hidup miskin dan punya hutang dimana-mana. bukanlah lah yang mudah untuk kehidupan keluargaku saat ini.
sudah hidup pas-pasan bahkan nyaris tak bisa makan setiap harinya, tuhan masih saja mau menguji keluargaku dengan kematian dan kepergian seorang pahlawan yang sangat kami cintai kehadirannya.
***
"ayah!!" panggilku ketika melihat sosok cinta pertama bagis setiap gadis didunia ini. ya sosok pahlawan yang sangat dikagumi oleh anaknya salah satu dari sekian banyak adalah aku.
"princess ayah... sudah pulang sekolah...?" tanya ayah saat melihatku berlari kearahnya dan memeluk ayahku dengan sangat erat.
"udah... lina kangen ayah...! " senyumku merekah ketika melihat ayah mengangguk dan tersenyum.
aku sangat dekat dengan ayah, karena rasanya aku dan ayah punya banyak kesamaan.
bukan berarti aku tidak dekat dengan bunda tapi memang begitulah keadaannya. aku selalu ada bersama dengan ayah.
***
"keluar...!! ini sudah dua bulan, tapi kalian masih saja tidak mau bayar kontrakan...! emangnya ini milik bapakmu...? " bentak ibu-ibu pemilik kontrakan.
ayah hanya bisa menunduk dan bunda hanya bisa menangis dan memeluk ketiga adikku yang masih kecil.
ini bukanlah pertama kalinya kami diusir dari rumah kontrakan tapi, ini sudah kesekian kalinya.
"buk, saya akan membayarnya besok!!, tapi biarkan kami menginap untuk malam ini saja bu!.. anak-anakku masih sangat kecil... " mohon ayah bersimpuh dikaki ibu pemilik kontrakan.
"apa peduliku!! keluar...!" bentak ibu pemilik kontrak. sehingga tidak ada pilihan bagi kami dan meninggalkan rumah kontrakan dan pergi meninggalkan tempat itu.
hawa dingin menusuk permukaan kulitku, sehingga aku hanya menggigil didalam pelukan ayah.
sedangkan ketiga adikku diselimuti oleh bunda dengan selimut.
sekepergian dari kontrakan kami sekeluarga hanya bisa mengungsi dikaki lima masjid lantaran pintu mesjid yang sudah dikunci.
***
ayah dan bunda bekerja lebih keras untuk membiayai kehidupan kami dengan ayah yang menjadi tukang sedangkan bunda menjual kue keliling kampung.
gaji ayah sangat tidak cukup untuk membiayai kami. padahal ayah sudah lama bekerja disana tapi, gajinya hanya tigapuluh ribu rupiah saja.
bagaimana kami bisa hidup dengan uang segitu. harga beras perkilonya saja sepuluh ribu, belum lauk, uang kontrakan, uang sekolahku dan yang lainnya.
tapi walaupun begitu ayah tetap semangat bekerja dari pagi dan pulang malam untuk membiayai hidup kami.
ayah bukan dari golongan orang miskin, keluarga ayah adalah orang kaya sedangkan bunda hanya anak yatim yang tak punya apa-apa.
itulah sebabnya keluarga ayah sangat tidak suka dengan bunda.
***
kehiduapan dikota yang semakin hari semakin sulit dan desakan adik perempuan ayah yang ingin harta warisan supaya diberikan padanya membuat ayah jadi sangat frustasi.
dan akhirnya ayah memilih menjual warisan itu kepada adik perempuannya. sejurus dengan itu ayah langsung membeli tanah yang cukup luas didesa dipinggir kota.
uang penjualan rumah warisan tersisa banyak dan cukup untuk membayar utang dan juga membuat rumah untuk kami.
"sungguh!! kita akan punya rumah baru...? " tanyaku antusias pada ayah.
"ia sayang kita akan punya rumah baru" senyum ayah, bunda sangat bahagia hingga tanpa sadar air mata bunda mengalir membasahi pipi bunda.
"jadi hari ini kita berkemas... lina bantuin ayah sama bunda yy" tawar ayah yang langsung kuangguki dengan semangat dan senang.
***
air mataku mengalir sangat deras ketika melihat sebuah rumah, tidak ini masih belum bisa disebut dengan rumah lantaran atap yang belum dipasang hanya ditutup dengan tenda.
dan lantainya yang masih dari bebatuan yang belum disemen sama sekali. namun, aku sangat bahagia.
"hiks... hiks, sungguh ini rumah kita ayah! bunda! kita akan tetap disini kan selamany!! tidak ada lagi kan yang mengusir kita... ¿" isakku sambil memandang kedua wajah orang tuaku yang sudah dibanjiri dengan aor mata.
"ia sayang! ini rumah kita, selamanya" angguk bunda lalu memelukku, ketiga adikku yang masih kecil juga ikut-ikutan memelukku.
"kita akan disini, dirumah kita selamanya sayang " senyum ayah dan ikut memeluk kami sekeluarga.
***
kehidupan didesa tidak sesulit dikota lantaran ada sangat banyak sayuran dan buah yang didapat disini.
dan orang desapun sangat ramah pada kami, walaupun mayoritas warga desa beragama nasrani tapi mereka sangat baik.
pemukiman mayoritas islam berjarak sekitar dua kilo meter dari rumah kami. dan disana pula rumah wasiat yang dijual ayah berada disana yang ditempati oleh nenekku dan suami barunya.
disini kami mulai berkebun dan juga bertani bersama dengan warga desa dan hasilnya akan dijual dengan pedagang.
ayah juga kini bekerja dibeberapa proyek sebagai tukang dan gajinya lumayan besar sehingga kehidupan kami cukup makmur jauh dari sebelumnya.
betul kata orang bijak. jika kita dalam keadaan susah tidak ada sama sekali yang melirik, berbeda jika hidup berpunya orang pasti akan mendekat untuk sekedar menjilat.
keluarga ayah yang sebelumnya menjauh, mendekat dan bahkan memuji-muji bida padahal sebelumnya cacian dan makian dilotarkan.
begitulah orang aku yakin semuanya juga begitu, walaupun tidak semuanya yang seperti itu.
***
hidup kami yang berkecukupan itu tidak berlangsung lama. lantaran ayah yang harus mengidap penyakit kanker paru-paru akibat dari merokok dan abu-abu polisi ditempat kerja.
uang yang dihasilkan dari berkebun semuanya diberikan untuk biaya pengobatan ayah.
walaupun sakit ayah masih tetap memaksa untuk bekerja. tapi, itu nihil karena kondisinya yang semakin memburuk.
akhirnya tinggal bunda yang bekerja sebag pekebun dan petani untuk menghidupi keluarga kami.
berbulan-bulan berlalu dan biaya obat ayah bertambah besar. orang yang dulunya mengaku sebagai saudara dan selalu dibantu ayah ketika susah. entah dimana kini mereka. keluarga ayah yang kemarin-kemarin memuji bunda kini kembali menghina-hina bunda lagi.
***
"bunda lina udah nunggak beberapa bulan, kalau begini terus lina bisa dikeluarin dari sekolah" ya semenjak ayah sakit penghasilan
dari hasil penjualan sayur dan buah dikerahkan untuk biaya rumah sakit ayah.
"sayang mintaa waktu dulu yy ibu pasti akan cari cara" kata ibu saat itu.
karena tidak tahu mencari jalan kemana akhirnya aku memilih untuk minta tolong dengan nenek. dengan berjalan kaki sejauh dua kilo meter dari rumahku kerumah nenek.
"nen bantuin lina kali ini saja" mohonku bahkan saat itu aku bersimpuh dihadapannya.
"pergi kamu!!! kalau tidak bisa yaudah berhenti ajah sekolah" hardiknya yang membuat nyaliku ciut saat itu.
dengan hati kecewa aku pergi dari sana.
"nenek minta uang jajan... "dengan manjanya sepupuku itu bergelayut diperut nenek. senyum terbit dari bibir nenek dan memberikan beberapa lebar uang ratusan pada sepupuku itu.
aku yang melihat itu hanya memandang miris akan hal itu.
***
"sayang pakailah uang ini!! ayah akan baik-baik saja" senyum ayah memberikan padaku uang pecahan sepuluh ribu dan beberapa uang lima ribu dan juga uang recehan yang cukup untuk biaya sekolahku.
"tapi ayah... "kataku terhenti saat ayah mengenggam tanganku erat.
"pakailah, dan berjanji kau akan sekolah dengan giat... " mintaa ayah. aku langsung mengangguk dan memeluknya dengan sangat erat.
"lina janji ayah!! " yakinku
***
hatiku sangat senang saat akhirnya aku lulus
sekolah menengah pertama dan alhamdulilah aku mendapat biaya siswa untuk sekolah disma khusus putri dikota x.
langkahku berjalan dengan sangat lebar sedikit berlari untuk kerumah. untuk menyampaikan kabar bahagia pada keluargaku.
"ayah! bunda!! " panggilku saat sudah tiba dirumah tidak ada sahutan hanya isakan kecil dari arah kamar.
aku berjalan mengikuti suara isakan itu dengan hati yang bergetar.
"ayah... "lirihku mendekati ayah yang mendekati sakaratul mautnya.
"hiduplah dengan baik... " setelah ucapan itu terucap dari bibir ayahku. perlahan ayah mulai tak sadarkab diri dan akhirnya meninggal dunia.
"ayah.. hiks... hiks huwaaaa" tangisku pecah dibarengi dengan bunda yang sudah memeluk tubuh ayah yang sudah kaku dan tak bernyawa lagi.
bahkan adik-adikku sudah menangis sesegukan.
hari itu adalah kepergian darinya orang yang sangat kami cintai. dan hari itu juga aku bertekat untuk menjadi orang yang jauh lebih baik.
dan bertekat untuk menjadi orang yang tidak bisa disepelekan baik dari keluarga ayah maupun orang lain.
kalian tahu apa hal yang terlucu dari keluarga ayahku. ya ibunya bahkan adiknya ayah tidak datang pada hari itu. padahal hari itu adalah terakhir kali mereka bisa menyentuh orang yang keluar dari rahimnya dan yang sedarah.
dan setelah ayah meninggal mereka malah menjelek-jelekan almarhum ayah. apakah pantas jika mereka masih dihormati.
pantaskah jika mereka masih dicintai, dan pantaskah jika mereka masih dianggap keluarga.
@@@
ayah adalah sosok pahlawan dalam keluarganya.
orang yang selalu melindungi dan mencintai kita.
dia adalah sosok yang menjadi cinta pertama puterinya.
ayah selalu bekorban harta dan jiwa untuk kebahagian keluarganya.
bagi kalian diluar sana yang masih mempunyai sosok seorang ayah..
cintailah dia, sayangi dia , rawatlah jika dia sakit, uruslah dia jika sudah tua.
karena jasanya lebih besar dari pada yang kalian berikan itu.
@@@
ibu sosok yang selalu berhati lembut.
segala sesuatunya itu pasti menunggu keputusan dari ibu dahulu.
dia sosok yang rela dicaci maki hanya untuk mempertahankan kebahagian keluarganya.
selalu ada disaat kita butuh.
selalu ada jika kita sedang buntu
dan bagaikan pelita yang selalu menerangi jalan kita.
ibu orang yang tidak pernah memohon balas budi atas usahanya melahirkan,merawat dan menjaga kita dan juga orang yang budinya tidak bisa kita balas budinya seumur hidup kita.
maka dari itu hargailah seorang ibu.
*penulis : haijatul dil khijah zalukhu
salam
nightrey 😊😊😊