Memanggil Namanya Tanpa Sadar
Aku merasa aneh ketika orang-orang bercerita tentang sebuah rumor yang terjadi di sekitarnya. Apa kalian percaya jika ada yang mengatakan rumor itu kepada kalian? Yah, aku juga tidak akan percaya karena aku orang yang realistis. Jika aku tidak melihatnya sendiri itu namanya cerita bohongan.
Akhir-akhir ini aku mendengar ada rumor yang mengatakan bahwa rumah besar di ujung kota memiliki banyak penghuni 'Roh orang yang sudah meninggal' banyak orang yang mengaku pernah melihat arwah gentayangan itu, mulai dari nenek yang selalu memasak di dapur, sesosok anak kecil yang berwujud setengah anjing setengah manusia, laki-laki besar berlumuran darah, dan 9 orang yang menjadi korban kekerasan. Waktu aku mendengar cerita tentang rumor itu bulu kudukku merinding. Tapi mau bagaimanapun aku masih tidak percaya dengan omongan orang-orang.
"Lilis, kamu sudah mendapat rumah kontrakan? Aku sama anak-anak udah dapet. Untungnya gak jauh dari kampus," ucap temanku bernama Lisa.
"Belum nih Lis, kamu bisa tolong bantu aku gak?"
"Tentu bisa dong, aku sengaja datang kesini untuk menunjukkan rumah kontrakan," ucapnya bangga.
"Kamu dapet dari mana?" tanyaku aneh. Yah aku tahu sendiri kalau Lisa tidak punya banyak teman, lagian dia selalu mengurung dirinya di kamar.
"Aku ambil dari pamflet di jalan," jawabnya enteng.
Saat Lisa pulang aku langsung memilih beberapa rumah yang cocok untuk aku tinggali. "Nah ayo kita lihat rumahnya," ucapku penuh semangat.
Saat melihat rumah pertama tenyata tak sesuai dengan apa yang ada di foto. Rumahnya begitu berantakan, kotor, banyak kotoran, dan sampah-sampah yang berserakan. Padahal harga untuk rumah ini tidaklah murah.
Rumah yang kedua sesuai dengan gambarnya. Tapi, agak sedikit risih karena di sisi kanan ada rumah bordil, di sisi kiri ada bar, dan di belakang rumah ada danau yang tak terawat. Hah, kalau aku tinggal disini aku tidak akan selamat.
"Ayo, rumah terakhir jangan mengecewakan" ucapku semangat.
Wow, untuk rumah ke tiga tak begitu buruk. Rumahnya bersih dan terawat. Di depannya ada taman kecil dan pemandangannya juga bagus. (Bayangkan saja rumahnya seperti cover)
Setelah membayar uang kontrakan aku mulai berkeliling untuk mengetahui seluk beluk tempat dimana aku akan singa. Rumah ini memiliki 3 kamar dan 2 kamar sudah ada orang yang mengontrak. Setelah puas melihat seluruh isi rumah aku dan pemilik memutuskan untuk pergi ke kafe yang tak jauh dari rumah.
"Nak, ada 2 peraturan yang harus kamu ingat dengan baik," kata ibu kos membuatku tersentak "Kalau kamu berada di rumah jangan pernah mengambil buku yang berada di rak atas dan jangan pernah menyebut nama Chart, jangan pernah meskipun tidak sengaja".
"Memangnya kenapa Bu?" Tanyaku penasaran. Ku lihat wajah ibu kos pucat dan beberapa kali beliau menarik ucapannya. Karena merasa tidak enak aku mengalihkan pembicaraan "Kalau boleh tahu siapa anak yang serumah dengan saya?".
"Ada 3 anak, kamar pertama di tempati oleh mahasiswa sepertinya sekolahnya sama denganmu, kamar kedua ditempati adik dan kakak. Untuk informasi lebih lanjut kamu tanyakan ke mereka," jawab ibu kos dengan wajah tersenyum.
Sudah 1 bulan aku tinggal di rumah ini. Aku sudah mengenal teman serumahku. Kak Joy adalah kakak kelasku, Mira dan Amira kakak beradik kembar yang cerdas, dan ada 1 lagi anggota baru yang bernama Abel perempuan cantik yang pendiam.
"Kak Lilis," teriak Mira dari dalan kamarnya.
"Ada apa," ucapku ketika melihat Amira sudah berada di depanku.
"Kak, kakak bisa nemenin kita di kamar?," Ucapnya ketakutan.
"Kakak gak bisa dek habis ini kakak ada kelas," jawabku membuat Amira sedih.
"Kyaaaa," teriak Mira membuatku dan Amira pergi ke kamarnya.
"Ada apa?" tanya kak Joy panik.
"Kakak, aku takut," ucap Mira sambil berlari ke arahku. Aku, Kak Joy, dan Amira mencoba membuatnya tenang namun Mira menangis begitu kencang.
"Ayo, sekarang kita ke kafe aja dulu," sahut kak Joy.
Saat berada di kafe Mira menjadi tenang namun masih dalam kondisi ketakutan.
Aku mengelus-elus rambutnya dan bertanya dengan nada lembut "Mira ada apa dek?"
Awalnya Mira ragu-ragu untuk menjawab tapi saat kak Joy mulai membuka mulut mereka mulai bercerita tentang apa yang mereka lihat.
"Apa? Mana mungkin," ucapku tak percaya dengan apa yang mereka katakan.
"Kalau kamu gak percaya yah sudah, kami tidak memaksa," jawab kak Joy ketus.
Aku masih memikirkan apa yang dikatakan mereka semua. "Hah, bikini takut aja sih mereka," dengusku kesal.
Saat aku ingin ke kamar mandi aku melihat Abel mengambil buku dari rak yang paling atas. Dia membuka lebar demi lembaran. Karena sudah lama memperhatikan aku mulai tertarik dan pergi menuju arahnya.
"Tuan...Ch..a..rt.".
"Tunggu, sepertinya dia memanggil nama Chart. Tapi siapa?"
"Lilis,kemari" teriak Kak Joy membuatku tersentak.
"Baik," sahutku.
Saat aku berjalan mataku masih terfokus ke arah Abel. Di depan pintu Kak Joy aku merasa aneh karena tembok kamar ada motif jari tangan. "Aneh banget kan?" Tanya kak Joy panik.
"Ada apa kak?"
" Kemarin baru aja aku cat tapi jejak tangan ini masih aja muncul," jawab kak Joy frustasi.
Setelah kejadian itu muncul peristiwa yang tak bisa dijelaskan oleh nalar manusia. Jam 12 malam pasti ada orang yang mengetuk setiap pintu kamar. Setiap pagi terdengar suara orang memasak dan tercium aroma busuk. Pada sore hari kami pasti mendengar 10 suara tembakan.
"Tidak bisa dibiarkan, mungkin saja ada orang yang iseng sama kita," ucapku melihat mereka ketakutan.
"Tapi siapa yang iseng setiap hari kayak gitu? Kalau beneran itu orang udah aku hajar sampai mampus," sahut kak Joy dengan nada marah.
"Kakak gak tahu apa-apa? Maksudnya selama ini kakak yang tinggal lebih dulu daripada kami?" Sahutku.
"Ngaco, kita sama-sama pindah di hari yang sama. Aku bahkan lihat si kembar mengepak barangnya," jawab kak Joy.
"Tapi kak, ada yang aneh gak sih? Kejadian yang berada di rumah seperti rumor yang berada di ujung kota," sahut Mira membuatku ingat akan rumor tentang hantu tersebut.
"Ah, Iyah benar. Tapi bagaimana mungkin? rumah yang kita kontrak bukan berada di ujung kota, rumahnya juga bagus dan gak mencurigakan," jawabku membuat mereka berpikir.
"Tapi kak, ada yang aneh gak sih sama ibu pemilik? ibu berkata kalau kita tidak boleh mengambil buku yang berada di atas rak dan tidak boleh menyebut nama Chart," sahut Amira
"Eh, aku pernah lihat Abel mengambil buku di rak yang paling atas terus dia membaca apa yah? aku tidak yakin sih," jawabku sambil berpikir.
"Aneh juga sih Abel, sebenarnya dia tidur di mana? Kata Bu kos rumahnya ada 3 kamar dan semua kamar sudah di tinggali sama kita," ucapan Kak Joy membuat kita semua tertegun sejenak.
"Benar juga, ada yang aneh sama Kak Abel. Dia selalu berbicara sendiri dan marah-marah sendiri," ucap Mira dengan pasti.
"Kita belum tahu apa yang terjadi, sebaiknya kita mencari siapa dalang dibalik semua kejadian di rumah kos," tambahku yang di setujui oleh mereka.
Malam hari tiba. Saat mendengar bunyi ketukan pintu dengan cepat aku membukanya. "Aneh," ucapku melihat tak ada orang yang berada di luar.
Tok.Tok.Tok.
"Hah, apa yang terjadi? padahal tidak ada orang yang mengetuk tapi kenapa ada suaranya?," Panas dingin menjalar ke seluruh badanku.
"Kakak, tolong, kyaa," teriak Amira membuatku bergegas ke kamarnya.
"Ada apa?" tanyaku panik.
"Itu, disana tadi ada Chart, aku yakin itu orang yang sama di lukisan ibu kos," jawab Amira.
"Kenapa kamu memanggil namanya sih? bukannya kita tidak boleh menyebut namanya yah!," sahut Mira membuat Amira pucat pasih.
"Pergi dari sini," teriak kak Joy membuat kami tersentak.
Kami dengan cepat menuju kamar Kak Joy. "Ada apa kak?" tanya Mira.
"Itu, di sana ada laki-laki, d-dia sudah meninggal," jawab Kak Joy ketakutan.
Saat sedang mengamati ruangan kak Joy dengan tak sengaja aku melihat pantulan seorang laki-laki berwajah hancur. Aku terkejut dan tak sengaja terjatuh. Saat aku melihat langit-langit kamar aku sangat terkejut dengan apa yang baru aja aku lihat.
"Kak, kakak ada apa?" tanya Amira cemas.
"L-lihat atas," ucapku dengan gemetar.
"Tidak ada apapun," sahut mereka bertiga.
Aku mendongak ke atas dan melihat ada tulisan berwarna merah 'Akan tiba giliranmu' aku tidak mengerti apa maksudnya. Karena merasa ada yang ganjal dengan rumah ini aku memutuskan untuk pergi.
"Kenapa kakak pergi," ucap Amira sambil mengisi tersedu-sedu.
"Kakak akan tinggal di rumah teman kakak," aku memandang mereka dan mengelus rambutnya "Kalian hati-hati yah di rumah ini, kalau ada apa-apa telephon kakak atau langsung hubungi polisi".
Satu minggu berlalu saat aku melihat siaran televisi aku sangat terkejut. Air mataku tak bisa terbendung. Potret kak Joy, Mira, dan Amira terpampang di sana.
"Lilis kamu kenapa?," tanya sahabatku cemas.
"Mereka teman-teman satu kos ku," sahutku sambil menangis.
"Mereka semua ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Dari laporan tim penyelidik di temukan beberapa hal yang janggal seperti pemilik yang melarang anak-anak tidak menyentuh rak atas dan memanggil nama Chart, ditemukan bekas tulisan 'Akan tiba giliranmu' di langit-langit atap setiap kamar, dan hal yang paling seram adalah pemilik kos mengatakan 'Sudah aku bilang jangan memanggil nama Chart, apalagi membaca buku di rak atas. Karena ulah kalian, kalian sendiri yang menjadi korban' untuk sekarang laporan yang kami terima akan diproses secara hukum".