Semua kisah itu masih terekam oleh indra. Kisah tentang kicauan burung yang mengisyaratkan bahagia, tarian kupu-kupu mengitari bunga yang semerbak menggoda, gesekan biola penyejuk jiwa, kedamaian mengisi relung semesta. Kisah tentang jiwa yang akan mengajarkan naluri tentang keajaiban keyakianan, tentang arti sebuah senyuman, jiwa yang menghapus perbedaan dengan kenyamanan, menyelipkan bahagia lewat canda, mengisi kekosongan dengan ribuan kasih sayang, jiwa yang bukan datang untuk singgah tapi untuk menuju.
Kisah seorang gadis bernama Ceyda Alyn. Kisah yang sempat ia rangkai dengan senyum merekah, namun berakhir dengan air mata pasrah. Tidak, ini bukan hanya tentang seorang Ceyda Alyn tapi juga tentang Anka Addean
“Ngapain? Serius amat” Anka melontarkan pertanyaannya saat ia melihat Ceyda tengah asyik dengan ponsel di tangannya, mengabaikan kehadirannya.
“Melihat foto-foto di galeri, menghapus beberapa foto lalu yang perlu dihapus” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
“Aku ada nggak di galerimu?” Anka melontarkan pertanyaan yang membuat gadis dengan netra cokelat tersebut mengalihkan pandangannya pada remaja di sampingnya.
“Maksudnya?” Ceyda mengangkat sebelah alisnya, dan memandang Anka heran.
“Abaikan, aku hanya bercanda” Anka menyengir kuda, menanpakkan deretan gigi nya yang rapi.
“Kau mungkin tidak ada di sana, karena kau bukanlah bagian dari masa lalu ku, ku harap kau akan menjadi bagian dari masa depanku” batin Ceyda, ia hanya mampu berbisik dalam hatinya tanpa mampu mengungkapkannya.
***
Langit tak lagi menampakkan warna birunya. Awan kehitam-hitaman telah memgambil alih keindahannya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Terlihat dua remaja tengah menikmati perjalanan pulang. Rumah mereka yang searah, membuat mereka tak jarang berpapasan di jalan dan memutuskan untuk pulang bersama. Menikmati canda tawa yang membuat perjalanan mereka terasa singkat, menyisakan kecewa saat tiba di persimpangan jalan, dan harus berpisah dari kenyamanan yang tidak mereka dapatkan ketika bersama orang lain.
Sore itu berebeda mereka tak pulang bersama dikarenakan berpapasan di jalan, keduanya pulang dari perjalanan yang mereka habiskan dalam kebersamaan. Anka mengajak Ceyda menghabiskan waktu bersama.
Anka sesekali menatap gadis yang tak pernah menanggalkan senyum manis di wajahnya. Ia harap senyum itu takkan pernah tergantikan dengan air mata, meski ia tak lagi bersamanya. Anka membelokkan kakinya kearah taman dan tak melanjutkan perjalanan pulang mereka. Ceyda yang terlihat heran tetap mengikuti kemana Anka pergi.
“Kenapa kita kesini? Bukankah kita akan pulang?” Ceyda menghujani Anka dengan pertanyaan-pertanyaannya setelah langkah Anka terhenti di dekat sebuah pohon rindang.
“Ceyda, aku akan pergi.” Anka menghentikan perkataannya sejenak sebelum ia melanjutkan perkataannya. “Aku akan kuliah di Mesir” Ujar Anka tanpa berani menatap Ceyda.
Ceyda masih tak bergeming dari tempatnya. Ia beku, lidahnya kelu, tak mampu mengucapkan ribuan kata di benaknya. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
“Apa yang kau tunggu, itu kabar yang bagus. Pergialah, bukankah itu impianmu?” ucap Ceyda menampakkan senyum yang dipaksa menahan ribuan pisau yang menghujam dirinya.
Anka mengalihkan pandangannya pada Ceyda, lalu berkata “Aku tak dapat meninggalkan cintaku disini” lirihnya, menatap Ceyda sendu.
Deg. Siapa yang Anka cintai?apakah dia mencintai orang lain? Apa semua kenyamanan dalam kebersamaan itu hanya sepihak?. Pertanyaan-pertanyaan yang tak Ceyda temukan jawabannya terus memenuhi benaknya.
Ceyda menguatkan hatinya, namun sepertinya netra cokelatnya tak mampu bekerja sama, ia berkaca-kaca, dan dengan sekuat tenaga ia tahan agar air matanya tak jatuh. “Kenapa kau tak katakan saja apa yang kau rasakan padanya” ucapnya.
“Ini sulit untuk dikatakan, karena...” Anka menggantungkan kalimatnya, dan kembali menatap Ceyda.
“Karena gadis yang kucintai adalah kamu Ceyda Alyn” bisik Anka dalam hatinya tanpa bisa mengungkapkannya. Ia takut, bukan karena takut Ceyda menolaknya, ia tau Ceyda juga mencintainya. Ia takut Ceyda bersedih dengan kepergiannya, ia tak ingin Ceyda menunggunya dalam kesendirian, ia ingin Ceyda melanjutkan kisah bahagianya, meskipun bukan bersamanya.
“Karena sekarang bukan saatnya untuk memiliki, jadi untuk apa berpura-pura memiliki” ucap Anka sebagai kelanjutan dari pernyataannya tadi.
Senyap. Tak ada satu katapun yang terlontar dari mereka berdua. Keduanya berjalan beriringan dan berpisah di persimpangan tanpa senyum perpisahan.
***
Ceyda tersadar dari lamunannya tentang potongan kisahnya bersama Anka. Sesosok anak manusia yang pertama kali mengenalkannya tentang cinta sebelum ia membuat Cedya menyicipi pahitnya luka.
Semua warna yang ia lukis dengan kanvasnya pergi meninggalkannya. Kini, ia hanya mampu melihat dua warna, hitam dan putih yang bahkan nampak kabur di pandangannya, menyisakan warna abu-abu yang hampa.
Ia tersenyum miris, meratapi kesendiriannya. Hujan yang belakangan ini, menjadi satu-satunya temannya pun mengacuhkannya. Ia hanya diam membisu saat Ceyda mencoba mengajaknya berdialog denagan beberapa pertanyaanya.
Hujan..
Bagaimana kau masih mampu memperindah langit dengan melukis pelangimu?
Bukankah ia melepasmu tanpa iba?
Tak ada jawaban. Hanya kesenyapan dalam kesendirian, rasa ini sungguh melelahkan. Haruskah ia menyerah pada semua yang ia rasakan. Rasa yang membunuhnya secara perlahan.
Oleh : Himmayatul Husna