Malam itu kau pernah bilang sesuatu lewat sambungan telepon. "hati-hati Van!" Katamu. Namun bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu? Rayendra Adisurya, kau pria terbodoh yang pernah aku temui.
*****
"Yo!! Lima persimpangan jalan lagi!" Teriak pria yang sudah tak asing lagi bagiku.
Aku bersama rombongan motor anak SMA Angkasa menyusuri panjangnya jalanan kota yang penuh dengan kebisingan. Ini adalah rutinitas kami ketika pulang sekolah. Bermain di jalanan, balapan? tidak, hanya sedikit adu kelajuan motor saja.
Kami berhenti di depan caffe tempat biasanya 'orang itu' mentraktir kami.
"Yeah! Guys! Malam Minggu ini kita pesta di sini." Ucap Rayendra Adisurya, pria yang kerap disebut sebagai Rendra itu turun dari motornya dan melemparkan helmnya padaku.
"Wahh, boss Rendra mulai lagi nih... Ayolah!" Seru Devan dengan semangatnya, dia adalah orang yang selalu dibonceng Rendra.
"Hm.. Aku gak ikut." Sela salah seorang dari kumpulan manusia di belakangku.
"Ehm? Kenapa?" Tanyaku.
"Ayolah! Ini malam minggu.. Ada hal lain yang harus kami lakukan." Sahut Jio.
Aku paham apa yang mereka maksud, yah.. kalian tahu lah. Sebagian besar dari kumpulan manusia ini sudah ber- "Pawang" mereka tidak lagi dalam keadaan sendiri. Kecuali aku dan Rendra, kami masih melajang.
"Haihh.. kejarlah kekasihmu, dan tinggalkan kawanmu!" Nyinyir Rendra dengan raut wajah yang tak senang.
"Yap! Betul! Seharusnya ini waktu kita untuk lepas sejenak dari yang namanya kasmaran jadi-"
Ting!
Ucapan Devan terpotong oleh nada dering ponselnya. Seseorang sedang dalam panggilan masuk. Tertera emoji Hati pada nama kontaknya.
"Ehem.. Celline?" Tanyaku dengan nada bergurau.
"Ehe.. sepertinya aku juga tidak bisa bergabung bersama kalian hari ini. Dia ingin ditemani." Jelasnya membuat tawa kami pecah. Benar-benar tipe pria yang takut pada wanitanya.
Tanpa basa-basi lagi, mereka pergi meninggalkanku bersama Rendra dengan raut kesalnya.
Aku merangkul pundak Rendra, mencoba memadamkan kekesalannya.
"Sudahlah kawan, biarkan mereka. "
"Disini cuma kau yang setia. Haih.. suatu saat nanti jangan pernah menikah lebih dulu dariku! Jika itu terjadi, ku pastikan akan merebut istrimu nanti!" Ancamnya yang membuat tawaku pecah seketika.
"Hahaha.. tentu saja kawan, tapi.. aku tidak bisa janji." Ucapku sambil memberi kepalan tangan untuk tos persahabatan kami.
Terlihat pria itu tersenyum senang, ia membalas tosku. Aku dan dia adalah sahabat sejak kecil, kami sudah sering menghabiskan waktu bersama. Aku dan Rendra sudah seperti saudara.
*****
BRAKK!!
Devan menggebrak meja dengan keras, terlihat wajah mengerikan dengan tatapan amarah yang dalam.
Ruang kelas yang terlihat begitu suram. Teman-temanku terlihat begitu kesal dan tenggelam dalam diam.
Aku memasuki ruangan, ini masih begitu pagi untuk merusak mood. Tapi apa? Siapa yang membuat mereka kesal?
Aku melirik ke arah Jio, memberi isyarat menanyakan keadaan, ia menggeleng. Terlihat dia begitu bingung menghadapi situasi yang bahkan belum ku ketahui akarnya dengan pasti.
"Ada apa?" Tanyaku sembari meletakkan ranselku di atas meja.
"BR*NGS*K!!" Teriak Devan yang seketika membuat kami terkejut. Devan melangkah keluar dengan hentakan kaki penuh amarah. Ia bahkan menutup pintu ruang kelas dengan keras.
Di depan pintu terlihat Rendra yang berpapasan dengan Devan hampir dihempas oleh pria itu.
Rendra menatapku dengan serius, aku semakin kebingungan. Saat ini tak ada yang bisa menjelaskan apa pun, kecuali Rendra.
*****
Rendra menuntunku menuju belakang sekolah, seperti biasa. Jika ada masalah, pria itu pasti menarik lengan bajuku tanpa permisi lalu membawaku ke tempat ini.
"Apa yang terjadi?" Sekali lagi aku bertanya.
Rendra mendesis kesal, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu memukul dinding pembatas dengan tinjunya.
"Mereka berulah lagi!" Ucapnya.
Mereka? tidak mungkin, apa lagi yang telah mereka lakukan?
"Kali ini Devan sasarannya." Sambung Rendra.
"Devan?" Ucapku.
"Mereka mencelakai Celline, mendesak gadis itu ketika pulang dari les di malam hari." Lanjutnya yang membuat hatiku terasa panas.
"Mereka... hampir mel*c*hkannya." Rendra mengepalkan kedua tangannya, terlihat raut tak sedap tertaut di wajahnya.
"B*Jing*n!" Kesalku.
Jangan tanyakan, kenapa kami kesal? Di mata orang, kami hanyalah anak yang gemar melanggar aturan sekolah, tapi tidak dengan etika menghormati wanita.
Ada apa dengan otak para b*Jing*n itu? Sial, aku hampir terbawa emosi.
"Lalu, bagaimana keadaannya?"
"Tidak ada luka fisik, tapi dia mengalami depresi."
Percayalah, derajat mereka lebih rendah dari hewan. Tak layak disebut sebagai manusia, mereka bahkan tidak punya hati nurani.
"Anak-anak SMA Semesta sepertinya mengajak kita perang. " Ucap Rendra.
Kepalaku terangkat, membuatku menatap pria itu dengan serius.
"Sebaiknya kita hindari perselisihan ini. " Saranku. Namun hal itu tak membuat Rendra puas. Dia malah terlihat semakin kesal. Dengan sigapnya ia meraih kerah seragam sekolahku. Menariknya, membuat leherku sedikit sesak.
"Apa kau ingin diam saja melihat apa yang mereka lakukan?! Sudah berapa banyak siswi yang menjadi korban mereka?!" Ucapnya penuh amarah padaku. Tatapan lain menusuk dadaku, ini bukan seperti dirinya.
"Rendra! Kita bisa selesaikan ini dengan bantuan polisi! Mereka pasti bisa menangani semua ini!" Ucapku, entah mengapa aku ikut terbawa amarahnya.
Seketika tatapan Rendra melemah, Ia melepaskan tangannya dari cengkeraman yang kuat itu. Menunduk, aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini.
"Gara-gara mereka..." Ucapnya, suaranya serak. Apa dia menangis? Ya, dia menitikkan air mata.
"Reya..." Lirihnya. Ia mengucapkan sebuah nama. Ya, Reya. Itu adalah mendiang kakak perempuannya, ia meninggal akibat ulah perkumpulan berandalan SMA Semesta.
Seketika napasku terasa berat, degup jantungku tak beraturan mengingat kejadian waktu itu. Aku dan Rendra, sama-sama memiliki penyesalan yang mendalam karena tidak bisa menyelamatkan Reya.
"Kau ingat?! Reya... di depan mataku sendiri... Aku melihat kakakku yang tak berdaya... " Sambungnya dengan tangisan yang tiada henti.
Ingatan waktu itu terulang kembali, aku dan Rendra bersembunyi di antara tumpukan sampah. Saat itu Reya melindungi kami dari para sampah itu. Jujur saja, seharusnya aku tidak menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menonton saja. Ini adalah penyesalan terdalamku.
"Bahkan... mereka yang mengaku sebagai polisi itu tidak bisa membantu kakakku!"
"Apa yang kau tahu!?! Mereka bahkan membebaskan orang yang telah merenggut nyawa Reya!!"
"Bisakah aku percaya lagi pada hukum yang mereka agungkan?!" Jeritan tangis seorang pria lebih mengerikan dari Auman singa. Tidak, ini bahkan terlihat sangat menyedihkan.
"Bisakah..? Bisakah mereka mengembalikan Reya?" Ia terbawa emosinya, ia terlihat seperti ingin membunuh siapa saja yang lewat.
Aku bergeming, tak bisa menjawab satu pun pertanyaan yang dilontarkannya padaku.
"Aku tanya pada mu Van..! Bisakah Reya kembali...?'' Suaranya melemah, tak setinggi tadi. Kepalanya terlungkup. Ia memukul-mukul dadaku, berharap mendapat jawaban dariku.
Air mata tak lagi bisa ku tahan. Menitik, jatuh di atas pakaianku yang kusut. Aku dan Rendra, berada dalam derita yang sama.
*****
Sabtu, pukul 19.00. Ini malam minggu, yang kedua bulan ini. Kami memutuskan untuk menangkap langsung para b*Jing*n itu di markas mereka.
Suara motor terdengar dari berbagai sisi jalan. Rombongan kami terlihat seperti akan tawuran. Dan mungkin itu akan terjadi.
Sebenarnya target kami hanya satu orang, Arkha. Pria br*ngs*k yang menjadi otak dari segala masalah.
Aku melihat ke sekeliling dari balik kaca helmku. Tak terlihat keberadaan Rendra. Aku bahkan tidak mendengar suara khas motornya.
"Rendra mana?" Tanyaku pada Jio yang sedang mengendarai motor berdampingan di sebelahku.
"Bentar lagi nyusul!" Teriaknya.
Tak lama setelahnya ku lihat sebuah mobil sport Lamborghini dengan pemilik yang ku kenal menyalip rombongan. Bergerak beriringan di sebelahku.
"Maaf telat! Ada sedikit perdebatan di rumah!" Teriaknya agar terdengar olehku.
Aku tersenyum, pria ini selalu meminta ijin pada keluarganya sebelum buat onar, tentu hal ini memicu perdebatan hingga kunci motornya lah yang menjadi sasaran. Tapi itu tak menghalanginya, motor tak jadi, sport Lamborghini pun tak apa.
Devan mendapatkan kabar bahwa Arkha selalu pergi menuju bar sendirian di malam minggu. Dan ini waktu yang tepat untuk melumpuhkannya.
Ketika sampai di persimpangan jalan. Fokusku terbidik pada sebuah mobil Dengan plat nomor yang tak asing, itu mobil Arkha.
Aku memberi aba-aba pada robongan. Mengarahkan mereka menuju markas Anak SMA Semesta, menghindari yang namanya dikeroyok di jalanan. Sedangkan aku, Devan,dan Rendra mengejar b*Jing*n itu. Tenang saja, kami tidak suka bermain dengan benda-benda keras. Mengandalkan tinju dan tendangan, Itu yang kami senangi.
"Ingat! Tujuan kita hanya meminta pertanggungjawaban mereka! Jangan sampai ada pertumpahan darah!" Teriakku agar terdengar oleh mereka.
Aku dan Devan akan menghadang mobilnya sesuai rencana. Karena sulit meminta Rendra dengan mobilnya itu. Di jalan raya ini mobil sulit bergerak.
"Van! Vano!" Teriak Rendra.
"Apa?!"
"Hati-hati Van!" Ucapnya. Aku terdiam sejenak, namun senyumanku membalas khawatirnya.
Aku melajukan motorku di atas kecepatan rata-rataku, diikuti Devan di belakangku. Melesat menyalip beberapa kendaraan. Aku hampir mengejar mobil Arkha.
Namun terlihat kecepatan mobilnya semakin tinggi, ternyata ia menyadarinya. Kebut-kebutan di jalan? Setidaknya kami sudah paham dengan ini.
Tiba-tiba sebuah bus yang penuh dengan penumpang anak-anak dan orang dewasa muncul dari sisi lain persimpangan jalan. Membuatku dan Devan terkejut hingga mengerem dengan mendadak lalu jatuh tergelincir. Helm bagian depanku pecah, dan ada sedikit luka lecet di wajahku.
Namun mobil Arkha masih melesat, dan terlihat akan menabrak bus itu dari samping. Pikiranku buntu, detik itu begitu cepat. Tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan isi bus itu.
TINN!!
BRAKKK!!!
TINN!!!
NIT!
NIT!
TIINN!!
Suara bising di depan memaksaku membuka mata lebar-lebar, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Sebuah mobil sport Lamborghini yang ku kenal menabrak mobil Arkha dari samping kiri, membuat kedua mobil itu terhempas. Kecelakaan itu menyelamatkan puluhan nyawa dalam bus. Namun membunuh satu-satunya laksmana dalam hidupku.
Aku mencoba untuk berdiri dengan baik. Melepaskan helmku lalu melemparnya ke sembarang arah. Berkunang-kunang kedua bola mataku, dunia terasa berputar terlalu cepat.
Ada air menggenang yang mengganggu pengelihatanku, sial. Apa aku akan menangis? Tapi untuk apa? Rendra baik-baik saja! Bagian depan mobil sport itu hancur total, pikiranku kemana-mana. Aku tak bisa berfikir positif.
Suara sirine polisi mendengung di kepalaku. Gerombolan orang berseragam lengkap mendekati kedua mobil itu. Mereka mengeluarkan Arkha dari mobil, ia selamat. Terlihat sedikit luka di kepalanya, dan dia ditahan.
Kakiku terasa lemas ketika mereka tidak bisa mengeluarkan Rendra dari dalam sana. Dadaku terasa semakin sesak. Dengan langkah lemah, aku mendekati mobil itu. Air mataku menetes. Aku memaksa memecahkan kaca jendela mobil itu. Berharap Rendra masih bisa ku selamatkan.
"Ren?! Bertahan Ren!" Aku akan mengeluarkanmu!" Ucapku dengan tangisan yang tiada henti hentinya.
"Rendra! Kamu masih disana kan?" Tak ada jawaban. Para polisi mencoba menghalangiku. Namun aku memberontak.
"RENDRA ADISURYA!!! JAWAB PERTANYAANKU!!" Teriakku penuh rasa yang bercampur aduk.
Tangisanku semakin menjadi jadi, tak ada jawaban, tak ada respon. Pria itu membisu di dalam sana.
"RENDRA!!!" Teriakku dengan suara yang serak sekencang mungkin, berharap ia mendengarku, tak peduli suaraku hilang. Aku akan terus memanggilmu hingga kau menjawabnya.
*****
"Van! Vano!" Teriak Devan mengejutkan ku.
"Apa?"
"Aku duluan. " Ucapnya berpamitan denganku. Aku menanggapinya dengan anggukan kecil.
Hari ini adalah hari ulang tahun Rendra, aku membawakan beberapa hadiah yang dari sejak dulu ia inginkan.
"Dra.. lihat! Aku bawa jam tangan yang kau inginkan waktu itu. Ah.. iya, kau suka karakter anime ini kan? Aku belikan action figurenya untukmu." Aku menyerahkan semua hadiah itu dari dalam kotak.
Aku memandangnya, entah mengapa aku merasa hatiku seperti telah hancur berkeping keping. Bisakah aku mengulang kembali waktu?
"Aihh.. sudah sore, aku harus pulang. Jaga dirimu baik-baik!" ucapku sembari merapihkan lipatan lengan bajuku.
Aku kembali menatapnya, kali ini aku tak ingin terlihat bersedih di hadapannya. Aku menunjukkan senyumanku.
"Aku pamit ya. " Ucapku. Aku mengulurkan tanganku, jari jemari telah ku lipat. Aku mengajaknya untuk tos persahabatan kami. Miris bukan? Aku malah mengajak sebuah batu bertuliskan namanya untuk tos persahabatan. Haha, aku benar-benar gila.
"Ini tahun kedua aku merayakan ulang tahunmu disini Ndra.. semoga kali ini kau bersama kakakmu bahagia."
Rendra, Rayendra Adisurya. Kau pria bodoh yang pernah aku temui. Mau berjalan beriringan di sampingku meski di cap sebagai pria dengan sikap yang buruk dan juga berandalan SMA. Tampilan luar tak selalu seiras dengan hati sesungguhnya. Aku tahu kau pria baik, hingga rela berkorban untuk mereka. Ku ikhlaskan Kepergianmu kali ini. Walau kini kita tidak bisa berjalan beriringan lagi, sekalinya sahabat, kau tetaplah sahabatku hingga akhir hayatku.
Vano Anggara Putra, 28 Agustus 20XX
*END*
*PERINGATAN!!!
JANGAN LUPA LIKE! KOMENTARNYA JUGA!
PLEASE! AUTHOR MAKSA🙂🔪
AWKWK, CANDA NGAB🗿✌️