Namaku Noreena. Kata papa, ada makna terpendam yang papa selipkan dalam namaku. Bagi orang Irlandia, Noreena berarti bercahaya dalam kegelapan. Papa bilang, aku ini anak paling istimewa yang pernah ada. Namun aku rasa tidak. Mama meninggal dunia karena melahirkan ku. Selain itu... selama 16 tahun aku hidup aku hanya punya 1 teman, Anna.
Orang-orang menganggap ku aneh (meski akupun merasa demikian). Mereka bilang aku terkena kutukan yang berasal dari namaku. Aku bisa melihat dalam kegelapan tanpa alat bantu, dan hal ini memudahkan aku untuk bisa melihat hewan-hewan aneh yang bersarang dalam kegelapan.
"Heh! Jangan bengong mulu Rin" aku tersentak. Anna menyenggol bahuku dan menyuruhku untuk kembali fokus dan memerhatikan papan tulis.
"Kita jadi kemah kan Sabtu ini?" tanyaku pada Anna dengan berbisik yang hanya dibalas dengan anggukan.
"Kamu udah bilang paman?" tanyaku sekali lagi yang juga dibalas dengan satu anggukan.
"Beneran cuma kita berdua doang yang bakal kemah disana?" kali ini tidak ada sautan dari Anna, namun aku mendapat sautan dari Bu Ani yang sedang mengajar didepan kelas.
"NOREENA!! Maju kedepan dan jawab pertanyaan yang tertera di papan tulis sekarang!" aku segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju papan tulis. Aku hapal benar bagaimana wajah Bu Ani yang merah padam jika ada satu anak saja yang membangkang.
Tak terasa 5 hari telah berlalu. Kini aku sedang berbaring di tempat tidurku bersama Anna. Kami sedang mempersiapkan dengan matang rencana kami untuk esok hari.
"Kamu jadi berangkat besok Rin?" tanya papa (yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu).
"Jadi lah pa" jawabku sambil memutar bola mata. Ayolah, aku sudah menanti-nantikan hari esok.
"Jadi dong om, aku udah booking tempat juga” sahut Anna.
“Perasaan papa ga enak, kalian baik-baik ya. Malam ini papa lembur di kantor Rin” jawab papa dengan mata sendu nya.
“Papa ga perlu khawatir, kami akan baik-baik saja” aku harus menenangkan papa. Wajar saja ia khawatir, aku ini kan satu-satu nya yang ia punya.
Papa pergi meninggalkan kamar. Aku dan Anna segera bergegas merapihkan baju-baju kami untuk besok. Sebenarnya kami hanya akan menginap satu malam. Namun setidaknya kami harus membawa 2 koper penuh untuk baju-baju kami. Dasar wanita.
Satu hari telah berlalu, tibalah hari yang aku nanti-nantikan. Pagi ini hujan turun rintik-rintik mengganggu aktivitas pagi semua orang.
“Kamu udah sarapan Rin?” tanya Anna sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Udah tadi, tinggal nunggu kamu nya siap aja” jawabku yang sedang menyisir rambut panjang bergelombangku.
“Oke deh. Paman udah ngirim supirnya untuk jemput kita pagi ini, dia sudah sampai” aku langsung mengambil koperku dan Anna untuk dimasukan kedalam bagasi mobil.
Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 5 pagi. Anna menghabiskan waktu dengan tidur selama perjalanan. Dan aku memilih untuk mengabiskan waktu dengan melihat-lihat hamparan sawah hijau yang luas.
“Ada apa pak?” tanyaku pada pak supir karena mobilnya tiba-tiba saja berhenti.
“Gaada apa-apa non, Cuma tadi ada binatang lewat” aku secara spontan menengok kebelakang. Aku melihat sesosok bayangan hitam yang kemudian terbang menjauh. Sangat mengerikan.
Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam, akhirnya kami memasuki kawasan Sidoarjo kota Jawa Timur. Hanya butuh waktu 15 menit perjalanan lalu kami sampai ke tempat tujuan.
“Na, kita sudah sampai” Anna langsung terbangun dan segera membantuku menurunkan barang bawaan kami.
“Hati-hati Anna” aku bisa merasakan bahwa saat ini kepala Anna terhantuk sesuatu. Ya, selain aku bisa melihat dalam kegelapan sebenarnya aku juga seorang sinestasian.
Sinestasia adalah metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indera untuk dikenakan pada indera lain. Dalam kasus ini aku dikaruniai 2 kemampuan sinestasi, sinestasi cermin-sentuh dan sinestasi leksikal-gustatory. Sinestasi cermin-sentuh adalah bentuk sinestasia dimana individu merasakan sensasi yang sama dengan yang dirasakan orang lain. Inilah kenapa saat kepala Anna terhantuk aku juga bisa merasakannya. Sedangkan sinestasi leksikal-gustatory adalah suatu bentuk sinestasia dimana rasa tertentu dialami saat mendengar kata-kata. Misalnya saja nama Noreena yang terasa seperti permen.
“Iya Rin” jawab Anna. Aku dan Anna segera bergegas mendirikan tenda untuk kami bermalam malam ini. Kami menghabiskan waktu untuk berfoto, bersenda-gurau, bernyanyi, dan masih banyak lagi.
Sore menjelang, aku dan Anna bersiap untuk mandi. Setelah itu kami segera mengambil kayu bakar untuk menanak nasi dan membuat api unggun.
“Susah sekali ya” Anna tertawa. Matahari sudah tenggelam dan kami baru saja selesai menanak nasi, karena ternyata menanak nasi dengan kayu bakar bukanlah satu hal yang mudah.
“Aku ke tenda dulu ya, mau ngambil senter” Anna segera berjalan menuju tenda kami yang letaknya tidak jauh dari api unggun.
“AAAA!” aku terkejut. Aku segera berjalan menuju tenda untuk memastikan bahwa Anna baik-baik saja.
“Noreen! Lihat tenda kita! Hancur” Aku berjalan mendekati tenda kami yang telah hancur. Aku melihat tenda itu terkoyak karena cakaran suatu mahkluk. Aku melihat sekeliling memastikan sekiranya mahkluk itu masih berkeliaran disekitar kami.
“Kamu tetap disini, aku akan mencari mahkluk itu” aku segera berjalan menelusuri hutan tanpa membawa alat apapun. Sampai ketika aku melihat binatang seperti kelelawar sedang bergelayut di salah satu dahan pohon.
Seperti yang aku katakan, binatang ini bersayap seperti kelelawar, kepala nya seperti monyet dengan mata hitam dan cakar yang besar. Bulu nya berwarna abu-abu gelap menutupi seluruh tubuhnya yang mengerikan.
“AH!” aku merasakan cakaran pada pundakku namun tak meninggalkan bekas.
“Anna!” pasti Anna. Sinestasiku membuat aku bisa merasakan apa yang Anna rasakan.
Aku panik dan segera berlari mencari Anna. Aku menemukan Anna disebelah api ungun dekat tenda. Ia pingsan dan pundaknya berlumuran darah.
“Anna, sadarlah” kataku setelah berhasil mengobati luka Anna. Untung saja cakarannya tidak terlalu tajam dan aku membawa P3K.
“AHOOL!” seru Anna panik. Syukurlah ia sudah siuman.
“Tenanglah Anna” jawabku menenangkan Anna.
“Namanya Ahool. Dia mengerikan Rin. Jangan lupakan ia punya cakar yang tajam” aku segera memikirkan bagaimana caranya agar kami dapat keluar dari tempat mengerikan ini.
“Kita harus susun siasat”
“AHOOL!!”
“Dia datang Rin!” seru Anna. Sekarang aku mengerti kenapa dia disebut Ahool.
“Namanya terasa seperti cabai” kataku segera mengambil posisi. Dari yang pernah aku baca, Ahool bisa dilumpuhkan dengan cara mencabut salah satu bulu disayapnya.
“Noreen, menyingkirlah!”
“AHH!” binatang besar itu mencakar lengan kananku.
Anna mengambil perhatian Ahool dengan cara melemparinya dengan batu. Itu berhasil. Ahool bisa kami kuasai.
“Cabut bulu nya!” teriak Anna. Aku berusaha mencapai sayap Ahool.
“AKU DAPAT!” aku langsung menarik salah satu bulu Ahool. Ahool pun berhasil kami lumpuhkan. Aku segera berlari memeluk Anna.
“Kita pulang sekarang?” tanya Anna. Aku mengangguk.