Kata orang hidup adalah sebuah perjalanan dan perjuangan, perjuangan panjang yang kita lalui dan tak bisa kita tebak kapan perjuangan panjang itu kan berakhir.
Seorang gadis tengah menatap lurus ke arah langit, rupanya ia sedang memandangi semburat jingga di langit yang muncul di ufuk senja. Setetes air mata tanpa sadar jatuh membasahi pipinya yang mulai menirus. Tangannya yang di pasangi selang infus membuatnya tak dapat bergerak bebas, ia merasa kebebasan mulai terenggut dari kehidupannya. Ia menyalahkan dunia atas apa yang telah menimpa dirinya, keadaannya saat ini membuat dirinya marah dan merutuki takdir yang tak pernah berpihak padanya.
Gadis itu menghela nafasnya pelan, rasa sakit yang mendera kembali terasa perlahan namun pasti. Gadis itu berusaha menahan rasa sakitnya, dengan cara menyemangati dirinya sendiri agar ia bisa kuat menjalani kehidupan meskipun sejatinya ia tetap merasa bahwa hidup tak adil padanya.
Harapannya telah pupus sudah, ia tak mau lagi bermimpi dan beranggan mengingat bahwa kehidupannya tak lagi lama. Gadis itu tersenyum miris serta menatap nanar sinar jingga yang berasal dari matahari senja yang akan tenggelam dan berganti menjadi malam.
"Mengapa hidup tak pernah adil padaku?" tanya gadis itu kepada dirinya sendiri, tangannya mencengkram kuat pakaian rumah sakit yang saat ini ia kenakan. Rasa sakit itu kembali datang, membuatnya semakin pupus akan harapan.
"Kamu tidak sendiri."
suara dari arah belakang membuat gadis itu tersentak, ia segera menghapus air matanya lalu membalikkan badan. Ia melihat sosok laki-laki dengan selang infusan sama seperti dirinya saat ini.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya laki-laki itu sambil menunjuk bangku kosong di samping gadis itu.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa berniat membalas ucapan laki-laki itu.
"Nama saya Rey, namamu siapa?" tanya laki-laki itu saat sudah duduk di sebelah gadis itu.
"Key," jawab gadis itu singkat, ia memperkenalkan namanya sebagai Key.
laki-laki bernama Rey itu mengangguk, lalu tersenyum dan mengikuti arah pandang gadis di sebelahnya yang baru ia ketahui bernama Key.
"Apa artinya hidup menurutmu?" tanya Key tiba-tiba membuat Rey menoleh ke arahnya.
"Hidup itu ... seperti matahari dan bulan," jawab Rey membuat dahi Key berkerut bingung mendengarnya.
"Mengapa begitu?" tanya Key tak mengerti.
"Hidup seperti matahari, matahari selalu terbit tiap pagi di setiap harinya. Melaksanakan tugasnya dengan baik, hingga saat senja tiba dan tugasnya akan segera berakhir matahari bersiap untuk pergi karna ia tau bahwa tugasnya sudah berakhir namun matahari tak menyesal karna sebelum ia pergi ia meninggalkan begitu banyak manfaat untuk manusia di bumi berkat cahayanya. Lalu selain matahari, ada juga bulan. Bulan menggantikan posisi matahari, meski tugasnya hanya sebentar tak selama matahari namun Bulan tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia tetap menyinari langit malam dan bulan tak sendiri ada bintang yang menemaninya, keduanya hanya berbinar sebentar setelahnya mereka akan hilang saat tugasnya sudah terselesaikan."
Key diam mendengarkan penuturan Rey perihal hubungan matahari, bulan, dan juga bintang.
"Lalu inti dari semua itu apa? Hubungannya matahari, bulan, dan bintang dengan kehidupan apa?" tanya Key yang tidak ingin menggambil kesimpulan secara sepihak.
Mendengar pertanyaan Key, Rey tersenyum lembut padanya sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan perkataannya..
"Jika matahari, bulan, dan juga bintang diibaratkan seperti sebuah arti kehidupan. Yang di mana kita sebagai manusia tak tau kapan masa kita di bumi ini akan berakhir, namun kita juga sebagai manusia dan sebagai mahluk hidup mempunyai tugas yang harus kita emban sebagai seorang mahluk. Tugas kita sebagai manusia yaitu bersyukur, bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita di setiap harinya. Selain itu hidup juga adalah perjuangan, kita hidup sejatinya tak pernah lepas dari kata perjuangan. Banyak hal yang kita perjuangkan dalam hidup ini, walaupun kita tau bahwa waktu kita tidak tau kapan tugas kita akan berakhir namun tugas kita pasti akan berakhir bukan? sama seperti matahari, bintang, dan juga bulan yang tugasnya berakhir namun tugas mereka tidak berakhir dengan kesia-siaan. Mereka menebarkan manfaat untuk orang banyak, sama seperti kita yang harus bisa menebarkan hal-hal bermanfaat untuk orang di sekitar kita hingga saat tugas kita berakhir kita dapat terkenang di hati mereka, entah sebagai apa namun semoga kita di kenang sebagai sosok yang bermanfaat seperti matahari, bulan, dan bintang," jelas Rey yang seketika mampu membungkam mulut Key.
Key menunduk, punggungnya bergetar dan Rey tau bahwa gadis di sampingnya saat ini sedang menangis. Rey hanya diam tak berniat bertanya apa-apa pada Key, Rey hanya ingin memberikan ruang pada Key agar gadis itu bisa melepas segala beban di hatinya karna tak selamanya menangis itu tanda bahwa kita lemah. Justru dengan menangis segala beban di hati, bisa terasa lega kembali.
"Aku sadar selama ini aku sudah terlalu lelah pada hidupku, aku selalu mengeluh dan mengeluh karna penyakit yang ku derita. Aku tidak pernah berfikir dan menjadikan kelemahanku ini sebagai sumber kekuatanku agar lebih kuat lagi menjalani kehidupan dan lebih sabar menjalani tugas yang di embankan kepada diriku selaku mahluk hidup. Aku sadar bahwa hidupku sebenarnya tidak terbebani, yang membuat beban di hatiku sebenarnya hanya stigma negatif yang selalu aku tanamkan pada diriku bahwa cepat atau lambat aku akan pergi tanpa berfikir setelah aku pergi mereka akan mengenangku sebagai apa? dan apa manfaat yang telah aku berikan pada orang-orang di sekitarku? sungguh terimakasih banyak sudah menyadarkan diriku," kata Key dengan begitu tulusnya pada Rey.
Rey tersenyum mendengarnya, ia merasa senang dirinya bisa bermanfaat dengan orang di sekitarnya. Menebar hal positif pada mereka agar lebih bisa memaknai kehidupan, agar lebih bersyukur lagi pada hidup yang telah Tuhan berikan, dan selalu menebar kebaikkan dimanapun, kapanpun, serta siapapun itu.
Melihat senyuman yang sudah terukir di wajah Key membuat Rey ikut tersenyum bahagia, hari ini ia sudah menebarkan kebahagiaan dan hal positif pada seseorang, ia harap seterusnya akan seperti ini. Menebarkan kebaikkan dan hal-hal positif kepada semua orang hingga sampai pada tugasnya harus berakhir kelak.
Pesan moral: Teruslah berbuat kebaikkan di muka bumi ini, karna kita tidak pernah tau kebaikkan mana yang akan mengantarkan kita pada akhir tujuan hidup kita yaitu Jannah. Semoga kita senantiasa bisa lebih lagi mensyukuri hidup, lebih mencintai diri, dan menebar kebaikkan serta hal-hal positif kepada orang-orang di sekitar kita seperti pepatah mengatakan "apa yang kita tabur itulah yang kita tuai." seperti itulah hidup jika kita menebar kebaikkan, maka akan berbuah kebaikkan jua, so jangan bosen ya untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja^^