Perkenalkan namaku Nadia Sazkiya Harumi, Aku baru saja lulus SMA kira-kira umurku 18 tahun, orang-orang bilang wajahku terkatagori cantik, Aku memiliki bentuk wajah yang oval, kulitku putih, mataku bening dan bibirku terlihat sangat seksi serta memiliki warna merah asli tanpa polesan lipstik. Tentu saja aku sangat bersyukur . . Aku hanya memiliki seorang ibu yang sangat menyayangiku.
Dan Aku juga memiliki seorang pacar yang sebentar lagi akan Resmi menikahiku. Tentu statusku akan berubah menjadi seorang istri. Walaupun usiaku masih terbilang muda namun Aku telah siap untuk menjalani lika liku kehidupan berumah tangga.
Aku berharap Aku bisa menjadi istri yang baik bagi calon suamiku ataupun Anakku kelak.
Kami hanya tinggal berdua saja. . Karena Ayahku pergi meninggalkan ibuku begitu saja dan ketika itu umurku baru 5 tahun.
Entah . . Apa penyebab Ayahku pergi.
Yang aku tahu ibuku saat itu hanya menangis sambil memohon-mohon agar Ayah tak meninggalkannya. Dan aku masih sangat polos. Sampai saat inipun ibuku masih tertutup tentang kepergiaan Ayahku.
Setiap hari ibuku bekerja sebagai seorang penjual gorengan saja.
Itu sebabnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, karena untuk makan saja masih sangat sulit.
Untuk itulah aku bertekad membantu usaha ibuku saja, walaupun sebenarnya aku bisa mencari pekerjaan lainnya. Namun aku sangat kasihan pada ibuku.
"Nadia... bisa kah hari ini kamu menggantikan pekerjaan ibu ? Ibu sedang tak enak badan." Wanita setengah baya itu berkata.
"ya ... tentu saja bu ? Ibu istirahat di rumah saja ? Jawabnya kalem sambil tersenyum manis.
"kamu sudah tau kan cara- caranya?"
" iyalah bu, Ibu jangan khawatir. "Aku segera membereskan beberapa peralatan yang akan aku butuhkan.
Setelah beberapa menit...
Aku sudah berpakaian rapi dan mengemasi semua barang-barang.
" bu... Nadia pergi dulu."
Aku berpamitan sambil mencium tangan ibuku. "jangan lupa doain nadia ya bu." Aku tersenyum.
" iya ... hati-hati di jalan."
Ibuku balas tersenyum.
Aku berjalan menuju halaman rumah, di situ sudah ada gerobak yang memang sebagai alat untuk ibuku bekerja.
Perlahan ku dorong gerobak yang cukup berat ini...
Ku lihat Di balik pintu, ibu sedang menatapku...
yaa .. Tuhan aku hanya memiliki seorang ibu, di usianya yang hampir senja, bisakah aku membahagiakannya ? Batinku berkata, aku sangat sedih.
Sudah bertahun-tahun Ayahku tak pernah kembali. Entahlah ... dia masih hidup apa sudah meninggal atau mungkin saja dia sudah bahagia bersama isteri barunya.
Aku berjalan menyusuri pinggiran kota..
Aku berharap gorenganku laku terjual.
Tiba-tiba aku mendengar suara mas Fandi berteriak-teriak memanggil namaku.
" Nad ... Nadia ...!"
Panggilnya, aku menoleh
Ku lihat tunanganku tengah tersenyum manis.
Yaa ... sebuah senyuman yang selalu menggetarkan dadaku. Selain tampan dan manis mas fandi juga sesosok pria yang baik hati.
" kok ... enggak telpon-telpon kan Mas bisa bantuin."Ujarnya datar.
"enggak apa-apa mas, Aku bisa ngelakuin nya sendiri kok lagian pasti mas sangat sibuk !"
"ya ... enggak lah kalau buat calon istriku, aku selalu ada buat kamu ?
" hem... pintar sekali merayu ! Tapi rayuan itu keliatan lebay tau enggak sih mas."
Aku mencoba fokus, mas fandi hanya tersenyum sambil meraih gagang gerobak yang tengah ku pegang.
" udah ... sini biar mas aja yang dorong ?
" mas ?
" sstt ... no coment ?
Ku lepaskan saja gerobak itu, mas fandi pun mendorongnya.
***
Ini adalah hari di mana aku merasa,
bahwa cinta itu seutuhnya sangat indah.
Aku menatap diriku pada cermin yang tertempel pada lemari pakaianku.
Ku coba untuk tersenyum, di hadapan cermin itu.
Wajahku sudah terpoles oleh bedak dan lipstik.
Yaa... Sebut saja ini adalah hari pernikahanku. Kami tidak mengadakan pesta besar-besaran, karena mungkin itu biaya nya sangat mahal.
Lagi pula calon imamku ini hanya seorang anak yatim piatu yang di besarkan oleh kedua orangtua angkat.
Dan pekerjaan mereka sehari-hari, cuma petani kecil. Yang mengantungkan hidup, pada tanaman mereka.
Bagaimana mungkin kami akan memaksa mereka untuk mengadakan pernikahan yang secara mewah.
Hanya satu intinya..
Menjadi keluarga yang samawa atau di sebut sakinah mawadah waromah.
"Tok... Tok... Tok...
Pintu kamarku terketuk, sudah pasti itu adalah ibuku tercinta.
Bergegas Aku membukakan nya pintu.
"Wah... Kamu udah danda Nad?
Tanya sahabatku pelan. Ternyata bukan ibuku, melainkan teman seperjuangan ku waktu di SMA kemaren.
Panggil saja dia Rita, sahabatku ini memiliki hobi yang unik, salah satu nya yaitu menghayal.
Dan tentu saja dia memiliki cita-cita yang tinggi. Menjadi seorang pernulis terkenal.
Aku tersenyum memperhatikan nya, dan Ku persilahkan dia masuk.
"Sama siapa Rit?" Tanyaku lirih, dan dia selalu meresponku dengan baik.
"Sendiri aja Nad."
"Emang biasanya berdua?" Tanyaku heran, dia sudah masuk ke dalam kamarku yang sederhana ini.
"Iya, biasanya kan sama kamu."
Jawabnya datar, sambil terus menatap wajahku.
"Ya."
Jawabku singkat.
Sepertinya Aku sedang malas untuk berbicara, jadi cukup ku jawab singkat saja.
Saat itu suasana menghening sesaat.
Dreet...
Dreett...
Ponsel kesayanganku bergetar, Aku langsung bangkit meraih ponselnya yang berada di atas meja.
Ada pesan masuk dari Mas Fandi.
Aku membukanya dengan kecepatan tingkat tinggi, karena memang Aku orangnya selalu merasa penasaran dengan segala hal yang menurutku menarik.
Nad.. Kamu di mana?
Kalau masih di rumah pergi aja duluan ke KUA. Takutnya kalau nungguin Mas telat soalnya Mas kejebak macet.
I love you...❤
Itulah pesan masuk dari Mas Fandi,
Aku tersenyum tipis membacanya, sambil jariku mengetik untuk membalas pesan masuk itu.
Melihat hal itu, Rita jadi ikutan senyum.
"Ciee... Yang baru dapet sms dari calon laki, senyum aja dari tadi.
Ledeknya kecil.
Aku tak begitu menghiraukan dengan ledekan Rita padaku, Aku berdiri serta menarik pergelangan tangan Rita.
Mengajaknya untuk pergi.
"Eh... Mau kemana Nad?"
Tanyanya kerepotan, namun dia tetap saja mengikutiku.
"Nikah. Masa ke toilet."
Jawabku ketus.
Dia tertawa saja dengan jawaban konyolku itu. Dan ku lihat di ruang tamu, ibuku sedang duduk sambil tersenyum kearahku yang sedang berjalan mendekatinya.
"Udah mau berangkat Nad?
Tanya ibu pelan.
"Iya bu.
"Loh.. Ngak nunggu Fandi jemput?
Tanyanya keheranan.
"Ngak bu.
Jawabku datar, dan segera menjelaskan apa yang telah terjadi pada Mas Fandi saat ini.
Ibuku mengangguk saja, setelah itu kami berjalan keluar, menunggu taksi yang sudah ku pesan.
Tak sampai 5 menit, taksi sudah datang.
Berhenti tepat di depan perkarangan rumahku. Kami bertiga menghampiri dan segera naik.
Sesampainya di KUA.
Ku lihat, di kantor itu ramai tak seperti biasa nya. Mungkin saja itu adalah tetangga Mas Fandi yang di undang. Aku pun tak begitu mengerti.
Dan di kejauhan tampak kedua orangtua Mas Fandi mendekati kami yang baru saja turun dari taksi.
Aku segera menyalaminya. Itu adalah suatu penghormatanku untuk calon mertuaku.
Seperti yang selalu dia lakukan, dia tersenyum dan memelukku seolah dekat.
"Akhirnya kamu nyampe.
Tadi Fandi udah kesini sambil ngantar kita, tapi eeh... malah cincin kawinnya ketinggalan, Fandi itu memang selalu teledor dan pelupa.
Cerocosnya datar.
Aku dan ibuku hanya tersenyum saja menanggapinya. Tentu saja hatiku bergumam oh jadi tadi mas fandi udah kesini, terus kok dia ngak jemput Aku ya? Ah.. udahlah.
"Kesini cuma mau cek keadaan kalau-kalau ada yang belum beres.
Jelasnya lagi.
Aku hanya mengangguk sebagai jawabanku. Setelah sedikit apa yang telah kami bicarakan, akhirnya kami pun masuk kedalam ruangan. Di bilang luas tapi ngak terlalu luas sih, cuma lumayan lah kalau buat acara nikahan sederhana.
Aku duduk di kursi paling depan, di dampingi ibuku dan Rita, sambil memeriksa ponselku kembali, barangkali ada balasan dari Mas Fandi.
Dan ternyata pesannya tertunda.
Aku jadi mulai sedikit berprasangka yang buruklah... dudukku juga mulai gelisah sudah hampir 30 menitan kami menunggu tapi belum juga ada tanda-tanda kemunculan Mas Fandi.
Yang seharusnya akad nikah di laksanakan pukul 08:00 wib.
Tapi ini sudah kelebihan 30 menit, hatiku jadi gusar, Aku mencoba menghubunginya...
Dan...
Lagi-lagi nomor ponselnya ngak aktif.
Yaa... Ampun semoga aja mas fandi ngak kenapa-kenapa. Batinku lirih.
Tak hanya Aku, akan tetapi semua orang yang berada di situ mulai gusar.
Termasuk pak penghulu pun demikian,, dia bertanya-tanya, kenapa mempelai pria tak juga muncul.
"Nad, apakah ada informasi terakhir dari Fandi?
Tanya Bu Ina pelan, Ku lihat wajah baya nya mulai menampakan kekhawatiran yang jelas.
"Ngak ada bu."
Jawabku lirih.
dalam sejenak dia mulai meragukan keadaan. Begitu juga dengan Pak Karsoyo.
"Iya ini, dari tadi juga bapak telpon-telpon nomornya Fandi Ngak aktif. Kenapa ya? Atau bagaimana kalau bapak susul dia saja, ya barang kali Fandi butuh bantuan.
Sambung Pak karsoyo resah.
Aku terdiam saja, dan kini mataku mulai berkaca-kaca sedih.
Bagaimana mungkin semua ini akan terjadi begitu singkatnya.
Melihat ekspresiku yang mulai berubah, Ibuku langsung mengambil tanganku untuk dia genggam, seolah naluri seorang ibu tahu. Bahwa anaknya ini sedang di rudung kesedihan yang tak tergambarkan.
"Ya, Pak ! Bapak susul aja si Fandi.
Jawab Bu Ina akhirnya.
lelaki yang kira-kira umurnya 40 tahunan itu langsung beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri seorang lelaki berparas tua juga, sepertinya itu adalah teman seperkebunan Pak karsoyo.
Dia hendak bermaksud meminjam sepeda motor milik tetangga nya itu.
Aku memperhatikannya sekilas, dan kemudian Pak karsoyo menghilang dari pandangan kami.
Aku mulai menundukan pandanganku, ku coba untuk tidak menangis di tempat yang ramai akan tamu.
Aku mencoba untuk memendung nya.
Sampai pada akhirnya, tangan Rita merangkulku hendak memberikan sandaran pundaknya secara cuma-cuma.
"Nad, kamu yang sabar ya? Dan ngak usah berpikir yang macem-macem tentang Mas Fandi. Yakin aja dia sebentar lagi pasti datang, mungkin saja macet di jalanan terlalu panjang, sehingga dia menunggu terlalu lama.
Rita mulai menenangkan ku dengan sedikit jurus memberi semangat.
Tapi sekali lagi,
Perasaanku benar-benar tidak enak, seperti ada yang terjadi pada Mas Fandi.
Yaa Allah...
Beri Aku kekuatan jika seandainya Mas Fandi benar-benar meninggalkanku, tapi aku tidak yakin 100%
Batinku sangat sedih, dan berharap Allah akan mendengar doa dan harapanku saat ini.
1 jam sudah berlalu,
Orang-orang menjadi sedikit heboh oleh musibah yang menimpa kami hari ini, entahlah apa komentar pedas mereka, aku hanya tak ingin mendengarnya.
Itu terlalu sakit, jika Mas Fandi melarikan diri atau kah ada sesuatu yang terjadi.
Jiwa sepiku kini meronta-ronta.
Tak memakan waktu yang terlalu lama tiba-tiba saja Pak Karsoyo muncul kembali dari balik pintu masuk.
Wajah tuanya menampakan kelelahan yang ternyata tidak membawa hasil apa pun.
Dia berjalan dengan langkah yang tak bersemangat.
Semua tamu kini menatapnya termasuk kami berempat.
Dia mencoba untuk mengendalikan keadaan, seolah mengerti dengan pandangan-pandangan orang yang menatapnya.
Dia memberi waktu untuk menunggu 1 jam lagi, dia berharap waktu itu tidak terlalu singkat untuk Fandi hadir di tengah-tengah kami semua.
Para tamu memakluminya saja...
Jarum panjang di angka 10 terus berputar tanpa henti.
Sampai waktu yang di tentukan pun tiba.
Makanan catering yang sudah di pesan pun pada akhirnya di hidangkan juga untuk para tamu yang telah menunggu sejak tadi.
Hatiku semakin hancur saja..
Untuk saat itu pun tangisku tak dapat ku simpan lagi, Aku menangis tersedu-sedu, hingga terasa sakit dadaku.
Entah mengapa tiba-tiba kepalaku menjadi sakit teramat sakit dan pusing..
entah apakah Aku bisa menahannya untuk waktu yang cukup lama?
mataku berkunang-kunang...
hingga tak ku sadari tubuhku jatuh kedalam pelukan Ibu tersayangku.
*
"Nad...?
Samar-samar ku buka mataku sedikit demi sedikit.
Aku baru tersadar, sepertinya Aku benar-benar pingsan tadi.
Kini ku perjelas lagi pandanganku, dan ternyata Aku sudah berada di dalam kamar sederhana milikku.
Aku menatap, ibu dan Rita di sampingku.
Ku lihat juga wajah mereka berdua basah.
Apa yang terjadi? Kenapa mereka menangis pikirku.
"Nad... Apakah kau sudah sedikit baikan?
Tanya ibuku, terdengar sangat lirih.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kecilku, Aku menjadi teringat oleh Mas Fandi lagi.
"Bu... Apakah Mas Fandi udah datang?
Tanyaku pelan, setelah keadaan cukup sunyi.
Aku menoleh kearah Rita sejenak, akan tetapi Rita tak begitu meresponnya, dia masih sangat sibuk dengan air mata di pipi mulusnya.
"Belum Nad."
Jawabnya menggeleng.
Akhirnya Aku terdiam lagi, hatiku masih sangat terpukul atas kejadian yang tak pernah ku pikirkan ini.
Kenapa ini harus terjadi?
Harapanku pupus bersama angin yang menyapa siang ini.
***
Keesokan harinya, setelah pembatalan pernikahan kemaren.
Aku masih menutup diri, di ruang kamar kecilku, Aku hanya ingin menenangkan diriku dari kalutnya kegelisahan yang datang begitu saja.
Ejekan pedas dari tetangga akhirnya nampak juga, mereka bilang Aku ini adalah gadis pembawa sial.
Tentu saja ibuku ataupun diriku yang mendengarnya sangat sedih.
Kenapa mulut-mulut berbisa itu pandai mengatai orang yang sudah pasti hatinya sedang kacau.
Tidak kah mereka tahu?
Tidak kah mereka sadar?
Semua musibah yang Allah berikan adalah ujian, Dan pastinya juga Allah tidak akan menguji hamba Nya di luar kesanggupan hamba Nya itu sendiri.
Ckleekk...
Pintu kamarku terbuka, Ku lihat ibuku masuk dengan membawa sepiring nasi dan 1 gelas air putih, di tangan keriputnya.
"Nad, makan dulu ya."
Ucapnya terdengar lembut, Aku hanya menatap saja.
Kemudian ibuku ku meletakan sepiring nasi itu di atas meja. Langkahnya mendekati Aku yang sedang duduk di ranjang.
Dia sepertinya sedih melihat keadaanku yang terpuruk tanpa semangat hidup ini.
"Ibu, tahu pasti kamu sangat sedih dengan pernikahan yang gagal ini, tapi...
Tidak kah kau melihat atau pun mendengar, ada banyak orang yang lebih sakit dari pada penderitaan mu saat ini.
Ujarnya pelan, dia terus menatap kearahku dan menyentuh kepalaku.
Ku rasakan elusan lembut dari tangannya, Aku tak berkomentar apa-apa.
Air mataku hendak jatuh lagi, Aku berusaha untuk menahannya.
"Di dunia ini masih ada Fandi yang lain, jika Fandi mu yang sekarang telah pergi. Buka lah matamu lebar-lebar, dunia ini tidak sesempit daun kelor sayang. Sekarang tersenyumlah... Sedikit saja.
Tekan ibu agak mendatar.
Benar yang ibu katakan Aku tak seharusnya menangis keadaan yang entah sampai kapan berakhirnya.
Sekarang Aku harus semangat, jika Mas Fandi mendengar nya pun dia akan ikut bersedih.
"Ya, ibu benar.
Jawabku pelan, Aku tahu wanita semata wayangku itu pun tengah menahan kesakitannya.
Ku coba untuk tersenyum, walaupun itu terlihat hambar.
Ibu membalas, setelah itu membenamkan kepalaku dalam pelukannya.
Hari itu berlalu...
Walaupun sedikit berat, segala pesan dari ponselku hampir saja memenuhi kotak masuk.
Dan tentu saja itu sms dari Rita sahabatku.
Dia tak hanya ku anggap sahabat akan tetapi sudah seperti saudara kandung.
Perlahan-lahan Aku mulai bisa menerima keadaaan.
Ku pikir tidak ada artinya juga Aku terpuruk terlalu lama, mungkin itu tidak akan pernah memperbaiki keadaan, di apa-apakan juga sudah pasti tidak akan berubah.
Aku berdiri sambil mengenakan hijab ku yang sengaja ku pilih berwarna hijau, hari ini Aku ingin mengunjungi calon mertua yang anaknya batal menikahiku,
apakah masih bisa ku panggil calon mertua.
Aku bergumam.
Ada yang ingin Aku bicarakan kepada mereka.
Setelah selesai berdandan ala kadar nya, Aku keluar dari ruang kamar ku.
Dan seketika kedua mata ku menatap ibuku yang tengah sibuk akan jahitan nya.
"Bu, Panggilku pelan. Ibuku menoleh, dia langsung tersenyum.
Aku senang bila wanita yang hanya ku miliki ini, selalu menampakan senyum di wajah nya.
"Loh... Loh udah cantik aja,
mau kemana Nak? Tanya nya sedikit terkejut.
"Mau kerumah nya Mas Fandi bu,,"
Jawabku menyakinkan nya.
"Mau apa kesana?
"Ada yang pengen Nadia omongin bu, oh iya Bu, Nadia juga pengen ngomong sesuatu sama ibu." Aku terus memperhatikan wajah ibuku.
"Mau ngomong apa? Tanya halus dan tentu saja masih konsentrasi pada jahitan di tangan nya.
"Bu, kalau misalnya Nadia kerja boleh ngak? Tanya ku sangat hati-hati, Aku takut ibuku akan sedih jika mendengar hal-hal yang menurutnya agak di luar kemauan dia.
Tadi malam Rita mengirim pesan di ponselku, dia mengajak ku untuk bekerja di daerah yang agak jauh dari kota tempat tinggal ku ini.
Mungkin saja harapan Rita, agar Aku bisa segera move on dari Mas Fandi.
Mudah-mudahan saja Rita benar. Tapi Aku juga sedikit tidak setuju, lalu bagaimana dengan ibuku. Pasti nya dia akan merasa kesepian saat Aku pergi nanti.
Ibu terdiam sejenak, dia belum mengatakan apa pun. Aku menjadi sedikit bingung.
"Nadia, duduklah sebentar." Ujarnya
Aku menurut saja dan segera mengambil posisi berdekatan dengan ibuku.
"Ibu tahu, bahwa saat ini kau sangat sedih, di tambah lagi para tetangga membicarakan kita dengan kata yang menyakitkan itu. Tapi jauh di lubuk hati ibu yang dalam kau benar-benar gadis yang tangguh. Jika itu adalah keinginan mu pergi lah bekerja, tapi hanya saja kau harus mengingat gunakan lah sopan santun mu, di mana pun kau berada." Jelas ibu sangat panjang lebar.
Aku menatapnya saja, sambil mendekap tubuh nya lembut. Aku berjanji akan membahagiakan ibuku ini.
Dia pun menghentikan aktifitasnya kala itu, ibu balas mendekapku.
Aku merasa bahwa dekapan itu sangat menghangatkan, sekali lagi Aku tak ingin berpisah dari ibuku.
"Kau akan melamar pekerjaan di mana? Jangan jauh-jauh, ibu selalu khawatir pada mu. Ucap nya lagi.
"Rita bu yang ajak, kebetulan juga bibi nya Rita menginformasikan ini.
"Kerja apa emang nya ndok?
Tanya ibuku semakin penasaran seperti nya. Dia memanggilku dengan kata ndok, kalau istilah nya orang jawa adalah anak perempuan.
Ibu sudah melepaskan dekapan nya. Begiti juga dengan ku, Aku hanya duduk dengan wajah merona.
"Kalau ngak salah katanya jadi baby sister bu?
"Loh... baby sister itu apa? Kalau bicara sama ibu nya ya jangan pakai bahasa inggris ndok, ibu tidak paham. Jawab nya sambil tersenyum.
"Eh... Iya ya bu, maafin Nadia." Aku tertawa sedikit mendengar protesan ibuku. Tentu saja dia tak tahu artinya. Soalnya ibuku emang bukan wanita yang bisa beruntung melanjutkan sekolah nya sampai ke jenjang Menengah atas.
"Baby sister itu artinya pengasuh bayi bu.
Jawabku pelan.
"Walah... Walah... Kamu itu emang nya bisa, kan kamu belum punya pengalaman nya.
"Ya, di coba aja bu, kali aja bisa, lagian kan Nadia memang harus belajar bu. Nanti enaknya kalau sudah punya anak sendiri bu." Aku menjawab.
Ibuku hanya mangguk-mangguk.
"Ya sudah kalau begitu, tadi katanya mau pergi ke rumah nya Fandi." Ibu mencoba menginggatkan ku pada tujuan ku semula.
"Eh... Iyaya bu. Kalau begitu Nadia permisi dulu ya bu." Ucap ku, sambil berdiri dari tempat duduk ku dan menyalami tangan ibuku dengan lembut.
"Iya, hati-hati di jalan." Pesan nya kalem, Aku mengiyakan saja.
Ketika sudah sampai di luar, segera ku ambil sepeda ontel milik ibuku dan Aku pun mulai mengayuh.
Beberapa menit kemudian Aku sudah sampai di depan rumah nya Mas Fandi, akan tetapi ku dengar suara riuh dari ruang tamu milik orang tua mas Fandi.
Aku menepikan sepeda ku dengan hati-hati.
Sebenarnya Aku tidak bermaksud untuk menguping, akan tetapi Aku ingin memastikan bahwa kehadiran ku tidak mengganggu pembicaraan mereka.
"Bagaimana bapak ini, pokoknya saya tidak mau tahu alasan nya, la.. Emang Fandi itu benar-benar menipu dan membawa kabur mobil saya tho.
Ujar orang di dalam, Aku pun tidak mengenal suara itu.
"Iya, mau bagaimana lagi kami pun, tidak tahu jika Fandi akan bertindak seperti ini, ya sudah jika mas terus memaksa kami akan segera mengganti rugi mobil milik mas.
Jawab Bapak Mas Fandi, terdengar menekan suara nya juga.
Aku semakin mengrisut untuk mendengarkan lebih jauh. ada masalah besar apa lagi ini? jujur saja Aku merasa kasihan dengan kedua orang tua Mas Fandi. Tapi bisa kah Aku meringankan beban mereka sedikit saja, jika Aku memiliki kemampuan, sudah pasti Aku tidak akan membiarkan mereka susah begini.
Aku jadi teringat dengan sosok Mas Fandi, jika dia benar kabur, sungguh tega sekali Mas Fandi.
Tak lama kemudian,
Ku dengar langkah seseorang yang akan keluar dari ruangan itu, Aku pun sedikit tergugup dan mencoba mengatur nafas ku sendiri, Aku tidak ingin kepergok jika menguping pembicaraan mereka.
Dan benar saja.
ku lihat seorang lelaki yang kira-kira umurnya baru 30 tahunan. lelaki itu tampak mempercepat langkah nya, di ikuti ibu mas Fandi dan Bapak Mas Fandi.
ku pandangi saja mereka, lelaki itu pun semakin melangkah dengan jauh meninggalkan rumah kediaman Mas Fandi.
Karena ku rasa keadaan telah tenang sedikit, Aku pun memberani kan langkah ku mendekati mereka berdua yang menampakan wajah ke khawatiran dan susah.
"bu... pak.
sapa ku pelan, mereka tersenyum menatapku, walau pun mungkin sebenarnya hati mereka tengah di selimuti kesusahan yang tiada bertepi.
akan tetapi wajah itu selalu tersenyum, tersenyum dengan sangat tulus. Aku pun tak mengerti apa yang sebenarnya mereka rasa kan.
"Eh... Nak Nadia, Ayo nak masuk.
Bu ina langsung mempersilahkan diri ku masuk.
Aku mengangguk saja.
Dan segera masuk di ikuti mereka bertiga.
"Ayo... Duduk dulu Nak Nadia." Bu ina masih mempersilahkan Aku.
Aku pun duduk, sembari tersenyum kearah mereka berdua yang sudah ku anggap seperti orangtua saja.
Entahlah perasaan tenang ini, sangat mirip di saat Aku berdekatan dengan ibu kandungku.
Mereka berdua juga duduk, tak lepas memperhatikan Aku.
"Bu... Pak maaf ya kalau Nadia lancang.
buka ku langsung, karena Aku tak ingin bertele-tele.
"Tidak apa Nadia, lagi pula kami tidak akan merahasiakan semua nya dari kamu." jawab Pak Karsoyo.
"Apakah setelah kejadian ini kau akan membenci Fandi? Tanya Pak karsoyo lagi.
Cinta sejati itu akan selalu menjaga.
Meski ia tahu... bahwa menunggu itu lelah,
Kehilangan bukan berarti kau tak punya tujuan.. Namun hatimu sedang memilih.
by : Sang Pengagum
Entahlah,
Ku ambil nafasku sangat dalam, Aku harus menjawab apa, sementara yang ada di dalam hatiku ini, seperti luka yang akan sembuh namun pada akhirnya harus berdarah lagi.
Satu hal yang masih terus membayangiku,
Aku kecewa, lelah hidupku tak bertepi, seperti semua ini cuma mimpi.
"Nak,,
Panggil pak karsoyo lembut, dan cukup menyadarkan lamunan singkat ini.
"Eh... Iya Pak."
Jawabku sedikit terkejut.
"Nak Nadia melamun? Tanya pelan, mereka berdua terus menatap dengan pandangan memelas.
"Ngak kok pak, Ya... Sebenarnya ngak ada alasan apa-apa buat Nadia benci sama Mas Fandi.
Aku tersenyum. Membuat suasana hidup sejenak.
"Kami, pikir kamu tidak bisa menerima keadaan ini, ternyata kamu benar-benar gadis yang kuat.
Sambung Bu ina pelan, sambil tersenyum tipis.
"Iya bu, semua ini udah di atur sama Allah sedemikian indahnya, kenapa harus marah jika bersabar adalah jalan keluar yang terbaik." Jawabku, seakan memberi motivasi pada diriku sendiri.
Kedua orangtua itu, mengangguk yakin. Mereka sepertinya lega. Walaupun sebenarnya perkataan ini mengkhianati diriku sendiri.
Aku berupaya menyembunyikan kesakitan tak berupa ini dengan segenap jiwa yang berteriak.
"Bu, Pak sebenarnya maksud Nadia kesini, Nadia pengen pamit. Ucapku, mengalihkan pembicaraan.
Ekspresi mereka terkejut, dan tentu saja mengeluarkan irama yang senada.
"Pamit." Ujar keduanya serempak.
"Iya,
Aku tersenyum. Baru melanjutkan perkataanku lagi. "InsyaAllah Nadia akan mulai bekerja di kota sebelah.
"Ya,, Bapak harus bilang apa ya, kalau itu sudah menjadi keputusan mu yang bulat, bapak cuma bisa mendoakan saja." Pak karsoyo menatapku. Dengan tatapan bermakna.
"Betul apa kata bapak mu itu, kita berdua hanya bisa mendoakan, dan jangan lupa berhati-hati." Sambung Bu Ina.
Aku menanggapi nya dengan tersenyum sembari mengangguk pelan.
"Ya udah kalau begitu, Nadia mau pamit pulang dulu Bu Pak."
"Loh... Kok cepet banget, Ibu buatin teh hangat dulu ya? wanita baya itu tampak berdiri.
"Eh... Ndak usah repot-repot Bu, soalnya Nadia buru-buru banget harus pulang." Tolak ku pelan.
"Wah, Kok di tolak.
"Nadia ngak bermaksud menolak kok Bu, nanti lain kali kita minum bareng ya bu pak. Sekarang Nadia harus pulang."
"Ya,, Ngak apa-apa Kalau begitu.
jawab Bu ina, kini Pak Karsoyo juga ikut berdiri.
Aku pun sama, berdiri kemudian menyalami dengan rasa hormatku kepada mereka berdua.
Setelah Ku rasa cukup, Aku mulai menginjak kan kembali kaki ku yang menggunakan sendal jepit di atas tanah.
Melemparkan sebuah senyum, yang ku rasa itu adalah perpisahaan sementara.
mereka berdua memandangiku saja.
di perjalanan...
Ku kayuh sepeda ontel bersejarah ini. Dengan kata yang sulit ku ungkap... Aku hanya memiliki harapan dalam hidupku, semoga Mas Fandi cepat kembali, serta menjelaskan semua alasan kenapa meninggalkan kami semua.
"Nad... Nadia......"
Tiba-tiba saja terdengar suara Rita memanggil namaku, Aku menoleh kesamping, ku lihat sahabatku itu tengah tersenyum.
"Hai....
Sapanya pelan.
"hai,
Aku membalas, sambil turun dari sepeda.
"Darimana aja kamu?
"Dari rumah nya mas Fandi.
jawabku, sembari menatap wajahnya yang seperti heran.
"Ada keperluan apa kesana, ntar kamu semakin sedih looo..." Ledek Rita.
"Aku udah ikhlasin dia kok, kalau pun kita berjodoh InsyaAllah, keujung dunia pun bakalan ketemu. Jawabku serius.
"Wah... kamu serius udah ikhlasin Fandi?
Rita menatapku, seolah-olah tak percaya dengan apa yang ku katakan, bibirnya menyunggingkan senyum.
Aku cuma mengangguk yakin. Karena ku pikir jodoh itu udah di atur, iyakan?
Rita masih tersenyum...
Dan matanya terus menatapku.
"Iya, yang kamu bilang itu betul."
Jawabnya datar, ah... Ku pikir Rita akan mengatakan hal lain, ternyata ia mendukungku.
"Eh kebetulan kita ketemu di sini, jadi Aku ngak perlu repot-repot ya kerumah kamu. Besok, kita berangkat ntar Bibi sama paman Aku yang anter. So malem ini kamu kemas barang kamu yang mau di bawa, soalnya jam 06:00 pagi kita udah harus berangkat." Jelas Rita panjang.
"Oke." Jawabku singkat. Rita pun ikut mengangguk.
"Eem... Kalau gitu Aku duluan ya Rit, Assalamualaikum....
"Waalaikumsalam, hati - hati di jalan." Pesannya kalem.
Aku hanya meninggalkan senyumku saja, setelah itu kembali menaiki sepeda ontelku. Mengayuh dengan perasaan sedih yang ku bawa.
Matahari telah menyingsing tinggi, sinarnya yang berwarna kuning seakan, menghangatkan tubuhku yang dingin, karena jiwaku yang beku.
Tak terasa selama beberapa menit mengayuh sepeda, akhirnya sampai juga di halaman rumahku.
***
Keesokan harinya...
Subuh yang dingin ini, menyadarkan tidurku, ku dengar sayu-sayu adzan berkumandang.
Aku bangun, berdiri, berjalan dengan langkah yang masih sempoyongan menuju toilet. Untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Setelah selesai, ku ambil mukena di dalam lemari, Aku sudah sangat lelah, Aku ingin menceritakan keluh kesahku pada Allah.
Jam dinding menunjukan pukul 04:30 WIB.
Aku pun melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
"Alhamdulillah, selesai juga akhirnya. Gumamku pelan.
Semua pakaian yang akan ku bawa sudah beres, sekarang Aku tinggal membuatkan sarapan yang tentunya hanya buat ibuku.
Aku kedapur,
memeriksa ada bahan apa saja yang bisa ku buat.
Oh... Sepertinya cuma ada Nasi hangat saja.
Setiap pagi harus begini lah, terkadang Aku bingung, bagaimana mungkin Aku akan tega meninggalkan ibuku sendiri.
Jika saja Aku tak membantunya berjualan, kadang kami hanya makan Nasi saja. ya Allah meski hanya ini rezeki yang kami dapat, Namun Aku sangat bersyukur. Tak pernah ku dengar bibirnya mengeluh.
Oke... Aku akan membuat nasi goreng ala diriku sendiri.
"Nad...
panggil ibuku tiba-tiba, tentu saja kata ini cukup mengejutkan lamunanku. Sebenarnya saat itu pikirku entah kemana.
"Heuum...
Jawabku pelan, sambil tersenyum menatap kehadiran ibu semata wayangku.
"kau sedang apa? bukannya kau harus berkemas-kemas?
"iya bu, Nadia udah selesai kemas-kemasnya kok, lagian inikan masih terlalu pagi bu." Aku masih menatapnya.
"Kau duduk yang manis saja biar ibu yang melanjutkan pekerjaan mu itu ndok.
pinta ibu
"Ngak apa kok bu.
ku lihat ibu terus berjalan mendekati Aku yang masih serius memotong beberapa bawang.
"Sudah Ndok, biar ibu saja." Ibu terus memaksaku. Ibu mohon Ndok jangan menolak, karena mungkin masakan ini adalah masakan terakhir untukmu, ya tentu saja setiap hari kau selalu memasak." Ujarnya lagi.
Deg.
Tiba-tiba saja jantungku bergetar. Aku mulai merasa tak rela, jika ibuku mengatakan bahwa masakan ini adalah masakan terakhir, apa maksud ibu. Kenapa Aku merasa sedih.
"Bu, jangan bicara seperti itu." Bantahku kalem.
Namun dia hanya terseyum.
"Loh.. Kenapa? salah ya ibu bilang begitu? Ibu ndak berbohongkan, emang benerkan kau akan meninggalkan ibu, untuk beberapa waktu kedepan ini. Lalu di mana letak kesalahannya? jelasnya panjang.