Tiga orang remaja yang dikenal Bad Girls SMA Nusantara . menyebutnya dirinya Anti Bucin-Bucin Club ,mereka memiliki motto Love is Death . grup ini melarang keras sesuatu yang berbau cinta, hingga menerapkan beberapa larangan seperti mereka tidak boleh jatuh cinta pada laki laki manapun, tidak boleh berpacaran,tidak boleh membawa unsur unsur bucin. Membuat mereka di juluki jomblo Cans,karena kecantikannya. Padahal mereka merupakan the Most wanted girl SMA Nusantara.
Kelas XI MIPA 3 sedang kacau kacaunya karena guru yang seharusnya mengajar malah belum datang. Di meja paling belakang berkumpullah tiga remaja wanita yang sedang berbisik bisik merencanakan sesuatu.
"Kabur yuk!"ajak seorang remaja berambut panjang bergelombang dengan kulit putih dan bibir mungil. Sebut saja Aleta, nama lengkapnya Aleta putri Aryanandita.
"Gimana cara kaburnya coba,kalau kabur gitu aja nanti kita bisa ketangkap sama Bu Retno . Gue liat dia lagi jalan kesini dari lantai satu,"balas remaja berkacamata yang memiliki pupil biru dengan lesung pipi di pipi kirinya sambil melihat kearah hpnya. Namanya Lena. Lena Sanjaya Bhaskara.
"Gue ada ide. Kita buat eksperimen."ujar seorang remaja disebelah Aleta dengan name tag Elsa. Aleta dan Lena menatap ke arahnya. "Jadi gini......... (menjelaskan rencananya)"
"Ide bagus!"seru Aleta.
"Iya. Kebetulan gue ada minum nih,"sambung Lena. Setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya dan maju menuju meja guru yang masih kosong dan sesekali melihat ke arah pintu. Dirasa aman dia kemudian menuangkan air mineral yang ia bawa ke kursi guru.
"Lancar,"ujarnya sambil memberikan jempol. Tak lama kemudian Bu Retno memasuki kelas. "Siang anak anak!"sapanya.
"Siang Bu!"
"Kumpulkan PR kalian!"
"BU KITA LUPA BUAT BU!"teriak tiga remaja itu. Siapa lagi kalau bukan Aleta,Lena dan Elsa.
"KELUAR!"sentak Bu Retno. Mereka pun keluar. "Berdiru disini sampai pelajaran saya selesai!"suruh Bu Retno. Ketiganya mengangguk.
Tak lama setelah Bu Retno masuk dia berteriak kencang "SIAPA YANG NAROK AIR DIMEJA SAYA HAH!"teriaknya penuh amarah.
Tiga gadis itu kemudian memperlihatkan kepalanya "KITA BU"
"Maaf ya Bu saya sengaja tadi,"ujar Lena.
"LENA. ALETA ELSA! KESINI KALIAN!"seru Bu Retno marah.
Ketiganya tertawa puas dan berlari dengan kencang menuju lantai satu dan dikejar Bu Retno. Karena takut tertangkap mereka memberikan kode agar lompat ke lantai satu. Tenang mereka profesional kalau hanya dari lantai dua ke satu mereka biasa melakukannya jago parkur soalnya.
"GUYS LOMPAT!"seru Aleta memberi abah abah. Mereka pun lompat. Namun saat Aleta lompat tubuhnya tertahan oleh seseorang dia tak menginjak tanah. Saat mendongok ternyata dia sudah berada di gendongan laki laki yang tidak ia kenal.
"Turunin!"perintah Aleta. Laki laki itu menurut dan menurunkan Aleta secara perlahan.
"Thank ya. Gue cabut dulu,"ucapnya sambil menepuk pundak laki laki itu. Dan pergi menuju parkiran disana sudah ada Lena. Mereka masuk ke mobil dan segera pergi keluar di depan gerbang sudah terbuka lebar dengan Elsa di dekatnya.
"Cepetan Sa!"seru Aleta. Elsa segera membuka pintu belakang dan masuk ke mobil. Setelah itu mobil yang di kendari Aleta melesat jauh meninggalkan area SMA Nusantara.
Keesokan harinya Aleta,Lena,dan Elsa datang tepat waktu atau lebih pagi dari biasanya. Mereka sudah datang padahal waktu masih menunjukkan pukul enam tiga puluh menimbulkan tanda tanya di benak Bu Landda yang sedang menjadi guru pengawas .
"Tumben pagi pagi udah dateng. Gak telat kenapa?"tanya Bu Landda.
"Kenapa Bu? Ibu gak suka kita dateng pagi. Padahal kita mau jadi murid baik di pagi hari loh Bu. "ucap Aleta.
"Iya si Ibu . Kita dateng telat salah. Giliran dateng pagi juga salah. Mau ibu kita dateng kapan Bu!"seru Lena.
"Iya,dimata ibu kita salah terus ya,"lanjut Elsa. Mereka menundukkan kepala seakan merasa sedih .
"Iya iya maaf . Sana masuk!"suruh Bu Landda.
"Siap Bu Bos!"seru mereka kompak.
Setelah berjalan menjauh dari gerbang Lena dan Elsa tiba tiba berbisik bisik pada Aleta. "Kenapa sih Ta kita harus dateng pagi? Gue ngantuk tau gak,kalau bukan karena elo yang minta gue ogah banget bangun pagi,"keluh Elsa. "Iya. Jangan bilang lo mau tobat,"sambung Lena penuh selidik.
"Yakali seorang Aleta top Bad Gril SMA Nusantara tobat. Gak lah."
"Lah terus kanapa?"
"Lo berdua lupa, tadi gue bilangnya sama Bu Landda apa? "
"Gak tau ,lupa gue."
"Sama."
"Dasar otak udang. Gue kan bilangnya . Kalau kita mau jadi murid baik di pagi hari,jadi kalau udah gak pagi ya balik lagi lah jadi nakal. Paham kan,"jelas Aleta.
"Gila ide lo."
"Paham . Jadi gimana ?"
"Jadi nantikan jam pertama Bu Indah,kita gak usah buat masalah. Nurut aja,lagian Bu Indah tu guru terbaik di sekolah ini yang jarang banget hukum kita. Nah di jam kedua ,jamnya pak Anto gue sih mau main HP aja. Kalau kalian terserah mau ngapain."
"Gue mau jadi anak penurut aja . Matematika soalnya susah,"ujar Lena.
"Gue mau bobok cantik."
"Oke. Nanti,kalau jam ketiga kita kan jamkos,kita lansung ke kantin aja. "
Jam ketiga sudah dimulai. Aleta dan kedua temannya sedang berjalan di koridor kelas sebelas. Mereka ingin pergi ke kantin yang berada dilantai satu. suasana sepi karena hanya kelas mereka yang tidak belajar karena guru fisika yang seharus nya mengajar sakit hari ini.
"MANG BAKSO TIGA ES TEH TIGA YAK!"teriak Elsa.
"SIAP NENG!"
sekitar lima menit Mang Jajang membawa tiga mangkok bakso dan tiga gelas es teh.
"Ini neng pesanannya. Selamat menikmati,"ujar Mang Jajang.
"Makasih Mang,"balas mereka ramah.
"Sama sama,tuban udah kesini aja ,kan belum istirahat."
"Biasa Mang,kelas kita jam kos,kita bosen Mang di kelas. Jadi kesini deh makan bakso super enak Mang Jajang," jawab Aleta.
MANG Jajang hanya tersenyum sembari mengangguk kemudian kembali ke stan Bakso miliknya. Saat sedang asik makan tiba tiba satu persatu kuping mereka di jewer oleh seseorang.
"Aduh sakit siapa sih yang jewer!"seru mereka kesakitan.
"Saya kenapa?"tanya Bu Landda dingin. Ternyata mereka ketahuan.
"IKUT SAYA KE RUANG BK!"sentak Bu Landda. Mereka menurut .
Sampainya di ruang BK Bu Landda menginterogasi mereka . "KALIAN TAHU ENGGAK KALAU NILAI KALIAN ITU BANYAK YANG KURANG SEBENTAR LAGI KELAS DUA BELAS. MAU JADI APA KALIAN NANTI! SAYA PIKIR TADI PAGI KALAIN SUDAH BERUBAH KARENA TIDAK TELAT LAGI ,TAPI APA?NYATANYA KALAIN MALAH BOLOS!"Teriak Bu Landda. Membuat Aleta dan teman temannya menutup kupingnya.
"Tapi Bu,sayakan tadi bilangnya kalau pagi. Sedangkan ini udah siang.
"TERUS TERUS AJA JAWAB KALAU SAYA NGOMONG!"seru Bu Landda lagi.
"Perasaan gue baru jawab sekali deh,"ucap Aleta dalam hati.
*Taman*
Setelah Bu Landda mengoceh dari A sampai Z . Alvan dan dua temannya datang, Bu Landda memanggil mereka untuk mengajari Aleta dan teman temannya. Tentunya mereka menolak dengan tegas,tapi Bu Landda tetap memaksa dan tidak menghiraukan penolakan dari ketiganya. Bahkan Bu Landda malah menyuruh Aleta,Lena,Elsa dan Alvan dkk keluar dan menyuruh mereka membahas kapan Alvan dan teman temannya mengajarkan Aleta dkk. Aleta yang tidak mau kabur bersama teman temannya. Namun naas,Aleta tertangkap. Kemudian karena tidak mau meninggalkan Aleta sendirian, Elsa dan Lena ikut tertangkap . Alvan dan teman temannya membawa mereka ke taman dan mendudukkan mereka di salah satu bangku taman.
"Gue gak mau tahu,besok kita mulai belajar!"tegas Alvan.
"Gue gak mau! Lo itu cowok modus kemaren sore kan!"tolak Aleta tegas.
"Apaan sih gak jelas lo?"
"Ih pura pura lupa lagi. Elo kan yang modus sama gue waktu gue mau turun dari lantai dua. Sok sokan nagkep gue ew,"tuduh Aleta.
"Enak aja. Gue itu nolongin elo,kalau elo jatuh terus berdarah parah harus dibawa ke rumah sakit siapa yang repot ? Ya gue lah!"balas Alvan dengan Nada meninggi.
"Gak usah sok sokan deh lo. Gue itu udah pro,gak mungkin jatuh dari lantai segitu. Ngaku aja lo mau modusin gue!"balas Aleta tak mau kalah.
Alvan akhirnya menyerah "Terserah elo mau ngomong apa soal gue. Yang jelas gue mau lo,lo,dan elo. Belajar sama kita besok!"tekan Alvan.
Aleta dan teman temannya saling pandang seperti mengisyaratkan lewat mata "Gimana nih?"pikir mereka kebingungan. Akhirnya Aleta sudah memutuskan mewakili teman temannya. "Oke kita mau. Besok sepulang sekolah, tunggu kita di parkiran. Belajarnya di rumah gue aja,"putus Aleta yang langsung pergi begitu saja bersama teman temannya.
Keesokan harinya Alvan,Leon,dan Evan menunggu mereka di parkiran setelah bel pulang sekolah di bunyikan. Kurang lebih lima menit Aleta bersama teman temannya datang. Kemudian mereka langsung memasuki mobil masing masing dan melaju menuju rumah Aleta.
sesampainya di rumah Aleta. Mereka di sambut oleh beberapa pembantu rumah Aleta "Selamat datang Non!"sapa salah satu ART sambil sedikit membungkuk . Aleta membalasnya "Iya Bi,"balas Aleta dengan senyuman.
"Lo pada mau minum apa?"tanya Aleta kepada teman temannya lewat lirikan mata.
"Biasa Ta," jawab mereka kompak. Aleta mengangguk . Kemudian beralih ke Alvan dkk, "Kalau lo pada?"
"Samain aja,"jawab Alvan singkat.
"Oke. Bi kalau gitu bawain jus jeruk enam sama cemilan ya . Ke ruangan yang biasa,"ucap Aleta.
"Baik Non,"jawab sang Bibi. Yang kemudian berjalan menuju dapur.
Aleta memimpin teman temannya menuju lantai dua. Sesampainya di sana Aleta menyuruh Alvan dan teman temannya untuk masuk duluan ke salah satu ruangan dengan pintu berwarna putih . "Lo pada masuk aja dulu kesana ,gue sama sahabat gue mau ganti baju dulu,"ucapnya.
Sekitar sepuluh menit Aleta dkk telah berganti baju dengan baju rumahan. Kemudian mereka duduk di salah satu sudut kamar yang di lengkapi sofa mini.
"Lo yakin kita harus belajar sama mereka?"tanya Lena.
"Ya... mau gimana lagi? Iyain aja lah,dari pada mereka lapor sama Bu Landda.
"Bener juga sih. Tapikan Ta,kita ada larangan buat bucin, "sahut Elsa. Aleta melihat ke arah Elsa dengan kerutan di keningnya. "Lah emang elo bucin sama mereka?"tanya Aleta.
"Enggak sih,"jawab Elsa.
"Yaudah gak usah takut kalau gitu,"sahut Lena.
"Udah yuk gak udah di pikirin. Yang penting kita tetap jaga komitmen jangan sampai jatuh cinta sama mereka. Kalian tahukan,jatuh itu sakit. Dan gue gak mau,"ucap Aleta tegas. Lena dan Elsa mengangguk.
"Eh Ta,bentar deh. Lo tadi bilang sama mereka suruh masuk ke pintu warna putih. Berarti yang biasa buat kita __"
"Kumpul kumpul!"pekik Aleta kaget.
"Bodoh bodoh. Cepetan,kalau mereka liat itu semua bisa gawat!"lanjut Aleta panik.
Kemudian bergegas ke ruangan tersebut
BRAK (Aleta membuka pintu dengan sangat keras) Alvan dkk yang terkejut refleks melihat ke arah pintu. Disana tampak Aleta dan teman temannya yang masih berusaha mengatur nafas mereka "Jangan sentuh apapun! Keluar sekarang!"usir Aleta.
Aleta masuk dan berusaha menarik Alvan keluar dari ruangan itu. Namun Alvan sama sekali tak bergerak "Ini semua punya elo?"tanya Alvan sambil menunjuk salah satu lemari kaca yang penuh dengan piala pemenang olimpiade Fisika dan Matematika.
"Buka. Itu bukan punya gue. Gue harap lo pura pura lupa aja pernah liat ini semua!"tegas Aleta.
"Kenapa?"tanya Alvan dengan kening berkerut.
"Pokoknya lupain aja!"
"Gak bisa. Kalau kayak gini,gue harus bilang ke Bu Landda."
"JANGAN!"teriak mereka serempak.
"Kenapa? Jujur aja lah sama kita,"ucap ketiga laki laki itu sambil tersenyum penuh arti.
Udah lah. Ini semua punya kaliankan. Apasih yang kalain pikirin? Jangan jangan lo pada sengaja pura pura bodoh di bidang yang kalian bisa kan!"tebak Evan.
"Kalau iya kenapa?" tanya mereka dengan nada membentak.
"Seharus nya kalian gak perlu kayak gitu. Kalau guru guru tau,kalian pasti akan lebih mudah, kalian gak perlu dengerin ceramah mereka soal nilai kalain. Apa kalian gak merasa bangga ?"tanya Alvan.
"Bangga? Gak ada yang akan bangga dengan itu semua. Jadi percuma,gue nunjukin juga,gak akan ada yang peduli!"jawab Aleta sambil tertawa hambar.
"Pasti ada . Misalnya orang tua, gak ada orang tua yang gak bangga ngeliat anaknya berprestasi ,"balas Alvan.
"Ada. Lo aja yang enggak tau. Mau bukti ? Kita buktinya,orang tua gue sama mereka,"menunjuk Elsa dan Lena. "Gak pernah sekalipun bangga dengan hal itu . Mereka cuma mentingin keja kerja dan kerja!"ujarnya dengan sorot mata gelap.
Alvan tersentak saat melihat sorot mata Aleta yang berubah. Entah mengapa dia merasa bersalah "Maaf,"ujarnya tulus.
"Apaan sih lo. Kenapa minta maaf coba, lo gak salah kok,"balas Aleta dengan menepuk pundak Alvan pelan dan tersenyum.
"Oke sekarang gue jujur aja lah,"lanjut Aleta.
"Gue Aleta. Gue bisa di bilang pintar di segala hal Akademis maupun Non akademis. Tapi gue paling menonjol di Fisika dan Matematika."ujarnya.
"Ini Elsa,"ucapnya sambil menepuk bahu Elsa "Dia pinter Kimia sama main Musik. Khususnya Biola."
"Dan yang ini,Lena,"Kata Aleta menunjuk Lena. "Dia pinter di semua cabang olahraga Khususnya Basket sama bela diri. Tapi jangan salah, dia punya ilmu Komputer ."
"Gila!"seru Leon dan Evan.
"Lo pada. Jangan jangan elo kan yang sering buat CCTV ngehanck!"tunjuk Leon pada Lena.
"Iya . Emang kenapa?"tanya Lena cuek.
'Lo tanya kenapa? Lo buat pekerjaan gue nambah tau gak!"balas Leon kesel.
"Lah terus gue harus peduli,"sahut Lena. "Udah,siapa yang bakal ajarin gue basket sama Tik? Ikut gue sekarang, "lanjutnya.
"Gue,"jawab Leon malas.
"Yang mau ngajarin gue mana?"tanya Elsa.
"Gue,"jawab Evan sambil mengangkat tangannya.
"Oh oke."balas Elsa.
"Lo pasti yang bakal ajarin gue kan !"tunjuk Aleta pada Alvan. "Iya,"sahut Alvan singkat.
"Yuk ikut gue,"suruhAleta sambil berjalan keluar ruangan. Alvan mengekor di belakang.
Hari telah berganti minggu hubungan Aleta dkk dan Alvan dkk semakin dekat. Bahkan Aleta dan teman temannya sudah mau jujur tentang bakat mereka pada guru guru. Para guru ikut senang dan bangga,sekolah sering mengirim mereka untuk mengikuti lomba. Dan hasilnya mereka selalau jadi juara pertama.
Hingga tibalah saat kelulusan. Aleta dan teman temannya berpelukan , Aleta menjadi murid terbaik pertama disusul Alvan lalau Evan di peringkat ketiga.
Setelah selesai berpelukan mereka berbalik dan mendapati Alvan ,Evan,dan Leon di belakang mereka. "Hai!"sapa mereka dengan senyum merekah.
"Hai,"balas mereka.
"Selamat ya ,"ucap Aleta dkk.
"Iya. Kalian juga,"balas mereka.
"Ini buat kalian,"ucap mereka sambil memberikan sebuah barang. Alvan memberikan sebuah rubik berwarna putih dan biru yang sudah di acak acak kepada Aleta. Evan memberikan sebuah Coca cola untuk Elsa. Dan Leon melempar bola bola basket yang langsung ditangkap Lena.
"Apasih maksudnya?"tanya Aleta dkk dengan alis menyatu.
"rapiin rubiknya supaya berurutan!"
"coba minum coca colanya!"
"Puter bola basketnya!"
Aleta dan teman temannya mengangguk. Mereka mulai mengerjakan apa yang Alvan dan teman temannya perintahkan.
"I"
"Love"
"You"
ucap mereka bersamaan.
"Kalian apa apaan sih?"tanya mereka makin kebingungan dan langsung menjatuhkan barang barang yang Alvan dan teman temannya berikan.
"Kita tau,kalian sangat menghindari apa pun yang berhubungan dengan cinta. Tapi percaya sama kita,kita akan tunjukin gimana keindahan cinta. Tolong kasih kita kesempatan untuk jadi laki laki beruntung yang bisa milikin hati kalian,"ujar Alvan.
"Jadi... will you be my grilfriend,"ucap Alvan ,Evan,Leon bersamaan sambil menggenggam tangan mereka.
Aleta ,Lena,dan Elsa saling pandang.
"Gimana?"tanya Alvan.
Mereka mengangguk. "Iya kita mau, "jawab mereka.
Alvan dkk langsung tersenyum senang kemudian mereka memeluk pasangan mereka masing masing.
PERCAYALAH CINTA TAK SEBURUK YANG KITA BAYANGKAN. JUSTRU DARI SANALAH KITA AKAN MENEMUKAN KEBAHAGIAN LAIN YANG LEBIH INDAH
END