Apa? Apa yang salah denganku? Mengapa semua orang selalu memberikan pandangan yang sinis, curiga, bahkan takut padaku. Aku tidak pernah mengganggu. Jangankan mengganggu seperti menjahili, mengejek, atau marah, apalagi melukai, sekedar berbicara dengan mereka saja jarang sekali. Tapi mengapa mereka selalu memandangku beda. Terkadang aku curiga sebenarnya mereka iri karena aku punya saudara-saudara yang selalu setia dan mendukungku dimanapun dan kapanpun, yang siap menjadi bodyguard-ku dalam keadaan apapun. Atau mungkin orang-orang itu takut pada mereka ya, pada saudara-saudaraku itu?? Hahaha....
Namun masih beruntungnya diriku, dari semua orang yang tidak suka itu, ada satu orang yang dapat menerima aku apa adanya dan selalu bersikap ramah padaku. Melly, sahabatku satu-satunya di sekolah ini, kami selalu pergi dan pulang bersama karena memang rumahnya tepat berada di depan rumahku. Dia juga sering menemaniku makan di kantin atau sekedar duduk-duduk di taman pada jam istirahat.
Suatu hari Melly bertanya tentang saudara-saudaraku, dan dia minta aku memperkenalkan mereka. Memang selama ini Melly tidak pernah ngobrol dengan mereka, bahkan ketika aku sedang bermain atau bicara dengan saudara-saudaraku itu Melly hanya memandangku dengan sorot mata yang tidak bisa aku tebak.
Aku bilang pada Melly para bodyguard-ku ada tiga orang dan kutunjukkan mereka satu-satu. Yang paling ganteng, dia adalah Bill, usianya dua tahun lebih muda dariku, tentu saja karena dia adikku. Rambutnya coklat lurus, bermata biru dengan senyum yang manis sekali. Kalau dia membuka hati untuk berpacaran aku yakin banyak gadis yang mengantri untuk dekat dengannya. Sayangnya, dia tidak melakukan itu. Yang kedua, ada Phil. Tubuhnya tidak setinggi Bill tapi dia juga manis dengan lesung pipitnya. Bicaranya tenang dan lembut. Terakhir adalah Julian, dia adalah bodyguard-ku yang paling keren. Tubuhnya kekar dengan otot-ototnya. Hobinya memang berolahraga. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di atas treadmill atau smith machine.
Aku bangga memiliki mereka walaupun aku harus dikucilkan oleh orang lain. Yang aku ingat, sejak kecil kami selalu bersama, bermain, makan, bahkan tidur, tidak pernah terpisahkan.
Tentu saja aku katakan juga pada Melly bahwa aku pun bangga mempunyai sahabat seperti dia, sahabat yang selalu ada dalam situasi apapun.
Sampai pada suatu hari, yaitu hari dimana aku benci setengah mati padanya, benci dengan seluruh jiwa dan ragaku, benci pada Melly sahabatku!
Siang itu, Melly datang ke rumah bersama seorang wanita yang ternyata adalah ibunya, yang diperkenalkannya sebagai seorang psikiater. Mereka terlihat berbincang serius dengan ayah dan ibu. Setelah beberapa lama kemudian mereka pulang. Melly melambaikan tangan sambil tersenyum padaku dan berkata bahwa ia akan datang lagi besok.
Keesokannya dia datang dan mengajakku mengunjungi suatu tempat. Awalnya aku tidak tahu tempat apa yang akan kami kunjungi hingga akhirnya kami sampai di sebuah pemakaman. Dia menuntunku berjalan masuk dan berhenti di depan tiga buah makam yang berdampingan. Dia menjelaskan makam siapa itu. Dia bicara banyak sekali, bicara lagi dan bicara lagi, tapi tak satupun yang masuk ke kepalaku selain kalimat terakhirnya “Sarah kamu sakit. Kamu sakit SCHIZOPHRENIA”.
Bagaimana dia bisa tahu penyakit yang aku derita tanpa memeriksa terlebih dahulu sedangkan aku sendiri merasa sehat? dan apa itu Schizophrenia? Aku sama sekali tidak tahu. Jadi daripada aku bersusah-susah memahami apa yang dia katakan, aku putuskan saja untuk tidak bersahabat lagi dengannya.
Saudara-saudaraku yang keren ini sungguh lebih baik dari Melly. Mereka selalu patuh pada apa yang aku perintahkan dan selalu menuruti apa yang aku mau. Mereka juga tidak pernah meninggalkanku.
---------
“Apa yang sedang kau cari Sarah?” tanya Phil suatu malam ketika aku sedang berselancar di internet.
“Melly mengatakan kalau aku sakit, dan sekarang aku sedang mencari tahu apa itu Schizophrenia” jawabku dengan pandangan tetap pada layar laptopku, aku sedang membaca artikel tentang penyakit itu.
“Apakah kamu percaya padanya?” sekarang Julian yang bertanya, dia sedang berbaring di atas tempat tidurku.
“Tentu saja tidak! Coba kalian lihat, ini semacam penyakit halusinasi aku kira” aku menunjukkan artikel itu pada mereka.
Mereka berdiri di belakangku untuk membaca artikel tersebut.
“Apakah kamu merasa seperti itu?” tanya Phil.
“Tidak! Aku halu di sebelah mananya coba?!” tanyaku.
“Kurasa dia yang halu bukan kamu” jawab Bill sambil berlalu kembali ke tempatnya semula sebelum tadi aku panggil untuk melihat artikel. Dia sedang mengacak-acak beberapa kartu toret.
“Ya aku setuju. Aku rasa dia iri padamu dan pada kita” ucap Julian.
Aku merenung memikirkan apa yang mereka katakan.
“Apakah dia berniat menyingkirkan kita untuk bersama dengan Sarah?” tanya Phil pada Bill dan Julian.
“Aku rasa iya, bukankah dia tidak memiliki saudara? Tidak seperti Sarah yang memiliki kita” jawab Julian.
“Kurasa dia punya niat buruk pada kita. Mari kita lindungi Sarah dan membela hak kita”
Mereka berbicara satu sama lainnya seolah-olah aku tidak ada. Mereka sedang merencanakan sesuatu. Dan aku hanya jadi pendengar.
“Sarah” ucap Julian mengalihkan pandangannya padaku.
“Ya?” aku menatap mereka satu persatu.
“Kamu lebih memilih siapa, kami atau dia?” tanyanya lagi.
Hei pertanyaan macam apa ini? Tentu saja aku akan memilih saudara-saudaraku yang baik dan setia ini.
“Maksudmu?” aku balik bertanya.
“Kalau kamu memilih kami singkirkanlah dia, tapi kalau kamu memilih dia kami yang akan menyingkir” ucap Bill dengan bersungguh-sungguh membuatku sedikit kaget.
“Apakah seserius itu?” tanyaku khawatir.
“Ya tentu saja, tidakkah kamu melihat usahanya padamu?” tanya Phil.
Aku kembali merenung.
“Tentu saja aku memilih kalian saudara-saudaraku” ucapku tegas.
“Bagus! Kalau begitu mari kita singkirkan dia” seru Julian bersemangat.
“Ya ayo!” seru Bill dan Phil berbarengan.
“Maksud kalian apa?” tanyaku masih bingung.
...
Hari itu di sekolah, aku mengajak Melly menemaniku makan siang di kantin, aku mengajaknya berbincang hangat seolah tidak pernah terjadi apa-apa, itu yang diperintahkan oleh Julian padaku tadi malam.
Selesai sekolah kami pulang bersama. Aku mengajaknya berjalan-jalan sebentar ke sebuah danau yang ada di dekat tempat tinggal kami. Danau itu indah dan asri, banyak pohon-pohon tinggi di sekelilingnya, dan tidak terlalu sering dikunjungi orang apalagi pada hari kerja seperti sekarang ini tidak ada seorangpun di sana.
Aku dan Melly berjalan mengelilingi danau hingga kami berhenti di sebuah jembatan kecil yang menjorok ke tengah danau. Suasana sepi dan sejuk. kami masih berbincang. Dia menjelaskan banyak hal yang dia ketahui tentang Schizophrenia yang dia dapat dari ibunya.
Aku berancang-ancang menunggu aba-aba dari Julian, dan ketika Melly lengah aku mendorongnya jatuh ke danau. Dia kaget dan menjerit. Tangannya menggapai-gapai karena ternyata dia tidak bisa berenang. Sementara saudara-saudaraku tertawa-tawa dengan keras menyaksikan Melly yang timbul tenggelam dengan tangan yang terus terulur ke atas meminta bantuan hingga akhirnya dia tenggelam tak terlihat lagi.
Karena saudara-saudaraku senang maka akupun ikut senang, aku turut tertawa walau tak sekencang mereka. Kami pulang dengan perasaan penuh suka cita. Aku bahagia karena saudara-saudaraku bahagia, dan mereka bahagia karena tetap memilikiku, itu kata Bill.
Sejak kejadian itu sesuatu selalu menggangguku. Aku selalu merasa melihat Bill, Phill, dan Julian yang duduk di kursi mengawasiku ketika aku tidur. Wajah mereka yang semula tampan berubah menjadi menakutkan, hitam, berlubang dan mengeluarkan darah, juga menebarkan bau busuk. Aku takut, sungguh takut tapi tidak bisa berbuat apa-apa. itu aku alami setiap malam ketika aku hendak pergi tidur, atau ketika aku sudah tertidur ya? aku tidak tahu.
Berhari-hari kemudian, aku mulai sakit-sakitan. Mungkin karena kurang tidur, tidak selera makan atau mungkin karena rasa bersalahku pada Melly. Ayah dan ibu membawaku ke dokter tapi sakitku tidak kunjung sembuh, hingga suatu malam Julian, Bill, dan Phil duduk mengitariku yang terbaring lemah di tempat tidur.
“Aku rasa sudah saatnya Sarah ikut bersama kita” ucap Bill.
“Iya betul, aku setuju” suara Julian menimpali.
“Kamu mau’kan Sarah?” tanya Phil padaku.
Aku tidak mengerti. Mereka akan mengajakku kemana?
“Karena kamu tidak menjawab jadi aku anggap kamu setuju. Ayo ikut dengan kami Sarah” mereka memegang kedua tanganku lalu membantuku berdiri.
Kami berjalan keluar dari kamar. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin ayah, ibu dan pembantu sedang tidur. Phil dan Bill yang memapahku berjalan dengan tenang, sedangkan Julian berjalan mendahului kami sambil mengawasi situasi.
Keadaan di luar sangat gelap. Hanya sinar lampu yang tergantung di atap teras yang menerangi. Aku berjalan mengikuti langkah saudara-saudaraku. Cukup jauh hingga tiba-tiba mereka berhenti di depan sebuah sumur tua. Aku tidak tahu dimana ini. Keadaanku yang lemah dan gelapnya malam membuat aku tidak fokus.
“Ayo kita masuk” ucap Julian disambut dengan anggukan dari Bill dan Phil.
Ternyata di sumur itu ada tangga menuju ke dalamnya. Bill turun duluan diikuti oleh Phil, kemudian mereka menyuruhku turun juga, dan terakhir Julian. Aku menjejakkan kaki di pijakan tangga itu satu per satu dengan perasaan takut. Dan ketika aku menjejakkan kaki di dasar tiba-tiba semuanya gelap dan aku tidak dapat mengingat apapun.
...
Keesokan paginya terlihat banyak orang yang datang dan berkumpul di kediaman keluarga Fernando. Semua sedang berkabung karena putri mereka satu-satunya, Sarah, telah meninggal.