"Kupikir menjadi idola itu menyenangkan, tapi ternyata menjadi idola itu tidak semudah yang kubayangkan. Semakin banyak penggemarmu, semakin sibuk pula dirimu."
~ Yamanaka Nino
=•=•=•=•
"Kembalikan ponselku, hey kau!" ucapku seraya melompat untuk menggapai ponselku yang sengaja direbut paksa oleh seseorang.
"Ooh, jadi kau menyukai orang ini ya? Hmm lumayan juga." ucap laki-laki itu sambil melihat layar ponselku. Namanya Ichiro Natsushiro. Laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku temui.
"Hmph! Kau ini benar-benar-"
"Eits! Apa yang akan kau katakan, hah? Kau ingin menjadi kekasih orang ini? Hahaha sebaiknya kau perbaiki dirimu dulu, Nino. Kalau kau bisa lebih populer, mungkin kau bisa.." ucapnya setelah memotong pembicaraanku.
"Huh! Mentang-mentang kau punya lebih banyak pengikut medsos," ucapku sambil memperlihatkan wajah kesal.
"Tentu saja. Aku populer. Bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau kau bisa lebih populer dariku, kau yang menang. Kalau aku masih lebih populer darimu, aku menang. Kalau kau menang, aku tidak akan mengganggumu lagi." dia membuat persetujuan. Cukup masuk akal. Tapi bagaimana?
"Hmm, boleh juga." gumamku sambil mulai memikirkan rencana.
"Memang. Tapi, tidak boleh curang. Lakukan sewajarnya. Jangka waktunya adalah seratus hari."
=•=•=•=•=•=
Dan pada akhirnya, aku benar-benar bertaruh dengannya. Harga diriku bisa anjlok kalau aku kalah. Aku harus bagaimana? Keesokan harinya..
"Ohayou Nino-chan!" ucap seorang perempuan dari arah belakangku. Dia adalah sahabatku, namanya Aika. Dia orang yang ceria.
"Ohayou Aika." balasku sambil menatapnya.
"Ada apa? Sepertinya kau sedang mempunyai masalah." ucap Aika sambil mengamati ekspresi wajahku.
"Hmm aku hanya sedang berpikir, bagaimana caranya mengalahkan si Ichiro itu." balasku. Kami berdua berjalan menuju kelas. Tapi saat kami berjalan melewati koridor, kami melihat sesuatu di papan mading.
"Eh sebentar, Nino." ucap Aika menghentikan langkahku. Kami melihat pengumuman di mading tersebut.
"Ada apa? Hmm? Lomba menulis dan membacakan cerpen tingkat prefektur? Kau mau ikutan, Aika?" tanyaku pada Aika yang masih sibuk kepo pada lembaran itu.
"Kau saja, mengingat kau lebih berbakat dariku Nino. Sekalian untuk mencari popularitas, iya kan?" tanya Aika padaku dengan mata berbinar.
"Tapi, aku tak terlalu bisa percaya diri. Bagaimana bisa aku mengikuti lomba itu?" gumamku. Aku memang sedikit tak tertarik dengan popularitas. Aku sedikit fobia kamera, dan juga demam panggung.
"Kau harus bisa percaya diri, Nino. Kalau kau perlu bantuan, aku bisa membantumu."
"Arigatou, Aika."
"Iya, sama-sama. Sekarang kau tinggal mendaftar saja. Ayo aku temani."
=•=•=•=•=•
Selama satu pekan, aku terus berlatih. Sebagian isi cerpen adalah hasil imajinasiku. Dan Aika membantuku dalam latihan mengekspresikan perasaan melalui cerpen yang aku tulis sendiri.
Hingga suatu hari, di mana aku harus menunjukkan performa semaksimal mungkin. Hari ini adalah hari pertandingannya. Diselenggarakan di salah satu sekolah dekat dengan pusat kota Hokkaido. Ramai sekali.
Deg! Deg! Deg! Deg!
Jantungku berdebar ketika namaku disebut untuk segera naik ke atas panggung. Tubuhku agak gemetaran. Ini pertama kalinya aku naik ke atas panggung. Mana aku hanya sendirian di atas sini. Ada beberapa teman dan guruku yang menonton.
Aku mulai membacakan cerpen yang aku buat sendiri. Cerpenku bergenre drama, dan teen. Mengisahkan tentang seorang gadis SMA yang selalu dirudung karena mempunyai banyak sekali kelebihan. Dia depresi dan kemudian mencoba untuk bunuh diri. Beruntungnya, ada seorang temannya yang menyelamatkannya. Teman dari gadis itu kemudian mengajaknya bangkit dari keterpurukan, dan dia bersama sahabat-sahabatnya membuat band virtual di salah satu platform. Tapi endingnya, dia tetap bunuh diri.
Dan yang paling menonjol adalah, terdapat beberapa adegan bernyanyi dalam cerpenku. Aku pun terpaksa bernyanyi juga. Awalnya aku mengira kalau mereka tak bersungguh-sungguh dalam mendengarkan ceritaku. Ketika aku turun dari panggung, mereka memberikan tepuk tangan meriah dan juga banyak yang bersorak.
=•=•=•=•
Tiga bulan kemudian, apa yang terjadi padaku? Aku masih belum dapat mempercayainya. Hal ini benar-benar di luar ekspektasiku.
"Harap cepat. Apakah make up sudah siap?"
"Haik! Sudah siap."
"Bagaimana dengan busana dan properti?"
"Semua sudah beres, tuan."
Ya seperti itulah, di ruangan ini, lumayan banyak orang berlalu lalang dengan berbagai aktivitas mereka. Sedangkan aku, aku hanya duduk diam.
"Hah.. Kenapa mereka buru-buru sekali? Padahal adegan selanjutnya kan masih 45 menit lagi." ucapku pelan sambil memandang sekeliling seperti anak hilang. Tiba-tiba..
"Tentu saja, mereka berusaha lebih cepat supaya tidak terlambat sedetikpun." balas seseorang di sampingku. Aku pun menolehkan kepalaku.
"Eh, Masashi-san, kapan kau datang?" tanyaku, bagiku ini agak janggal. Sedari tadi kukira aku hanya sendirian duduk di sini.
"Aku selalu bersamamu, Nona." balasnya. Dia adalah Masashi Kishimoto, managerku satu-satunya yang berusia sekitar dua puluh tahun. Entah mengapa bos kami memilih seorang laki-laki sepertinya untuk menjadi managerku. Hmm mungkin karena aku ini masih jom- maksudku single.
"Hmm kalau seperti ini terus, anda jadi seperti penguntit." ucapku. Aku ingin dia itu tidak selalu mengawasiku layaknya aku adalah anak kecil yang bermain di dekat jalan raya.
"Bukan penguntit, tapi aku jadi seperti pengawal seorang putri raja." balasnya. Aku terkekeh pelan mendengarnya.
"Saat ini, apa yang kau perlukan, Nona?" tanyanya. Aku berpikir apa yang aku butuhkan. Setelah kupikir-pikir, tempat ini ternyata agak panas dan sumpek.
"Aku ingin minuman isotonik dingin ya." ucapku. Masashi langsung berdiri dari duduknya.
"Haik! Akan aku ambilkan." ucapnya, dan setelah itu, dengan cepat dia menghilang dari pandanganku. Seperti pesulap saja.
Lima menit kemudian, Masashi sudah datang sambil membawa minuman yang aku inginkan.
"Ini, silahkan Nona." ucapnya sambil memberikan sebotol minuman isotonik tersebut.
"Arigatou." ucapku berterima kasih. Sebelum meminumnya, aku melihat label minuman tersebut.
Minuman dengan merek ini, aku pernah mengiklankannya. Bahkan untuk saat ini, iklannya masih sering ditayangkan di televisi maupun gadget. Setelah aku menjadi bintang iklannya, minuman ini langsung laris. Popularitasku langsung menanjak.
"Ada apa, nona?" tanya Masashi padaku yang sedari tadi hanya mengamati botol minuman itu.
"Eh, tidak apa-apa." balasku, kemudian membuka segel tutup botolnya, lalu mulai meminumnya. Menyegarkan sekali.
Setelah meminumnya..
"Masashi-san, di mana ponselku? Aku ingin menelpon ibuku." tanyaku pada Masashi.
"Ini, nona." ucap Masashi sambil menyerahkan ponsel android keluaran terbaru. Aku pun mengaktifkannya, dan kemudian menelpon ibuku.
"Moshi moshi." suara ibuku terdengar dari seberang sana. Saat ini, aku sangat jauh dari orang tuaku. Mereka berada di Hokkaido dan aku berada di Tokyo.
"Halo ibu, bagaimana kabar ibu?" ucapku berbicara melalui telepon.
"Sangat baik, Nino-chan. Kau sendiri bagaimana?"
"Masih seperti biasa. Jadwalku padat sekali. Oh iya, aku sudah mentransfer uang untuk ibu, ayah dan adik."
"Benarkah? Berapa nominalnya?"
"Seratus ribu Yen untuk sebulan ya." ucapku dengan pasti. Beberapa orang sampai berhenti sejenak dari aktivitas mereka dan menatapku dengan tatapan terkejut.
"Apa? Seratus ribu Yen? Itu banyak sekali, Nino. Nanti bagaimana denganmu di sana?" ibuku bertanya. Sudah kuduga ibuku juga terkejut. Padahal aku hanya mengirimkan sepertiga dari gaji perbulanku.
"Aku baik-baik saja, ibu. Lagipula Zyi kan sudah mau SD, pasti membutuhkan banyak biaya." ucapku memberikan alasan. Zyi, nama adik laki-lakiku satu-satunya.
"Kau benar juga, Nino. Kau anak yang sangat baik. Semoga karirmu selalu lancar ya. Dan jangan lupakan kesehatanmu. Baiklah, ibu sudahi dulu ya." ucap ibuku menyudahi telepon kami, setelah terdengar suara anak berusia enam tahun yang merupakan Zyi, adikku.
Setelah itu, aku mencoba melihat media sosialku. Banyak sekali notifikasi. Tunggu, ada yang aneh.
"Masashi-san, kenapa akunku jadi ada centang biru?" tanyaku pada Masashi, sambil menunjukkan layar ponselku yang menampilkan halaman profil akunku. Di samping usernameku, ada tanda centang biru, ratusan postingan, dan juga ratusan ribu pengikut.
"Eh itu. Itu sebagai tanda kalau akunmu sudah resmi, Nona. Sudah ada keterangan khusus, lagipula sekarang kan anda sudah menjadi idola."
=•=•=•=•=•=•
"Cukup! Kenapa.. kenapa kalian tidak pernah berhenti menyakitinya.. Apakah kalian tidak mengerti perasaannya, hah? Kalian benar-benar keterlaluan!"
"CUT!" seru seorang sutradara. Ya, kami sedang syuting drama. Drama musikal remaja yang akan di rilis bulan depan, aku yang membintanginya, dan Kanna-san juga. Kalian tau kan, Hashimoto Kanna. Seorang aktris Jepang yang sangat cantik, berbakat, dan juga populer. Akhir-akhir ini, kami berdua sangat dekat. Aku belajar banyak darinya.
"Nino-chan, aktingmu bagus sekali." ucapnya memuji.
"Arigatou ghozaimasu, Kanna-san." ucapku sambil membungkukkan badan.
"Oh iya, apakah kau ada waktu sore ini?" tanya Kanna-san padaku.
"Hmm maaf Kanna-san, aku masih punya jadwal. Pekan ini jadwalku sangat padat." balasku. Dia mengangguk mengerti.
"Ooh baiklah, tidak apa-apa. Semangat ya. Sukses selalu. Jangan lupakan kesehatanmu."
"Arigatou ghozaimasu, Kanna-san."
Haah, hari ini masih belum berganti. Aku masih punya jadwal untuk menjadi pengisi suara anime yang juga akan dirilis akhir bulan ini. Dan aku juga akan menyanyikan theme songnya. Mana aku yang akan menjadi pengisi suara tokoh utama pula.
=•=•=•=•=•=•
Sekitar jam sebelas malam, aku baru melangkahkan kakiku masuk ke rumahku. Lelah sekali, mataku sudah sangat berat.
Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang king size yang lebar dan juga empuk.
"Nona, sebaiknya anda mengganti pakaian dulu." ucap Masashi sambil menatapku yang sedang rebahan melepas penat.
"Hah.. iya.." balasku lemas. Kemudian bangkit dan berjalan ke arah lemari pakaian. Mencari piyama yang ada di tumpukan teratas.
Setelah ketemu, aku langsung mengambilnya dan berjalan menuju kloset untuk mengganti pakaian, sambil cuci muka juga. Setelah itu, aku melanjutkan rebahanku yang tertunda. Saking lelahnya, dengan cepat aku langsung tertidur.
Masashi menatapku dengan tatapan biasa, kemudian keluar dari kamarku, setelah itu dia pulang. Memang tugasnya seperti itu, datang sebelum aku bangun dan pulang setelah aku tidur. Aku sempat berpikir kalau menjadi manager bahkan lebih melelahkan. Tapi, mereka diberi libur dua hari dalam sepekan. Berbeda denganku, bekerja tanpa diberi hari libur, kecuali jika ada yang masalah yang tidak beres.
=•=•=•=•
Keesokan harinya..
"Hachiuu! Hachiuu!" aku bersin-bersin, kemudian mengelap hidungku dengan tisu.
"Nona, anda sedang tidak sehat. Sebaiknya hari ini anda libur dulu." ucap Masashi sambil berbalik untuk menatapku. Aku memang sedikit tidak enak badan, mungkin karena akhir-akhir ini aku kurang tidur. Waktu tidurku jadi berkurang, yang tadinya aku bisa tidur sampai sembilan jam, kini hanya lima sampai enam jam saja per hari. Belum lagi sekarang sedang musim gugur, tak lama lagi musim dingin. Jadi suhu udara mulai rendah.
"Aku baik-baik saja kok. Ayo berangkat, Masashi-san." balasku. Dan kemudian, Masashi langsung melajukan mobil menuju tempat kerja kami.
Sesampainya di tempat kerja..
"Ohayou minna-san!" aku menyapa beberapa rekan kerja kami, ya meskipun suaraku agak-agak serak.
"Ohayou Nino-chan," balas beberapa dari mereka.
Setelah kusapa-sapa mereka, aku pun pergi ke ruanganku. Ruangan yang didesain sedemikian rupa supaya nyaman dan cocok untukku. Tak lama kemudian, ada seseorang yang datang.
"Ohayou Nino," ucap seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun, yang merupakan pemimpin perusahaan ini.
"Selamat pagi juga, pak." balasku.
"Nino, hari ini kau punya tiga jadwal syuting. Masing-masing tiga jam. Dan sisa waktunya, kau bisa istirahat."
"Baiklah pak, terima kasih sudah memberi tau."
Hmm sekarang jam setengah delapan pagi, ada tiga jadwal syuting masing-masing tiga jam. Berarti tiga dikali tiga, kan sembilan. Sembilan jam setelah saat ini adalah jam lima sore. Ah lumayan, bisa pulang lebih awal.
=•=•=•=•=•=
Skip saat syuting hampir selesai. Haah.. aku lelah sekali. Syuting hari ini kurasa lebih buruk dari kemarin, mungkin karena aku agak tidak sehat.
Beberapa saat kemudian, syuting baru saja selesai. Tubuhku melemas seketika, dan pandanganku perlahan-lahan menjadi gelap. Tubuhku ambruk ke lantai. Samar-samar aku mendengar beberapa rekan kru memanggil-manggil namaku.
Dan setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.
=•=•=•=•=•
Perlahan aku membuka mataku. Mengerjap untuk menyesuaikan pencahayaan. Aku terbaring di atas ranjang dan ruangan yang serba putih.
"Di mana ini?" ucapku pelan.
"Di rumah sakit. Tapi kamu pingsan, Nona." balas seseorang yang tidak lain adalah Masashi. Mendengar jawabannya, aku mencoba untuk mengingat kejadian sebelumnya.
"Sekarang, apa yang kamu rasakan? Lapar? Haus? Pusing? Ingin apa nanti aku ambilkan." tanya Masashi, dia sangat protektif. Aku menggeleng pelan.
"Tidak ingin apa-apa. Hanya saja, aku lelah bekerja di sini. Aku ingin kembali ke sekolah, dan hidup normal seperti anak-anak pada umumnya." aku memberi tau keinginanku padanya.
Sangat melelahkan, waktu istirahat yang sedikit, porsi makan yang terbatas, dan jadwal yang padat, adalah hal yang biasa aku terima selama bekerja di sini. Meskipun selama di sini, aku sering bertemu dengan orang-orang luar biasa, misalnya Hashimoto Kanna, Arisa Sonohara, penyanyi J-Pop Harutya, dan lain sebagainya, ya meskipun aku belum bisa bertemu dengan 'dia' secara langsung. Saat ini dia masih di luar negeri.
"Apa maksudmu, Nona?" tanya Masashi tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Aku ingin berhenti, dan lanjut sekolah saja."
"Hmm aku akan memberi tau pak CEO dulu. Tunggu saja ya." aku mengangguk pelan menanggapi ucapan Masashi. Setelah itu, dia pun berjalan keluar dari ruangan ini.
Aku mencoba melihat-lihat isi ponselku. Tepatnya, aku membuka aplikasi yang biasa digunakan untuk membuat novel online. Aku ingin tau, apakah ada yang menunggu update selama aku hiatus?
"Nino-chan, kenapa novelmu belum update?"
"Nino-chan kemana? Kenapa hiatus begitu lama?"
"Aku menunggu update novelmu, Nino-chan!"
"Semangat ya Nino! Aku selalu mendukungmu!"
Isi komentar mereka. Sebagian besar mereka menanyakan tentang kenapa aku hiatus begitu lama. Sejak berhenti sekolah, aku juga berhenti membuat novel. Sebelumnya, novelku tak begitu populer dan sedikit pembaca setia. Tapi, setelah aku memasukkan link novel buatanku yang berjudul 'Chasing of Love' pada situs web di akun medsos milikku, pembaca dan popularitas novelku langsung naik drastis. Dan hal itu menjadi mendorong untuk kesuksesan karirku sebagai novelis juga.
"Maaf semuanya, aku belum bisa update cerita ini. Maaf membuat kalian menunggu lama. Aku akan berusaha update kalau aku sedang ada waktu senggang." aku membuat pemberian di novelku yang hiatus. Itu terserah bagi mereka, mau setia menunggu atau tinggalkan kalau tidak suka dan sudah jenuh.
Tak lama kemudian, Masashi sudah kembali. Kali ini, pak CEO juga menemuiku.
"Nino, kau benar-benar ingin keluar? Kau ingin berhenti menjadi idola?" tanyanya padaku.
"Hmm iya pak, aku ingin lanjut sekolah." jawabku tanpa ragu.
"Bukankah selama ini kau memang masih bersekolah? Kenapa ingin sekolah lagi?"
"Selama ini, aku kan hanya sekolah dari rumah, aku tidak belajar di sekolah, dan mengerjakan tugas secara online. Itu tidak seru." ucapku. Memang benar sih, aku tak mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah, tapi aku hanya mengerjakan ujian dan tes secara online, sebelumnya aku hanya belajar sendiri melalui bimbel online premium.
"Kalau kau berhenti, perusahaan ini bisa bangkrut, Nino-chan, sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu itu." balasnya lagi. Aku tau, dia tak setuju. Aku memikirkan cara supaya bisa sekolah dan juga bekerja sekaligus.
"Pak, bagaimana kalau seperti ini. Sebulan aku sekolah offline, dan sebulan lagi aku bekerja di sini?"
=•=•=•=•=•
"Wah, jadi itu Nino yang sekarang? Benar-benar berbeda."
"Iya, dia sudah jadi orang yang sangat kaya sekarang."
"Cih, kuharap dia tidak sombong."
Itulah perkataan beberapa siswa-siswi yang dapat kudengar jelas. Saat ini, aku melangkahkan kakiku menuju kelasku yang dulu. Aku melangkah masuk ke dalam kelas 3 C. Di dalam kelas, hanya ada beberapa orang.
"Nino!" ucap seseorang yang sangat kukenal. Dia langsung berdiri dari duduknya. Aku tersenyum lebar padanya. Aku merentangkan tanganku, dan seketika dia memelukku erat.
"Nino.. Aku benar-benar merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Aika." ucapku sambil balas memeluk Aika. Aku sangat merindukanmu, Aika. Maaf aku tidak menghubungimu.
"Sumimasen, Nino-senpai." ucap seseorang dari arah belakangku. Kami melepaskan pelukan kami, aku menatapnya. Ada adik kelas.
"B.. boleh aku minta tanda tangan?" tanyanya padaku. Aku tersenyum.
"Maaf ya, untuk saat ini, aku bukan idola lagi." balasku. Hampir semua orang di ruangan ini menatapku dengan tatapan bertanya.
"Apa maksudmu, kau sudah berhenti, Nino?" tanya Aika.
"Tidak, aku belum berhenti." jawabku santai.
"Maksudmu?"
"Ya, aku membagi waktuku. Sebulan aku bekerja, dan bulan depannya lagi, aku sekolah." jawabku dengan pasti.
"Oh iya, Ichiro." ucapku sambil memandang seorang laki-laki yang duduk di bangku pojok.
"Eh, i-iya.." balasnya sambil menatapku dengan tatapan yang tak biasa dia berikan untukku. Aku berjalan ke arahnya.
"Kau ingat janjimu? Sekarang aku jauuuuh lebih populer darimu, kau harus menepati janjimu." ucapku mengingatkannya tentang janji seratus hari yang lalu.
"Te.. tentu saja. Aku tidak akan mengingkari janji. Mulai sekarang, aku tak akan meremehkanmu lagi, Nino. Maafkan aku soal yang dulu. Dan jujur saja, aku.. aku juga penggemarmu."
"Apa?!"
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•
Note :
Terima kasih sudah baca cerita ini. Jangan lupa like dan komen ya, supaya Nino makin semangat.
Oh iya, bagi yang belum tau, 100 ribu Yen itu setara dengan ±13 juta rupiah.
Mau baca novel Nino? Judulnya beneran sama lho. Terima kasih lagi buat teman-teman yang setia duku Nino^-^
Cover : pinterest.
Nama tokoh terinspirasi dari anime.