Zalora melangkah dalam tempo cepat. Dia terlihat tergesak-gesak. Seolah waktu sedang mengejarnya. Gadis itu kini masuk ke dalam lift, berharap lelaki yang menunggunya tidak kecewa dengan keterlambatannya.
Ting!
Bunyi bel lift berdenting. Pertanda pintu akan segera terbuka di lantai yang tepat. Zalora keluar dan bergegas memasuki area restoran. Pandangannya mengedar ke segala arah.
Hingga sosok pria tampan yang mengenakan jas putih, berdasi hazel langsung menarik perhatiannya. Dialah Zidane, lelaki pilihan ibunya Zalora. Keduanya memang dijodohkan karena sama-sama belum memiliki tambatan hati. Jadi, mungkin saja dengan adanya pertemuan pribadi, mereka dapat mengenal lebih baik.
"Zidane?" tanya Zalora yang sudah berjalan menghampiri, Zidane lantas berdiri dan mengangguk. Dia segera menarikkan kursi untuk Zalora.
"Eh? kau tidak perlu repot-repot melakukannya," ujar Zalora, malu-malu. Hal yang sama sebenarnya juga dirasakan Zidane. Karena ini adalah pertama kalinya mereka saling bertemu.
"Ti-tidak apa-apa, ibuku selalu menyuruhku untuk memperlakukan seorang perempuan dengan baik," tutur Zidane yang sudah kembali ke tempat duduknya semula. Dia dan Zalora duduk saling berhadapan.
Hening terjadi beberapa saat. Sebab semuanya terasa canggung baik untuk Zalora maupun Zidane. Keduanya sama-sama memiliki sifat pemalu. Apalagi kepada lawan jenis.
"Apa kau menyetir sendiri tadi?" tanya Zidane. Mengusap tengkuknya tanpa alasan. Keringat dinginnya mulai memancar di telapak tangan.
"I-iya..." Zalora tersenyum tipis. Dia duduk dengan sopan sambil sesekali mengaitkan anak rambutnya ke daun telinga. "Oh iya, maaf atas keterlambatanku. Tadi aku harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu."
"Tidak! tidak apa-apa kok. Aku juga nggak lama nunggunya," sahut Zidane lembut. Sebenarnya dia sudah menunggu hampir satu jam.
Beberapa saat kemudian hidangan beserta minuman pun datang. Zalora dan Zidane segera menikmati makan malam mereka.
Jujur saja, suasana yang terasa masihlah kecanggungan. Akan tetapi dari lubuk hati keduanya masing-masing, mereka sama-sama saling tertarik.
Zidane berusaha memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Sebagai seorang lelaki tentu dia tidak ingin dianggap penakut. Apalagi dengan seorang perempuan.
"Ngomong-ngomong, aku sudah melihat beberapa rancangan bajumu. Kau sangat berbakat!" celetuk Zidane, yang seketika menyebabkan mulut Zalora mengembangkan senyuman.
"Terima kasih. Aku juga mendengar bisnis produk makanan yang kau jalani. Produk makanannmu sekarang benar-benar hits!" Zalora mengakhiri kalimatnya dengan terkekeh malu. Selanjutnya mereka terus melanjutkan pembicaraan.
Lama-kelamaan Zalora dan Zidane saling merasa nyaman. Terutama setelah mengetahui kesamaan mereka masing-masing.
"Saat keluargaku berkumpul, jujur saja aku lebih senang mengurung diri di kamar. Pffft!" ujar Zidane memberitahu.
"Benarkah? aku rasa kita memiliki satu kesamaan lagi. Ngomong-ngomong aku juga begitu," sahut Zalora, terkekeh malu. Sebelah tangannya menutup sedikit area mulutnya. Hingga tawa kecilnya tampak begitu elegan.
Akibat sudah menemukan kecocokan, Zalora dan Zidane jadi lupa waktu. Tidak terasa waktu berlalu sudah dua jam lebih. Karena malam semakin larut dan restoran hampir tutup, mereka akhirnya memilih untuk pulang. Keduanya sekarang berjalan berbarengan menuju lift. Masih asyik mengobrol mengenai topik musik favorit, yang lagi-lagi terdapat adanya kesamaan.
༻♡༺
Zalora dan Zidane kini ada di dalam lift. Hanya ada mereka di sana. Sesekali keduanya saling melirik dan tersenyum malu.
Bruk!
"Aakkhh!" Lift mendadak terhentak. Membuat Zalora tidak kuasa menahan teriakannya. Suasana di dalam lift langsung menggelap akibat matinya listrik.
Zalora yang phobia dengan kegelapan sontak memeluk erat Zidane. Mata gadis itu terpejam rapat dengan keadaan jantung yang berdetak cepat.
Deg!
Jantung Zidane juga berdebaran bagai gendang yang ditabuh. Bukan karena kegelapan, melainkan karena sentuhan hangat yang dilakukan oleh Zalora. Lelaki tersebut hanya membeku di tempat. Bingung harus bertindak bagaimana. Wajahnya memerah bagai kepeting rebus. Bahkan sudah menjalar sampai ke telinganya.
"Hiks... hiks..." Zalora tiba-tiba menangis akibat saking takutnya. Zidane yang merasa tidak tega, segera mengambil ponsel dari saku celana. Kemudian memancarkan cahaya dari sana. Baiknya, cahaya yang dipancarkan ponsel Zidane terlihat seperti kerlap-kerlip bintang.
"Lihat, sudah tidak gelap lagi," ucap Zidane. Dia berusaha membuat Zalora membuka mata. Setelah mendengar panggilan Zidane beberapa kali, akhirnya Zalora membuka mata secara perlahan. Gadis itu langsung terpana dengan cahaya yang dibuat Zidane untuknya. Apalagi Zidane mengarahkannya ke langit-langit yang ada di lift.
"Bagaimana kau membuatnya?" tanya Zalora.
Zidane lantas mendekatkan mulut ke telinga Zalora dan berkata, "Rahasia..."
Satu kata tersebut mengharuskan Zalora menatap malas Zidane. Dia tentu paham kalau lelaki itu tengah mengajaknya bercanda.
Selang beberapa menit, listrik kembali menyala. Lift sudah bisa berfungsi lagi. Membawa Zalora dan Zidane ke lantai bawah.
Zidane mengantarkan Zalora ke mobilnya lebih dahulu, dan memilih mengalah untuk pulang belakangan.
"Terima kasih untuk hari ini, aku sangat menikmatinya!" tutur Zalora dengan senyuman simpulnya. Dia melambaikan tangan ke arah Zidane.
"Aku juga, sampai jumpa besok malam, Zalora!" balas Zidane dengan senyuman yang tak kalah lebar.
Zalora menjalankan mobilnya. Matanya terus melirik ke kaca spion untuk menyaksikan Zidane yang masih berdiri memperhatikan dirinya. Senyuman diwajah gadis itu masih belum pudar. Hatinya serasa berbunga-bunga.
"Zalora!!!" Zidane tiba-tiba memekik lantang, karena di depan mobil Zalora ada truk besar yang melaju. Zalora yang baru menyadarinya, tidak sempat lagi menginjak rem, hingga akhirnya mobilnya menghantam truk besar tersebut dengan keras.
Brukkkk!!! Syuttt!!!
Zidane berlari secepat mungkin. Berharap Zalora baik-baik saja, namun pupus sudah harapannya, ketika menyaksikan mobil Zalora tertindih truk besar. Zidane kini hanya dapat menangis sejadi-jadinya.
~SELESAI~