13.42 KST
Siang ini, matahari sedang bersembunyi dibalik awan abu-abu dilangit. Setelah hujan deras tadi, jalanan mulai dipenuhi oleh beberapa genangan air. Begitu pula trotoar yang juga ikut basah terkena air hujan atau pun terkena cipratan mobil yang tidak sengaja melewati genangan air tadi.
Di jam seperti itu, banyak mobil berlalu lalang sembari menekan klakson saking ramainya jalanan itu. Para pejalan kaki pun juga terlihat mulai melepas mantel dan menutup payungnya. Berharap hujan akan benar-benar berhenti setelah ini. Semoga saja.
Nampak seorang pemuda tampan berbibir cukup tebal sedang berjalan disela-sela para pejalan kaki tadi. Dengan topi putih dikepalanya, ia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa. Udara siang ini lumayan dingin. Beruntunglah pemuda tadi masih menggunakan hoodie tebal yang berwarna senada dengan topinya. Tak lupa sebuah buku notes bersampul navy yang senantiasa berada didalam pelukannya sedari tadi.
Tinggal melewati perempatan didepan, pemuda itu akan sampai di tempat tujuannya. Sebuah rumah besar yang didominasi warna putih gading, itulah tujuannya.
Tok...tok...tok
"Aku pulang..." Ucapnya lirih. Well, walaupun ia sedang sendirian, pemuda itu tidak pernah lupa untuk mengucapkan salam ketika hendak masuk kedalam rumah.
Ia berjalan menuju lantai atas. Atau lebih tepatnya ke kamarnya. Setelahnya ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Hari benar-benar hari yang melelahkan. 'Dasar bodoh...' batinnya.
Prang!
Sebuah vas kaca cantik yang awalnya berada diatas nakas, kini terjatuh dan berubah menjadi pecahan-pecahan kaca tak berguna diatas lantai. Siapa lagi pelakunya jika bukan pemuda tadi. Hanya dengan satu gerakan, pemuda itu berhasil memecahkan vas kaca berisi bunga lili putih yang indah.
"Kenapa dia bisa mencetak poin sempurna sementara aku tidak?" Ujar pemuda tadi dengan tangan bergetar.
"Seharusnya aku tidak pernah mengajak dia sebagai pemain pengganti. Ini semua salahku..." Tubuhnya merosot turun ke lantai. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Ia tidak ingin menangis, namun matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Aku menyesal sekarang..." Suara pemuda tadi terdengar semakin pilu.
"Apa aku kurang cukup berlatih? Tapi... Aku sudah melakukan semua hal. Aku juga sudah berlatih, bahkan weekend sekalipun. Apa pergi ke gym juga masih kurang cukup?" Tangan kanannya bergerak perlahan mengambil pecahan kaca yang berada tepat dihadapannya. Entah apa yang ia pikirkan sekarang, tapi sepertinya hal itu benar-benar dapat mengganggu ketenangannya.
"Satu goresan... Tidak masalah. Dua goresan... Itu terlalu sedikit."
"Nah... Seperti ini baru benar." Sambungnya.
Ternyata, tujuan pemuda tadi memecahkan vas bunga itu adalah sebagai alat untuk melukai tangannya sendiri. Atau, orang-orang biasa menyebutnya 'insekyur'(?)
"Bajing*an.... Sepertinya kata itu sangat cocok untukmu..." Ia menatap goresan ditangannya sembari mengulas senyum.
"Aku sangat ingin menjadi diri sepertimu, Seo Changbin. Aku sangat iri padamu." Setetes demi setetes darah mulai mengalir mengotori lantai. Tentu saja itu adalah darah yang berasal dari tangannya. Dan untuk Seo Changbin... Dia adalah 'bajing*an' yang dimaksud oleh pemuda bermarga Lee itu.
"Yah.... Aku iri padanya..." Seakan tak peduli dengan luka yang kemungkinan besar akan membekas itu, Hyeop malah semakin meraung-raung tidak jelas di kamarnya. Hanya dengan melihat tangisan yang keluar dari mata Hyeop, dapat dipastikan semua orang yang melihatnya juga akan ikut menangis.
"Tuhan, apa aku bisa menjadi setengah dari Changbin? Setengah saja... Hanya setengah Tuhan... Hanya dengan setengah itu saja aku bisa bahagia." Suara Hyeop terdengar semakin melirih sekarang.
"Hahahaha Kau sudah gila Lee Hyeop. Kau benar-benar sudah gila hahaha." Kini suara Hyeop yang semula terdengar sangat gusar, digantikan dengan suara tawanya yang cukup nyaring. Beruntunglah tidak ada yang mendengarnya, jika tidak bisa-bisa dia akan dikatakan 'gila' asli.
"Kamu memang gila, karena dengan bodohnya kamu membedakan dirimu dengannya." Seulas senyum manis terukir indah diwajah Hyeop. Entahlah, sepertinya dia mulai melupakan masalahnya setelah menyakiti dirinya sendiri.
🌹🌹🌹
"Astaga nak... Kamu kenapa sayang?" Tanya Nyonya Lee ketika melihat putra bungsunya itu terlihat sangat pucat.
Hyeop tidak membalas pertanyaan sang ibu. Dia tetap mengulas senyum manisnya. Sangat manis. Apalagi kini ia sedang memakai piyama berwarna coklat susu favoritnya. Tak lupa sandal berwarna putih yang senada dengan warna motif polkadot dipiyamanya.
"Hyeop cuma kekelahan saja ma." Jawab Hyeop. Namun sepertinya Nyonya Lee merasa ragu dengan jawabannya Hyeop.
Kini keduanya sedang duduk disofa ruang tamu sembari menonton televisi. Suaranya benar-benar hening sekarang. Hyeop sibuk dengan drama western yang ditayangkan di televisi. Sementara Nyonya Lee, dia sibuk memandangi putranya.
Nyonya Hyeop tahu anaknya itu sedang dalam masa 'tidak baik-baik saja' sekarang. Terlihat jelas dari ekspresi Hyeop yang tidak pandai berbohong.
"Hyeop-ah? Apa kamu sedang ada masalah?"
"Kan aku sudah bilang tadi ma, aku baik-baik saja..."
"Lee Hyeop-ssi. Mama sedang bertanya serius padamu." Nyonya Lee segera memposisikan tubuhnya untuk menghadap langsung ke arah putranya. Dengan tatapan serius Nyonya Lee berkata, "Jujur pada mama, kamu sedang ada masalah apa?" Nyonya Lee menurunkan nada suaranya.
"Kamu anak mama Hyeop. Tidak ada yang bisa kamu sembunyikan dari mama." Tangan lembut Nyonya Lee mengelus pucuk kepala Hyeop.
"Jangan buat mama terlihat seperti orang tua yang acuh kepada anaknya. Yang bahkan masalah anaknya pun dia tak tahu."
Grep!
Lee Hyeop, pemuda itu memiliki hati yang lembut. Ia benar-benar tipe pemuda yang sensitif. "Udah ma... Jangan diterusin... Hyeop gak mau mama sedih..."
"Hyeop enggak ada masalah. Cuma akhir-akhir ini banyak yang jadi beban pikiran Hyeop."
"Kalo gitu cerita ya sama mama. Siapa tau mama bisa bantu Hyeop ngurangi beban pikiran Hyeop." Nyonya Lee membalas pelukan yang Hyeop berikan padanya. Sudah lama ia tak pernah merengkuh tubuh kecil itu.
"Mama rindu sekali sama pelukan Hyeop. Mama rindu Hyeop yang selalu manja sama mama. Maaf ya mama selalu sibuk sama pekerjaan dan malah acuhin kamu."
'Hyeop juga rindu sama mama.' batin Hyeop yang sekilas mendengar suara bisikan mamanya.
"Ya sudah. Sekarang cerita ya sama mama." Nyonya Lee melerai pelukannya dengan Hyeop. Iris coklatnya menatap sang anak dengan tatapan teduh.
'Harus kumulai dari mana ini?'
"Sejak satu minggu yang lalu... Hyeop mulai ngelukain tangan Hyeop sendiri." Hyeop mulai bercerita dengan suara lirihnya. Walaupun sedikit gemetaran, Hyeop berusaha menggulung lengan piyamanya hingga nampak sebuah bekas sayatan ditangannya. Darahnya memang sudah bersih, hanya tinggal beberapa bekas yang tentunya akan hilang dalam waktu yang bisa dikatakan lama.
"Ya Tuhan... Hyeop-ah, kenapa kamu ngelakuin ini nak?" Telapak tangan lembut Nyonya Lee bergerak menyentuh bekas goresan ditangan putranya itu. "Kenapa kamu nyakitin diri kamu sendiri?" Tiba-tiba Nyonya Lee seperti ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Hyeop.
"Hyeop merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan sama teman Hyeop." Pemuda itu mulai menceritakan awal kisahnya.
"Hyeop iri sama dia yang bisa jadi pemain hebat padahal baru sehari bermain. Hyeop iri banget." Ucap Hyeop. Ia menundukkan kepalanya agar terhindar dari kontak mata dengan sang mama. Dia menjadi sedikit ragu untuk bercerita.
"Hyeop pengen banget jadi seperti dia. Biar Hyeop gak iri lagi." Jari jemari panjangnya mulai meremas ujung piyamanya. Ia takut mamanya akan memarahinya karena melakukan hal bodoh seperti ini.
"Rasa iriku semakin membesar saat melihat dia berhasil masuk tim basket utama dan membuatku menjadi pemain cadangan."
"Jika Tuhan mengizinkan..." Pemuda bersurai hitam legam itu menggantungkan kalimatnya. Dengan berani ia mendongakkan kepala menghadap sang mama.
"Aku ingin menjadi sepertinya... Walau hanya setengah." Lirih Hyeop kemudian menunduk kan kepalanya lagi.
Hyeop berusaha menceritakan segala hal yang menggangu pikirannya akhir-akhir ini. Dari awal hingga akhir. Dari awal ia mengajak Changbin untuk ikut menjadi pemain pengganti, hingga tahap dimana ia disingkarkan karena Changbin. Semua ia ceritakan. Tanpa menutup kebenaran sedikit pun.
Setidaknya Hyeop merasa sedikit lega sekarang. Ia senang memiliki teman bicara, walaupun itu mamanya sendiri.
"Jadi... begitulah..." Ucap Hyeop diakhir ceritanya. Tak lupa ia mengakhirinya dengan menggerakkan bahunya keatas.
"Tapi Hyeop sekarang sudah sadar kok. Itu salah. Dan Hyeop janji tidak akan mengulanginya lagi."
Akhirnya. Satu hembusan nafas panjang berhasil keluar dari mulut Hyeop. 'Kamu sudah mulai tumbuh dewasa Hyeop. Mama Bangga sama kamu.'
🌹🌹🌹
17.04 KST
"Jangan gitu lagi ya... Jangan diulangi lagi." Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Nyonya Lee setelah ia selesai menyimak cerita Hyeop.
Nyonya Lee merasa senang karena putra bungsunya itu mau bercerita kepadanya. Bahkan mereka mengakhiri sesi curhat ini dengan menghabiskan teh hijau bersama sambil melanjutkan menonton drama western ditelevisi. Setidaknya hal sesederhana itu bisa membuat mood Hyeop naik. Sekarang ia bisa tersenyum tulus dan tertawa lepas.
'Membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain itu... Sangat. Tidak. Berguna.' Ditengah-tengah drama, tiba-tiba Hyeop teringat dengan perkataan mamanya tadi. Memang benar adanya, hal itu sangat tidak berguna.
"Jangan ngelakuin itu lagi. Ini terakhir kalinya kamu kayak gini." Hyeop menoleh kearah mamanya yang tengah sibuk dengan drama, "Kamu hanya perlu jalan kamu sendiri." Kata Nyonya Lee.
"Walaupun kamu sebenernya enggak mau..."
"Tapi secara tidak langsung, kamu pasti bakalan beda-beda in diri kamu sendiri sama orang lain."
"Melangkah lebih dulu, bukan berarti kamu bakal tiba pertama, nak."
"Amati dari jauh, lalu manfaatkan waktumu."
"Tidak perlu terburu-buru, ini adalah jalanmu...." Sejenak Nyonya Lee menggantungkan ucapannya dan kembali menatap Hyeop.
"Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain."
Tangan lembut milik Nyonya Lee kembali terulur untuk mengelus pucuk kepala Hyeop. Ia juga meninggalkan sebuah kecupan singkat dirambut anaknya. Ia bisa mencium aroma mint, sangat menyegarkan.
"Tidak masalah kalau kamu berlari perlahan."
"Ikuti saja jalurmu."
"Santai saja..." Hyeop terkekeh ringan ketika mendengar mamanya menyebutkan kata 'santai' dengan menggerakkan tangannya seperti ombak. Terlihat meliuk-liuk walaupun sangat kaku.
Walaupun mamanya berprofesi sebagai wanita karir, Hyeop bersyukur mamanya masih mau memperhatikannya. Dan inilah buktinya, ia masih aku meluangkan waktu hanya demi menemani Hyeop yang sedang gelisah.
"Cukup fokus ke depan dan lari."
Hyeop menganggukkan kepalanya. Kali ini ia setuju dengan ucapan mamanya.
Tak peduli badai menghadang. Tetaplah fokus ke depan dan berlatihlah mengejar impian.
"Kamu siap kan?" Tanya Nyonya Lee. Namun yang ia dapatkan malah sebuah ekspresi kebingungan dari Hyeop. Aih... Sepertinya Hyeop tidak faham maksud Nyonya Lee.
"Untuk?" Nah... Hyeop malah balik bertanya. Ditambah raut wajahnya yang lebih nampak seperti seseorang yang tengah melakukan aegyo dengan mata yang sengaja ia kerjap-kerjapkan.
Nyonya Lee sangat bersyukur kepada Tuhan hari ini, kemarin, dan seterusnya. Sungguh, ia bersyukur sudah diberi kepercayaan Tuhan untuk melahirkan, merawat, dan menjaga Hyeop. Dan sekarang waktunya Nyonya Lee menjawab pertanyaan Hyeop, "Apa kamu siap untuk belajar menghargai dirimu sendiri mulai sekarang?"
"Tentu saja... Aku siap!"
🌹🌹🌹