Tinggal kan jejak kalian ya, Gaes. Komen, love dan support nya.
"Bu. Bapak tak sanggup lagi membiayai sekolah, Fika." Sholeh bersuara. "Suruh dia berhenti saja," ucapnya lagi.
"Jangan toh, Pak. Biar dilanjut saja. Nanti ibu yang bantu bapak kerja," sahut Mumun ibunya Fika.
Fika yang tidak sengaja menguping menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Di sudut kedua matanya tercipta buliran air mata yang hampir terjun.
"Bapak sering sakit-sakitan. Rasanya kurang mampu ...,"
"Bismillah, Pak. Jangan putus asa."
"Kita nikahkan, saja sama Tohar. Biar ada yang memberinya kehidupan layak," ucap Sholeh lirih. Rasanya di dalam dadanya ada beban yang menghimpit berat.
"Jangan, Pak! Dia satu-satunya harapan kita. Siapa tahu besar nanti bisa membantu adik-adiknya."
Fika sudah tak tahan lagi mendengar ucapan kedua orangtuanya. Air matanya mengalir hangat di pipi polosnya.
"Bu, Pak! Fika berangkat dulu, ya." Fika menghampiri Mumun dan Sholeh di dapur.
"Nggak sarapan dulu, Nduk," kata Sholeh.
"Nggak, Pak. Fika bawa bekal." Ia mencium punggung telapak tangan Sholeh yang keriput dan kasar itu.
"Belajar yang pintar ya, Nduk." Mumun membelai rambut Fika.
"Iya, Bu. Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam ...,"
Fika mengeluarkan sepeda butut miliknya dari samping rumah. Lalu ia naik dan mengayuh dengan laju.
Ucapan Sholeh terngiang-ngiang di benaknya.
Fika gadis kelas 2 SMP berkulit hitam, memilki rambut keriting dan berbibir bawah sedikit tebal. Kerap kali mendapat ejekan bahkan ia sering mengalami perundungan dari teman-temannya.
Meskipun demikian Fika termasuk anak cerdas di bidang matematika, beladiri juga seni lainnya. Banyak guru yang menyukainya. Sholeh dan Mumun tak menyadari bahwa putrinya bertalenta. Karena sibuk bekerja di sawah.
Ketika Fika hendak menyeberang ia melihat selebaran kertas tertempel di tiang listrik. Fika tertarik untuk membacanya ia pun mendekati tiang listrik itu.
"Olimpiade matematika," lirih Fika.
Kedua maniknya membulat berbinar-binar. Ini adalah kesempatan untuk dirinya.
"Coba ah, siapa tahu beruntung." Fika mencabut kertas itu dilipat dan memasukan ke dalam tas ransel usang miliknya.
Tiba di sekolah ....
Siswa-siswi berkumpul di dekat papan pengumuman. Fika penasaran ia mendekati keramaian itu.
"Lomba tari daerah," ucap Fika membaca selembaran pengumuman.
Kedua kalinya ia berbinar.
"Ikut ah," ucapnya penuh keyakinan.
"Hah, nggak, salah si Hitam ikut?" Sindir Maya.
Hahahaha!
Gelak tawa membahana mentertawakan Fika.
"Anak miskin dan jelek kaya kamu bisa apa!" Senyum sinis terangkat dari bibir Maya.
Fika menunduk dalam-dalam.
Hahaha!
Suara tawa riuh mengundang salah satu guru.
"Ada apa ribut-ribut?!" tanya Pak Hisyam.
"Ini, Pak. Fika mau ikutan lomba. Mana bisa dia!" Seseorang kembali menyindir.
Pak Hisyam menatap Fika yang sedang menunduk dan meremas ujung roknya.
"Boleh. Lomba ini berlaku bagi siapapun. Sekarang masuk kelas bapak akan mencatat nama-nama yang mendaftar lomba."
Huuu!
Semua siswa bubar dan masuk ke kelas masing-masing.
*
*
*
Fika mendaftar dua lomba di sekolahnya tanpa sepengetahuan teman-temannya. Di luar sekolah ia juga mendaftar olimpiade matematika antar kota.
Tak sabar rasanya ingin bertanding adu kebolehan.
Siang dan malam Fika giat belajar mengasah kemampuan dan keterampilannya seorang diri.
Detik-detik mendekati lomba.
Siang itu Maya membaca nama Fika yang ikut lomba tari daerah. Maya merasa takut tersaingi terlintas ide jahatnya.
Sepulang sekolah Maya menghadang Vika bersama teman-temannya. Fika pun turun dari sepeda ontel miliknya.
"Hey, gadis hitam turun kamu!" Maya merentangkan kedua tangannya di tengah jalan.
Fika terkejut dan ia pun mengerem sepedanya.
Tanpa diberi kesempatan berbicara Maya menyeret tubuh Fika ke rumah kosong ia dan teman-temannya menghajar Fika tanpa ampun.
Kaki kanan Fika diinjak oleh Maya hingga lebam dan terluka. Fika tidak melawan iya tak ingin teman-temannya tahu bahwa Fika bisa membela dirinya. Ilmu beladiri ia pakai jika memang mendesak.
Setelah puas Maya dan teman-temannya meninggalkan Fika sendirian di rumah kosong itu.
Fika merintih dan memegangi kakinya yang terluka ia berusaha bangkit. Jalannya pincang. Vika merasa sedih karena dengan keadaannya yang seperti itu, ia pasti tidak bisa ikut lomba tari daerah.
*
*
*
Hari lomba pun telah tiba benar saja Fika mengundurkan diri karena ia tak bisa menari dalam kondisi kaki yang terpincang-pincang. Namun ia memiliki bakat lain. Fika bisa memainkan alat musik yang lain untungnya, Fika mendaftar dua lomba. Yaitu lomba bermain alat musik gitar dan biola. Fika sangat ahli.
Penampilan Fika memukau seluruh peserta dan dewan juri Maya yang melihatnya merasa kecolongan ia kesal dan tidak puas menghajar Fika kemarin.
Setelah ikut lomba musik, Fika pun melanjutkan lomba olimpiade matematika. Dia bergegas menuju tempat dimana ia akan lomba.
Fika menaiki sepeda ontel bututnya menuju gedung aula sekolah lain.
Maya mencari keberadaan Fika setiap kelas dan ruangan ia mencari namun, tak juga yang menemukan Fika.
Fika dengan saksama dan fokus mengikuti lomba olimpiade matematika berharap ia memenangkan lomba ini agar mendapatkan beasiswa.
*
*
*
Seminggu kemudian pengumuman lomba.
Tanpa disangka-sangka Fika memborong semua apresiasi lomba ia mendapat juara 1 lomba memainkan alat musik dan mendapatkan hadiah beberapa lembar uang serta buku buku tulis.
Dan ia pun menjuarai lomba olimpiade matematika juara 1. Harapan yang ia inginkan pun tercapai ia mendapatkan beasiswa.
Fika memborong semua hadiahnya untuk dibawa pulang dan diperlihatkan kedua orangtuanya. Akan tetapi, di pertengahan jalan ia dihadang oleh Maya dan teman-temannya.
Maya hendak melancarkan aksinya yaitu menghajar Fika. Kali ini Fika tak mau mengalah ia melawan dan memberi pelajaran kepada Maya agar tak semena-mena. Maya dan teman-temannya ketakutan dan bertekuk lutut mereka meminta maaf kepada Fika.
Dengan demikian tidak ada yang menindas dan merendahkan Fika lagi.
Mumun dan sholeh terkejut dan merasa bangga karena anaknya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah berikutnya.
Begitulah akhir kisah dari Fika perlu kita ingat bahwa sesuatu yang kita lihat lemah itu belum tentu benar-benar lemah yang kita kira.
Selesai