Namanya Fabian, seorang gadis berumur 21 tahu. Ia adalah seorang peragawati model busana dari Prancis. Saat ia tenggelam dalam ketenaran dan hangar-bingarnya duniawi, hidayah allah menghampirinya. Ia pun menarik diri meninggalkan dunianya yang gelap tersebut. Lalu, pergilah ia ke Afganistan, untuk bekerja pada camp perawatan para mujahidin Afgan yang terluka, di tengah-tengah kondisi yang keras dan hidupnya yang sulit.
Fabian berkata, "seandainya, jika bukan karena karunia Allah dan kasih sayang-Nya kepadaku, niscaya hidupku akan hilang di dalam dunia. banyak manusia yang mengalami kemunduran seakan mereka adalah binatang, semua keinginanya hanyalah untuk memuaskan hawa nafsu dan tabiatnya yang tidak berharga."
Sewaktu fabian masih kecil, ia selalu bermimpi ingin menjadi perawat yang baik. Bekerja untuk meringankan beban penderitaan anak-anak kecil yang sakit. setelah ia tumbuh dewasa, kecantikan dan keindahan tubuhnya banyak menarik perhatian orang-orang. Melihat postur tubuhnya yang indah nan cantik tersebut, maka semua teman-temanya dan keluarganya sendiri, mendorongnya untuk memanfaatkan kecantikan wajahnya dalam pekerjaan yang dapat mendatangkan keuntungan materi yang banyak, ketenaran, gemerlapnya dunia, dan impian apa saja yang menyenangkan, bahkan sekali pun untuk hal-hal yang mustahil diraih. pekerjaan yang dimaksud adalah model.mengikuti dorongan teman-teman dan keluarganya tersebut, kemudian Fabian mulai merawat kecantikan wajah dan postur tubuhnya terlebih dahulu sehingga tubuhnya tumbuh sangat bagus dan cantik.
Menjadi seorang model, berarti Fabian telah menguburkan cita-cita atau impian masa kecilnya, yaitu impian untuk menjadi perawat. Jalan untuk menuju itu terasa mudah. Atau memang seperti itulah yang nampak baginya. Ia pun menjadi orang yang terkenal lewat dunia model. Berbagai macam hadiah yang mahal dan belum pernah ia bayangkan sebelumnya, kini berdatangan silih berganti. Semuanya seakan telah diraihnyabdari profesi sebagai seorang model.
Akan tetapi, kesuksesan, ketenaran, dan kekayaan yang melimpah itu harus Fabian bayar dengan harga yang jauh teramat mahal. Untuk mendapatkan itu, ia harus bisa melepaskan diri dari fitrah sebagai manusia. Syarat kesuksesan dan keberhasilanya itu adalah ia harus menghilangkan rasa malu yang selama ini melekat dalam dirinya. Bahkan, ia harus menghilangkan kecerdasanya, karena ia tidak pernah belajar apa pun kecuali gerakan-gerakan tubuh dan alunan musik.
Selain itu, Fabian juga harus menjaga makanan yang harus dikonsumsinya. Ia harus mengkonsumsi berbagai multivitamin kimiawi, obat penambah tenaga, dan obat penumbuh semangat. Sebelum itu semua, nalurinya sebagai manusia harua dihilangkan. Dengan demikian, ia pun tidak memiliki rasa benci, tidak juga memiliki rasa cinta, dan tidak memiliki rasa untuk menolak segala sesuatu.
Menurut Fabian, fenomena semacam itu tidak hanya dialami oleh dirinya saja, tetapi juga oleh rekan-rekanya sesama model. Jika mereka tidak mengikuti pelajaran-pelajaran dalam busana model itu, maka mereka pasti dihadapkan dengan berbagai bentuk siksaan jiwa dan juga jasmani.
Sebagai seorang peragawati atau model, Fabian telah berkeliling ke seleuruh penjuru dunia. Rancangan model busana terbaru dengan semua apa yang ada di dalamnya: tabarruj (berhias ala jahiliyah, mempertontonkan aurat, dan lain-lain), mengikuti kehendak-kehendak setan, serta menampakkan hal-hal yang menarik dalam diri seorang wanita tanpa rasa gelisah atau malu, harus ia lakukan demi sebuah profesi.
Fabian mengakui bahwa selama itu,ia tidak pernah merasakan keindahan model pakaian yang terbalut di atas badanya yang kosong, kecuali udara dan kerasnya hati. Pada saat itu, ia merasakan pandangan orang-orang yang merendahkan dirinya sebagai manusia. Mereka hanya menghargai terhadap apa yang ia kenakan dan gerakan tubuhnya. Setiap ia bergerak dan berlenggok, mereka selalu berkata, "seandainya."
Setalah masuk islam, Fabian baru tahu bahwa kalimat 'seandainya' hanyalah membuka pintu perbuatan setan. Fabian berkata, "sungguh, hal itu adalah benar, karena kami telah hidup di alam kehianaan dengan segala dimensinya. Celakalah, bagi orang yang mengalaminya dan berusaha cukup dengan pekerjaannya saja."
Mengenai perubahan Fabian yang drastis, dari kehidupan berfoya-foya dan sia-sia menuju kehidupan yang lain (berkah), ia pun berkata, "saat itu kami sedang dalam perjalanan di Beirut yang hancur. Di tengah kehidupan yang curat marut itu, aku melihat banyak orang sedang membangun hotel-hotel berbintang dan rumah-rumah yang megah. kemudian aku melihat sebuah rumah sakit anak-anak di Beirut. Aku tidak sendirian, ada beberapa teman wanitaku dari 'patung-patung manusia'. Mereka cukup melihat tanpa ada rasa peduli, seperti kebiasaanya. Tetapi dalam masalah ini, aku tidak bisa sama dengan mereka. Sungguh, melihat kenyataan itu, pada detik itu pula, terasa hilang kepopuleran, kemuliaan, dan kehidupanku yang palsu. Lalu, aku menuju anak-anak kecil yang sakit, dan berusaha menyelamatkan mereka yang masih hidup. Aku tidak kembalu kepada teman-temanku di hotel, padahal di sana kamera sedang menantiku."
Fabian kemudian melanjutkan ceritanya, " setelah hari itu, mulailah perjalananku dengan membawa misi kemanusiaan, hingga aku menemukan jalan menuju cahaya hidayah, yaitu Islam. Aku tinggalkan kota Beirut, lalu aku pergi ke Pakistan. Saat di perbatasan Afganistan, sungguh aku merasakan hidup yang sebenarnya, aku belajar bagaimana menjadi manusia. Selama delapan bulan aku di sana, membantu keluarga yang kesusahan karena perang. Aku merasa hidup bahagia bersama mereka. Mereka memperlakukan aku dengan baik. Sejak aku memeluk Islam, kebahagiaanku semakin bertambah. Aku rela Islam sebagai agama dan undang-undang dan sistem kehidupanku. Dan, aku juga rela hidup bersama keluarga wanita Afganistan dan Pakistan, dan cara mereka yang religius dalam kehidupan mereka sehari-hari."
Demikianlah kisah Fabian yang telah masuk islam dan bertaubat dari profesinya yang penuh dengan kemaksiatan. Ia pun kemudian belajar bahasa Arab, yaitu bahasa Al Qur'an. Dalam hal ini, ia telah berhasil mendapatkan kemajuan yang berarti, padahal dahulu ia adalah seorang peragawati. Dengan ilmu itu, kini kehidupanya sejalan dengan landasan-landasan Islam.
Kemudian, Fabian menuturkan respon negatif dari rumah-rumah busana model dunia tersebut, setelah ia mendapatkan hidayah. Mereka berusaha dengan berbagai upaya menghalanginya dengan tekanan-tekanan materi secara intensif. Mereka mengirim barang-barang berharga yang berlipat ganda melebihi dari gajinya setiap bulan, bahkan hingga tiga kali lipat. Mereka selalu mengirimkan berbagai macam hadiah yang mahal kepadanya, agar ia kembali kepada kehidupan semula dan keluar dari Islam. Namun, Fabian menolak semuanya.
Fabian kemudian berkata, "akhirnya mereka berhenti membujukku. Tetapi mereka terus berusaha untuk membuat jelek diriki di depan keluarga wanita Afganistan. Mereka melakukan itu dengan menyebarkan sampul-sampul majalah yang bergambar diriku saat pekerjaanku masih menjadi peragawati. Mereka menggantungkanya di jalan, seakan-akan mereka merasa tersiksa dengan taubatku. Itu mereka lakukan agar terjadi fitnah antara aku dan keluargaku yang baru, tetapi keinginan mereka itu sia-sia, Alhamdilillah."
Kemudia Fabian memandang tanganya dan berkata, "aku tidak pernah menyangka, tanganku yang selama ini selalu kujaga kehalusanya, aku gunakan untuk pekerjaan yang sulit ini di tengah-tengah gunung. Tetapi kesulitan ini menambah kesucian tanganku, dan Insya Allah." Dengan demikian, Fabian telah bertaubat kepada Allah. Ia memeluk agam Islam dan meninggalkan profesi yang penuh kemaksiatan yang dilakoninya dahulu.