Aku hanyalah seorang pengkhayal yang sering memikirkan tentang dirimu. Tentang bagaimana bisa mendapatkanmu dengan mudah. Berharap kamu ada di sini bersamaku. Namun, yang bisa ku lakukan hanyalah menuangkan kata-kata tak bersua dalam secarik kertas.
5 tahun hanya memandangmu dari jauh tanpa bisa mendekat seperti mereka. Dengan mudahnya berada di sampingmu lalu tertawa bersama. Memendam perasaan selama itu dalam diam ternyata tidaklah mudah. Layaknya bulan yang mengagumi matahari, Kamu bersinar untuk semua orang dan aku hanya menerangi diri sendiri di kegelapan.
Bulan Mei tepatnya pada tanggal 5 hujan datang mengguyur kota. Hari itu aku kembali melihatmu tengah tersenyum. Walaupun ku tahu senyum itu bukan untukku. Tapi, untuk dia yang selalu berada di sampingmu. Seorang gadis yang baru 5 bulan kamu kenal. Dia gadis yang cantik memiliki selung pipit dikedua pipinya. Sedangkan aku hanya gadis biasa yang tidak terlalu menonjol di sekitarmu. Bak angin lalu kehadiranku mungkin tidak pernah terdeteksi.
Takdir menyatukan yang jauh dan memisahkan yang dekat. Hanya dalam jarak 5 meter aku kembali mengagumimu dalam diam.
Pernah di satu waktu ketika hujan datang kala menyatukan kami berdua. Aku dan dia berteduh di halte bus menunggu hujan reda. Ku rasakan jantung bertalu dengan kencang. Berharap saat itu waktu berhenti berputar. Hanya 5 menit, aku membutuhkannya. Apa dia mendengar detak jantungku? Ku lirik dia dari sudut mata yang tengah menengadah ke atas langit.
"Kapan hujannya berhenti?"
Apa aku tengah bermimpi? Dia bergumam atau bertanya padaku? Ku tengokan kepala tepat menghadapnya dan dia pun melakukan hal yang sama. Seketika pandangan kami bertemu lalu dia menyunggingkan senyum manisnya.
Deg....!! Senyum itu. Senyum lima jari yang ingin ku lihat kini ia berikan 'Tuhan, apa aku sedang tidak bermimpi? Dia memberikannya? Jika pun ini mimpi jangan bangunkan aku dan berharap ini tidak pernah berakhir.' Hanya 5 menit aku sangat membutuhkannya.
"Menyebalkan bukan? Hujan, membuatku basah," dia berbicara padaku. Yah dia benar-benar bicara padaku lagi setelah kita berpisah satu tahun lalu. Ketika kita masih 1 kelas dia memang sering berbicara denganku. Namun, setelah tahun berganti dan kita tidak satu kelas lagi dia seperti orang asing.
Aku tersenyum melihat tetesan air hujan yang entah kapan akan berhenti, "menurutku tidak. Hujan sebuah anugrah yang telah Tuhan berikan. Berkat hujan perasaan seseorang bisa lebih baik dan lebih dekat."
"Hanya 5 menit saja biarkan seperti ini," batinku lagi.
Dia berkata, "kamu gadis yang unik, sudah lama kita tidak berbicara seperti ini." Aku berpaling padanya dan tatapan kami bertemu kembali mengunci satu sama lain. Seketika itu juga hujan bertambah deras.
Apa bulan tidak bisa mendekati matahari? Walaupun bisa apakah menggelapkan sekitarnya?
Setelah hari itu, aku kembali menemukan dia bersama gadis yang selalu berada di sampingnya. Berparas cantik, pintar memang lebih cocok bersanding dengannya. Sakit memang memikirkan hal itu. Namun, mau bagaimana lagi memang terkadang pangeran berkuda putih harus bersama putri yang menawan.
Seseorang yang ku kagumi adalah sosok pemuda populer di sekolah. Dia memiliki hobi bermusik dan terkadang semua gadis terpesona dengan auranya saat ia tengah memegang alat musik. Di antara banyaknya gadis yang terperosok dalam kehebatannya salah satunya adalah aku. Namun, aku berbeda dengan mereka. Hanya bisa memendam dalam diam dan memperhatikannya dalam persembunyian.
Hingga 5 tahun lamanya kita berpisah dan hari itu akan menjadi kenangan berharga.
***
Aku pikir tetasan air yang jatuh dari langit menandakan seseorang tengah terluka dan langit ikut menangis. Juga mendungnya langit menggambarkan hati yang sedang sendu. Hujan selalu datang saat air mata terjatuh. 5 tahun yang berharga ku lewati dengan suka dan duka. Sekarang hanya ada ketakutan. Bagikan siang hari yang panas berganti dengan derasnya hujan. Aku terlalu bahagia kembali berbicara denganmu hari itu dan berharap hari-hari lainnya terasa indah. 5 menit kebersamaan kita membuatku berpikir, jika sejatinya kamu diciptakan bukan untukku.
Semua yang terjadi atas kehendak yang Di Atas. Tuhan berkata orang yang aku cintai tidak bisa dimiliki dan terhalang oleh tembok besar yang berdiri kokoh di hadapannya. Dia seseorang yang aku sukai dalam diam. Tidak ada yang tahu kecuali, Tuhan yang sering mendengar keluh kesahku tentangnya selama 5 tahun.
Seperti matahari dan bulan. Dia sosok periang yang dikagumi oleh banyak orang, terutama para gadis. Sakit memang, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Disaat itulah hujan selalu turun seolah mengerti dengan kesedihanku. 5 tahun ku lewati dengan kehampaan.
Ku tatap tetes demi tetes air yang berjatuhan dari langit membasahi tanah gersang. Udara dingin menusuk kulitku yang sedang duduk di halte bus seraya mendengarkan suara gemuruh hujan tanpa ada dia di sampingku.
Kenangan itu berputar begitu cepat bak film klasik yang memberikan memori tak terlupakan.
Sudah lima kali sahabatku mengatakan... "Sudahlah Asura, lupakan saja dia. Kamu terlalu mencintainya, tapi dia tidak pernah melihatmu sedikit pun. Lupakan saja." Sudah berkali-kali aku mencoba untuk melupakannya, tapi tetap saja perasaan itu kembali dan terus kembali.
Apa tetesan air dari langit itu bisa mengantarkan sebuah perasaan? Hujan katakan pada dia aku sangat merindukannya. Ingin kembali tersenyum dan bercanda gurau dengannya, walaupun itu hanya 5 menit saja. Hujan basahilah hatinya yang gersang. Sampaikan udara dinginmu padanya dan bisikan kata-kata cinta untuknya dan itu yang terakhir.
Kamu tahu bukan bagaimana bosannya menunggu seseorang yang tidak pernah datang? Dan kebiasaan itulah yang sering aku lakukan. Berharap kamu datang dan menyambut perasaanku dengan senang. Namun, kenyataannya tidak seperti itu.
Harus bagaimana lagi agar kamu bisa merasakannya? Harus dengan cara seperti apa agar kamu bisa mengerti? Apa kamu tidak pernah merasakan di sini ada seorang gadis yang mencintaimu dengan tulus?
Dikala hujan waktu itu kamu memberikan sebuah senyum yang tidak pernah bisa terlupakan. Kilauan bola mata sebening kaca menggambarkan dengan jelas siapa sosok aku yang sebenarnya. Ternyata aku terlalu terbuai akan perasaan yang tidak bersyarat. Selama 5 tahun terlewati dengan percuma. Kini Tuhan telah menyadarkanku sejatinya cinta bukan untuk ditunggu, tetapi serahkan semuanya pada Tuhan agar Dia merencanakan yang terindah. Tuhan punya skenario terbaik untuk hamba-Nya. Dan aku percaya akan hal itu.
Kini hujan telah berhenti dan langit berganti berwarna orange kemerah-merahan di ufuk barat. Lukisan senja menyadarkan jika Tuhan selalu ada dan terus membersamaiku. Angin berbisik lirih "Jika mengagumi seseorang titipkanlah perasaan itu pada Sang Pemilik Cinta. Karena Tuhan Maha Pemilik Segalanya. Termasuk dia." Aku tersenyum tulus merasakan ketenangan.
Tuhan memberikan cobaan berkali-kali agar aku hanya berharap dan bergantung pada-Nya. Jika saat ini sedang berada di bawah ingatlah suatu saat nanti akan berada di atas. Bukankah senja datang setelah matahari bersinar terang? Keindahan senja hadir kala setiap orang akan berpulang ke rumahnya masing-masing. Sama seperti sebuah perjuangan, setelah semuanya dikerahkan maka akan ada hasil yang didapatkan.
***
Benar jika kita meyakinkan semuanya pada Sang Pemilik Cinta tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena semua sudah diatur oleh Allah. Bukankah begitu pangeranku? Ku genggam tangan kekar di sampingku. Dia menoleh dengan senyum lima jarinya. Sorot mata hangat membalas semua kenangan yang tergambar dalam bola keristal bening di balik kelopak mataku.
Allah menghadirkan dia dengan cara-Nya yang luar biasa. Setelah lima tahun terlewati aku mencoba untuk melupakannya. Sampai, satu tahun kemudian tiba-tiba saja dia datang ke rumah dengan membawa niat untuk mengkhitbah. Hujan datang membasahi pipi. Aku tidak menyangka jika selama aku memendam perasaan dan dia pun merasakan hal yang sama.
Saat kami memandangi hujan bersama di hari itu dia berkata dalam diamnya, "Kata-katamu benar jika hujan sebuah anugrah yang telah Tuhan berikan. Karena hujan aku menyadari sebuah perasaan."
Itulah yang dia katakan padaku tepat setelah kita mengikat janji di hadapan Sang Illahi.