Ketika kamu mengatakan "Ayo makhluk, temukan aku" maka permainan akan di mulai.
----------------------------------------------
Cuaca hari ini di luar sangat bagus, adem, dan sejuk. Banyak orang-orang yang sangat menikmatinya. Walaupun begitu, hal itu tidak berpengaruh di dalam kelas kejuruan Matematika. Suasana di dalam kelas sangat tegang, mereka tidak memperdulikan bagaimana cuaca di luar sana. Yang mereka pedulikan hanya nilai. Ya, hari ini Guru Matematika yang bernama Gilang Ardiansyah akan mengumumkan siapa yang akan mendapatkan peringkat pertama, kedua, dan ketiga.
"Baiklah, hari ini saya akan mengumumkan nama-nama peringkat pertama, kedua, dan ketiga. Saya akan mulai dari peringkat ketiga."
Raut wajah mereka sangat pucat sekaligus penasaran siapa yang akan mendapatkan peringkat ketiga. Mereka semua berdoa di dalam hati masing-masing agar namanya di sebutkan.
"Dan yang mendapatkan peringkat ketiga yaitu...." Ucap sang Guru sengaja menggantungkan kata-katanya.
"Dewi Lestari! Selamat!"
Nama yang di panggil langsung berdiri histeris sambil menutup mulutnya tanda tak percaya. Dia segera maju ke depan untuk mengambil hadiah dan raport. Berbeda dengan yang lainnya, mereka tampak kecewa dan mulai pesimis.
"Selamat ya, ini raport dan hadiahmu. Tingkatkan lagi prestasimu."
"Baik pak, terima kasih!" Dewi meraih tangan Gurunya dan menyalamnya.
"Sekarang kita lanjut ke peringkat kedua. Yang mendapatkan peringkat kedua yaitu....." Lagi-lagi sang Guru menggantungkan kata-katanya, sepertinya dia sengaja.
"Akbar Maulana! Selamat nak!"
Kali ini Akbar terlihat santai ketika namanya di panggil. Ya, dia salah satu siswa tepintar di kelasnya, jadi dia tidak merasa was-was seperti siswa lainnya.
Akbar berdiri dari duduknya dan berjalan maju ke depan menghampiri Pak Gilang dan Dewi.
"Ini untukmu, selamat ya! Tetap pertahankan nilai dan peringkatmu. Kalau bisa tingkatkan lagi agar kau bisa naik ke peringkat pertama."
"Makasih Pak! Akbar akan berusaha." Jawab Akbar kemudian menyalam tangan sang Guru.
"Baiklah, ini dia yang di tunggu-tunggu. Siapa yang akan mendapatkan peringkat pertama?"
"Hah, intinya bukan aku. Bersiap-siaplah, pasti aku nanti akan di marahi Ibu." Guman Bagas.
Semua siswa yang namanya belum di panggil kembali menegang. Ada yang deg-degan, keringat dingin, ada pula yang santai seperti tidak memiliki beban hidup.
"Dan yang mendapatkan peringkat pertama adalah.... Selamat kepada Indrawansyah!"
Menciut, semua siswa siswi menciut dan menundukkan kepalanya.
Indrawan segera maju ke depan menghampiri kedua temannya dan sang Guru, Pak Gilang.
Gilang melakukan hal yang sama, memberikan hadiah dan raport. Begitu pun dengan Indra, dia mengucapkan terima kasih dan menyalam tangan Gurunya.
Gilang tersenyum melihat para anak didiknya yang tampak putus asa.
"Walaupun kalian tidak memenangkan peringkat pertama, kedua, ketiga, kalian tetap hebat. Bapak tahu kalian semua sudah melakukan semampu dan semaksimal mungkin. Di waktu yang akan datang, Bapak harap kalian tidak menyerah. Teruslah berjuang hingga suatu saat ketiga orang ini akan di gantikan oleh salah satu dari kalian. Baiklah, pertemuan kita sampai disini dulu. Kita libur 1 bulan dan sampai jumpa di semester selanjutnya."
"Baik Pak, terima kasih!" Jawab mereka dengan serentak.
***
"Bagaimana ini? Ibu pasti marah melihat nilaiku." Ujar Bagas pasrah melihat nilai raportnya yang menurun.
Tia, Chintya, dan Arya saling bertatap dan mengangkat bahu acuh.
"Bantuin aku." Ujar Bagas lagi menatap ketiga sahabatnya.
"Bantu apa? Mengubah nilaimu? Ya mana bisa." Ketus Arya.
"Bagas, sebaiknya kau jujur saja dengan nilaimu. Aku yakin, Ibumu pasti memakluminya." Tia berusaha menenangkan perasaan Bagas.
"Tidak akan bisa. Ibu bilang kalau nilaiku tidak naik, dia akan menarik semua fasilitasku. Nanti aku tidak bisa bermain game lagi." Bagas merengek.
Sementara ketiga sahabatnya mengeluarkan desahan panjang. Sahabatnya yang ini memang beda dari yang lain. Dia bukannya mencemaskan nilai, tapi game.
"Aha, aku ada ide!" Pekik Bagas.
"Apa? Kalau yang aneh-aneh kami tidak ikutan." Pungkas Chintya dan di balas anggukan Tia dan Arya tanda setuju.
"Ayo kita minta tolong sama makhluk."
"Yak!" Tia menjitak kepala Bagas, "Kau kira makhluk bisa menyelesaikan masalah? Aku tidak ingin bermain dengan makhluk lagi."
"Iya, aku juga tidak mau." Ucap Chintya dan Arya serentak.
"Ayolah, ku mohon bantu sahabat kalian ini. Aku janji ini terakhir kalinya kita bermain dengan makhluk." Bagas menyatukan kedua telapak tangannya memohon.
Tia melirik ke arah 2 temannya yang lain. Mereka saling menatap tapi tidak bicara. Seakan-akan mereka berbicara lewat tatapan itu dan hanya mereka bertiga yang paham.
Tia menghela nafas, "Baiklah, tapi hanya kali ini. Selanjutnya aku tidak ingin bermain lagi."
Bagas bersorak ria, "Benar? Huaaa makasih banyak. Kalian memang sahabat terbaikku." Bagas memeluk ketiga sahabatnya dengan erat.
"Ish, lepaskan! Risih tahu!" Ketus Arya, dia tidak suka di peluk seperti itu.
Buru-buru Bagas melepasnya, "Maaf."
"Baiklah, kali ini kita bermain dengan makhluk apa?"
"Ravanav."
Malam ini mereka bertiga berkumpul di lorong sekolah. Sebenarnya Bagas tidak ingin melakukan ini, apalagi bermain dengan makhluk. Orang-orang ingin menghindari para makhluk tapi berbeda dengan mereka. Hanya demi game dan menolong sahabatnya, maka hal ini pun mereka lakukan.
"Ayo cepat kita lakukan. Aku harus pulang sebelum Ibu pulang ke rumah. Kalau Ibu tidak melihatku nanti Ibu bisa marah." Ucap Chintya.
"Iya-iya, sebentar."
"Sebenarnya aku tidak yakin ada makhluk seperti itu. Ravanav? Aku tidak pernah mendengarnya."
"Kau akan percaya jika kau melihatnya nanti."
Bagas mengeluarkan sesuatu dari tas yang dia bawa. Sebuah boneka dengan ukuran mungil dan terbuat dari jerami. Dia juga mengeluarkan beberapa lilin, cermin ukuran sedang dan pematik.
Bagas mengatur beberapa lilin hingga membuatnya seperti lingkaran. Dia menyalakan lilin itu menggunakan pematik yang dia bawa tadi. Kemudian dia meletakkan cermin dan boneka jerami di tengah-tengah lingkaran itu. Guna cermin itu sebagai sandaran boneka jerami dan mengikatnya di satu sisi ke sisi lainnya.
"Selesai. Waktu kita hanya 1 menit setelah aku mengucapkan mantranya. Sebelum waktu kita berakhir, kalian cari tempat persembunyian agar makhluk ini tidak menemukan kita. Sembunyilah seorang diri, jangan ramai-ramai." Ucap Bagas dengan nada peringatan dan ketiga temannya hanya menggangguk.
"Tunggu!" Chintya menyela, "Butuh waktu berapa lama kita bersembunyi?"
"Hanya 1 jam."
Chintya melotot, "Hanya? Hanya kau bilang? Waahhh..." Lihatlah betapa kesalnya dia sekarang.
"Apa yang terjadi jika makhluk itu menemukan kita?" Kali ini Arya buka suara.
"D-dia akan mengambil jiwa kita." Gugup Bagas.
Arya menarik rambutnya frustasi, "Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Tunggu, ini belum di mulai kan? Ayo kita berhenti disini."
Wajah Bagas sudah pucat pasi. Apa-apaan ini? Kenapa mereka berubah pikiran?
"Maaf kalau aku telat memberitahu kalian tapi kalian kan sudah berjanji."
"Kita akan melakukannya." Ujar Tia yang sedari tadi dia diam menyimak pembicaraan ketiga temannya.
"Kita sudah berjanji jadi kita jangan mengingkarinya."
Bagas mengucap syukur dalam hati. Setidaknya Tia membelanya saat ini.
"Tapi Tia, kalau kita gagal bagaimana? Aku tidak mau jiwaku di ambil makhluk itu." Cela Arya tidak terima.
"Kalau begitu sembunyilah dengan benar supaya makhluk itu tidak menangkapmu. Bagas, sekarang mulailah."
Bagas mengangguk, sementara Arya dan Chintya memasang wajah kesal.
Bagas duduk di lantai lorong sekolah, dia menatap lekat boneka jerami yang ada di hadapannya. Chintya, Tia, dan Arya berdiri di belakangnya.
Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Bagas bersuara, "Ayo makhluk, temukan aku."
Hening, hanya ada suara deruan nafas saja yang terdengar. Apa ini? Ritualnya tidak bekerja?
"Sudah kubilang, tidak ada makhluk seperti itu. Mantranya pasti salah." Ketus Chintya.
Bagas mengernyit, "Tunggu. Ini bekerja! Cepat kalian sembunyi!" Teriak Bagas dan dia sudah lari duluan meninggalkan ketiga temannya.
"Yak, Bagas! Beraninya kau meninggalkan kami!"
"Sudahlah, lebih baik kita sembunyi sekarang. Ingat, berhati-hatilah. Kalian jangan bersuara." Nada peringatan Tia keluar dan kedua temannya hanya mengangguk kemudian berlari mencari tempat persembunyian yang pas.
Dan tanpa mereka sadari, boneka jerami yang tadinya kecil dan mungil kini menjadi sangat besar. Terus tumbuh dan akhirnya berdiri tegak. Di sekitar jerami itu di penuhi asap bewarna hitam keunguan, matanya berubah menjadi merah darah.
"Hahaha... Ternyata ada yang ingin bermain dengan kita." Ucap makhluk itu dengan suara perempuan.
"Kau benar. Ayo kita cari mereka." Jawabnya tapi dengan suara laki-laki.
Tunggu! Makhluk ini punya dua suara yang berbeda? Astaga! Makhluk jerami ini memiliki jiwa yang berbeda di dalam 1 bentuk!
Suara langkah berat terdengar jelas di lorong itu. Ravanav membuka pintu kelas dengan kasar dan mengacak ruangan itu dengan suara tawa yang menggelegar.
Sementara itu, di tempat persembunyian keempat orang yang memanggil Ravanav sedang cemas dan ketakutan di tempatnya masing-masing.
Chintya bersembunyi di dalam lemari, Tia di toilet wanita, Bagas di bawah kolong tempat tidur UKS, dan Arya di bawah kolong kursi kelas yang terletak di paling pojok.
Suara kekacauan semakin terdengar jelas di telinga mereka. Ravanav membuka kasar pintu toilet wanita untuk mencari mereka yang sangat berani ingin bermain dengannya.
Tia yang tadinya duduk dengan perasaan was-was, kini dia merasa ketakutan saat mendengar suara pintu di dobrak dengan kasar. Dia menggigit jari-jarinya.
Prank!
Sebuah besi jatuh ke lantai. Ravanav menoleh ke sumber suara, sementara Tia sudah mati ketakutan. Dia mengambil besi yang jatuh itu dan ingin meletakkan ke tempat semula. Belum sempat dia melakukannya, mata Ravanav dan mata Tia saling berjumpa. Tia menjerit histeris.
"Hahaha, aku menemukanmu!"
Tangan Ravanav yang panjang itu menarik tubuh Tia dengan ringannya dan seketika mereka menghilang dari sana.
Sejenak tidak ada lagi suara kegaduhan terdengar di luar. Chintya, Arya, dan Bagas keluar dari persembunyiannya dan kembali ke lorong.
"Apa kalian mendengarnya?" Tanya Chintya dengan ekspresi pucat pasi.
Bagas mengangguk, "Tia diambil makhluk itu. Lalu bagaimana sekarang?"
Arya menoleh pandangannya dan menatap tajam Bagas, " Bagaimana kau bilang?! Ini semua karena dirimu! Seandainya kita tidak bermain ini, Tia tidak akan di tangkap!"
"Tapi ini bukan sepenuhnya salahku! Ravanav menangkapnya karena suara besi itu!" Pekik Bagas tidak terima.
Chintya menatap jengah kedua laki-laki yang ada di hadapannya yang dari tadi berdebat.
"Bisakah kalian diam? Sekarang bukan waktunya untuk berdebat! Sekarang pikirkanlah bagaimana kita mengambil Tia dari makhluk itu. Bagas, aku rasa kau tau bagaimana caranya."
Bagas menundukkan kepalanya, " Hanya ada satu cara."
"Apa itu?"
"Kita harus mencari 4 makhluk yang tersembunyi di sekitar sini."
Arya dan Chintya saling menatap, kemudian beralih melihat Bagas dengan raut wajah heran.
"Apa maksudmu?" Tanya Chintya.
Bagas kembali menegakkan kepalanya, menatap mata Chintya dengan sungguh-sungguh, "Ketika Ravanav berhasil menangkap seseorang yang bermain dengannya, Ravanav akan membelah diri sesuai jumlah pemain. Jika yang bermain 4 orang seperti kita, maka kita akan mencari 4 makhluk itu agar kita bisa berjumpa dengan sosok Ravanav yang sebenarnya."
Arya menelan salivanya dengan kasar, "Gila! Bagaimana mencarinya? Wujudnya seperti apa juga kita tidak tahu!"
"Ravanav terbuat dari jerami, wujudnya hitam keunguan, matanya merah darah, tangannya sangat panjang jadi kita harus hati-hati. Ravanav memiliki 2 jiwa di dalam tubuhnya. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Kita harus segera mencarinya, karena kalau kita terlambat, jiwa Tia akan di bawa makhluk itu."
"Apa waktu kita banyak?"
"Tidak, kita hanya punya waktu satu jam. Lewat dari situ maka Tia tidak akan selamat."
Chintya kaget dan melihat jam tangannya, "Waktu kita tinggal 50 menit lagi! Ayo, sekarang kita cari ke semua ruangan!" Chintya berlari duluan meninggalkan Bagas dan Arya.
"Sebaiknya kau harus bekerja keras untuk menemukan makhluk itu. Karena kalau tidak, kau akan menyesal seumur hidup kalau Tia tidak selamat."
Arya berjalan meninggalkan Bagas yang masih berdiri di tempatnya. Tapi tiba-tiba dia berhenti melangkah.
"Beruntunglah kau karena ada Chintya. Karena kalau tidak, sudah dari tadi ku beri kau pelajaran dan memukul seluruh tubuhmu." Bagas bicara tanpa menoleh ke belakang dan melanjutkan langkahnya menyusul Chintya.
Bagas menatap punggung Arya yang mulai menjauh dan menghela nafas kasar, "Aku juga tidak ingin melakukan ini, tapi... Hah.. Maafkan aku." Sendunya dan ikut melangkah pergi dari tempat itu, mencari 4 makhluk anak buah Ravanav.
Mereka bertiga terus mencari ke seluruh ruangan dengan teliti, tidak melewati satu tempat pun.
"Dimana-mana aku lari dari makhluk, tapi sekarang aku malah mencarinya." Gerutu Arya.
Chintya memasuki ruangan Lab. Saat sudah berada di dalam, dia merasakan sesuatu yang aneh.
"Hei kalian! Kemarilah!" Panggil Chintya. Arya dan Bagas bergegas menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Bagas.
"Aku merasakan sesuatu yang aneh di ruangan ini. Apa hanya aku saja yang merasakannya?" Tanya Chintya memegang tengkuk lehernya.
Bagas menyelinap masuk lebih dalam ke ruangan itu sambil melihat ke segala sudut ruangan.
"Aku merasakan hawa makhluk disini."
Arya melotot, " Benarkah? Kalau begitu dimana dia? Kita harus segera menyelesaikan ini."
Bagas berjalan memutari ruangan Lab dan melihat sekitar dengan teliti.
"Sshhh... Dia ada dimana?" Desah Bagas.
Chintya yang ikut membantu Bagas mencari keberadaan makhluk itu, tiba-tiba dia berhenti di depan patung kerangka manusia.
"Sejak kapan patung ini punya mata merah menyala?" Pikirnya.
Tapi seperkian detik, mata itu menatap mata Chintya dan tatapan mereka saling beradu.
Chintya kaget, buru-buru dia memanggil Bagas.
"Bagas! Aku menemukannya!"
Bagas menoleh cepat ke arah Chintya, "Tatap matanya dan katakan ketemu!"
Chintya mengangguk dan mengikuti kata Bagas. Menatap kembali mata makhluk itu dan mengatakan 'ketemu!' Tiba-tiba sang makhluk keluar dari patung itu dan pergi dari ruangan itu. Dia kembali ke tubuh Ravanav yang asli.
Chintya kaget saat makhluk itu pergi meninggalkan mereka.
"Dia pergi Gas! Ayo kita kejar!" Melihat Chintya yang ingin pergi mengejar makhluk itu, Bagas segera menahan pergelangan tangannya.
"Tidak perlu. Dia pergi menemui Ravanav yang asli. Lebih baik kita cari 3 makhluk lainnya. Waktu kita tidak banyak.
Chintya mengangguk dan mereka bertiga kembali mencari makhluk lainnya.
Mereka kembali mencari ke ruangan lainnya. Arya menemukan makhluk kedua berada di ruangan kelas, Bagas menemukan makhluk ketiga di dalam toilet, dan makhluk keempat di temukan Chintya yang berada di dalam lukisan.
"Kita sudah menemukan semuanya. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Chintya.
"Ayo kita kembali ke tempat awal." Jawab Bagas dan mereka bergegas pergi kesana.
Saat mereka sudah sampai di tempat itu, Ravanav tidak ada disana.
"Apa ini? Dimana dia? Seharusnya dia ada disini." Gumam Bagas bingung.
"Dia ada dimana Gas? Kita tidak mungkin terlambat kan? Kita sudah menyelesaikan misinya tepat waktu." Tukas Chintya.
Disaat mereka sedang memperdebatkan keberadaan Ravanav yang tidak memunculkan dirinya, tiba-tiba sehelai jerami jatuh dan mengenai wajah Arya. Dia mengambil jerami itu dengan ekspresi heran, kemudian menatap ke atas.
"Dia ada atas!" Pekik Arya.
Bagas dan Chintya mendongakkan kepala mereka dan terkejut ketika Ravanav berada di atas atap. Ravanav tertawa menggelegar dan dia turun dari atas sana. Kini dia berdiri di hadapan ketiga bocah itu.
"Hahaha... Akhirnya kalian menemukanku. Kalian cukup berani bermain denganku."
"Lepaskan sahabat kami!" Teriak Chintya.
"Tidak semudah itu. Jiwa sahabatmu harus bersamaku selamanya, begitu pun dengan jiwa kalian. Hahaha...!!"
Ravanav tiba-tiba menyerang mereka. Tangan panjangnya dia ulurkan dan ingin mengambil Arya, tapi untungnya Bagas menolongnya. Ravanav geram, dia mengeluarkan jeraminya dan melemparkan ke atas, seketika hujan jerami di lorong itu pun terjadi. Chintya, Arya, dan Bagas yang terkena hujan jerami, tubuh mereka jadi terikat. Jerami itu melilit tubuh mereka, sehingga mereka tidak bisa bergerak.
"Hahaha... Kemampuan kalian tidak cukup mengalahkanku. Sekarang jiwa-jiwa kalian milikku!"
Ravanav mengambil tubuh Bagas dan ingin menyerap jiwanya.
"Tidak semudah itu makhluk gila!"
Bagas mengambil pematik dari sakunya dan menghidupkannya, seketika api menyala. Dia melemparkan pematik itu ke arah Ravanav dan saat itu juga api menyambar ke seluruh tubuh Ravanav. Makhluk itu menjerit.
"Aaarrrgghhh!! Sialan kau! Matikan api ini!!"
Ravanav terus berteriak dan dia menjatuhkan Bagas dari genggamannya. Saat Ravanav terbakar, jerami yang melilit di tubuh mereka juga ikut terbakar dan hilang begitu saja.
"Lihatlah! Aku akan balas dendam di masa depan! Kalian tunggu kedatanganku! Aarrgghh!!"
Itulah ucapan Ravanav untuk terakhir kalinya sebelum dia berakhir menjadi debu.
"Darimana kau tahu kelemahan Ravanav?" Tanya Arya dengan nafas tersengal-sengal.
"Entahlah, awalnya aku tidak tahu, tapi disaat aku berfikir dia terbuat dari jerami, aku yakin kelemahan dia api. Untung saja di sakuku ada pematik."
"Sudahlah, nanti kita bicarakan soal itu lagi. Sekarang Tia bagaimana? Dia tidak ikut menghilang kan?" Tanya Chintya cemas.
Arya dan Bagas saling menatap, tidak tahu harus bagaimana. Apa benar Tia tidak selamat? Aarrgghh! Seharusnya Bagas tidak membakar Ravanav. Tapi kalau tidak membakarnya, jiwa mereka terancam. Bagas tidak punya pilihan lain.
"Maafkan aku, seharusnya aku----"
"Teman-teman, apa yang terjadi? Kenapa aku merasa pusing?" Ucap seseorang jauh dari belakang mereka.
Arya, Bagas, dan Chintya menoleh ke sumber suara dan melihat Tia berjalan menghampiri mereka.
"TIA!!!!"
Teriak ketiga orang itu dan mereka langsung lari memeluk erat sang sahabat yang sempat di ambil Ravanav.
"Hiks, Tia... Aku kira kau tidak selamat! Aku merindukanmu!" Tangis Chintya pecah.
"Eh eh, kalian kenapa? Apa yang sedang terjadi?"
Mereka melepaskan pelukannya dan melihat raut wajah Tia yang sedang kebingungan.
"Kau serius tidak tahu apa yang terjadi?" Tanya Arya menatap lekat mata Tia dan yang di tanya hanya menggeleng.
"Kau tadi di tangkap makhluk Ravanav, apa kau tidak ingat?"
"Tidak. Yang ku ingat, aku berada di sudut sana dan aku melihat kalian berdiri sambil terisak. Kita memang ingin bermain petak umpet kan?" Bagas, Chintya, dan Arya mengangguk antusias. "Nah, setelah itu aku tidak ingat apa-apa, tiba-tiba saja aku ada disana dan merasa pusing. Kalian juga aneh nangis begitu."
Chintya menghela nafas pelan, dia juga bingung kenapa Tia tidak ingat. Alhasil dia menceritakan kejadian yang menimpa mereka, sampai ke bagian Tia di culik Ravanav, mereka mencari 4 makhluk dan melawan Ravanav.
"Maafkan aku Tia, seharusnya aku tidak melakukan ini. Semua ini salahku. Hanya demi fasilitas dan game, aku hampir saja mencelakakan kalian. Aku sangat egois."
Tia tersenyum lembut dan menatap mata Bagas.
"Tidak apa, aku memaafkanmu. Lagian semuanya sudah berlalu, intinya kita semua selamat. Bagas, aku harap kamu bisa belajar dari kesalahanmu dan jangan ulangi lagi."
Bagas mengangguk, "Iya, aku tahu kesalahanku. Maafkan aku juga Arya dan Chintya. Aku sudah membahayakan nyawa kalian."
"It's okay dude. Awalnya aku marah denganmu tapi yasudahlah, yang penting kita semua selamat. Ini gunanya sahabat bukan? Saling menolong satu sama lain. Yeah, walaupun hampir mati tadi." Ucap Arya di akhiri tawa bengek dan di ikuti teman lainnya.
"Kita harus membuang boneka itu. Walaupun Ravanav sudah mati terbakar, kalau ada yang memanggil dia lagi dengan boneka itu, dia akan bangkit." Ujar Bagas mengambil boneka jerami yang kini ada di genggamannya.
"Mau di buang kemana? Jangan di sembarang tempat. Lebih baik kubur saja." Kata Tia.
"Hm, aku setuju dengan Tia. Lebih baik kubur boneka itu dalam-dalam biar tidak ada yang menemukannya." Sambung Chintya dan Arya pun mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menguburnya di belakang sekolah kita. Ayo bantu aku."
Mereka berempat pun langsung bergegas ke belakang sekolah. Bagas mengambil cangkul dari gudang dan mulai menggali tanah. Dia rasa sudah cukup dalam, Bagas mengambil boneka beserta mantra yang dia ikat ke tubuh boneka itu dan menguburnya.
"Aku harap tidak akan ada yang menemukan boneka itu. Kalau ada, dia akan menghadapi masalah besar." Cemas Chintya.
"Tenang saja, aku yakin tidak ada yang menemukannya." Jawab Bagas meyakinkan.
"Yasudah, ayo kita pulang. Ini sudah sangat malam. Nanti kita di marahi Ayah dan Ibu."
"Ah iya, baiklah, ayo kita pulang."
Dan setelah melewati malam yang panjang, mereka akhirnya pulang kerumahnya masing-masing.
***
Waktu demi waktu, tahun demi tahun berlalu. Sudah 5 tahun berlalu semenjak kejadian 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki yang di ketahui bersahabat itu melawan makhluk yang bernama Ravanav. Kini mereka sedang menempuh jalan hidupnya masing-masing. Ada yang kerja dan ada yang kuliah. Apa mereka masih mengingat kejadian 5 tahun yang lalu? Entahlah, hanya mereka yang tahu jawabannya.
Seorang anak perempuan sedang duduk di belakang sekolah. Dia sering menghabiskan waktu istirahat di sana karena tidak ada satu pun yang ingin bermain dengannya. Dia sering di bully oleh siswa lainnya karena bentuk fisiknya yang gemuk dan memiliki rambut keriting.
"Lala ngapai duduk disitu? Kok tidak pergi main dengan teman lainnya?" Tanya tukang kebersihan sekolah yang sedang mencangkul tanah.
"Pak Doni seperti tidak tahu saja." Cuek Lala sambil memakan jajanannya.
Pak Doni tersenyum, "Bukan begitu, walaupun mereka tidak menyukai Lala, Lala tetap harus berteman dengan mereka, bersosialisasilah dan jangan menyendiri. Tidak bagus untukmu."
"Lala ingin tapi mereka tidak akan pernah menganggap Lala sebagai temannya Pak. Lala lelah di bully terus, Lala pengen mati aja."
"Hush! Jangan bicara sembarangan. Lala itu cantik apa adanya, baik juga. Kalau mereka tidak ingin berteman denganmu, bapak yang akan berteman denganmu."
Mata Lala langsung berkaca-kaca mendengar perkataan Pak Doni.
"Makasih banyak, Pak Doni."
Lala bangkit dari duduknya kemudian segera memeluk pria paruh baya itu, dan di balas oleh Pak Doni dengan pelukan penuh kasih sayang.
"Oiya, Bapak tadi menemukan boneka di dalam tanah saat mencangkul tadi. Kamu mau?" Ucap Pak Doni melepaskan pelukannya.
Lala sejenak melihat boneka itu. Boneka mungil terbuat dari jerami yang kotor dan di penuhi oleh tanah. Tampak sebuah kertas di ikat dengan tali di bagian belakang boneka.
"Ehm, Lala mau Pak. Sekalian nambah koleksi boneka di rumah."
Pak Doni tersenyum dan menyerahkan boneka itu, "Ambillah, semoga suka ya." Lala pun menganggukkan kepalanya.
Tring... Tring... Tring
Terdengar lonceng bel berbunyi yang tandanya waktu istirahat telah habis. Terlihat para siswa siswi berlarian memasuki kelasnya masing-masing.
"Lala masuk dulu ya Pak."
"Iya, jaga dirimu baik-baik ya..."
Lala mengancungkan jempolnya tanda oke dan pergi dari tempat itu sambil menegang boneka yang di beri pria paruh baya tadi. Setelah Lala pergi dan menghilang dari pandangannya, Pak Doni pun melanjutkan pekerjaannya. Tanpa mereka sadari, sebuah kejadian besar akan terjadi yang bisa saja melibatkan nyawa manusia terancam.
Dan Ravanav akan segara bangkit lagi bagi siapa pun yang memanggilnya.
-THE END-