Nama ku Litana, dan aku adalah penguasa lautan. Aku kenali sebagai seorang ratu juga penguasa lautan dan memiliki banyak bakat.
Aku di gelar gadis multitalenta sejak aku kecil. Aku bisa mengalahkan puluhan musuh sendirian dan segalanya sangat mudah bagi ku. Memasak? Menjahit? Bertarung? Menguruskan dokumen yang menyebalkan? Aku bisa semuanya.
Kecuali satu hal.
"Ratu, aku yakin kamu bisa mendapatkannya kali ini! Berjuanglah!"
Aku tidak bisa mendapatkan pujaan hati ku! Dia adalah tuan muda dari seorang keluarga bangsawan. Dia seorang yang terkadang dingin namun selalu bersikap santai dan ramah. Dia juga sangat licik bernama Felix Magath. Sangat tampan dan mempesona di setiap tindakannya.
Aku jatuh hati pada orang itu. Dia berkerja sama dengan lautan untuk menjatuhkan beberapa musuh dan kami menjadi rekan yang bisa menjamin punggung kami.
"Litana, aku ke sini untuk kesepakatan yang sudah kita janjikan."
Senyuman licik tercipta pada wajahnya. Sungguh wajah yang sangat menawan.
"Tentu saja, kami warga laut tidak akan melanggar janji."
Aku tersenyum seperti biasa penuh dengan martabat. Pembicaraan kami berjalan dengan sangat baik dan aku puas hanya dengan melihatnya.
"Ouh, ngomong ngomong, aku akan menikah dengan seorang putri dari kekaisaran sebentar lagi. Aku harap kamu bisa datang sebagai teman ku."
Krakum!!!
Litana merasa petir menyambar dirinya.
"Me, menikah? Kamu? Benarkah? Siapa wanita tidak beruntung itu?"
Litana mencoba yang terbaik untuk bersikap normal. Namun dia tidak bisa berhenti berkeringat dan menggigil mendengar hal itu.
"Sudah ku bilang dia putri dari kekaisaran. Hanya ada satu kekaisaran di sini. Dia seorang putri yang baik."
Litana tersenyum mendengar itu. Dia hanya bisa mempertahankan senyumannya kerana dia merasa akan menunjukkan wajah sedihnya kapan saja.
'Jadi itu salah satu dari aliansi kita.'
Litana tidak bisa menipu dirinya bahwa dia sangat kecewa. Sangat kecewa hingga dia bisa menjadi gila.
"Tahniah kerana sudah punya seseorang untuk melayani mu."
Felix tersenyum lalu dengan cepat pergi sambil mengabaikannya seperti selalu.
Air mata Litana mula mengalir ketika kelibat Felix sudah menghilang.
"Hahahahahahahaha!!!"
Tawa gila meledak darinya memenuhi ruangan itu. Aku tidak waras? Benar, aku tidak waras.
Pada akhirnya, aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Apa gunanya semua kemampuan ku!? Apa gunanya julukan ku!? Gadis multitalenta? Apa itu?
"Ratu!!!"
Litana memandang pelayan setianya dengan senyuman. Namun matanya masih mengalirkan air mata hingga dia terlihat menakutkan.
"Albert, sediakan semua benda yang ada di istana. Aku harus menghilangkan rasa sakit hati ini."
Albert hanya mampu tunduk dan mengikuti perintah sang ratu.
Dengan begitu, gadis multitalenta yang di banggakan kini di panggil orang gila.
Dia bisa melakukan segalanya! Dia bisa melakukan segalanya dengan mudah! Bahkan tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam pertempuran! Dia bisa memasak, dia bisa menjahit, dia bisa segalanya!
'Mengapa aku tidak bisa mendapatkannya!?'
Dia membantai segala yang membuatnya terganggu. Yang baik darinya hanya dia tidak membunuh orang orangnya bahkan ketika dia menjadi gila.
'Sesiapa saja, mengapa tidak ada sesiapa yang bisa jadi sepertinya!? Seseorang yang tidak bisa ku tebak!? Seseorang yang lebih baik dari ku!'
Seorang yang licik, dingin dan baik hati. Seseorang yang tidak kuat namun bisa menguasai segalanya. Seseorang yang dia kagumi, hormati dan cintai.
'Mengapa tidak ada yang bisa menjadi sepertinya!?'
Pada akhirnya, Litana tidak datang ke jamuan pernikahan Felix.
'Apa dia tidak sihat?'
Felix berharap untuk melihatnya di hari membahagiakan itu. Namun temannya itu tidak pernah datang sama sekali.
Dia hanya mendapatkan hadiah dari Litana yang di kirim oleh Albert mengatakan Litana tidak sihat. Dia merasa ada yang aneh namun tidak bertanya melihat expresi suram Albert.
.
.
Sebulan kemudian.
"Menyedihkan. Mereka adalah prajurit baru kita? Mengapa mereka begitu lemah?"
Litana tidak lagi terlihat bermartabat sebagai seorang ratu atau bangsawan. Dia kini hanya dingin sebagai seorang prajurit yang bertarung untuk darah.
"Peperangan akan di mulai seperti yang tuan Felix rencanakan. Kita akan pergi untuk waktu yang lama kali ini. Apa ini baik baik saja tanpa pamit?"
Albert mengatakan itu dan Litana hanya mengabaikannya seolah tidak peduli.
"Lebih lama di medan perang lebih baik. Aku harus memberikan rasa sakit ku ini pada musuh."
'Juga aku tidak ingin melihatnya membuat aku semakin gila.'
Kemudian perang langsung berlanjut dengan banyak organisasi juga kerajaan yang tidak tahu diri terus memperebutkan kekuasaan.
'Aku tidak peduli mereka baik atau tidak. Jika mereka musuh, maka bunuh saja! Aku tidak peduli!'
Dengan itu lautan dan daratan di penuhi darah. Dia bahkan tidak peduli jika orang lautan menjadi musuhnya. Dia hanya membunuh musuhnya.
Dia kini di gelar gadis multitalenta gila setelah 5 tahun perang yang berkelanjutan itu. Namun kini, peperangan berakhir dan dia harus pulang.
Dia kembali dan melihat ibu kota kekaisaran yang terlihat baik baik saja. Tidak ada alasan baginya untuk terus berlama lama di sana.
Setelah jamuan kemenangan, dia akan kembali ke laut dan tidak pernah lagi kembali. Itulah yang dia pikirkan.
Bang!!!
Namun aula jamuan itu di ledakkan oleh sesuatu yang tidak di kenali.
Tusk!
Namun di depan matanya, Felix di tusuk oleh istrinya sendiri.
"Kamu seharusnya tahu hari ini akan datang, sayang. Tidak ada siapa pon di kekaisaran yang menyambut mu."
Ledakan itu hanyalah alibi mereka yang ingin menyalahkan organisasi yang masih terselamat dan memulai perang lainnya. Juga menyalahkan mereka dengan kematian Felix yang memiliki pendukung terbanyak dan memberikan kekuatan pada putri kekaisaran untuk menyerang dan memulai perang dengan alasan balas dendam.
Putri itu lari meninggalkan Felix yang terkapar di lantai sendirian.
"Fe, Felix...."
Litana dengan perlahan menyentuh Felix yang berada di lantai.
"Apa kamu masih sadar? Aku akan memberikan perawatan pada mu! Tunggu saja!"
Litana sangat cemas. Cinta satu satunya sekarat dan dia tidak bisa melakukan apa pon.
"Li.... Litana...."
Felix memanggilnya dan Litana langsung menatapnya.
"Balaskan, dendam ku... Mereka membunuh.... Semua orang ku.... Ketika kamu berada di Medan perang...."
Tangan Felix jatuh ke tanah menandakan kematiannya.
"Di mengerti."
Mata Litana di penuhi dengan amarah dan dendam.
Sudah waktunya memulakan perang baru. Dunia tidak akan damai dan daratan akan pupus. Hanya lautan yang akan tersisa untuk keturunan yang akan datang.
"Ku bunuh kalian semua."
Ini bukan kisah dongeng dengan akhir yang bahagia. Ini kisah yang penuh darah dan tangisan. Perang akan terus berlanjut selagi daratan tidak pupus.
Kisah berdarah akan di mulai lagi.
.
.
.
.
.
Tamat.................