduduk dan keluarga Rafles tidak bisa berbuat apa-apa. Mengejar nya pun percuma, naga jahat itu terbang menyebrangi lautan dengan sangat cepat.
Beberapa tahun kemudian, Romero tumbuh menjadi bocah kecil yang lincah dan periang. Aurora yang sesekali berubah menjadi manusia mengurus Romero dengan baik.
Awalnya dia ingin menghabisi Romero tapi melihat Romero bayi tersenyum padanya, hatinya menjadi luluh dan tidak tega.
Sementara itu keluarga Rafles tidak menyerah mencari Romero, karena setelah peristiwa itu Rafles tidak bisa mempunyai keturunan lagi.
Rafles menemukan seorang penyihir yang sangat kuat dan hebat yang mengetahui dimana keberadaan putra nya Romero.
Dengan cepat Rafles membawa penyihir itu dan pasukannya hendak menyerang Aurora.
Mereka tiba di pinggir danau, di mana Aurora tinggal bersama Romero.
Romero yang kebetulan keluar bermain tidak sengaja menabrak Rafles.
Melihat Romero, Rafles seperti melihat dirinya sewaktu kecil sama persis.
"Romero!" panggil Aurora.
Aurora sangat terkejut melihat Rafles. Aurora lalu berubah menjadi seekor naga dan mengamuk hendak mengusir semua orang dari wilayahnya.
"Jauhi mereka Romero!" teriak Aurora.
Ketika Romero ingin memberontak dan melawan Rafles.
"Romero, aku ayahmu dia adalah naga yang jahat, lihatlah dia mencelakai semua orang!" papar Rafles.
"Tidak, dia ibu ku! dia yang sudah merawat ku dan memberi ku makan!" ucap Romero lalu berlari ke arah Aurora.
"Dasar naga jahat, rasakan ini!" ucap sang penyihir lalu mengarahkan tongkat sihirnya yang memancarkan cahaya biru ke arah Aurora.
Aurora kesakitan dan terbangnya tidak stabil.
"Kalian yang jahat, ibu tidak jahat...!" teriak Romero.