"Brama, kumohon lepaskan aku!"
"Sinta, tolong jangan seperti ini."
"Tapi kita tidak bisa terus begini. Ini tidak adil untukmu... hikss."
"Tapi aku tidak melepaskanmu. Aku ... aku tidak bisa jauh darimu."
"Kamu pasti bisa, kamu pasti akan menemukan seseorang yang dengan tulus mencintaimu. Aku sebentar lagi akan menikah, kita tidak bisa seperti ini."
"Tidak! Aku tidak mau, aku tidak bisa."
Aku menggenggam tangan Brama dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menyentuh wajahnya, mengelus pelan sambil menatap matanya.
"Lihat aku, Bram." Aku mengarahkan matanya untuk menatap mataku.
"Brama, kamu tahu kan kalau aku menyayangimu. Aku tidak ingin kamu terluka lagi lebih dalam. Aku juga tidak bisa untuk membalas cintamu seperti cintamu padaku."
"Kamu tidak perlu membalas cintaku, Sinta. Kamu ada di hidupku sudah cukup untukku. Jadi, jangan memintaku untuk melepaskanmu, menjauhimu atau pun melupakanmu karena aku tak akan pernah bisa."
Brama membawa tangan kananku ke bibirnya dan mengecupnya lama. Air mata masih mengalir di wajah kami.
"Ini salahku, seharusnya aku tidak pernah menerima segala kebaikanmu apalagi cintamu dengan embel-embel persahabatan."
Aku mengembuskan napas dan menarik tanganku dari Brama.
"Maafkan aku, Bram. Tapi, aku sungguh tidak bisa lagi menjalani hubungan ini. Selain aku menyakitimu, aku juga sudah mengkhianati kepercayaan dan cinta Mas Rama juga kedua keluarga kami."
"Brama, kamu juga tahu kan kalau selama ini yang kita lakukan salah? Aku juga sakit Bram melihatmu seperti ini, karena itu aku tidak ingin kita lebih sakit lagi nantinya. Lupakan aku dan carilah wanita lain yang tulus mencintaimu Bram, kumohon."
Brama menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Sangat sakit melihat tatapan matanya yang menyedihkan itu. Tapi aku tidak boleh lengah, aku harus segera menyudahi pembicaraan ini. Aku tidak mau lagi tergoda untuk menyetujui keinginannya.
"Bram, sekali lagi aku mohon maaf dan tolong lupakan aku. Aku harus pergi sekarang karena Mas Rama sudah menungguku."
Aku segera beranjak dari tempat pertemuan kami tanpa menunggu jawaban dari Brama. Aku terus saja berjalan dengan cepat tanpa menoleh ke belakang dan mencari tahu bagaimana keadaan Brama. Lebih cepat pergi, lebih baik pikirku.
---o---
Seminggu sudah berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Brama dan dia tidak pernah menghubungiku sejak itu. Aku merasa lega karena Brama pasti sudah menerima keputusan yang sudah aku ambil dan dia benar-benar melupakanku.
Tetapi, siang ini aku mendapat kabar dari keluarganya kalau Brama sedang dirawat di rumah sakit dan keadaannya semakin memburuk. Dia jatuh sakit sejak aku memutuskan hubungan kami. Mereka memintaku untuk menjenguk Brama karena dia selalu memanggil namaku.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Sebenarnya tidak masalah bila aku meminta izin pada keluargaku atau Mas Rama untuk menjenguk Brama karena kami memang akrab sejak SMA. Dia juga sering ke rumahku, jadi keluargaku atau pun Mas Rama juga sudah mengenal baik Brama karena mereka mengira kami bersahabat. Tapi mereka salah, kami tidak murni bersahabat seperti yang mereka kira.
Sebenarnya sudah berulang kali aku ingin memutuskan hubungan terlarang kami, tetapi Brama tidak pernah mau. Bahkan setelah aku dilamar Mas Rama pun, dia tetap tidak memedulikannya. Dia selalu berkata tidak bisa hidup tanpaku serta membujukku untuk tetap mempertahankan hubungan kami, dan salahku yang selalu terbujuk rayuan manisnya.
Aku menggigit bibir bawahku, otakku berpikir keras mencari jalan keluar. Aku takut tidak bisa menahan diriku bila bertemu Brama lagi, tetapi aku juga tidak tega menolak keinginan keluarga Brama. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
Gawaiku kembali berdering, nama Brama nampak di layar. Aku hanya menatap layar gawaiku tanpa berminat menjawabnya sampai deringnya berhenti sendiri. Tak lama berdering lagi tapi aku masih enggan menjawab. Sampai 3 kali panggilan itu tak kujawab dan hanya kupandangi saja. Aku tidak sanggup mendengar suara Brama karena itu aku mengabaikannya.
Aku meninggalkan gawaiku di atas nakas, melangkah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Sekitar 30 menit aku baru keluar, kurasakan agak ringan pikiranku setelah tadi berendam di bak berendam. Setelah berganti baju aku kembali mengecek gawaiku ada beberapa pesan yang masuk dan salah satunya dari Brama.
Aku langsung membuka pesan dari Brama. 'Sinta, ini Mbak Lili, keadaan Brama semakin memburuk sekarang dia di ICU. Dia ingin bertemu denganmu Sin, mbak mohon kamu bisa datang ke sini.'
Gawaiku terlepas dari tangan. Aku langsung terduduk. Deg ... deg ... deg .... Jantungku berdegup dengan kencang, air mata langsung lolos keluar dari kedua mataku. Badanku rasanya lemas bahkan rasanya tak sanggup untuk berdiri. "Brama, maafkan aku."
Aku mulai mengumpulkan kesadaranku, kuambil gawaiku yang terjatuh tadi lalu kucari kontak Mas Rama. Begitu deringan ketiga Mas Rama menjawab panggilanku.
"Halo Sayang, apa kamu merindukanku?" Mas Rama seperti biasa menggodaku bila aku menghubunginya terlebih dahulu.
"Mas ...," jawabku dengan suara serak.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa suaramu seperti itu?"
"Brama masuk ICU, Mas." Aku kembali menangis tergugu. "Aku ... aku harus bertemu dengannya."
"Ya Tuhan, benarkah? Kamu tenangkan diri dulu sambil menunggu Mas. Sepuluh menit lagi Mas sampai, Mas akan mengantarmu, jangan ke mana-mana. Oke!"
"Iya, Mas."
Aku segera membasuh wajahku dengan air. Tak lupa sedikit memakai bedak dan lipstik tipis agar tidak terlalu pucat. Segera kuambil tas dan menunggu Mas Rama di depan rumah.
---o---
Begitu tiba di rumah sakit aku bergegas mencari ruangan ICU tanpa menunggu Mas Rama yang sedang memarkirkan kendaraannya. Setengah berlari aku menuju ke sana, perasaan cemas menghantuiku. Tak lama aku melihat keluarga Brama yang berada di kursi penunggu pasien ICU, segera kulangkahkan kakiku mendekati mereka.
Aku memberi salam pada papanya Brama, Mbak Lili dan juga Hanum, adik Brama.
"Mbak, kenapa baru mengabariku?" tanyaku pada Mbak Lili.
"Maaf Sin, kami tidak mau mengganggumu. Aku tahu kamu sedang sibuk mempersiapkan pernikahanmu."
"Tidak apa-apa, Mbak. Kalian sudah seperti keluarga untukku. Apa yang sebenarnya terjadi Mbak sampai Brama harus dirawat di sini?"
"Seminggu yang lalu Brama terlibat kecelakaan beruntun. Beberapa organ dalamnya terluka dan dia sempat beberapa hari tak sadarkan diri. Selama tidak sadarkan diri itu, dia berulang kali memanggilmu, Sin." Tangis Mbak Lili pecah, begitu pun aku, kami berpelukan saling menguatkan.
"Saat kemarin dia sadar, dia bilang ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali."
Deg .... Jantungku rasanya berhenti saat mendengar kalimat terakhir Mbak Lili.
"Tadi pagi, kondisinya semakin menurun karena itu Mbak beranikan diri untuk menghubungimu. Setidaknya kami bisa memenuhi keinginan terakhirnya."
"Brama pasti akan sembuh Mbak, kita harus yakin dan terus berdoa untuknya," hiburku meski aku pun tak yakin dengan kata-kata yang aku ucapkan.
"Bolehkah aku bertemu dengan Brama?" Tanyaku pada Mbak Lili sesaat setelah melepas pelukan kami.
"Masuklah, ada mama di dalam sedang menunggu Brama."
Aku menatap Papa Brama dan beliau menganggukan kepalanya, begitu pula Mas Rama yang sudah duduk di sana, yang tanpa kusadari kedatangannya.
Aku melangkah masuk ke ruang ICU. Setelah memakai pakaian khusus pengunjung ICU, aku menghampiri ruangan Brama. Dari jauh aku melihat banyak kabel dan selang di tubuhnya. Hatiku rasanya teriris-iris melihat keadaan Brama. Matanya terpejam dengan wajah yang pucat dan selang oksigen di hidungnya.
Aku menepuk pelan pundak Mama Brama, menyalami dan memeluk beliau. Aku tak sanggup menahan air mataku saat memeluknya. "Maafkan Sinta, Tante." Hanya itu yang bisa terucap dari bibirku.
Mama Brama mengelus punggungku pelan, menenangkanku. "Tidak ada yang salah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini semua sudah takdir dari Tuhan."
Setelah aku tenang, Mama Brama melepaskan pelukannya. "Dia sedang tidur sekarang, tadi dokter memberinya obat tidur lewat infusnya. Kamu mau sendiri di sini dahulu atau Tante temani? Tante yakin ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan."
Aku mengangguk pelan, "Sinta sendiri saja yang menjaga Brama. Tante istirahat dahulu, pasti Tante capek."
"Terima kasih ya Sin, kamu sudah repot mau meluangkan waktumu di sela mengurus pernikahanmu."
"Tidak repot kok Tante, saya justru menyesal kenapa baru diberi tahu hari ini."
"Kami tidak ingin mengganggumu Sin. Tante keluar dulu ya, tolong jaga Brama. Kami ada di luar kalau kamu membutuhkan apa pun."
"Baik, Tante."
Aku duduk di kursi di samping tempat tidur Brama. Kutelusuri tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku mengambil tangan kanan Brama dan menggenggamnya.
"Bram, maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku selama ini. Maafkan semua kebohohanku selama ini. Maafkan semua sikapku selama ini. Maafkan semua kata-kataku yang sudah menyakitimu. Bangunlah Bram, keluargamu menunggumu."
Aku menatap lekat wajah pucat Brama, aku melihat pergerakan matanya setelah aku memohon maaf padanya.
Brama membuka matanya, menggerakkan bola matanya ke kanan dan menatapku. Dia tersenyum melihatku. "Sss ... Sin ... ta."
"Aku di sini Bram." Aku memberikan senyum terbaikku.
"Kka ... pan ... kamu ... ke ... sini?"
"Baru saja. Sudah jangan banyak bicara, istirahatlah Bram. Aku akan menjagamu di sini. Kita bisa bicara panjang lebar saat kamu sembuh ya."
"Ttt ... tti ... dak ... Sin. Wak ... tu ... ku ... ssu .. dah ... tti ... dak ... ba ... nyak ... la ... gi."
"Ssstttt ... kamu tidak boleh bilang begitu. Kamu pasti sembuh. Mana Bramaku yang biasanya selalu optimis dan ceria? Hmmmm."
"Ma ... af ... Sin, aaa ... ku ... tti ... dak ... biss ... sa ... mene ... pati ... jan ... jiku ... un ... tuk ... sel ... lalu ... di ... sam ... ping ... mu."
Aku menggeleng lemah, air mataku mulai menetes di pipiku.
"Ja ... ngan ... mena ... ngis .... Aaaa ... ku ... akan ... mele ...pasmu .... Hhhi ... dup ... lah ... baha ... gia ... dengan ... Rrrama. Berrr ... jan ... jilah ... Sin."
"Iya Bram, aku janji." Air mataku semakin deras mengalir. "Kamu juga harus bahagia Bram. Kamu harus sembuh."
Brama tersenyum lagi, "aaa ... ku ... baha ... gia ... bisa ... meli ... hatmu ... ssek ... karang. Jjja ... ngan ... menna ... ngis. Aaaku ... ing ... ngin ... mmmeli ... hat ... senyyy ... nyummmmu .. sebbbe ... lum ... aaaku ... menu ... tup ... mmmmata ... ku."
Aku menghapus kasar air mataku, menahan sesak di dadaku. Aku berusaha memberikan senyuman termanisku pada Bram meski rasanya berat sekali bibir ini untuk tersenyum.
"Kkkamu ... canntikkk ... bbbila ... ter ... senyum. Sssellla ... mat ... tinggal ... Sssinta. Aaaku ... men ... cintaimu ...." Brama memejamkan matanya, bibirnya tersenyum dan genggaman tangannya di tanganku mengendur.
Titttttttt ... tiba-tiba mesin di samping Brama berbunyi nyaring dan nampak garis datar di sana.
"Tidakkkkk ... Brama, bangun Brama. Kamu jangan bercanda Brama." Aku berteriak sambil menggoncangkan tubuh lemahnya.
Dokter dan beberapa perawat segera mendekati Brama. Mereka melakukan berbagai tindakan untuk menyelamatkan Brama, sementara aku hanya bisa mundur dan terpaku melihat semua itu.
Aku melihat papa, mama, kakak dan adik Brama sudah ada di dekatku, begitu juga Mas Rama, dia di sampingku, memelukku, menopang tubuhku. Kami hanya bisa berdoa dan melihat semua tindakan yang dilakukan oleh dokter dan para perawat sambil menunggu keajaiban.
Setelah beberapa menit Brama tidak merespon, dokter dan para perawat menghentikan tindakan.
"Pasien Brama dinyatakan meninggal pada pukul 16.10 WIB," kata dokter sambil melihat jam tangannya.
Aku merasa bagai disambar petir mendengarnya. Pikiranku mendadak kosong, aku sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi sampai akhirnya aku merasakan tubuhku limbung dan pandanganku menjadi gelap.
---o---
Aku berdiri di sini, di samping gundukan tanah yang masih merah itu, tempat di mana Brama berada sekarang. Aku terus berusaha menahan air mataku, sambil terus berdoa untuknya.
Mas Rama masih setia mendampingiku dan menguatkanku sejak kemarin. Lelaki baik yang sudah Tuhan kirimkan untukku. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku, yang pernah kukhianati cintanya walau mungkin dia tidak tahu.
Para pelayat sudah mulai meninggalkan tempat pemakaman, menyisakan keluarga dan orang-orang terdekat membuat tempat ini menjadi lebih sunyi.
Papa, mama, kakak dan adik Brama terlihat tegar, walau raut kesedihan tampak jelas terlihat di wajah mereka. Aku mendekati mereka, ikut berjongkok di samping pusara.
Aku memegang nisan kayu yang bertuliskan nama Brama. Aku elus pelan seolah aku sedang mengelus Brama, aku menutup mata lalu khusyuk berdoa untuknya.
Selesai berdoa aku pamit pada keluarga Brama, mereka berterima kasih padaku dan meminta agar tidak memutus tali silaturahim meski Brama kini sudah tiada. Kami bersalaman dan berpelukan, saling menguatkan.
"Mas, ayo kita pulang," ajakku pada Mas Rama setelah aku berdiri mendekatinya.
Mas Rama menggangguk, lalu berpamitan pada keluarga Brama. Setelah itu kami meninggalkan makam.
Selamat tinggal Brama, berbahagialah di alam keabadianmu. Semoga kamu segera bertemu bidadari dan cinta sejatimu di sana. Aku di sini akan selalu mendoakanmu dan mengenangmu, aku menyayangimu kekasih gelapku.
---END---
Jogja, 300920