Wanita yang selalu ceria, menyapaku tanpa ragu. Sering kali aku mengabaikannya, bahkan terkadang aku tak segan untuk mengusirnya. Dia yang selalu memberikan senyum cerah, hingga hati ku yang beku perlahan mulai mencair. Bersama dengan waktu aku mulai terbiasa dengan keberadaannya, membicarakan hal-hal tidak penting. Sangat menyenangkan dan hangat. Aku mulai memiliki beberapa teman lainnya, tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh ku bahwa hal ini bisa terjadi. Aku yang dulu mungkin akan menganggap hal ini adalah sebuah kemustahilan. Gadis cantik dengan mata bulat berwarna hitam pekat itu yang membuat semua hal ini terjadi. Rambut hitam panjang yang selalu ia ikat rapi, seragam yang tak pernah kusut, suara yang selalu memanggil ku dengan hangat. Hingga aku tak percaya dengan pemandangan yang ada di depan ku saat ini.
Gadis ceria yang selalu menggangu ku, seolah-olah tenaga yang ia punya tak akan habis walau ia melompat kesana-kemari sepanjang hari. Kenapa... benarkah yang aku lihat ini, benarkah gadis itu adalah dia.
“ren” suara lembut itu menyadarkan ku.
“ra, i.. ini”
“iya”
Rasanya seperti ditampar ribuan tangan, seperti mimpi. Namun tak bisa di pungkiri bahwa gadis yang terbaring lemah di depanku kini adalah dia.
“sejak kapan?”
“sejak libur semester”
“kenapa tidak ada kabar sama sekali, bahka lo gak..”
“ini permintaan tia”
Aku membeku sesaat, berbagai pertanyan muncul di benakku. Kenapa ia tak ingin aku tahu kondisinya, sejak kapan ia seperti ini?. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Namun kedua mata itu enggan terbuka, di tubuhnya terpasang alat bantu pernafasan, dan terdapat selang infu di lengan kirinya. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, rambutnya tergerai dan sedikit berantakkan.
Aku menatap lekat wajah gadis itu, sesaat kemudian aku melihat kelopak matanya bergerak.
Melihat kedua mata itu terbuka ingin rasanya bibir ini mengucap berbagai pertanyaan yang ada di kepala.
“ren”
Aku kembali membeku, ia benar-benar gadis itu. Senyum hangat yang aku lihat ini adalah buktinya.
“maaf tia, aku yang..”
“sudah ra, gak apa-apa kok”
“tia, lo kenapa” Sebisa mungkin aku menyembunyikan nada kesedihan yang ada.
“aku gak papa ren, penyakit ku cuman lagi kambuh aja”
Ya tuhan ingin sekali rasanya aku memeluk gadis itu. Ia tampak tegar dan baik-baik saja, bagaimana bisa ia terlihat begitu tenang.
“gua permisi sebentar”
Aku pergi dari ruangan itu, air mata ku mengalir dengan sendirinya. Tak lagi ku hiraukan pandangan orang-orang yang ada di sana. Rasa sesak memenuhi ku, nafas ku tak lagi beraturan.
“ren”
“ ra, sejak kapan. Sebenarnya tia kenapa?” aku berusaha mengatur nafas ku
“meningitis”
“apa!” aku kembali di hempas oleh kenyataan
“gua juga baru tahu beberapa bulan yang lalu ren”
“kenapa bisa separah ini”
“meningitis tia juga menyerang sumsum tulang belakangnya” rara tak dapat menahan air matanya lagi. Ia menagis sesegukan di samping ku.
“ra, orang tua tia kemana”
“Papa sama mamanya tia udah cerai 6 bulan lalu”
“lo udah kasi kabar ke mereka, mereka di mana sekarang”
“udah, mama tia nitip tia ke gua. Dia cuman rutin kirim uang ke gua buat pengobatan tia”
“lalu papanya”
“gua gak tahu”
Setelah percakapan itu berakhir hanya ada keheningan di antara kami. Mungkin rara sama seperti ku, ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Kami sibuk dengan fikiran kami masing-masing. Setelah keadaan mulai tenang rara kembali kedalam ruangan, dan aku masih sibuk dengan berbagai macam hal yang ada di kepala ku.
Jika 6 bulan lalu berarti saat awal semester. Jujur saja, aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan tia saat itu, bagaimana bisa gadis itu tetap tersenyum ceria di sekolah. Bahkan sekarang tak ada keluarga yang mendampinginya.
“tia, kenapa. Kenapa kamu gak pernah kasi kesempatan untuk kami” gumamku.
Aku melangkahkan kaki ku kembali keruangan tempat tia di rawat. Mata ku tak bisa lepas dari tia, aku melihat gadis yang kini tampak sangat rapuh itu terseyum.
Para gadis itu berbisik-bisik. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan, tampaknya seru sekali. Tia sampai tertawa seperti itu, ah membuat penasaran saja.
“gua pamit ya. Ren jagain tia”
“lo mau balik”
“iya, gua ada urusan bentar”
“ok, hati-hati”
Ruangan itu di landa kesunyian sesaat setelah rara pergi. Aku mencoba memulai percakapan, sekaligus untuk menuntaskan rasa penasaran ku.
“lo bisik-bisik apa tadi, kayanya seru banget”
“ah, itu rara bilang kalo kamu macam-macam aku tinggal tekan tombol, nanti biar suster yang hajar kamu”
Dasar rara emang aku cowo apaan, ah tapi tak apa setidaknya tia bisa tertawa. Senang rasanya melihat tia ceria seperti ini.
Pagi telah terlewati, berganti dengan mentari yang kini berada tepat di atas kepala. Sesekali aku melihat tia menahan rasa sakit, sungguh jika aku bisa bertukar posisi aku tak keberatan. Ada rasa nyeri yang menyerang dada ku saat melihatnya menahan rasa sakit. Dan lagi-lagi tia meyakinkan ku bahwa ia baik-baik saja. Meski aku tahu itu hanya kata-kata penghibur untuk ku, dan bagi ku tak ada alasan untuk membuat dia terbebani oleh kekhawatiran ku.
Senja telah turun dari tahtanya, berganti dengan langit malam yang semakin pekat. Kedua mata gadis itu kini terpejam. Mungkin dia lelah karena meladeni ku seharian ini. Aku kembali memandangi tia yang kini telah tertidur lelap, dan selalu saja ada gangguan yang datang. Ponsel ku berdering, ada panggilan masuk dari rara. Aku keluar dari ruangan tia, aku tak ingin mengganggu tidurnya.
“halo ren”
“iya”
“lo masih dirumah sakit”
“iya”
“lo udah ngabarin orang tua lo kan”
“iya”
“tia udah tidur belum”
“udah, tia baru aja tidur”
“o... udah ya gua tutup, Da...”
Rara tak memberikan kesempatan untuk ku menjawab, ia langsung memutus sambungan telfon. Aku kembali ke ruangan tempat tia di rawat. Aku berjalan menuju sofa yang berada di sudut ruangan, membenamkan diriku dalam-dalam disana. Tak lama kemudian rasa kantuk menghampiri ku. Aku terlelap di atas sofa panjang berwarna coklat itu.