"Dogs are not out our whole life, but they make me our lives whole"(Seekor anjing memang bukan segalanya dalam kehidupan kita, tetapi mereka membuat hidup kita menjadi lebih lengkap)
Namaku Anha, dari kutipan di atas kalian pasti sudah tahu kalau aku Animal Lovers(Pecinta Binatang)khususnya anjing. Beberapa minggu yang lalu setelah hewan piaraanku meninggal, aku dikagetkan oleh seekor anjing saat tiba di rumah setelah pulang sekolah. Awalnya kupikir itu adalah Ciko yang dipesan beberapa minggu yang lalu tapi ternyata bukan. Seekor anjing dengan bulu putih berbintik hitam menyerupai Dalmation itu menghampiriku sambil mengeluskan kepalanya di kakiku. Aku hanya menatap anjing itu datar.
"Kenapa ada anjing di sini?" kataku dalam hati.
"Itu anjing baru untukmu". kuangkat kepalaku setelah mendengar ucapan Ibu.
"Tapi kenapa? Bukankah sudah ada Ciko?" tanyaku tidak mengerti.
"Kamu tahu sendiri Ciko itu Siberian Husky, tidak cocok dengan lingkungan kita yang tropis makanya Ibu membawanya ke rumah anjing pribadi milik kakakmu, jadi aku membelikannya untukmu sebagai pengganti Ciko saat tidak mengunjunginya."
Kupandang kembali anjing yang masih berada di bawahku. Tanpa bertanya lagi aku sudah mengerti. Aku pun masuk ke dalam rumah untuk mengganti seragam sekolahku kemudian kubaringkan badanku di hammock. Seperti biasa mataku berkaca-kaca sambil menatap langit rumah mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat kehilangan 2 seekor anjing yang biasa menemani hari-hariku. Hal itu membuatku sedih dan tidak peduli lagi meskipun Ibu sudah membelikanku Ciko dan anjing yang baru aku temui diluar rumah tadi.
"Kehilangan sesuatu yang berharga terkadang membuat kita sesak meskipun digantikan dengan yang lebih baik." kataku dalam hati.
"Guk!! Guk!!"
Pandanganku mengarah keluar mendengar suara menyalak dari anjing itu membuatku bangkit keluar. Dari lantai 2 aku menatapnya sedang bermain, meskipun Ciko tidak ada disini tapi aku bisa merasakan kehadirannya melalui anjing itu. Mungkin ucapan Ibu ada benarnya meskipun aku takut merasakan hal sakit lagi setelah kehilangan piaraan, tapi mencobanya sekali saja sepertinya tidak buruk juga.Terukir senyuman di bibirku hingga aku pun berniat menghampirinya.
Saat menuruni tangga, anjing itu sudah berlari ke arahku.
"Hei!" sapaku sambil mengelus kepalanya.
"Kamu terlihat lucu."
Mungkin terdengar gila karena aku mengajaknya berbicara tetapi hal inilah yang sering kulakukan dengan 2 piaraanku sebelumnya. Aku akan datang untuk curhat ataupun merasa sedih kepada piaraanku. Kulihat anjing itu masih bermain di depanku.
"Mmm..kau belum mempunyai nama, 'kan?" tanyaku pada seekor anjing itu.
"Aku akan menamakanmu Viki, yah bisa dibilang kamu anjing ketiga yang menerima nama ini setelah 2 piaraanku meninggal."
Bulan demi bulan berlalu, hubungan antara majikan dan piaraan semakin dekat. Tentunya majikan yang dimaksud adalah diriku dan piaraan adalah Viki. Sebelum berangkat sekolah aku sering menyapanya lalu setiap sore akan bermain bola bersamanya. Tidak hanya itu, kami berdua bahkan sering ketiduran bersama setelah latihan. Hingga semakin hari aku disibukkan akan urusan sekolah. Waktu yang biasa kuluangkan untuk Viki kini tak berjalan lagi. Sekarang Viki selalu bermain sendiri di rumah, ditambah lagi Ciko jarang datang. Aku hanya selalu memandanginya dari jauh. Memberinya makan saja bukan lagi diriku tetapi pelayan pribadiku. Hanya saat aku berangkat dan pulang ke sekolah aku melihatnya. Lalu akhir-akhir ini karena stress akan urusan sekolah. Aku sering meluapkan kekesalanku pada Viki. Ketika menuju toilet, Viki mengikutiku dengan maksud untuk bermain dengannya tapi aku hanya mengabaikannya. Bahkan aku terkaget saat keluar dari toilet, Viki masih menungguku di tempatnya.
"Ayolah Viki, mainnya besok saja, aku punya banyak tugas yang harus kuselesaikan." ujarku berlalu melewatinya meskipun anjing itu tetap mengikutiku.
Sampai tangga rumah pun, Viki masih mengikutiku.
"Viki! Turun dari tangga!" bentakku membuat anjing itu menurut namun kukira ia akan pergi ternyata Viki menunggu di depan tangga. Aku menghela nafas, sangat ingin rasanya bermain dengannya tapi disisi lain pekerjaan sekolahku sangat banyak. Merasa kasihan, aku pun turun dan menemaninya bermain. Sejenak aku kembali ke masa yang dulu ketika bermain dengannya tapi berselang detik kemudian, raut wajahku berubah murung, aku merasa bersalah karena mengabaikan dan melimpahkan kekesalanku padanya.
Menjelang pulang sekolah ,aku sudah memutuskan untuk meluangkan waktuku untuk bermain dengan Viki
"Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengannya, kira-kira apa yang akan kita main yah?" batinku senang.
Mobil terparkir, aku pun segera menuruni mobil.
"Viki!" teriakku saat tiba di rumah.
"Eh? Biasanya anjing itu datang menghampiriku sambil mengeluskan kepala di kakiku tapi hari ini?......Ah mungkin Viki sedang tidur." pikirku berjalan masuk ke dalam rumah.
Pukul 16:23 tertuju pada jam, aku bergegas keluar rumah namun Ibu memberitahuku kalau Viki sedang sakit. Spontan reaksiku berubah, dengan berat hati, kulangkahkan kakiku masuk. Seperti biasa aku berbaring di hammock dengan dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan karena keegoisanku sendiri. Sekalipun aku tidak pernah meluangkan waktuku untuk Viki.
Aktivitasku berjalan seperti biasa, akan tetapi kesehatan Viki semakin memburuk, bahkan setelah dirawat dir umah sakit khusus hewan, kondisinya tidak ada perubahan sama sekali. Aku mulai takut, takut bukan karena Viki tidak bisa sembuh melainkan takut akan kehilangan sesuatu yang berharga lagi.
Viki terlihat sedikit sehat beberapa hari kemudian, hal itu membuatku sangat senang meskipun kemungkinan kecil kondisinya masih belum stabil.
Ketika matahari mulai terbenam, sang awan pun dengan seksama jadi penguasa langit. Dari lantai 2 kutatap Viki yang tertidur pulas. Mataku kembali berkaca-kaca melihat Viki seperti itu seolah-olah anjing itu tergeletak tak bernyawa.
"Ah! Menapa aku berpikir seperti itu?! Tidak!Tidak!..Kamu pasti sembuh."
Mentari pun kembali membuat rembulan menghilang. Mengingat keadaan Viki mulai membaik membuatku punya sedikit harapan. Sebelum berangkat sekolah, aku menghampirinya.
"Hei! Jika kamu sudah sembuh, ayo bermain lagi."
Viki hanya menatapku sambil berbaring tanpa menyalak.
"Baiklah, aku berangkat dulu."
Saat tiba disekolah, meskipun bercanda bersama gengku namun pikiranku hanya mengarah kepada Viki di rumah.
"Apa yang dilakukan anjing itu sekarang? Sudahkah dia makan? Atau sedang tertidur?" kataku dalam hati menatap ke arah luar jendela kelas.
Suatu hari aku terlambat pulang sebab mengikuti pelajaran tambahan. Kutatap jam tanganku dan ternyata sudah sore. Biasanya jam segini aku dan Viki bermain di halaman rumah. Aku sangat sibuk lalu Viki juga sakit, sebaiknya aku harus segera mengecek kondisinya.
Saat tiba di rumah, aku heran melihat Ibu dan nenek menatapku dengan senduh. Ayah yang turun dari mobil juga heran melihat tatapan kedua orang itu kepadaku. Belum sempat aku bertanya, Ibu sudah memberitahuku.
"Anha?....Viki sudah meninggal beberapa jam yang lalu setelah diberi makan."
"Meninggal?" itu kata yang sulit kucerna di pikiranku sekarang. Aku hanya menghela nafas memasuki rumah dan mengganti pakaianku.
"Apa yang terjadi? Bukankah anjing itu terlihat baik-baik saja tadi pagi? Lalu kenapa tiba-tiba meninggal?"
Sekarang pikiranku sedang tidak jalan. Perasaanku sesak, segala kepedihan yang terjadi sebelumnya kini terulang lagi, hari yang kutakutkan tiba juga, ini yang ketiga kalinya aku merasa terluka dan kehilangan. Kulangkahkan kakiku keluar sambil berlari untuk melihat mayat anjing itu terakhir kalinya sebelum dibawa pergi oleh para pelayan rumah.
"Haaaa..huha..huhaaa.." nafasku tersengal saat tiba di hadapan Viki. Kutatap anjing itu yang sudah tidak bernyawa.
"Hei? Bangunlah! Aku sudah pulang, bukankah kau ingin bermain?" tanyaku meskipun anjing itu tidak meresponnya.
Mataku mulai memerah.
"Kau tuli? Majikanmu sedang memanggilmu! Cepat bangun! Dan temani aku bermain!" perintahku menahan emosi sambil mengepalkan tangan.
Lagi dan lagi tak ada respon.
"Kau tidak boleh mati! ini adalah perintahku!" marahku menggertak gigi meskipun air sudah mengalir dari kelopak mataku.
Aku hanya jatuh terduduk dan menangis di hadapannya. Hanya penyesalan yang kurasakan setelah mengingat semua yang telah terjadi. Aku hanya bisa melihat anjing itu dibawa pergi tanpa berdaya.
Kusandarkan diriku di ayunan teras sambil menatap terbenamnya matahari.
"Ketiga anjingku? Kuharap kalian bisa mendengarku di sana." ucapku mengalihkan padanganku ke langit.
"Kalianlah yang akan kusapa pertama kali setiap pagi. Kalian kuajak bicara meski aku tidak pernah yakin kalian memahaminya. Layaknya anggota keluarga, aku memberi kalian makan dan menyediakan tempat tinggal. Tentu saja aku terhenyak ketika kalian yang tadinya selalu ada harus pergi dengan tiba-tiba. Bagiku kalian bukan hanya hewan piaraan yang lucu tetapi sahabat bahkan kuanggap anggota keluarga. Aku menangis. Maaf, padahal aku tahu kalian tidak ingin aku menangis karena kepergian kalian. Tapi sudah kucoba menahan tapi sepertinya aku belum sekuat itu untuk cepat melepaskan. Aku bukan majikan yang bisa selalu bersabar, kadang diri kalian malah kujadikan pelampiasan rasa kesal. Meski kalian tidak salah apa-apa, aku sering berbicara dengan nada yang tinggi. Semua karena aku tidak tahu kepada siapa harus menumpahkan kekesalan. Kalian pendengar yang baik, sekarang ketika kalian tidak ada, kepada siapa aku harus bercerita? Tidak perlu kukuasai bahasamu dan kalian pun tidak mungkin bisa menyebut namaku. Tapi bukankah kita begitu eratnya bagaikan saudara? Mengingat foto kalian bertiga yang kuambil dulu, tidak pernah mengira akan menjadikannya alat untuk mengenang moment bersama kalian. Mulai besok, aku akan mencoba selangkah demi selangkah menjalani hidup seperti biasanya, aku akan selalu ingat bahwa kalian bertiga pernah hadir dihidupku sebagai penguat semangatku di saat sedih dan senang." kataku dalam hati dengan buliran air mata.
Kurasa mataku sudah membengkak dari tadi. Aku sudah mengusapnya beberapa kali tapi tetap saja buliran air mataku terjatuh. Ini kesekian kalinya aku mengusapnya, sekali lagi aku menatap ke langit, mataku kembali memerah berkaca-kaca.
"Kalian bertiga yang dulu menghabiskan waktu dengan bermain denganku, maukah berjanji sesuatu? Baik-baiklah di sana dan tunggu aku, aku sayang kalian." kataku dalam hati sambil tersenyum dengan buliran air mata.